
Matahari sudah kembali ke singgasananya di langit sana. Menggantikan tugas bulan untuk menyinari Bumi dari pagi hingga sore. Gadis yang sudah selesai bersiap itu, sekarang telah rapi dalam balutan seragamnya. Rambutnya dikuncir agar terlihat lebih rapi lagi.
Dengan gerakan pelan, Ayrisa memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Setelah memastikan semua buku pelajaran untuk hari ini sudah masuk ke dalam tasnya, ia langsung melangkah keluar dari kamar. Langkah kakinya yang ringan menuntun menuju dapur sekaligus ruang makan yang ada di rumah itu. Di sana hanya ada sang bunda ketika ia tiba. Ayahnya sudah berangkat lebih dulu beberapa saat yang lalu, diketahui dari suara mesin mobil yang terdengar saat ia Masih berada di kamar.
Mendudukkan dirinya di salah satu kursi, kemudian meneguk segelas susu cokelat yang sudah dibuatkan oleh Dara. Begitu gelas ia letakkan kembali di atas meja makan, sang bunda datang dengan mangkuk kecil berisi buah pir yang sudah dipisahkan dari kulitnya dan terpotong kecil.
Karena tidak memiliki pekerjaan yang harus dilakukan lagi, Dara duduk di samping putri bungsunya. Tangannya terulur untuk mengecek suhu tubuh Ayrisa. Ya, sudah membaik walaupun belum sembuh sepenuhnya.
"Habisin buahnya, setelah itu kita langsung berangkat," ujar Dara seraya mengusap puncak kepala Ayrisa.
Memakan buah yang ada di hadapannya menggunakan garpu. Ayrisa melihat sekilas ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul enam pagi lebih dua puluh menit. Yah, rekor berangkat terlama yang pernah ia lakukan.
Terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Ayrisa tidak menoleh untuk mencari tahu karena pasti itu hanya salah satu dari kakaknya. Benar saja, Nefra yang datang kemudian langsung duduk di sisi Ayrisa yang lain. Laki-laki itu menggeser kursinya agar bisa lebih dekat dengan Ayrisa. Lalu tangannya menjulur untuk membawa tubuh sang adik untuk bersandar pada dirinya. Hah, posisi seperti ini sepertinya sudah menjadi posisi favorit seorang Arnefra Karsana Edwinata.
"Yakin mau sekolah? Masih agak anget gini badan lo," ujar Nefra dengan telapak tangan yang menempel di dahi Ayrisa.
"Udah gak papa, Kak Nef." Ayrisa menyingkirkan tangan Nefra dari dahinya, kemudian lanjut melahap buahnya.
"Kalau gitu jangan lupa minum obat sebelum jalan."
"Ihh, gak bisa, Kak Nef. Nanti malah ngantuk di sekolah."
"Siapa suruh ngebet banget buat sekolah. Masih anget gini juga," balas Nefra dengan gemas.
Akhirnya buah di mangkuk itu habis. Nefra memberikan segelas air untuk Ayrisa. Kemudian membantu sang adik membersihkan sisa air di sudut bibir dengan tisu. Sebelum adiknya itu berangkat, Nefra memberikan jaketnya pada Ayrisa.
Sampai di sekolah, Ayrisa melangkah cepat agar segera sampai di kelasnya. Bel berbunyi bertepatan dengan ia yang menginjakkan kaki di kelas. Mia menyambutnya dengan mata berbinar. Selama Ayrisa tidak masuk sekolah, gadis itu merasa seperti anak bebek yang kehilangan induk sehingga tidak tahu harus melakukan apa. Paling ia hanya akan ke kantin sebentar dan menghabiskan makanannya di kelas.
"Lo udah baikan, Ay?" tanya Mia setelah mengubah posisi duduknya menghadap Ayrisa.
"Iya, udah lebih baik." Ayrisa membalas seraya melepaskan jaket yang menempel di tubuhnya.
"Lain kali harus lebih merhatiin kesehatan lo, Ay. Gue yakin banyak yang khawatir kalau lo sakit gitu." Mia memberi nasehat singkat, lagaknya seperti advisor berpengalaman. Ayrisa tersenyum geli melihat Mia yang seperti itu. Ia membalas dengan sebuah anggukan mantap. Tidak ingin juga membuat orang-orang di sekitarnya khawatir lagi, tetapi itu semua tergantung pada takdir.
"Oh, iya. Mi, nanti fotoin catatan dari hari Senin, ya. Mau aku salin."
"Tenang aja, tapi nanti lo ingetin lagi, ya. Gue suka lupa soalnya." Mia menyengir kuda.
Tidak lama setelah itu, Pak Frans memasuki kelas untuk memberikan pembinaan pagi seperti biasanya. Hanya beberapa menit saja karena beliau juga harus ke kelas yang lain.
...·Ayrisa·...
Sedari pagi, tepatnya setelah sarapan, Ayrisa sudah sibuk dengan buku dan peralatan tulisnya. Duduk lesehan di atas karpet yang ada di ruang keluarga, meja di depannya penuh dengan buku-buku. Televisi yang menayangkan kartun favorit sesekali dilirik olehnya seraya menulis catatan. Akhir pekan ini ia isi dengan menyalin catatan.
Ayrisa sebenarnya juga suka menonton berita, tetapi ia lebih suka menonton kartun spons kuning favoritnya. Ia menghela napas pelan, merasa sedikit tidak terima dipisahkan dengan si spons kuning sebelum waktunya. Biasanya ia akan berhenti menonton pada pukul sebelas siang, bertepatan dengan waktu habisnya kartun itu ditayangkan di televisi.
"Udah, kamu lanjutin belajarnya aja. Biarin Ayah nonton ini," ucap Antra pada putri bungsunya. Menyadari perubahan raut gadis itu.
Ayrisa hanya membalas singkat dengan lesu, kemudian melanjutkan catatannya. Selesai mencatat ia membaca ulang dan memahaminya agar tidak merasa tertinggal. Itu ia lakukan juga ketika menyelesaikan catatan mata pelajaran yang lain.
Hingga akhirnya ia selesai ketika jam menunjukkan hampir tengah hari. Meregangkan otot-otot tubuh dan melemaskan jari-jari tangannya yang kaku setelah menulis banyak. Kemudian Ayrisa merapikan buku-buku dan alat tulisnya untuk ia bawa kembali ke kamar.
Karena Nura pergi bersama temannya pukul setengah sepuluh pagi tadi, sepi yang menyambut Ayrisa ketika pintu kamar dibuka. Sebuah pesan masuk ke ponsel Ayrisa setelah ia selesai menyimpan buku ke tempatnya. Pesan itu dari Mia, berisi ajakan untuk jalan-jalan sore nanti ke pantai untuk menikmati sunset.
Tentu Ayrisa sangat ingin ikut, melihat hamparan bintang di pantai akan terasa jauh lebih menyenangkan daripada melihat dari balik jendela kamar selama ini. Juga pas sekali hari ini akan ada konjungsi bulan dan Saturnus. Ingin sekali melihat mereka dengan jelas. Namun, akan sangat sulit meminta izin sang bunda karena pastinya mereka akan pulang saat malam telah tiba.
Mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, Ayrisa memikirkan cara agar dirinya bisa diizinkan pergi. Ia harus memutar otak segera. Sebentar lagi adalah waktu makan siang, dan Mia memberitahukan kalau mereka bisa pergi pukul setengah empat sore nanti. Masih lama, tetapi mengantongi izin sang bunda pasti juga butuh waktu yang lama untuk bujukan yang akan dilontarkan.
Ah, benar. Ia memiliki Nefra!
Segera melangkahkan kakinya keluar kamar, Ayrisa mengetuk pintu kamar yang ada di seberangnya dengan tidak sabaran. Tidak lama kemudian sang kakak membukakan pintu.
"Kenapa, Ay? Cepetan, gue mau lanjut nonton film, nih."
"Hum, nonton apa?" Gadis itu menunjukkan raut penasaran.
"Gak usah kepo lo," balas Nefra seraya mendorong kening Ayrisa dengan telunjuknya. "Cepetan, mau apa lo?"
"Nanti sore jalan, yuk!" Ayrisa langsung mengutarakan niatnya. "Mia ngajakin ke pantai. Aku pengen, sekalian liatin konjungsi bulan sama Saturnus."
"Gak ada, lo baru sembuh, ya. Gue gak mau ikut-ikutan," tukas Nefra. Setelah itu ia akan langsung menutup pintu kembali, tetapi gerakannya terhenti begitu mendengar suara Ayrisa.
"Kak Nef mau biarin aku pergi sendiri?" Ayrisa sengaja berujar dengan nada yang terdengar lirih. Ia menatap Nefra dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Gosh! Ayrisa memanfaatkan kelemahan dirinya dengan sangat baik. Kalau sudah seperti ini Nefra tidak terpikirkan alasan lain untuk menolaknya. Akhirnya laki-laki itu hanya bisa menghela napas panjang. "Iya, iya, kita jalan nanti sore."
Sebenarnya ia tahu mengenai 'acara jalan-jalan' ke pantai yang Mia tawarkan pada adiknya. Itu adalah kegiatan rutin Askar untuk membersihkan pantai. Para senior seperti dirinya biasa juga ikut diajak, tetapi ia sudah menolaknya ketika ditawarkan dua hari lalu. Namun, pada akhirnya pun ia juga pergi ke sana karena Ayrisa.
"Oke, bantu minta izin sama bunda, ya." Setelah mengatakan itu Ayrisa langsung berlalu ke lantai dasar, karena tahu sebentar lagi sang bunda akan memanggil mereka untuk makan siang.
Ayrisa mendudukkan dirinya dengan nyaman di atas kursi. Selang beberapa detik sang kakak ikut bergabung di meja makan, duduk di sisi yang berseberangan dengannya. Setelah sang ayah bergabung ke meja makan, mereka langsung memulai makan siang itu.
...·o0o·...
Jangan lupa untuk memberikan dukungan, ya~ terima kasih.