
“Kami akan menunggu kedatangan anda, Tuan Altair” ucap Belfast sebelum pergi melanjutkan tugas kecilnya sebagai Maid Royal Navy.
Setelah melewati hari yang cukup melelahkan, tubuhku hampir tumbang melawan dua gadis yang saling merebut perhatianku. Sepertinya, taktik Honey Trap yang digunakan Maid Royal Navy telah berhasil dijalankan. Pertukaran informasi yang terjadi di sela-sela hubungan kami yang dipenuhi keringat dan semangat masa muda membawaku ke rencana besar Royal Navy yang telah bekerjasama dengan fraksi Iron Blood.
“Um! Aku akan datang setelah semua urusanku selesai” balasku.
“Terima kasih atas partisipasinya, Tuan Altair.. Uhm.. Bukankah hubungan kita saat ini telah berubah menjadi Master dan Servant?”
“Itu terlalu cepat, tunggu sampai kau menguasai teknik yang dimiliki Sofia.”
“A-Aku akan berusaha untuk mempelajarinya.”
Tidak ada alasan khusus mengenai itu. Teknik Honey Trap yang digunakan Belfast cukup menarik minatku terutama dengan tata krama Maid Royal Navy yang terkenal elegan dan setia. Tindakan Belfast yang memanfaatkan kedekatan kami berpengaruh terhadap rancangan kapal selam milik Royal Navy.
Yap, selain menikmati kehangatan tubuh Belfast. Aku membuat perjanjian khusus dengan fraksi Royal Navy. Ini adalah hubungan yang saling menguntungkan, Royal Navy mendapatkan teknologi kapal selam sedangkan aku memiliki tempat yang disebut rumah. Dengan ini, rencana pensiun yang melibatkan tragedi telah siap dimulai.
Untuk itu, aku perlu membuat kapal selam milik Sofia secara rahasia sebagai pintu keluar darurat.
“Bukan berarti aku tidak menikmatinya. Kau sudah cukup berusaha untuk melayaniku, Belfast. Itu sangat menyenangkan melihatmu belajar dan berlatih menjadi Maid yang sempurna. Aku akan sangat senang jika menjadi Master yang dilayani Maid sempurna sepertimu” ucapku sembari membelai rambut panjang Belfast.
Belfast terkejut setelah mendengar ucapanku, rona merah perlahan menyebar di pipinya dan senyuman lembut terukir di wajahnya.
“T-Terima kasih atas pujiannya, Tuan Altair” ucap Belfast sembari membungkuk ke arahku.
“Sampai berjumpa lagi, Belfast.”
Aku menghentikan belaian tanganku dan menutup pintu kamar. Suara langkah kaki yang bergerak menjauh menjadi penanda menghilangnya tamu kecilku.
“Master.. Setelah perjanjian dengan fraksi Royal Navy disepakati. Itu artinya persiapan untuk menghilang dari fraksi Eagle Union telah dimulai?” tanya Sofia sembari mengenakan seragam militernya.
“Uhuh.. Kita hanya menjalankan rencana yang telah tersusun secara sempurna itu” balasku.
“Terlebih.. Tamu kecil kita membawa penawaran spesial sebelum bertemu dengan Ratu Elizabeth”
Ucapku sembari mengibarkan kotak kecil yang berada di tanganku.
“Master, kau benar-benar licik. Mencuri alat perekam suara yang penuh kegiatan bersemangat dan berpura-pura terpikat oleh pelayanan Maid demi mencuri alat itu di seragamnya” ucap Sofia dengan senyum licik di wajahnya.
“Ayolah, Sofia. Dunia ini tidak begitu indah untuk terjebak di taktik yang sama. Taktik yang seperti ini sudah sering digunakan oleh unit Maid Royal Navy. Mengancam menggunakan alat perekam suara yang berisi kegiatan malam untuk mengikuti pola permainan mereka. Kau pikir taktik amatiran seperti itu tidak terbaca olehku?”
“Master sejak awal telah mengincar alat perekam itu, bukan? Pelayanan Maid itu hanyalah bonus pelengkap untuk tujuan utama.”
“Yap, seperti itulah” balas singkatku.
“Master, tindakan Royal Navy yang seperti ini telah memicu fraksi lain untuk mendekatimu. Penjualan torpedo Mark-50 dan teknologi tabir asap telah berhasil menarik minat mereka untuk melakukan kontak kecil denganmu. Seperti yang satu ini..”
Tepat setelah Sofia mengatakan hal itu, sebuah ketukan kecil terdengar di pintu kamarku.
“Aaahh.. Lagi?” ucapku dengan nada yang lembut.
Tanpa mempedulikan ketukan pintu yang mengganggu itu, aku melanjutkan kegiatan yang penuh keringat bersama Sofia. Teriakan Sofia yang terlalu jujur itu mampu membubarkan fraksi-fraksi lain yang mencoba memasuki kamar pribadiku secara paksa dan kami melakukannya hingga malam hari.
Setelah keadaan cukup damai, aku melakukan modifikasi kecil pada alat perekam suara yang tertanam di seragam Maid Belfast.
Sesuatu yang spesial telah tertanam di dalam alat perekam suara itu.
Well.. Itu tidak terlalu mewah. Hanya peledak kecil yang menghancurkan barang bukti dan pemancar rahasia yang menyiarkan seluruh kegiatan Belfast secara langsung. Sisanya hanya mengembalikan alat itu ke tempatnya dan menunggu mangsa terjerat dalam perangkap manis.
Singkat cerita, kami bersiap-siap untuk menghadiri makan malam bersama Ratu Elizabeth atau yang lebih dikenal dengan nama Queen Elizabeth.
“Queen Elizabeth-class, eh? Aku sangat penasaran dengan personalitinya. Sebagai kapal yang menyandang nama pemimpin Britania Raya, setiap ucapannya mampu menggerakkan seluruh armada Royal Navy. Berdasarkan kondisi tubuh Belfast yang masih tersegel rapat, ada kemungkinan pergerakan Royal Navy mengikuti perintah dari Queen Elizabeth dibandingkan Admiral mereka. Sofia, ingatkan aku jika melakukan ancaman fisik atau verbal yang menyinggung Ratu merepotkan ini.”
“Master.. Bukankah ini hanya makan malam biasa?” tanya Sofia.
“Sofia, tidak ada sejarahnya undangan makan malam biasa yang dibalut Honey Trap. Permainan mereka telah dimulai dan kita hanyalah orang luar yang mencoba melarikan diri dari permainan mereka.”
*Toook..
*Toook..
“Master Altair.. Belfast telah datang untuk menjemputmu..” terdengar suara Belfast dari balik pintu pribadiku.
Aku membuka pintu kamar pribadiku untuk menyambut Belfast.
*Kraaaak..
“Selamat malam, Belfast. Bukankah ini terlalu cepat untuk makan malam?” tanyaku.
“Selamat malam, Tuan Altair. Ratu Elizabeth memberi perintah kepadaku untuk melayanimu sebelum makan malam dimulai dan..” Belfast memperhatikan kondisi dasiku yang berantakan dan tersenyum kecil.
“Tuan Altair, maaf jika ini terlihat lancang tetapi penampilan seorang pria mencerminkan tindakan mereka. Sebagai Maid yang mempelajari etika bangsawan, bolehkah saya merapihkan pakaian anda, Tuan Altair?”
“Kau tahu.. Tindakanmu yang seperti ini membuatku ingin memilikimu sebagai Maid pribadiku” ucapku sembari membelai rambutnya dan menyentuh pipi lembutnya.
“T-Tuan Altair.. Uhm.. A-Aku bisa melayanimu kembali malam ini. Untuk saat ini, tolong fokus pada penampilan luarmu sebelum menghadap Ratu Elizabeth” ucap Belfast sembari menahan rasa malu yang terukir di wajahnya.
“Eh? Mana mungkin aku bisa bertahan dengan godaan seperti ini.”
Tanpa membuatnya merasa curiga, aku menarik tubuh Belfast dan mencium lembut bibirnya. Pergerakan yang singkat itu kulakukan untuk mengembalikan alat perekam suara di tubuhnya.
Yap, mengembalikan benda yang telah kucuri bukanlah tindakan kriminal, bukan?
“M-Master.. Kapan giliranku?” tepat di belakangku, sebuah perahu penyelamat telah berlabuh untuk mengalihkan perhatian Belfast dari tindakanku yang berlebihan ini. Sofia terlihat seperti Maid yang cemburu dengan perlakuan Masternya.
Perlahan aku melepas ciuman lembut di bibir Belfast dan beralih ke bibir Sofia.
“Kerja bagus, Sofia” bisik kecilku.
“Fufu.. Jangan lupa dengan hadiahnya” canda Sofia.
Sofia secara sempurna menutup tindakanku yang hampir mencurigakan itu.
“Ekhem, Tuan Altair! Kurasa sudah waktunya untuk bersiap-siap” ucap Belfast yang terdengar tegas.
Aku melepas kecupan lembut di bibir Sofia dan menatap mata Belfast yang terlihat kesepian itu.
“Tenang saja, Belfast. Aku tidak melupakan Maidku yang imut ini kok.”
“I-Imut??” merespon perkataanku, Belfast tersipu malu seperti gadis yang baru saja mengalami jatuh cinta.
“T-Tolong jangan bercanda, Tuan Altair. Jadwal Queen Elizabeth sangat sibuk akhir-akhir ini. Menyisakan satu jadwal yang kosong untuk makan malam dan bertemu Queen Elizabeth secara langsung merupakan keberuntungan yang jarang terjadi” lanjut ucapan Belfast untuk menahan ekspresi tersipu malunya.
“Ah, maafkan aku, Belfast. Aku hampir saja menarikmu ke atas kasur untuk melayaniku kedua kalinya.”
“I-Itu bisa kita lakukan setelah makan malam” balas Belfast dengan rona merah yang naik menutupi wajahnya.
“T-Tuan Altair.. Permisi sebentar..” Belfast mendekati tubuhku dan memegang dasiku yang berantakan.
Gerakan tangan lembut Belfast dengan cepat memperbaiki posisi dasiku yang berantakan menjadi ikatan sempurna.
“Terima kasih, Belfast.”
“Ini sudah menjadi tugas utamaku sebagai Maid Royal Navy” balas Belfast dengan senyuman lembut di wajahnya.
Setelah sandiwara ini selesai, aku akan menghadapi serangan psikologi yang tidak terlihat dari fraksi Royal Navy.
Sekarang..
Serangan seperti apa yang akan mereka berikan?
Fufu.. Aku sangat menantikannya!
Karena..
Aku sangat ahli untuk serangan psikologikal.
Tidak sia-sia rasanya bertahan di serangan “Kapan nikah?” yang sering dilontarkan oleh saudara jauhku.
Entah mengapa, firasat dan insting laki-lakiku aktif sepenuhnya malam ini.
Makan malam ini akan menjadi perang psikologikal antara aku dan fraksi Royal Navy.