
Seperti yang diperkirakan, pintu gerbang sudah ditutup. Namun Alin tidak kehabisan akal untuk dapat masuk ke kelas.
"Pak penjagaa!!" teriaknya pada penjaga sekolah yang sedang duduk dan mengawasi sekitar.
Pria paruh baya itu segera saja menghampiri mereka.
"kalian sudah terlambat 30 menit, jadi tidak bisa masuk" tegasnya.
"tapi pak, kalau saya tidak masuk kelas nanti dimarahi orang tua dan guru. Memangnya bapak mau saya salahkan? kalai bapak mengizinkan saya masuk saya masih bisa mengikuti pelajaran lainnya..."
Pria itu terdiam dan memikirkan ucapan Alin.
"pelajaran itu penting pak, saya tidak setiap hari terlambat"
"baiklah, kalian boleh masuk! Lain kali hargailah waktu. Satu detik saja bisa mengubah masa depan kalian" ucapnya seraya membuka pintu gerbang.
Adrien dan Alin cepat cepat pergi menuju kelas.
"Maaf pak kami terlambat!" ucap Alin begitu tiba didepan kelas.
"Bagus! terlambatnya 35 menit..." sahut Pak subroto dengan mata melotot dan aura kemarahan yang begitu menusuk.
"loh cuman 35 menit kok pak, Seharusnya bapak bersyukur karna kita tidak bolos!" ucapnya enteng sambil mengorek lubang hidungnya.
SLEWEEER!
DUG!
Lemparan sepatu tepat mengenai wajah pria bersurai hitam itu.
"Bapak tidak mau tau, pokoknya kalian harus bersihkan seluruh toilet yang ada di sekolah ini!" tegasnya.
Sontak, Keduanya langsung melotot dan tak terima. Namun Alin tidak bisa membantah karna ini adalah kesalahannya.
"aku ti-" belum sempat Adrien membantah, Alin segera mencubit pinggangnya
"baik pak!" ucapnya langsung saja menggusur Adrien yang terlihat sudah sangat kesal itu.
...****************...
~Di Toilet~
"sudah kubilang kan, lebih baik kita bolos saja! percuma pergi sekolah kalau hanya untuk jadi kacung di sekolah sendiri!" ocehnya sambil menggosok lantai yang sudah menguning.
"kamu kenapa sih ngoceh terus? harusnya kamu jera dan tidak akan melakukannya lagi! bukan malah kesal begitu!"
"aah merepotkan, sudahlah kita ke kantin saja yuk! katanya di kantin ada promo pizaa beli satu gratis satu!" ucapnya sambil menarik tangan Alin dengan paksa.
"tidak bisa! kita harus selesaikan hukuman dulu!" elaknya sambil menghempaskan tangan Adrien.
"Hey nona nona!" panggilnya langsung saja membuat mereka segera menghampirinya.
"apa?" sahut salah satu dari mereka.
"Apa kalian mau uang jajan selama seminggu penuh?"
"kau akan memberi kami uang?"
"yah, tapi tolong bersihkan seluruh toilet!"
Mereka sempat mempertimbangkan. Dan pada akhirnya segera menyutujui hal itu.
"sudah selesai, ayo nona Aduhaiku!" Adrien kembali menarik tangan Alin dan membawanya ke balkon sekolah.
"katanya mau ke kantin?"
"tidak jadi! disini saja ya!"
Hening!
Mereka saling diam dalam sesaat. Membuat keadaan menjadi tenang.
Perlahan, Adrien mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tangan Alin. Hangat! itulah yang dia rasakan.
Alin langsung menoleh begitu tangan besar pria itu bertautan dengan jarinya. "apa?"
"Katakan! siapa orang yang ada dihatimu saat ini?"
Seketika Alin teringat pada Rainan, pria yang selama ini masih menjadi cintanya.
"dia..." jawabnya penuh rahasia.
"salah!"
Alin mengangkat alisnya tidak mengerti.
"orang yang ada dihatimu seharusnya aku!"
Huwek! ingin muntah rasanya.
"Berhentilah bermimpi!" tegasnya langsung saja pergi meninggalkan pria itu.
Tapi, entah kenapa dalam sesaat Adrien sudah membuatnya merasa nyaman. Walau dia agak sinting dan menyebalkan. Namun sangat perhatian, dan tidak pernah melakukan apa yang Alin tidak suka.
Mungkinkah hatinya akan berpaling dari Rainan? tapi tidak mungkin...Cinta pertama tidak akan pernah bisa dilupakan....Sampai kapanpun....
*