
Mereka sudah berteman, tinggal berbasa basi, entah kenapa Alin mau melakukan hal ini.
Malam ini Rainan datang dan mereka duduk diteras sambil menikmati suasana. Rainan yang fokus menatap langit, dan Alin yang sibuk membaca novel.
"kenapa kau perlu bantuanku untuk semua ini?" tanya Alin begitu dia menutup bukunya.
pria itu menggelang, "aku tidak bisa melakukannya sendirian, aku gugup!"
"bodoh!" ucapnya kembali membuka buku dan fokus pada barisan kalimat yang dibacanya.
melihat itu Rainan hanya mengerucutkan bibirnya lalu mengambil buku Alin dan berbaring dipahanya.
"jangan marah, aku yakin kau akan mendukungku setelah kau mengenal Natasya, dia gadis yang baik kan?"
Hem!
Alin hanya tersenyum simpul dan mengangguk. "jangan lupa, semua pria menginginkannya! dan dia bisa memilih siapapun sesuai keinginannya!"
"jangan membuatku semakin tidak percaya diri! aku juga bergabung di OSIS Sama seperti dia, dan kami memiliki hobi yang sama, lalu kami juga sering bertemu di olimpiade antar sekolah, aku pantas bersanding dengannya!"
ucapannya yang menusuk, membuat Alin tersenyum kecut.
"Selamat malam!" sapa suara lembut itu membuat moment mereka terhenti.
Rainan langsung saja duduk tegap dan menjadi salah tingkah begitu melihat orang yang menyapa mereka ternyata Natasya.
"k k kau? bagaimana kau bisa ada disini?" tanyanya gugup.
"Alin yang memintaku datang, katanya ingin belajar bersama!" jawabnya tak lepas dari senyum memabukannya itu.
"ah kau sudah datang, silahkan duduk! aku akan siapkan buku dan juga camilan!" Alin langsung masuk dan membiarkan mereka berdua.
"jadi, Rainan?, bagaimana sekolahmu hari ini?" tanyanya setelah keadaan hening beberapa saat.
"biasa aja, o ya, senin depan aku akan sekolah di sekolahmu!"
"sungguh? kenapa? apa kau punya masalah disekolahmu?"
Rainan menggelang dan tersenyum. "tidak, aku hanya ingin melihat senyummu setiap hari!"
Natasya terkekeh dan mendekatkan wajahnya, membuat pipi Rainan langsung bersemu karnanya.
"jangan menggodaku!"
"maaf mengganggu, apa kita bisa mulai?" tanyanya sebiasa mungkin.
Akhirnya mereka mulai belajar bersama, ada rasa canggung diantara ketiganya. namun mereka dengan cepat bisa menguasainya dan berusaha membuat suasana tetap damai seperti itu.
Sekarang keduanya mulai dekat, akan semakin cepat juga bagi Alin untuk mengikhlaskan orang yang tidak mencintainya.
...****************...
Mentari sudah datang menyapa, semua kembali disibukan dengan aktifitas. Alin terbangun seorang diri, Roshela tidak pulang semalaman, dan tidak pula memberi kabar. Namun tak membuat Alin khawatir karna ia yakin dia pasti bersama Tuan Agatha, penulis idolanya itu.
Selesai bersiap dia segera pergi dan memilih sarapan disekolah saja, Namun Adrien si menyebalkan itu datang membawa sesuatu didalam tas yang di jinjingnya.
"selamat pagi nona aduhaiku, kakakmu menginap di apartemen kakakku, dia menitipkan sarapannya untukmu!" sapanya sembari menyerahkan barang bawaannya.
Alin tersenyum, menerima tasnya dan pergi begitu saja, membuat Adrien menarik tangannya dan membuat dia berhenti.
"kamu mau kan berangkat bersamaku setiap hari?" tanyanya seketika membuat Alin menatap tajam.
"tidak!" tegasnya. "menjauhlah dariku, jangan pernah ganggu aku lagi, aku tidak suka padamu dan biarkan aku hidup tenang!" pintanya dengan sangat memohon.
kali ini Adrien tidak menyebalkan, dia menatap Alin dengan tatapan serius.
"aku tidak bisa, aku terlalu mencintaimu dan kau juga punya rasa yang sama padaku kan?" tanyanya begitu percaya diri
Alin menggelang kuat kuat "jangan terlalu yakin, aku sama srkali tidak punya perasaan seperti itu!"
Hening!
entah apa yang terjadi, pria itu pagi ini terlihat tidak semangat seperti biasanya. Apakah kata katanya baru saja menyakiti perasaannya?
"baiklah! aku akan buktikan kalau kau punya perasaan yang sama sepertiku" senyumnya langsung saja pergi, tidak berdebat seperti biasanya.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...