
Malam ini, Alin sudah bersiap dengan pakaian rapinya. Dia tidak terlalu suka pakaian yang feminim, dia lebih suka memakai kaos polos dengan celana yang simpel. Dan tidak suka rambut terurai, sehingga selalu dikuncir kuda.
Seperti yang dijanjikan, ia akan menemui Rainan di sebuah cafe lama pavorit mereka.
"mau kemana?" tanya Roshela begitu ia masuk ke kamarnya.
"aku ada janji dengan temanku!"
"jangan pulang larut!"
Alin mengangguk patuh dan langsung berpamitan.
"bagaimana hubunganmu dengan Adrien?" tanyanya sebelum Alin benar benar pergi.
"Dia menyebalkan!" ucapnya segera saja pergi.
...****************...
Sesampainya di tempat tujuan, Ternyata Rainan sudah menyambutnya dengan secangkir kopi yang sudah ia pesan.
"kau sudah menunggu lama?"
"baru saja" senyumnya.
Setelah berbasa basi, merekapun mulai membicarakan hal serius.
"kenapa kau memintaku bertemu?"
Rainan tak segera menjawab, ia menyeruput kopinya terlebih dahulu, setelah itu diam menatap Alin cukup lama.
"Aku butuh bantuanmu!" ucapnya langsung saja mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto seorang gadis cantik.
"ini Natasya kan?" tanyanya begitu melihat foto yang tak lain adalah teman satu sekolahnya, Semua orang pasti mengenalnya, karna dia adalah Wakil OSIS yang cantik dan pintar serta baik hati.
"jadi kamu suka sama dia ya!" senyumnya agak dipaksakan.
"iya, kami saling mengenal sejak 3 bulan yang lalu, pertama kali mengenalnya saat di Halte, waktu itu awan mendung dan hujan lebat, itu..momen yang tidak akan bisa kulupakan" senyumnya penuh rahasia, tatapan matanya terlihat penuh cinta. Membuat Alin hanya diam dengan perasaan cemburu.
Dia tahu betul karakter sahabatnya, pasti meminta bantuannya untuk membuat mereka pacaran.
"aku tidak bisa membantumu Ray, maaf!" ucapnya mengembalikan ponselnya lalu beranjak.
Rainan segera mengapit tangan Alin dan kembali membuatnya duduk.
"Aku tau aku salah, aku tidak memberimu kabar atau menemuimu selama 3 bulan ini, tapi aku tidak bisa jelaskan masalahnya padamu, meski kau sahabatku, tapi ini hal yang tak bisa aku ceritakan!"
Bukan itu masalahnya! Ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, hanya saja mengapa dia tidak mengerti perasaannya selama ini, mungkinkah dia lupa kalau beberapa bulan lalu dia pernah mengungkapkan perasaannya?
"aku tidak keberatan dengan itu!"
"lalu kenapa? apa aku membuat kesalahan?"
tidak ada siapapun yang bisa disalahkan!
"kau tidak akan mengerti!"
Gadis itu melenggang pergi dengan perasaan kesal.
"Rosa tunggu!"
TAP!
Rainan berhasil meraih tangannya, membuat Alin berhenti melangkah namun tetap tak membalikan badannya.
"apa karna kau menyukaiku?"
Tepat sekali!
Alin masih terpaku ditempatnya, kenapa perasaannya menjadi canggung?
"Dengarkan aku..." Rainan memutar tubuhnya dan menatap lekat manik cokelatnya. Seulas senyum terukir dibibirnya.
"kita sahabat sejak kecil kan?"
Alin mengangguk pelan.
"seharusnya kau mengerti, tidak ada orang yang lebih mengenalku selain dirimu, memangnya kenapa kalau aku menyukai gadis lain? itu tidak akan membuatku jauh darimu" ucapnya langsung saja menarik Alin kedalam pelukannya.
Hubungan mereka memang sudah seperti itu sejak lama. tapi kali ini rasanya berbeda. ada sesuatu yang membuatnya jadi canggung.
PELETAK!
"akh"
Tiba tiba sebuah kerikil entah datang darimana menghantam kepala Rainan, dia langsung melepas pelukannya dan mengusap kepalanya.
"kenapa?" tanya Alin tidak mengerti.
"ada yang melempar batu ke kepalaku!"
"hah!"
Alin langsung melirik kesana kemari, seorang pria bertopi hitam dengan masker putih menutupinya sudah melambai dengan seringai dibalik maskernya.
"ck, si bodoh itu!" decaknya kesal.
"apa?" tanyanya sambil melihat kearah yang sama, namun pria itu sudah hilang hilang dari pandangan.
"tidak ada, aku harus pergi, aku tarik kembali ucapanku, aku mau membantumu" ucapnya langsung saja berlari meninggalkannya.
...****************...