
Berkas-berkas cahaya matahari menyusup melalui celah tirai yang menutupi jendela. Pagi yang telah datang menandakan hari baru bagi dunia. Jam yang menempel di dinding kamar itu menunjukkan pukul delapan lebih lima menit. Sang pemilik kamar yang terganggu oleh jilatan cahaya yang berhasil menerobos tirai memutuskan untuk bangun.
Matanya yang masih terasa berat ia paksa untuk terbuka. Masih mengumpulkan nyawa yang tersebar selama ia tertidur, lalu kedua netranya mengarah pada jam dinding. Mulutnya terbuka lebar kala tidak bisa menahan untuk menguap.
Akan bangkit dari posisi berbaringnya, ia baru menyadari jika ada sosok lain yang menempati ranjang itu. Sang adik, Ayrisa. Gadis itu masih nyenyak dalam tidurnya. Menggunakan lengan Nefra sebagai bantal bagi kepalanya. Dengkuran halus terdengar darinya.
Tanpa sadar membuat Nefra tersenyum kecil. Tangan laki-laki itu terangkat kemudian mengelus pipi sang adik secara perlahan agar tidak mengganggu tidurnya. "Lucky to have you in our life," ucapnya dengan sangat pelan.
Kemudian ia mengecup dahi Ayrisa sekilas sebelum memindahkan kepala gadis itu ke atas bantal dengan gerakan sepelan mungkin. Ia sangat tidak ingin mengganggu tidur nyenyak adiknya.
Nefra keluar dari kamarnya dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Tidak lupa ia juga menggosok gigi. Setelahnya ia menuruni tangga dan langsung berbelok menuju dapur sekaligus ruang makan itu. Di sana sudah ada Dara dan Antra yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sang ibu rumah tangga dengan kegiatan memasak sarapan, dan sang kepala keluarga yang sedang membaca berita melalui tablet.
"Ayri mana, Nef?" Suara Dara mengalun ketika laki-laki itu baru saja mendaratkan dirinya di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan.
"Masih tidur, Bun." Nefra menjawab seraya membawa gelas ke depan bibirnya. Puas setelah membasahi kerongkongannya, kemudian ia menatap ayah dan bundanya secara bergantian. "Nura udah pulang?"
"Belum, katanya nanti sore."
"Tadi malam pulang jam berapa?"
"Hampir setengah dua belas. Sampai di rumah kamu sama Ayri udah tidur."
Laki-laki berusia dua-puluh tahun itu mengangguk kemudian terdiam sejenak. Tampak ragu, tetapi keraguan itu segera ia enyahkan. "Bunda sama Ayah tahu penyebab Ay lakuin itu delapan tahun lalu?" Ia sudah membulatkan tekad. Ini semua untuk adiknya. Untuk adiknya, Nefra akan melakukan apa pun.
Dara dan Antra menghentikan kegiatan mereka. Hening melanda. Sepasang suami-istri itu menatap putra mereka dalam diam. Antra terlihat melepas kacamata baca yang bertengger di batang hidungnya setelah itu. Pria itu mengembuskan napas pelan seraya menatap putranya dengan lekat. "Gak ada yang salah dalam kejadian itu," ucap pria itu akhirnya.
Dari balasan yang ia terima, dapat disimpulkan bahwa kedua orang tuanya tahu mengenai hal itu. Mengenai perundungan Ayrisa, dan mengenai ... Nura.
Nefra mendengkus, lalu terkekeh kecil. Menertawai dirinya yang seperti orang bodoh. "Jadi cuma aku yang baru tahu."
"Seharusnya dulu aku gak minta buat beda sekolah sama Nura. Aku pasti bisa jagain Ayri waktu itu ... dan semua itu gak akan terjadi sama Ayri." Ia berimbuh dengan netra yang mulai berkaca-kaca. "Kalau aja Nura gak pergi, pasti Ayri gak akan punya pemikiran kayak gitu, Bun."
"Sudah Ayah bilang, Nefra. Tidak ada yang salah untuk hal itu. Itu sudah takdir." Antra berucap dengan tegas.
Dara mendekati putranya itu. Memberi usapan lembut di pundaknya. "Dulu, Nefra. Kamu harus ingat itu. Berarti semuanya sudah berlalu, gak ada yang bisa diubah."
"Aku gak bisa kalau terjadi hal buruk sama Ayri, Bun. Aku gak bisa tanpa Ayri." Air mata jatuh dari pelupuk mata laki-laki itu.
"Kamu hadir di dunia ini sebagai kakaknya Ayri. Tugas kamu sebagai kakaknya memang menjaga adik kamu, tapi kamu juga harus ingat yang paling penting Nefra. Kamu itu manusia, semua hal bisa terjadi, dengan keinginan kamu maupun kehendak Tuhan. Itu yang namanya takdir. Apa yang terjadi sama Ayri delapan tahun lalu itu sudah berlalu, tidak perlu diperpanjang lagi. Itulah alasan mengapa penyesalan cuma ngebuat orang-orang terjebak, berakhir dengan merugikan diri."
Nefra mendengarkan ucapan sang bunda dalam diam. Benaknya berusaha mencerna dan menerima penjelasan itu walaupun rasanya sulit.
"Ayrisa masih ada bersama kita, Nefra." Dara menekankan nama putri bungsunya. "Waktu kita untuk bersama masih banyak. Kamu masih punya banyak waktu untuk menjaga adik kamu." Pada akhirnya Nefra hanya bisa mengangguk sebagai bentuk balasan. Ia terdiam kala sang bunda mengacak-acak rambutnya sambil tersenyum hangat. "Jangan nangis lagi. Cemen anak cowok Bunda nangis gini, malu sama adeknya."
Ledekan sang bunda membuat Nefra menoleh ke arah ambang jalan yang menghubungkan ke dapur sekaligus ruang makan itu. Di sana, adiknya berdiri dan menatapnya dengan tatapan meledek.
"Gak usah ngeledek!" Ia memberi peringatan begitu melihat bibir Ayrisa berkedut menahan senyuman yang terkesan meledek. "Cepetan sini lo!"
Tidak ada niatan untuk membantah ataupun protes, Ayrisa melangkah mendekati kakak laki-lakinya itu. Ketika akhirnya berdiri di samping kursi yang ditempati oleh sang kakak, tubuhnya ditarik hingga terjatuh ke atas pangkuan Nefra. Tubuhnya dibelit dengan erat oleh sepasang tangan. Kemudian pelipis dan pipinya dihujani oleh kecupan-kecupan seringan bulu.
"Geli, Kak Nef!" seru gadis enam belas tahun itu. Ia memberontak, berusaha melepaskan diri, tetapi itu tidak membuahkan hasil.
Dara dan Antra hanya tersenyum melihat putra dan putri mereka.
"Kak Neef!" Ayrisa kembali berseru saat kecupan di pipinya berubah menjadi gigitan kecil.
"Udah. Diem, Ay." Nefra menjauhkan wajahnya dari sang adik. Ia cukup menikmati ketika melihat ekspresi wajah Ayrisa yang sedang dijahili olehnya. "Nanti sore mau gak jalan sama gue? Abis itu kita liat langit malam," tawarnya.
"Mauuu!"
"Bundaa." Ayrisa memanggil sang bunda dengan suara yang ditinggikan, padahal jarak mereka tidak sampai sepuluh meter. "Nanti boleh main ya, sama Kak Nef. Abis itu mau liat bulan."
"Kemarin kalian baru main sama temen-temen, 'kan? Sampai malam juga." Dara menatap kedua anaknya dengan mata yang disipitkan.
"Bundaa please!"
...·Ayrisa·...
Bulan dan jutaan bintang mengisi ruang kosong pada gelapnya langit malam yang menaungi Bumi. Bersama pengguna jalan lainnya, kakak dan adik itu membelah jalanan kota dengan mobil. Gedung-gedung tinggi maupun bangunan kecil di sisi jalan menjadi teman padatnya jalanan.
Sibuk memperhatikan objek-objek yang mereka lewati melalui kaca jendela mobil, Ayrisa sontak mengalihkan pandangannya ketika sang kakak memanggil.
"Kita cari tempat makan dulu. Bunda bilang kita makan di luar aja, kemaleman kalau nunggu pulang."
"Hm."
"Lo mau makan apa?"
"Cari rumah makan Padang ya, Kak Nef. Kepengen itu."
"Oke. Gue tahu di mana yang enak."
Berkendara beberapa menit lagi, mobil akhirnya terparkir di depan sebuah rumah makan Padang yang masih didatangi orang-orang walaupun malam telah tiba, seperti kedua kakak-beradik itu. Setelah memesan Nefra langsung menyusul Ayrisa yang sudah lebih dulu menempati meja yang masih kosong. Tidak lama kemudian pesanan mereka diantarkan oleh pegawai rumah makan itu.
Kakaknya tidak berbohong, baru suapan pertama yang masuk ke mulutnya, Ayrisa sudah mendapatkan kelezatan dari makanan khas Padang itu. Bumbu yang meresap dengan baik, pun tekstur daging yang pas, menyatu dengan baik. Memberikan sensasi menyenangkan ketika bertemu dengan indra pengecap.
"Bang Nefra!"
Nefra mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang memanggilnya. Pandangannya mengedar untuk menemukan si pelaku.
"Ketemu lagi kita di sini." Gana, si pelaku yang memanggil Nefra, menghampiri meja yang ditempati kakak-beradik itu. Mereka melakukan salam antarlaki-laki sebelum Gana bersama Mia bergabung di meja itu.
"Makan di luar juga lo," ujar Nefra setelah pasangan itu mendudukkan diri.
"Ya, gitu. Lo sama Ayrisa juga tumben bisa keluar sampai malam gini," balas Gana.
"Abis liatin bulan sama bintang. Kak Nef ajak ke bukit yang jauh dari sini." Ayrisa ikut masuk ke dalam percakapan itu. Kemudian ia beralih pada Mia yang duduk di depan Nefra. "Kapan-kapan kita ke sana ya, Mi?"
Mia yang sedari tadi diam mengangguk kaku. "Tenang aja, gue selalu bisa, kok."
"Hum, hum." Ayrisa mengangguk dengan antusias lalu melanjutkan makannya.
Pesanan Mia dan Gana yang juga telah tiba membuat mereka fokus pada piring masing-masing. Nefra yang menghabiskan makanannya lebih dulu. Laki-laki itu mengecek ponselnya untuk melihat apakah ada pesan lagi dari sang bunda atau tidak.
"Ay, makannya cepetan dikit. Bunda udah teror gue buat bawa lo pulang."
"Bentar, ini masih banyak." Gadis yang sebentar lagi berusia tujuh belas itu memandang sang kakak dengan sinis. Ia tidak suka acara menikmati makanannya diganggu.
"Lo sambil main hape nanti gak habis-habis, Ay!"
"Iish, Kak Nef nyebelin! Ganggu orang makan aja."
"Udah, ah. Sini gue suapin aja biar cepet." Tangan Nefra langsung mengambil alih sendok dari tangan Ayrisa. Ia mulai menyendokkan makanan dan mengarahkannya ke depan mulut sang adik. Tidak dapat menolak, Ayrisa pun hanya bisa menurut dan membuka mulutnya.
"Selalu jadi nyamuk kalau ada di antara lo sama Ayrisa. Padahal juga ada cewek gue di sini." Gana mengalihkan pandangannya dengan malas. Tangannya yang memegang sendok sedikit menyentak dengan kasar.
"Biarin, terserah gue. Gue yang punya adek, kok."