
“...”
“...”
Aku dan Sofia terdiam setelah melewati pintu masuk singgasana Istana Buckingham.
Di depan kami, barisan kapal Battleship milik Royal Navy menyambut kedatangan kami dengan meriam-meriam yang mengunci pergerakan kami. Ruang takhta atau singgasana Ratu Elizabeth terlihat sangat sederhana dan luas. Itu hanyalah ruang kosong yang berisi kursi besar dan karpet merah panjang sebagai dekorasi tambahan untuk berlutut menghadap Ratu Elizabeth.
“Ugh.. Ini terasa sangat canggung, Master,” ucap Sofia dengan nada kecil.
“Jangan seperti itu Sofia, mereka melakukan ini untuk melindungi Ratu Elizabeth dan memastikan kita untuk tidak melakukan tindakan yang mencurigakan. Bukankah begitu, Belfast?” ucapku sembari melirik ke arah Belfast.
Sikap dingin dan tenang dari Belfast telah menjawab semua itu.
Saat ini, posisi Belfast telah berpindah ke pihak Royal Navy dan menjaga profesionalitasnya sebagai Head Maid Royal Navy. Situasi yang terjadi di ruangan ini secara kasatmata berada di dalam kendali Royal Navy.
Aku hanya tersenyum ketika situasi ruangan tidak mendukung tindakanku.
“Well.. Ini artinya kita harus mengikuti permainan, bukan?”
Aku dan Sofia berusaha mengikuti permainan ini sembari mengamati keadaan.
“Huumu.. Jadi.. Inilah kapal selam yang sedang dibicarakan itu? Tidak buruk juga untuk seorang laki-laki yang mampu mengendalikan Wisdom Cube imitasi. Secara penampilan.. Penilaian yang diberikan Belfast tidak terlalu buruk. Kerja Bagus, Belfast!” ucap Queen Elizabeth.
Di depanku terlihat sosok anak kecil dengan mahkota kecil yang menghiasi kepalanya. Sosok yang duduk di kursi singgasana itu memancarkan aura kepemimpinan sebagai pemegang kendali armada Royal Navy.
Ratu Elizabeth atau Queen Elizabeth adalah kapal komando yang menggerakkan seluruh armada Royal Navy. Berdasarkan informasi yang di dapatkan oleh Sofia, Admiral Royal Navy yang bertugas di pangkalan militer Azur Lane terlalu lemah untuk memerintah Royal Navy. Kebijakan dan aturan yang diterapkan oleh Queen Elizabeth berada di titik puncak mengalahkan kekuasaan Admiral yang secara tertulis bertanggung jawab untuk fraksi Royal Navy.
“USS Seawolf.. Jelaskan mengenai rencana kapal selam itu di hadapanku!”
“Aku sangat penasaran dengan cetak biru kapal selam yang telah kau tunjukkan kepada Belfast.”
Aku dan Sofia saling bertatapan, perintah yang ditujukan oleh Queen Elizabeth terlihat sangat jelas. Teknologi yang dimiliki Eagle Union telah menarik minatnya. Ini hanyalah masalah waktu sebelum aku dan Sofia memanfaatkan keadaan dan mengisi celah kosong yang dibuka oleh Queen Elizabeth.
“Sebelum itu, izinkan aku memperkenalkan diri, Ratu Elizabeth. Namaku adalah Altair. Tidak ada catatan mengenai keluarga atau semacamnya karena sebagian waktuku berada-“
“Persingkat itu! Aku telah mengetahui masa lalu dirimu dan wanita itu. Aku tidak tertarik untuk mendengarnya. Jadi, persingkat ke penjelasan kapal selam yang sedang kau rancang.”
Sebelum aku menjelaskan tragedi yang sudah aku alami, sosok angkuh dari Queen Elizabeth telah menekan sakelar kecil di dalam tubuhku.
Perasaan terhina ini..
Terasa sangat sakit di dadaku..
Entah mengapa, aku ingin membalas perasaan ini dengan hinaan yang sama.
Untungnya, aku masih bisa mengendalikan emosiku dengan wajah datar tanpa senyum dan Sofia yang tersenyum manis untuk menutupi aura membunuhnya.
“Sofia, tahan sebentar saja..” bisik kecilku.
“Master.. Jika seorang Ratu mati karena tersedak mahkotanya sendiri, itu bukanlah pembunuhan yang disengaja, kan?” ucap Sofia.
“Huh?” inilah respons yang kuberikan setelah Sofia mengucapkan kalimat itu. Sebuah peringatan kecil yang dilayangkan kepada Queen Elizabeth terdengar jelas dari mulut Sofia.
“Tidak seperti itu, Sofia. Jika seorang Ratu mati karena tersedak oleh mahkotanya sendiri itu sudah terdengar sangat aneh. Terlebih dengan ukuran mahkota kecil seperti itu. Hmm.. Lupakan saja, aku menemukan satu cara yang sangat efektif untuk terlihat seperti kecelakaan” menanggapi ucapan Sofia yang berani itu, aku membalasnya dengan ucapan yang cukup keras dan penuh percaya diri.
Setelah ucapanku yang cukup berani itu, Belfast dengan cepat berlari ke arahku dan mengarahkan pisau kecil yang tersimpan di balik paha mulusnya ke leherku.
“Dengan segala hormat, itu ucapan yang cukup kasar untuk Ratu Elizabeth, Tuan Altair,” ucap Belfast sembari menempelkan pisau kecilnya di leherku.
“Well.. Aku tidak akan sekasar ini jika lawan bicaraku tidak memulainya, bukan?” balasku.
“Terlebih, jika pembicaraan ini tidak menyinggung salah satu pihak. Aku akan sangat senang menerima tawaran kalian. Tetapi.. Inikah jawaban kalian? Sangat disayangkan.. Bukankah begitu, Sofia?” lanjut ucapku sembari menatap Sofia.
“Um! Sangat disayangkan. Kalau begitu.. Kami mengundurkan diri. Selamat malam semuanya!”
*Tiiiing..
*Pooooof..
Sofia yang berdiri di sampingku dengan cepat melepaskan seragam militernya dan mengaktifkan serangan kejutan berupa bom asap berwarna hitam yang tersembunyi di seragam militernya. Asap hitam yang menyebar dengan cepat itu menjadi kunci pelarian kami dari situasi yang berat sebelah ini.
“Belfast.. Mungkin ini akan sedikit sakit” bisik kecilku kepada Belfast.
Dari balik asap hitam yang pekat, aku dengan cepat membanting tubuh Belfast ke lantai dan meninggalkan kecupan lembut sebagai perpisahan manis.
Maksudku.. Itu adalah kecupan yang sangat lembut secara harfiah.
Aku bukanlah seseorang yang kasar seperti ini. Demi profesionalitas dan kesetaraan gender.. Laki-laki atau perempuan.. Semua itu sama derajatnya di mataku.
Kau pikir aku tidak bisa membanting perempuan di situasi seperti ini?
Sekali lagi, ini adalah tindakan profesionalitasku sebagai pihak yang dirugikan.
*Kraaaak..
Ooops.. Sepertinya aku terlalu keras saat melakukannya.
“Gaaaahaaak!!” sekilas aku mendengar suara Belfast yang tersedak.
Tunggu! Apakah seseorang yang mencium lantai pernah tersedak sebelumnya?
Lupakan itu.. Aku harus fokus menuju pintu keluar di kondisi seperti ini. Beruntungnya, aku membawa alat yang mudah kugunakan. Dengan Wisdom Cube, aku bisa mengendalikan rudal UGM-48 Harpoon dari kapal selamku dan mengarahkannya ke Istana Buckingham.
*Swiiiiing..
*Praaaang..
Saat UGM-48 Harpoon menembus jendela kaca ruang singgasana, aku dan Sofia segera keluar melalui pecahan kaca jendela.
Hmm.. Tidak ada ledakan?
Ugh, aku tidak terlalu kasar untuk menghancurkan Istana Buckingham yang menjadi tempat tinggal Ratu Elizabeth. Sebagai seorang laki-laki yang terhormat, tindakanku ini sudah cukup kasar untuk menghancurkan jendela kaca di ruang singgasana milik Queen Elizabeth.
Jika aku menghancurkan ruang singgasana milik Queen Elizabeth.. Uhm.. Uhh.. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi di pangkalan militer Azur Lane.
“Tindakan yang sangat bodoh,” ucapku sembari menghela napas panjang. Dadaku terasa sedikit sesak setelah menghirup sejumlah asap hitam yang menyengat di paru-paru.
“Un! Aku sempat berpikir jika Royal Navy berisi gadis-gadis elegan layaknya bangsawan. Tetapi.. Biasa saja..” sindir Sofia yang ikut mengatur pola napasnya setelah menghirup asap tebal.
Aku dan Sofia berhasil menghindari serangan frontal yang mungkin saja dilakukan oleh gadis-gadis Royal Navy. Setelah kejadian ini, status antara diriku dan Royal Navy memasuki fase “Bermusuhan”. Untuk itu, dengan Wisdom Cube imitasi yang terhubung ke kapal selamku. Aku sedikit membawa serangan kecil ini ke tingkat yang agak serius.
Delapan tabung peluncur torpedoku memuat Mark-48 yang terhubung oleh kabel fiber optik. Target seranganku kali ini adalah kapal-kapal besar milik Royal Navy yang sedang berlabuh.
Radar dan ESM milikku segera aktif untuk mencari posisi kapal Royal Navy.
“Hmm.. Mereka telah merencanakan ini ternyata,” gumam kecilku.
“Beberapa kapal penting milik Royal Navy berada di dalam mode gadis kapal mereka. Sisanya hanyalah kapal-kapal pendukung seperti kapal perusak, penjelajah ringan, dan kapal induk ringan,” lanjut gumam kecilku.
“Yep, aku tidak terlalu peduli. Luka kecil ini akan meluas jika terbuka terlalu lama. Untuk itu.. Aku akan mengobati luka ini dengan obat penawar yang efektif.”
Setelah deklarasi yang aku ucapkan, rasa sakit hati ini akan terobati setelah beberapa kapal milik Royal Navy mengalami kerusakan di malam yang tenang ini.
*Pooooossshhhh..
*Swiiiiirrrrrrllll...
*Wwrrrrtttttt...
Delapan torpedo Mark-48 yang meluncur dari USS Seawolf perlahan mendekati target mereka. Jarak antara USS Seawolf dan dermaga Royal Navy terlihat cukup jauh dan berlika-liku. Serangan torpedo biasa sangat tidak mungkin terjadi, tetapi dengan serangan torpedo yang dipandu oleh fiber optik. Membelokkan torpedo ke sudut sembilan puluh derajat bukanlah hal yang mustahil.
Sekarang..
Waktunya mempersiapkan alibi untuk menghindari pemeriksaan MP (Military Police).
“Sofia.. Mari kita persiapkan panggung spesial untuk serangan tahap kedua,” ucapku sembari tersenyum.
“Master.. Tolong jangan terlalu sadis dan juga.. Cobalah untuk mengatur senyum mengerikan itu sehingga menjadi senyuman yang manis. Orang-orang akan curiga jika Master tersenyum seperti itu.”
“Eh? Padahal aku sedang tidak memikirkan apa-apa.”
“Master, aku sangat memahami pemikiran Master untuk yang satu ini. Kukuku.. serangan tahap kedua, kah? Sejauh mana mereka akan bertahan?” mengikuti senyuman mengerikanku. Aku dan Sofia memikirkan skema pertunjukan panggung kedua untuk Royal Navy.
Penghinaan ini..
Akan sangat tidak sopan jika aku tidak mengembalikannya, bukan?
*Kaboooom!!
...(HMS QUEEN ELIZABETH)...