
Matahari yang menyinari Bumi hari ini terasa lebih terik, membuat suhu di sekitar meningkat. Bulir-bulir keringat tampak di pelipis setiap orang karenanya. Kantin fakultas menjadi tujuan para mahasiswa setelah menghadiri kelas yang membuat penat. Menjadikannya tempat yang penuh akan dengungan lebah karena perbincangan yang terjadi hampir di setiap sisi kantin.
Di salah satu sudut kantin, seorang gadis tampak sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya. Kacamata anti radiasi bertengger di batang hidungnya. Ia hanya sendirian, tidak ada orang lain yang menempati meja itu selain dirinya. Rambutnya dijepit seadanya dengan jedai berwarna hitam miliknya. Beberapa helai yang lolos melambai begitu tertiup embusan angin kecil.
"Ay."
Seruan disusul usapan lembut di kepalanya dirasakan Ayrisa. Ia menoleh, mendapati Aspen yang berbalut kaus putih dan kemeja flanel hitam lengan panjang yang tidak dikancingkan. Kaki jenjang laki-laki itu berbalut celana Chino yang juga berwarna hitam.
"Kak As baru selesai?"
"Iya," jawab Aspen. "Kamu sendiri udah dari tadi?"
Ayrisa melihat sebentar jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baru tiga puluh menit."
"Nanti pulang sama Bang Nefra?"
"Kak Nef kayaknya masih sibuk ngurus wisudanya," balas Ayrisa. "Tapi tadi Anya ngajak pulang bareng, kok."
Aspen mengangguk paham, kemudian menyamankan duduknya di samping Ayrisa. "Terus Anya ke mana sekarang?"
"Katanya ke fakultasnya Kak Ari dulu bentar."
"Ya udah, aku temenin sampe Anya datang." Ayrisa hanya mengangguk untuk mengiyakan. Ia kembali menatap layar laptop miliknya untuk melanjutkan tugas yang sedang dicicil.
Meskipun matanya fokus pada layar laptop, sebagian kecil pikiran gadis itu melayang ke memorinya dua tahun belakangan ini.
Ya, semuanya tidak terasa berlalu dengan cepat. Dua tahun sudah terlewati, dan kini Ayrisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Tahun terakhirnya di SMA juga terasa biasa saja. Tugas mereka semakin banyak, membuat gadis itu harus ekstra rajin. Mia bahkan sampai mengeluh hampir setiap harinya, lalu berakhir dengan mengajak Ayrisa belajar bersama ketika pulang.
Walaupun semuanya terasa biasa, ada satu hal yang membuat tahun terakhirnya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Aspen, laki-laki yang baru ia kenal begitu bertemu Mia, datang bersama keluarganya untuk membicarakan pertunangan mereka.
Ketika Dara dan Antra menyambut baik kedatangan keluarga Pradiepta, Nefra langsung berada dalam mode ngambek dan mengurung Ayrisa di kamarnya. Ia merasa terkhianati karena hanya dirinya yang baru tahu rencana pertunangan adiknya dengan Aspen di saat orang tuanya sudah merencanakan itu sedari dua bulan sebelumnya.
Sebagai kakak yang sangat posesif, Nefra bahkan sampai merencanakan pelarian diri mengajak Ayrisa. Tentu hal itu tidak terlaksana, dan berakhir laki-laki itu memberi persyaratan, yaitu harus menunggu sampai Ayrisa berusia delapan belas tahun.
Karena persyaratan itulah Aspen harus menunggu sampai sekarang. Bahkan masih ada lima bulan lagi sebelum Ayrisa berulang tahun yang kedelapan belas.
"Ay, Anya udah datang!" Seruan pelan Aspen membuat Ayrisa langsung melarikan pandangannya ke arah pintu masuk kantin. Ia sedikit tidak sadar kalau sempat melamun sebentar. Dengan gerakan cepat tangannya mematikan laptop dan memasukkannya ke dalam tote bag hitamnya.
"Kak As masih ada kelas?"
"Iya, masih ada lima belas menit lagi." Aspen menjawab seraya melihat jam tangannya. Jika saja ia tidak memiliki kelas setelah ini, pasti ia yang akan mengantar Ayrisa pulang.
"Hai, Kak Aspen!" Anya menyapa begitu sampai di meja itu.
"Hm."
"Singkat amat, dipanjangin dikit napa. Jadi cowok, tuh, harus aktif biar ceweknya gak bosen. Kalau Ayrisa diembat yang lain baru tahu rasa."
Anya, adik sepupu Ari, memang memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang dengan Ayrisa. Keduanya menjalin hubungan pertemanan sejak ospek. Gadis ini tipe yang ceplas-ceplos dan hiperaktif. Orang-orang yang ada di sekitarnya pasti selalu nyaman walaupun baru dekat karena merupakan sosok yang easy going.
"Kemarin juga ada yang nembak Ayri. Cakepnya sampe bikin silau, anak hukum." Ia berimbuh, berniat memanas-manasi laki-laki di depannya ini.
"Anya! Gak boleh ngungkit tahuu. Lagian itu juga udah bulan lalu, bukan kemarin." Ayrisa menyela sebelum temannya ini lanjut melebih-lebihkan.
"Ay, kenapa gak cerita?" Aspen bertanya dengan suara datar, membuat perasaan bersalah sedikit demi sedikit menyelimuti Ayrisa.
Cara laki-laki itu memandangnya, memperlakukannya dan melindunginya, ia benar-benar merasa seperti orang yang berlimpah kasih sayang dan cinta. Belasan tahun dari keluarganya, dan kini Aspen hadir dan menambah cinta yang diterimanya. Karena itulah, selama menjaga komitmennya Ayrisa tidak pernah menerima pernyataan suka dari laki-laki lain.
Anya pernah bertanya mengapa dirinya tidak berpacaran dengan Aspen sampai mencapai usia delapan belas tahun, dan ia menjawab dengan jelas kalau Aspen dan Nefra sudah membuat kesepakatan di belakang orang tua mereka. Ayrisa tidak tahu secara jelas kesepakatan kedua laki-laki itu, dan ia pun belum cukup berani untuk bertanya, entah mengapa.
"Ay, perlu aku ulang pertanyaannya?"
"Bukan gitu, Kak As. Kan, aku juga gak nerima Axel, dan dia juga gak sampe ngejar aku. Jadi aku rasa masalah itu gak perlu dibesarin lagi."
"Anya juga gak boleh gitu!" Ayrisa beralih pada temannya, memberikan tatapan tajam yang jatuhnya membuat wajah gadis itu terlihat lucu di mata Anya.
"Iyaa, iyaa, lain kali gak gue kasih tahu. Tapi kalau Kak Aspen sendiri yang nanya-nanya udah bukan tanggungan gue ya." Anya mengangkat rendah kedua tangannya, terlihat seperti orang menyerah.
Mengembuskan napas pelan, kemudian tangan Aspen bergerak untuk mengelus puncak kepala Ayrisa. "Lain kali langsung kasih tahu aku ya, Ay."
"Iya, Kak As." Ayrisa membalas sambil mengangguk pelan.
"Ya udah, sekarang kamu pulang terus istirahat. Besok kita jalan ya, aku udah izin sama Bunda."
Sekali lagi Ayrisa mengangguk sebagai balasan. Kemudian ia pamit dan keluar dari kantin bersama Anya.
...·Ayrisa·...
Ucapan selamat mengudara, ditujukan kepada para mahasiswa yang akhirnya bisa lulus dan menyandang gelar. Setelah acara wisuda selesai, aula kampus diisi dengan keriuhan semua orang untuk berfoto bersama maupun saling memberikan selamat. Seusai mengambil beberapa foto bersama teman-temannya, Nefra menghampiri keluarganya yang sudah menunggu.
"Selamat ya, Kak Nef!" Ayrisa berseru senang seraya memeluk kakak laki-lakinya dengan hangat.
"Makasih, Ay." Nefra membubuhkan banyak kecupan ringan di wajah Ayrisa. Membuat gadis itu tertawa kecil karena merasa geli.
Dara dan Antra yang jaraknya hanya dua langkah dari mereka, tersenyum hangat melihat pemandangan itu. Merasa seperti baru kemarin anak-anak mereka bermain kejar-kejaran di halaman belakang. Sekarang anak-anak mereka sudah sebesar itu. Pun Nefra sekarang menyusul sang kembaran yang wisuda lebih dulu.
"Khusus hadiah buat kelulusan, Kak Nef boleh minta apa aja. Tapi inget, gak boleh yang susah-susah!"
Nefra tersenyum penuh makna. "Kalau gitu gak usah tunangan sama Aspen."
"Nefra!"
"Bercanda, Bun. Ekspresinya biasa aja, nanti cantiknya hilang, lho." Nefra mengukir sebuah cengiran sambil mengangkat dua jarinya. Sekali lagi Nefra membawa tubuh mungil Ayrisa ke dalam pelukannya. "Gue restuin lo sama Aspen," bisiknya di samping telinga sang adik.
Jauh di lubuk hati Nefra, akhirnya ia merasa lega ketika mengatakan itu. Ia akan mempercayakan adik kesayangannya ini kepada Aspen. Setelah sekian lama menyiapkan hatinya, hari ini pun tiba.
Sebenarnya bukan tanpa alasan ia akhirnya memberi restu. Hanya saja, banyak hal sudah mereka lalui belakangan ini, dan membuatnya sadar kalau waktunya untuk menjaga Ayrisa kian sedikit. Waktunya untuk memanjakan sang adik akan terkikis oleh jam kerjanya nanti. Karena itu, ia akan mempercayai Aspen untuk membuat adiknya—hartanya—bahagia.
"Don't waste your tears, Kak."
Nefra merasakan usapan lembut di pipinya. Ia tidak sadar kalau air matanya diam-diam bergerak jatuh dari pelupuk mata.
"Kita masih punya baaanyak waktu buat dihabisin bareng. Gak usah mikir terlalu jauh dulu." Ayrisa menampilkan senyuman khasnya. "Mau bagaimanapun, kan, aku tetap adiknya Kak Nef."
"Gosh! Gue gak terima waktu berlalu begitu cepat!"
Ayrisa terkekeh pelan begitu sang kakak mengeratkan pelukannya. Dalam hati, ia setuju dengan ucapan kakaknya. Waktu berlalu dengan sangat cepat.