
Pekan pertama di masa liburan disambut Ayrisa dengan senang. Selesai sarapan ia berkencan dengan kartun favoritnya sampai jam sebelas siang. Kemudian menikmati sore dengan bermain air di taman belakang saat sedang menyiram tanaman. Ya, walaupun akhirnya dihadiahi omelan panjang dari Nefra padahal sang bunda memaklumi dan hanya mengingatkan untuk mandi setelahnya. Lalu, setelah makan malam dilanjutkan dengan menonton film aksi bersama sang ayah. Seharian ini terasa sangat menyenangkan bagi Ayrisa.
Sebelum masuk ke kamar, Ayrisa pasti akan ke kamar mandi terlebih dulu. Mencuci kaki, menyikat gigi dan mencuci muka. Itu semua sudah menjadi kebiasaannya sedari kecil, sang bunda yang mengajarkan. Karena pernah mengalami sakit gigi, Dara tidak ingin anak-anaknya juga merasakan itu.
Kini, ketika lampu kamar yang ada di seluruh rumah sudah padam, Ayrisa membuka aplikasi bacanya.
Ada sebuah cerita yang terasa sangat tanggung jika menunggu hingga hari esok tiba. Jadi, ia memutuskan untuk begadang malam ini. Lagipula sekarang adalah masa liburan, bangun sedikit kesiangan pun tidak apa.
"Iya, aku gak papa. Yang penting kamu gak ngerasain sakit lagi." Suaranya terdengar serak, seakan tidak kuat lagi menahan dorongan yang ingin keluar dari dirinya. Laki-laki itu menggenggam erat tangan perempuan yang berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Matanya yang berkaca-kaca tidak dapat membohongi perasaannya saat ini.
Sebuah senyuman tipis mengukir di wajah perempuan itu. Akhirnya ia merasa lega. "Aku pamit ... sampai jumpa."
Mesin EKG—elektrokardiogram yang ada di sisi kepala ranjang berbunyi nyaring. Layarnya menampilkan garis lurus, menandakan tidak ada lagi detak jantung yang tertangkap.
Sudah. Pertahanan laki-laki itu runtuh sudah. Ia jatuh berlutut di sisi ranjang dengan air mata yang berhasil memaksa keluar. Ruangannya terdengar pilu, memanggil-manggil nama perempuan yang telah berhasil menempati hatinya. Namun, mau bagaimanapun perempuan itu kini tidak akan terbangun lagi. Membuka kelopak matanya untuk memperlihatkan manik coklat yang selalu dapat membius dirinya pun kini tidak akan lagi.
Sebuah tepukan di pundaknya membuat laki-laki itu menoleh—
Ponsel jatuh dari tangan Ayrisa. Ia tidak sanggup lagi. Bahkan air mata sudah tidak ada tanda-tanda akan berhenti keluar.
"Hiks ke-kenapa akhirnya sad gitu .... Hiks kasian si Andreas hiks ...." Ayrisa menangis sesenggukan. Dalam hati merasa tidak terima dengan akhir cerita yang dibacanya itu. Padahal perjalanan kedua tokoh itu begitu panjang hingga akhirnya bisa bersama. Namun, baru sebentar waktu yang mereka bagi bersama, tokoh perempuan harus pergi untuk selamanya.
"Hiks ... hiks ...."
"Berisik lo malem-malem gini!"
Tubuh Ayrisa seketika tersentak. Ia terkejut dengan seruan Nura. Padahal ia pikir kakaknya itu sudah tertidur karena sudah masuk kamar terlebih dulu, sesaat setelah selesai makan malam.
"Ma—maaf, Kak ... hiks."
Ayrisa berusaha menahan isakannya, tetapi tidak bisa. Tangisnya tidak mau berhenti. Karena takut lebih mengganggu Nura, gadis itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar.
Ia sedikit berlari untuk menuju ke kamar mandi. Berpikir mungkin dengan membasuh wajah bisa menghentikan tangisnya.
Namun, ketika sampai di kamar mandi dan sudah membasuh wajah, tangisnya tidak juga berhenti. Malah sekarang disusul isakan-isakan lirih yang terdengar menyayat.
Bukan lagi sebuah cerita dengan akhir sedih yang menjadi pelaku pengundang tangis. Melainkan sesuatu yang lain ... dan itu membuat dadanya terasa sakit. Lebih dari apa pun yang pernah ia alami, ini yang paling menyakitkan.
"Hiks.. hiks.. maaf."
Suaranya terdengar seperti bisikan. Ia mengulanginya terus-menerus dengan bibirnya yang bergetar, masih berusaha menahan isakan. Ya, walaupun pada akhirnya tidak berhasil.
Tangis dan air mata kembali mengingatkannya pada hal itu. Membuat rasa takut perlahan menyelimuti dirinya. Matanya terpejam dengan begitu kuat, merasa tidak sanggup dengan semua yang berputar di benaknya bak kaset rusak. Kedua tangannya pun menutup telinga seakan-akan suara yang menggaung di pikirannya menjadi nyata sehingga terdengar.
Entah berapa lama ia berada di dalam kamar mandi. Ia tidak tahu jam berapa sekarang. Suara jangkrik di luar sana terdengar, membuatnya berpikir kalau malam sudah sangat larut. Setelah tangisnya mereda, Ayrisa membasuh wajahnya lagi. Ia tidak berani melihat cermin yang ada di atas wastafel.
Dirinya yang lemah hanya akan terlihat ... memuakkan.
...·Ayrisa·...
Nefra terbangun saat jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi. Meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar, terlihat sangat tidak elit memang, setelah itu ia langsung meraih handuk dan menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian ia sudah terlihat segar. Merasa terlalu malas mengambil kaus dari dalam lemari, akhirnya ia hanya membiarkan dirinya begitu saja dalam keadaan topless.
Perut yang sudah mendemo minta untuk diisi membuat Nefra mengayunkan tungkainya ke lantai dasar—menuju dapur untuk mencari pengisi perut. Sampai di sana, Nefra hanya menjumpai Nura yang sedang sibuk dengan laptop serta tangan yang sesekali menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Tumben lo nugas di sini," celetuk Nefra seraya menarik piring nasi goreng yang diyakini untuk dirinya.
"Ada masalah?"
Hingga akhirnya Nefra menyelesaikan sesi makannya, lalu meminum segelas air dengan rakus. Netranya mengedar ke sekitar, ia menyadari keadaan rumah yang sepi. "Bunda sama Ayah di mana?" tanyanya, memecah hening yang menyelimuti mereka berdua.
"Bunda pergi, Ayah ngurus kerjaan di kamar." Nura menjawab seadanya dengan mata yang masih setia fokus pada layar laptop di depannya.
"Terus Ayri di mana?"
Kini Nura memusatkan pandangannya pada Nefra. Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Lo serius?" tanyanya dengan nada remeh diikuti dengkusan kecil.
Terdiam sejenak untuk mencerna maksud pertanyaan kembarannya. Keningnya sempat mengkerut untuk sesaat sebelum akhirnya menghela napas pelan, sangat pelan. "Never mind," ucapnya seraya bangkit dan membawa piring bekasnya ke wastafel cuci piring.
Setelahnya Nefra kembali ke lantai dua rumah. Mengetuk pintu kamar yang ditempati saudarinya beberapa kali, kemudian membukanya begitu tidak kunjung mendapat balasan. Kosong, tidak ada siapa-siapa di sana. Akhirnya Nefra kembali ke lantai dasar. Ia menoleh sekilas ke ruang keluarga untuk mencari. Namun, karena lagi-lagi tidak mendapati siapa pun, ia melanjutkan langkahnya ke taman belakang.
Tanpa sadar Nefra mengembuskan napas lega begitu melihat Ayrisa yang duduk di teras kecil rumah mereka. Gadis itu menatap lurus ke depan tanpa menyadari kehadiran kakak laki-lakinya. Terlihat piring berisi nasi goreng miliknya yang masih tersisa setengah.
"Ay," panggil Nefra.
Bisa laki-laki itu lihat tubuh Ayrisa sedikit tersentak, kemudian tangannya terangkat dan bergerak dengan cepat di depan wajahnya sendiri. Itu membuat pertanyaan muncul di pikiran Nefra.
"Lo ngapain sendirian di sini? Sarapan lo juga belum habis." Nefra bertanya sambil berjalan mendekati sang adik. Lalu ia mendudukkan diri di samping Ayrisa. "Mau gue suapin?"
"Udah kenyang," balas gadis itu tanpa menoleh ke Nefra. Membuat laki-laki itu akhirnya sadar wajah adiknya sembab dengan mata yang sedikit bengkak.
Dengan cepat tangannya menangkup wajah Ayrisa dan membawanya menghadap ke arahnya. Namun, setelah wajah mereka saling berhadapan, gadis itu malah memejamkan matanya dengan erat. Lagi-lagi pertanyaan muncul di benak Nefra.
"Buka mata lo, tatap gue!" titah Nefra, tetapi dituruti oleh Ayrisa. Gadis itu bertahan dengan matanya yang tertutup. Tanpa sadar Nefra sedikit menggeram karena amarah sempat menguasai dirinya. Tubuh Ayrisa yang tersentak membuat laki-laki itu sadar apa yang dilakukannya.
"Maaf." Nefra berujar pelan, penuh penyesalan. "Kenapa nangis? Bilang ke gue kalau ada yang jahatin lo," imbuhnya dengan suara yang lembut.
Masih dengan mata yang terpejam, Ayrisa menggeleng pelan. "Gak ada, Kak Nef gak perlu pikirin." Ia membalas.
"Ay, mau sampai kapan lo buat gue kayak orang bodoh yang gak tahu apa-apa tentang lo? Lo nganggep gue sebagai kakak lo, 'kan?"
"A—aku pasti bakal ceritain semuanya ke Kak Nef, tapi gak sekarang." Suara Ayrisa terdengar serak. Ia menahan tangisnya sedari tadi. Memejamkan mata adalah salah satu caranya untuk menghalangi keluarnya air mata. Ia juga beberapa kali menarik napas dalam untuk menenangkan diri.
"Oke, gue gak bakal maksa. Gue bakal nunggu sampe lo siap," ucap Nefra akhirnya.
Kemudian laki-laki itu membawa tubuh Ayrisa untuk bersandar pada dirinya. Mengelus pelan puncak kepala gadis itu dengan mata yang menyorot lurus ke depan.
"Nanti sore lo mau jalan sama gue?" tawar Nefra.
"Ke mana?"
"Ada saran?"
"Ke Time Zone aja, udah lama gak main-main."
"Oke." Nefra menyutujuinya tanpa pikir panjang. Tangannya lalu meraih piring berisi sarapan milik Ayrisa. "Sekarang habisin dulu sarapan lo."
"Gak ada penolakan! Gue yang suapin." Nefra langsung melanjutkan ketika melihat Ayrisa yang akan protes.
Pada akhirnya gadis enam belas tahun itu menurut dan membuka mulutnya ketika sesendok nasi goreng diarahkan ke hadapannya.
...·o0o·...
Jangan lupa untuk memberikan dukungan, ya~.