Because You Love Me

Because You Love Me
7. Dandelion



Tiba dibawah pohon besar, dimana bunga Dandelion tumbuh dibawahnya.


"ayo cepat sebelum bunganya tertiup angin!" girangnya berlari menghampiri bunga-bunga itu.


Namun Adrien si mesum itu tiba tiba muncul dibalik pohon dengan seringai jahilnya yang tampak menyebalkan.


"jadi cowok norak itu ya, yang membuatmu tergila gila? cih, keren apanya dia? terlihat seperti tukang roti!" cibirnya kali ini benar benar membuat Alin kesal.


"Kamu kenapa sih menghina orang terus?!, kamu sendiri belum tentu keren dimata semua orang, jangan belagu gitu dong!" tegasnya dengan sorot mata tajam.


"loh memang faktanya begitu kok, kamu sendiri yang tidak peka, atau kamunya yang bodoh!"


perdebatan hampir tidak akan usai jika Gita dan Meilani tidak melerai mereka.


"sudah sudah, aku kesini bukan untuk mendengar perdebatan kalian!" oceh Meilani sambil memetik sebuah bunga dandelion dan menyerahkan pada mereka berdua.


"apa?" tanya Alin tidak mengerti namun tetap menerima pemberian Meilani.


Meilani melirik pada Adrien dan memamerkan senyuman, seperti mengisyaratkan kata "ayo dekati dia"


"oh aku mengrti!" tukasnya langsung merubah posisinya dengan berdiri dibelakang Alin, memegang tangannya dan mengangkat sama sama bunga itu ke udara.


"kau tau? Bunga dandelion dikenal sebagai bunga yang rapuh dan mudah terbang dibawa angin. Namun, dia bisa menjaga keutuhannya. Bahkan dalam keadaan terhempas angin dan bunganya tersebar sekalipun, bagian bunganya tidak rusak." jelasnya.


Luar biasa, Alin cukup kagum pada pengetahuannya. Padahal dia sendiri tidak begitu memperhatikan, hanya suka melihat bunga bunga itu terbang dan menari diudara.


"sudah selesai mengoceh?" tanyanya sudah bersiap untuk meniup bunga itu.


"belum!"


😑


ingin rasanya melempar dia ke neraka sekarang juga!


"aku ingin kau terbang seperti bunga ini, walau sendiri kau tetap berani" Adrien terdiam sejenak melihat wajah Alin, lalu dia berbisik lembut


"aku mencintaimu..." ucapnya lirih.


Sudah tidak bisa digambarkan lagi, bagaimana perasaan Alin saat ini, semuanya telah terpadu dalam rasa yang sulit dimengerti.


Kedua sahabatnya hanya bisa tersenyum senyum terbawa suasana, diam diam Gita memotret kemesraan mereka.


"ayo tiup!"


2


3


Wush....



Diiringi dengan angin yang berhembus, membuat bunga itu terbang tinggi dan melayang di udara.


Saat Alin fokus melihat ke udara, Adrien mengangkat tangannya memberi kode pada kedua sahabatnya untuk segera pergi.


Tinggalah mereka berdua, dua anak remaja yang perlahan tumbuh mengenal arti dari sebuah perasaan.


"Linda!" panggilnya dengan suara lembut, membuat sang gadis tidak nyolot seperti biasanya 😂


"iya?" Alin melirik dan tersenyum, namun senyumnya terhenti saat pria itu menggenggam kedua tangannya.


"aku mencintaimu..."


lagi dan lagi, tiada kata cinta yang terucap dari mulutnya.


Kali ini Alin tidak merespon seperti biasanya, dia hanya tersenyum simpul dan melepas genggaman tangan Adrien.


"jangan mengatakannya terlalu sering, itu kata yang berharga, jika kau terus ulangi, maka maknanya akan hilang!" Senyumnya terdengar bijak.


"aku tidak akan berhenti sampai kau mengakuinya, ini bukan masalah pantat, aku-"


PLAK!


Menyinggung soal pantat, Alin kembali agresif dan menamparnya dengan refleks.


"dasar mesum, aku baru saja berdamai denganmu tapi kau kembali menyebalkan, aku membencimu!" dengusnya langsung saja berlari meninggalkannya.


"Benci artinya Benar benar cinta!!!!!" teriak Adrien membuat Alin semakin mempercepat langkahnya sambil menutup kedua telinga.


Sementara Adrien hanya terkekeh, melihatnya berjalan seperti itu memaksa matanya untuk menatap bokong besarnya yang terlihat empuk dan menggoda.


Benar benar selera yang aneh!


....