
"Aku jatuh cinta padamu!" ungkap seorang pria berambut merah kecokelatan dengan bibir tipis yang merah merona kepada gadis cantik dihadapannya itu, yah, dia tengah mengutarakan perasaannya di sebuah Cafe yang cukup mewah sore ini.
Gadis bernama Rosalinda atau sering dipanggil Alin itu hanya menghela nafas berat, entah sudah berapa kali dia menolak pria aneh itu sejak pertama kali mereka bertemu. Yah semuanya dimulai dari beberapa hari yang lalu saat dia datang menjadi Siswa baru.
-
BEBERAPA HARI SEBELUMNYA....
Keadaan sekolah selalu ramai seperti biasanya kecuali sabtu dan minggu karna mereka libur. dan hanya sebagian murid yang hadir untuk ekskul.
Namun pagi ini, semua murid digemparkan dengan kedatangan siswa baru yang tampan. Banyak Rumor beredar kalau dia adalah seorang anak dari keluarga terpandang, dan orang tuanya adalah aktris terkenal di kota ini.
"Oi pantat besar!" teriak Meilani sambil berlari mendekati Alin.
Gadis itu menoleh, dia tampak sudah tidak tersinggung setiap kali temannya memanggilnya dengan julukan itu lagi.
"kamu sudah tahu tentang Isu hari ini?" tanyanya menyamakn langkah kakinya dengan Alin.
"Anak baru itu?" tanyanya dengan nada yang tidak enak didengar.
"hum, aku ingin segera masuk kelas dan melihatnya, dia sekelas bareng kita looh" sewotnya sama sekali tak membuat Alin senang. Dia hanya memasang wajah datar meski dalam hatinya dia juga penasaran tentang anak baru itu.
PLAK!
"Selamat pagi Pantat!" sapa Regita yang muncul tiba tiba sambil menepuk pantatnya. Yah, sudah tidak aneh, setiap pagi dia akan mengucapkan selamat pagi padanya. Ah bukan, pada Pantatnya.
Aneh memang, dia juga tidak mengerti kenapa semua orang begitu terobsesi dengan pantatnya. Apa yang salah jika dia memiliki pantat yang cukup besar? Itu adalah Anugrah yang diberikan tuhan padanya dan tentu saja dia harus mensyukurinya.
"Kalian kekelas aja duluan, aku mau ke toilet dulu!" ucap Alin langsung saja mempercepat langkahnya dan bergegas menuju toilet.
Namun sebelum itu, dia menghentikan langkahnya saat melihat beberapa siswi tengah latihan menari dilapangan Utama. Mereka terlihat bersemangat karna sebentar lagi ada Lomba seni tari antar sekolah.
Alin memperhatikan mereka cukup lama, lalu dia mendongak keatas, tepatnya dilantai dua sekolah dan melihat seorang siswa yang sangat tampan tengah menyeringai memperhatikan para penari itu. ah tidak, tapi memperhatikan setiap lekukan tubuh mereka.
"sepertinya dia murid baru yang dibicarakan orang oraang disekolah, keliatannya kok mesum banget!" batin Alin sambil geleng geleng kepala. Lalu dia memutuskan untuk pergi.
BRUK!
tak sengaja dia terjatuh sehingga menyebabkan roknya tersingkap dan memperlihatkan shot hitam yang dipakainya.
"Hah!" Alin langsung menutupnya begitu pria itu tertawa sambil menunjuk bokongnya.
"ish apa apaan sih pria itu, sangat tampan tapi seleranya buruk!" batin Alin terus mengoceh.
"Heei tunggu dulu!" teriaknya buru buru turun dan mengejar Alin.
"apa?" tanya Alin galak.
Jatuh cinta? jangan bercanda! bahkan pria itu baru saja dijumpainya. Alin semakin geleng geleng kepala melihat sikap anehnya. Diapun tak merespon dan kembali melangkahkan kaki meninggalkan pria itu.
"Heey siapa namamu?" teriaknya.
Alin masih berjalan gontai dan tak mempedulikannya. Bukan ingin menjadi gadis yang sombong, dia hanya tidak mau berkenalan dengan pria mesum sepertinya meskipun dia tampan.
...--------SKIP--------...
dan sejak saat itulah setiap dia bertemu Adrien, dia selalu bilang mencintainya dan itu benar benar memuakan. Seperti malam ini...
"Adrien tolong hentikan ketidak warasanmu sekarang juga!" tegas Alin dengan wajah yang sudah tertekan.
"ketidak warasan apa? aku mencitaimu dan itu hal yang normal Linda!" sahutnya.
"Jangan panggil aku Linda!" titahnya kali ini sudah menunjuk wajah Adrien dengan jari telunjuknya.
"kenapa? nama itu lebih cocok untukmu yang memiliki pantat bes-"
BRUGH!
Alin langsung saja melempar tasnya tepat diwajah Adrien. Namun tak membuat pria itu marah dan hanya tertawa menyebalkan.
"kamu galak banget sih, tapi tidak apa apa, aku tetap suka kok sama kamu"
Mati saja sana!
daripada mendengar ocehannya yang tidak berguna, Alinda memutuskan untuk pergi meninggalkannya.
Rosalinda (Alin)
Adrien Agras
Meilani (Mei)
REGITA (Gita)