Because You Love Me

Because You Love Me
2. Sang idola



BRAK!


Alin membanting pintu kamarnya dengan keras, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu sambil menarik nafas panjang. Gadis berambut cokelat panjang itu amat sangat sensitif dan pemarah, ditambah dia sangatlah egois. Tapi terkadang dia akan menjadi gila soal urusan percintaan dan memiliki sikap tidak suka merepotkan orang lain. Namun dia tidak pernah menangis sejak dia dilahirkan, itulah keanehan dalam hidupnya.


TING!


TING!


ting!


Suara pesan masuk bertubi tubi diponselnya, Alin segera merogoh tasnya dan menyalakan ponsel. Tampak begitu banyak pesan dari nomor tak dikenal.


-----(nomor tak dikenal)---


Hallo!


aku mencintaimu


dan juga sesuatu yang indah yang kau miliki😘


Ngomong2, aku tidak membicarakan soal pantatmu ya....


(dan lain lain.....)


"Ck, darimana si bodoh itu dapat nomor ponselku?" decak Alin merasa kesal. Namun tuduhannya tak jauh dari temannya, Regita, karna biasanya dialah yang suka usil tentang kehidupan orang lain.


Kali ini nomor itu melakukan panggilan, dan tentu saja langsung Alin tolak. Sampai berkali kali. Membuatnya benar benar kesal dan langsung saja melempar ponselnya keatas ranjang.


"Tuhan...segera ambil satu manusia bodoh itu!" gumamnya langsung saja merebahkan dirinya dan dia mulai terlelap.


TOK TOK TOK!


Alin kembali terjaga, lalu dia berdecak kesal karna suara ketukan pintu kamar.


"Ros! ayo makan dulu!" ajak suara itu terdengar lembut.


Alin melirik jam dinding dan ternyata sudah menunjukan pukul delapan malam. Ya ampun dia terlalu pulang sore sampai lupa mandi dan masih memakai seragam sekolahnya. Pria itu benar benar membuat dia sangat terlambat pulang karna ajakannya itu.


"Ros!!" panggil suara itu semakin menggedor pintu.


"iya iya!!" teriaknya malas. Lalu dia beranjak dan segera membuka pintu melihat si pengetuk yang mengganggu tidurnya.


Itulah Roshela, satu satunya kakak yang merawatnya sejak mereka kehilangan orang tua semenjak kecelakaan yang menewaskan keduanya. Roshela terpaksa harus berhenti kuliah sampai S1 dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan mereka. dia bekerja sebagai editornya seorang penulis ternama dikota ini yang penulisnya begitu Alin gemari, yaitu Tuan Agatha.


"astaga, kamu belum mandi?"


Alin menggelang, "kakak duluan saja, aku mau mandi dulu"


Brak!


dia kembali menutup pintu dan segera membersihkan dirinya.


tak butuh waktu lama, usai mandi diapun segera turun dan duduk dimeja makan, tanpa basa basi langsung mengambil nasi serta lauk pauknya.


"nggak biasanya kan wajahmu ditekuk begitu? kenapa?" tanya Rosa seakan mengerti masalah adiknya.


"masalah pantat!" jawabnya dengan makanan penuh dimulut.


Roshela terkekeh dan menepuk bahunya. "dampak apa yang bisa ditimbulkan dari bokongmu?"


"ahh merepotkan..." dengusnya terus melahap makanan.


"pasti risih ya" tebak Roshela


"yah begitulah"


TOK TOK TOK!


CEKREEK!


Jeng, jeng jeeeng......


berdirilah orang yang sama sekali tak dibayangkannya, yaitu seorang pria berbadan tinggi tegap dan rambut yang membuatnya terlihat lebih Maskulin beserta pakaian glamornya yang tentu sangat mahal itu sudah Tersenyum ramah padanya. Yah, kenalkan dia Tuan Muda Agatha, seorang penulis ternama dengan berbagai penghargaan yang diraihnya.


PROK PROK PROK!


Alin bersorak dalam hatinya dan tak henti hentinya memelototi pria tersebut tanpa berkedip sekalipun. Siapa yang tidak senang jika seorang yang diidolakannya justru malah datang sendiri kerumahnya tanpa dia harus repot repot mengunjunginya.


"selamat malam nona!" sapa suara itu terdengar bagai Alunan Melody yang membuat Alin menari nari diangkasa.


"ah se- selamat malam, silahkan masuk!" ucapnya gugup.


"terima kasih!" senyumnya lagi lagi terasa menusuk jantungnya dan tiba tiba saja menempel diingatannya.


"selamat malam pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Roshela dengan sopan.


Pak? entah kenapa rasanya tidak cocok memakai nama itu. Lebih bagus kalau memanggilnya dengan sebutan "honey" karna senyumnya yang begitu manis.


"saya ingin mengajak kamu ke acara pesta teman saya!"


ahh kenapa tidak aku saja yang diajak?


"sekarang pak?" tanya Roshela tampak terkejut karna dia sama sekali belum bersiap siap.


"iya"


"tapi pak, saya butuh waktu lama untuk bersiap" ucapnya merasa tidak enak.


"tidak apa apa, saya bisa menunggu" senyumnya benar benar menyilaukan dunia.


Roshela segera pergi ke kamar untuk bersiap siap, sementara diruang tamu hanya ada Alin dan Agatha. Mereka terlihat agak canggung dan Alin sendiri sangat grogi hanya sekedar menawarkan kopi padanya.


"oh ya, karya anda yang baru terbit itu sangat bagus Pak, saya sangat suka dengan peran utamanya yang memiliki karakter sangat kuat untuk melawan musuh musuhnya" tutur Alin terlihat begitu antusias


Agatha terkekeh. "benarkah?"


"hum, dan saya tidak sabar menunggu karya anda selanjutnya"


Lagi lagi pria itu tersenyum. "bagaimana kalau cerita selanjutnya tentang dirimu?"


hah? jangan bercanda! hal menarik apa yang bisa dia tuliskan tentang hidupnya?


"ma maksud anda?" tanyanya berharap dia tidak memikirkan hal yang aneh aneh apalagi soal....


"kau tau kan apa yang menarik tentang dirimu?"


Pantat....


Alin tersipu dan langsung memalingkan wajahnya. Astaga bahkan seorang penulis sepertinya bisa tahu.


"kakakmu banyak bercerita tentangmu padaku, dan aku menyukai hal itu sebagai inspirasi bagiku"


"akan kubunuh orang itu" batinnya merasa kesal.


setelah berapa lama, keluarlah Roshela dengan pakaian yang sederhana namun berkesan sempurna untuk parasnya yang cantik. Jika dibandingkan dengan Alin, Roshela jauh lebih cantik dan banyak yang mengira jika mereka bukan adik kakak.


"Ros, kami pergi dulu ya, jangan lupa cuci piring kotornya" titahnya sebelum mereka pergi dan bergenadengan tangan


Membuat Alin berdecak kesal melihat keromantisan kakaknya bersama Agatha yang sudah enam bulan mereka pacaran. jujur saja, dia baru mengalami patah hati karna cintanya ditolak oleh seseorang. Dan tentu saja setiap hal romantis yang orang lain perlihatkan, membuat dirinya menjadi muak.