
Tidak seperti hari libur sebelum-sebelumnya, hari ini Ayrisa bangun ketika jam menunjukkan pukul enam pagi. Ia bisa mendengar suara peraduan peralatan masak dari dapur, piring dan gelas yang berbenturan pelan dengan meja saat diletakkan, juga suara pintu kamar seberang yang terbuka.
Tidak. Bukan suara-suara itu yang membuatnya terbangun, melainkan alarm yang sudah ia pasang malam sebelumnya ketika hendak tidur.
Reylin membombardir ponselnya dengan belasan notifikasi pesan untuk mengingatkan bahwa ia akan datang berkunjung ke rumah Ayrisa pada pagi hari. Katanya sengaja agar bisa memiliki waktu lebih banyak mengulik semua cerita yang tidak pernah Ayrisa bagi padanya melalui kegiatan berkirim pesan mereka.
Karena Reylin yang tidak mengatakan kapan tepatnya akan datang, jadi Ayrisa memutuskan untuk bangun pukul enam pagi. Ia bisa mandi dulu untuk menyegarkan diri, lalu sarapan bersama kakak serta ayahnya. Selama liburan ia hampir tidak pernah bergabung di meja makan pada pagi hari, lebih memilih melanjutkan sesi kangen dengan bantal serta kasur.
Ketika ia keluar kamar setelah berpakaian—berupa kaus oversize berwarna biru muda dan celana setengah paha yang hampir tertutupi kausnya, pintu kamar Nefra turut terbuka. Kakak lelakinya itu sudah tampak rapi dengan setelah kemeja dan celana bahannya.
"Tumben udah bangun." Nefra memandang adiknya itu dari ujung kepala sampai kaki. "Mau ke mana pake baju gitu? Kalau mau keluar ganti bajunya, gue laporin lo ke Aspen kalau nggak mau."
"Ih, lagian siapa juga yang mau keluar. Orang di rumah doang." Ayrisa merotasikan bola matanya lalu berlalu meninggalkan Nefra yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Ia langsung berbelok ke dapur merangkap ruang makan dan menemukan ayah serta bundanya di sana. Sang ayah seperti biasanya sibuk menyeruput secangkir kopi dan menatap tablet miliknya untuk melihat laporan pekerjaan. Ngomong-ngomong, sekarang ayah dan papanya sedang terlibat dalam satu proyek yang sama. Jadi, kini keduanya bekerja bersama.
"Tumben udah bangun, Ay."
Suara sang bunda membuat Ayrisa menoleh pada wanita empat-puluhan tahun itu yang sedang mencuci peralatan masak yang telah selesai dipakai. Ia yang sudah duduk di salah satu kursi menghadap meja makan melirik bundanya sekilas, lalu meraih satu piring dan sendok.
"Nanti Reylin mau main ke sini," jawabnya sembari menyendokkan nasi ke piringnya, kemudian disusul dengan telur dan sayur bayam sebagai lauk untuk sarapan pagi ini.
"Emang datangnya jam berapa?"
"Gak tahu. Reylin cuma bilang kalau dia bakal datang pagi, mungkin jam delapan atau sembilan."
Ayrisa sudah akan menyendokkan satu suap nasi ke dalam mulutnya, tetapi terhenti sejenak saat merasakan sepasang tangan mengumpulkan rambutnya di belakang kepala. Sang kakaklah pelakunya.
Nefra menata rambut sepunggung Ayrisa dengan begitu telaten lalu menggunakan jedai merah yang dibawa oleh gadis itu. Tentu belasan tahun menjadi kakak dari seorang adik perempuan membuatnya sudah sangat mahir dengan hal itu.
"Kak Nef nantinya pulangnya jam berapa?" Ayrisa menoleh pada Nefra yang sudah kembali duduk di sampingnya.
"Gak tahu, tergantung pertemuan sama klien nanti," jawab lelaki itu dengan mulut yang terisi. "Emangnya kenapa?" Nefra balik bertanya setelah menelan makanannya.
"Nggak kenapa-napa, sih. Cuman belakangan ini Kak Nef pulangnya lebih telat. Lagi se-hectic itu, ya?"
"Ya gitu, kliennya tiba-tiba minta dipercepat. Kan, harus ngomong dulu sama bagian lain, jadinya perlu adain pertemuan-pertemuan dulu."
"Kerjanya jangan kecapekan."
"Iyaa. Nggak bakal kecapekan, kok." Nefra mendaratkan tangannya di puncak kepala Ayrisa, lalu mengusak rambut adiknya dengan gemas. Adik yang ia jaga dengan sepenuh jiwa kini sudah tumbuh besar, sudah bisa balik menasehati dirinya.
Ketika jam penunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit, sang ayah dan kakak pamit untuk berangkat kerja. Ayrisa memberikan keduanya kecupan di kedua pipi, atas permintaan. Katanya agar mereka bisa lebih semangat bekerja.
Selesai sarapan dan mencuci piring serta sendok yang ia gunakan, Ayrisa melipir ke ruang keluarga untuk menonton si spons kuning yang bekerja sebagai seorang koki. Tentu meskipun usia kian bertambah, kartun itu masih sering ia tonton kala tidak ada jadwal pagi untuk ke kampus. Apalagi sekarang sedang libur semester.
Sang bunda menyusulnya tidak lama kemudian setelah menghilang di balik pintu kamar. Ternyata mengambil ponsel yang sebelumnya diisi ulang dayanya.
Ayrisa mendapatkan missed call dari Reylin ketika jam menunjukkan pukul setengah sembilan. Langsung saja ia buka ruang percakapannya dan Reylin sehingga mendapati pesan yang memberitahukan bahwa sahabatnya itu sudah berada di depan.
Alhasil ia langsung bangkit dari sofa menuju pintu. Ketika dirinya selangkah keluar dari pintu, Ayrisa bisa melihat Reylin yang menunggu di depan pagar. Ada juga sepupu gadis itu yang masih terduduk di atas motornya.
Ia kembali masuk ke dalam untuk memakai sandalnya terlebih dulu sebelum membuka pagar dan menghampiri Reylin.
"Dulu langsung masuk terus ngetuk, masa sekarang canggung lagi perlu dijemput keluar segala," ujar Ayrisa dengan maksud iseng.
"Namanya juga udah lama gak ke rumah lo, Ay."
"Ya udah yuk, langsung masuk aja."
Reylin sudah akan mengekori Ayrisa saat mendengar suara sepupunya.
"Kalau udah selesai lo pesen ojek aja, ya. Males keluar lagi, mau nyelesaiin game gue."
"Aku pikir Kalian ikut lagi," celetuk Ayrisa.
"Nggak, dia cuma nganterin gue doang. Lagian mana bisa dia ikut acara girls talk kita."
"Hm."
Kalin pun melakukan motor besarnya meninggalkan depan rumah Ayrisa, meninggalkan sepupunya di sana.
"Yuk, langsung masuk aja."
"Di rumah lo masih ada siapa aja, Ay?"
"Bunda doang."
Ketika masuk Reylin menyapa bunda Ayrisa terlebih dulu. Wanita yang merupakan ibu sahabatnya itu mengajaknya berbicara sebentar untuk bernostalgia saat dirinya belum pindah sekolah. Ketika merasa terlalu lama menahan dirinya, akhirnya Dara membiarkan Reylin dan Ayrisa beranjak dari sana.
Ayrisa membawa Reylin ke kamarnya agar mereka bisa lebih leluasa dalam bercerita.
"Jadi cowok kemarin siapa, Ay?" Baru saja mereka mendudukkan diri di atas ranjang, Reylin langsung menembaki Ayrisa dengan pertanyaan. Gadis itu sudah menunggu semalaman, menahan rasa penasaran yang menuntut untuk disudahi. "Gue inget banget muka Kak Nefra gak kayak gitu. Jadi lo gak bisa ngibul dengan bilang itu kakak lo."
"Lagian aku gak ada niatan boong, Re." Ayrisa menghela napasnya. "Emang bukan Kak Nef, kok, kan aku udah bilang waktu kamu tanya siapa yang nelpon. Namanya itu Kak Aspen."
"Dan dia siapanya lo? Gue inget dengan jelas kalau kakak cowok lo itu posesifnya minta ampun sampe lo cuma pacaran sama buku tiap harinya."
"Kak Aspen itu ... tunangan aku."
"ANJIR! Beneran lo?!" Reylin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berteriak. Informasi yang baru saja diterima oleh telinganya dengan cepat langsung diproses di otak. "Gue pikir itu cincin cuma perhiasan biasa doang, Ay!"
Ayrisa meringis sembari menatap cincinnya yang tersemat di salah satu jarinya. Sebenarnya sudah memperkirakan reaksi Reylin, tetapi tetap saja ia kehabisan kata-kata.
"Sejak kapan lo tunangan, Ay? Jahat bener lo gak ngasih tahu bahkan gak ngundang gue! Lo anggap gue temen gak, sih?"
"Bukan gitu, Re. Tentu aku anggap kamu temen aku." Ayrisa akhirnya kembali membuka suara. "Aku tunangan tahun lalu, barengan sama ulang tahun aku. Kalau kamu lupa, aku udah ngirim undangan digitalnya, tapi waktu itu kamu masih sibuk sama masa awal kuliah. Aku tahu kamu gak bakal datang."
"Tapi lo gak ada bilang kalau pesta ulang tahun itu sekalian acara pertunangan lo."
"Kamu gak baca bener-bener undangannya, ya? Jelas-jelas ada tulisan 'and to invite you in the engagement of' gitu."
"Anjirlah pokoknya! Bisa-bisanya gue baru tahu kalau lo udah tunangan gini, bahkan udah setahun. Tahu gitu gue bujuk bokap beliin gue tiket hari itu juga." Reylin menyibak rambutnya yang jatuh ke kedua sisi wajah dengan gerakan dramatis. "Lo juga gak ada pernah bahas soal tunangan lo itu selama kita chat-an, Ay."
"Kan, kamu gak ada nanya. Aku pikir, ya, kamu biasa-biasa aja abis nerima undangan itu gak kayak temenku yang lain."
"Pokoknya parah banget lo! Sakit hati gue jadi orang yang terakhir tahu."
"Iya, deh. Maaf ya, Re."
"Aah, gak ada, gak ada. Ceritain dulu tentang awal mula ketemuan sampe tunangan. Cerita juga tunangan lo itu gimana orangnya."
Kemudian mengalirlah cerita Ayrisa saat pertama kali bertemu dengan Aspen. Bukan ketika hari pertama kepindahan Mia ke sekolahnya, melainkan tabrakan tidak sengaja di toko buku—Aspen yang mengatakannya, jika tidak maka Ayrisa tidak akan tahu bahwa orang yang tidak sengaja ditabraknya itu adalah Aspen.
Berlanjut pada pendekatan-pendekatan singkat yang dilakukan oleh Aspen melalui ajakan belajar bersama, dan akhirnya meminta dirinya untuk bertunangan setelah ia menceritakan satu hal besar mengenai hidupnya. Ayrisa tidak lupa menceritakan bagaimana Nefra saat keluarga Aspen datang untuk membicarakan lebih lanjut tentang pertunangan itu.
Reylin dibuat tergelak saat mendengarnya. "Hahaha.. emang gak kaget lagi, sih, kalau Kak Nefra jadinya begitu. Selama ini posesif sampe lo gak bisa pacaran, eh, sekalinya ada yang suka langsung ngajak tunangan. Gils banget Aspen-Aspen itu. Cakep, gue suka itu cowok gercep."
"Ya udah, gitu aja. Ceritanya selesai karena aku tadi udah bilang kalau acara tunangannya tahun lalu."
"Cakep juga takdir lo, Ay. Gak sia-sia Kak Nefra posesif sama lo, tahu-tahu sekarang keluar sebagai suhu ngalahin gue yang udah pacaran duluan beberapa kali. Ajib pokoknya."
"Kapan-kapan kenalin gue secara resmi ke tunangan lo itu, ya. Gue pengen liat langsung orangnya kayak gimana." Gadis itu berimbuh dengan menggebu-gebu.
"Iya, Re."
"Eh, terus ceritain dong lo udah diajak nge-date ke mana aja. Gue pengen denger cerita uwu seorang Ayrisa yang enam belas tahunnya berasa kayak hopeless romantic."
"Sama aja kayak orang biasanya, kok. Keluar waktu malam minggu, terus jalan ke satu tempat and then pulang, deh."
"Nggak, nggak! Gue mau denger cerita rincinya! Lo utang banyak cerita sama gue, Ay."
Pada akhirnya Ayrisa pun menurut dan menceritakan hal-hal yang diminta oleh Reylin. Sesekali—atau lebih tepatnya sering—di tengah cerita Reylin menyela dengan seruannya yang ia deklarasikan sebagai jeritan keirian.