
Sudah hampir dua minggu kedekatan Alin dengan Natasya, ternyata Rainan benar, dia akan mendukungnya saat mengenal gadis yang bisa dikatakan sempurna olehnya. Meski sekarang keduanya sudah menjalin hubungan, membuat Alin harus mengubur dalam perasaannya meski Rainan mengetahui hal itu. Dia juga tidak bisa berbuat sesukanya pada Natasya, karna sikapnya yang terlalu baik dan perhatian.
Namun sejak kedekatan mereka pula, Adrien tak henti hentinya mengganggu dan terus mengatakan kalau dia pacarnya. Sampai sampai Rainan percaya dan saat ini mereka tengah mengobrol usai pelajaran olahraga dilapangan.
"bagaimana kau bisa menyukai Rosa?" tanya Rainan lalu meneguk air mineralnya.
"kau tau kan? dia punya sesuatu yang berbeda?" Adrien mengangkat ngangkat alisnya, membuat Rainan jadi ambigu.
"dasar cabul!" tukasnya begitu menyadari julukan Alin di sekolah.
"aku bukan membicarakan pantat kok, dia memang berbeda! pertama kali melihatnya, dia sudah membuatku gila, kau tahu? dia itu cantik...seperti peri dimalam hari, kegelapan sirna karna cahayanya!" jelasnya.
"dia memang berbeda!" ucapnya mengulang kalimat Adrien dengan serius.
Alin yang menguping dari kejauhan tersenyum, dua lelaki yang membicarakannya, meski konyol tapi dia suka karna mereka mulai akrab.
"Rosa sahabatku! kalau kau serius padanya, jangan buat dia menangis!" pintanya.
"sebenarnya siapa yang membuatnya menangis?, setiap kali dia melihatmu dan gadis itu, matanya selalu meredup!"
Rainan terdiam, dia kembali meneguk air mineralnya, setelah itu membuang nafas kasar.
"Kalau aku bilang menyukainya hanya karna tak ingin melihat dia bersedih, itu akan semakin membuatnya terluka. dia akan bilang aku pembohong dan penghianat, lalu hubungan persahabatnku akan hancur!"
Luar biasa!
Alin yang mendengar itu cukup terharu, ada begitu banyak orang yang menyayanginya.
"tenang saja!, aku tidak akan pernah membiarkan air matanya jatuh, kecuali air mata kebahagiaan!" senyumnya terdengar bersungguh sungguh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulang sekolah, Begitu melihat Adrien keluar dari kelasnya dan berjalan menuju gerbang sekolah. Alin tiba tiba saja berlari dan mendekapnya dari belakang.
BRUK!!!
"Linda? kenapa?" tanyanya.
Gadis itu tak bergeming, hanya memeluknya dengan erat. Namun begitu sadar banyak yang memperhatikan, dia langsung menjauh darinya.
"masalah besar" batinnya benar benar hilang akal.
Adrien tersenyum menyebalkan seperti biasanya. Lalu mencubit pipinya gemas.
"ayo!" ajaknya sambil membukakan pintu mobil untuknya.
******
Adrien membawanya ke sebuah tempat yang jaraknya sangat jauh dari sekolah. Sebuah danau yang indah, dan untuk pertama kalinya Alin mengunjungi tempat tersebut.
Mereka duduk diatas rerumputan hijau sambil menatap langit sore yang mulai menampakan cahaya jingganya. Tak ada percakapan diantara mereka setelah cukup lama.
"kenapa kau memelukku seperti itu tadi?" tanya Adrien memecah keheningan.
"aku nggak tau!" jawabnya ketus seperti biasanya.
"oh aku tau, kau mulai suka padaku kan?!"rayunya.
Alin terdiam, dan hanya menatap manik indahnya, tidak ia pandang sebelah mata lagi , ada ketulusan didalam tatapan pria itu. Pria yang ia tolak bahkan sampai ratusan kali.
"apa aku bisa menarik semua ucapanku?" tanyanya tiba tiba saja membuat Adrien mengerutkan alisnya tak mengerti.
"kamu bukan pria yang buruk!"
Adrien terkekeh. "jadi benar ya, kau mulai suka padaku? sudah kubilang aku akan membuatmu begitu menyukaiku sampai kau tidak bisa kutinggalkan sedetikpun!"
Cih!
"jangan terlalu percaya diri, aku cuman mengatakan kau pria yang tidak buruk, bukan berarti aku menyukaimu! dasar bodoh!" cibirnya gengsi.