
Entah sudah berapa puluh bujukan yang dilontarkan Ayrisa dan Nefra agar diizinkan jalan-jalan ke pantai sore ini. Bahkan Ayrisa sampai sempat berputus asa karena tidak kunjung mendapat izin dari sang bunda. Namun, tiga puluh menit sebelum waktu yang diberitahukan oleh Mia, akhirnya izin diperoleh. Ayrisa sampai berseru senang begitu mendapat izin.
Setelahnya ia langsung berlari ke kamar untuk bersiap-siap. Kaus lengan pendek berwarna putih dan rok setinggi betis yang berwarna coklat moka menjadi pilihan outfit-nya. Sebagai pelengkap ia membawa kardigan rajut dan tas selempang yang senada dengan roknya.
Saat keluar dari kamar Ayrisa berpapasan dengan Nura yang sepertinya baru pulang. Ayrisa tidak tahu ke mana saja kakak perempuannya itu seharian ini. Seringnya ia mendengar kalau Nura pergi mengerjakan tugas bersama temannya atau hanya sekedar jalan-jalan bersama Lingga.
Ayrisa memberi jalan agar Nura bisa masuk ke kamar. Posisinya berdiri yang berada di depan pintu mengharuskannya begitu. Setelahnya ia langsung berlalu dari sana.
Sampai di lantai dasar ia menunggu Nefra sambil memakai wedges miliknya yang berwarna beige. Tidak lama waktu yang dibutuhkan Nefra untuk menyusul Ayrisa. Sebelum memakai alas kakinya, ia menghampiri sang ayah yang sedang asik menonton di ruang keluarga untuk memberitahu kalau mereka akan menggunakan mobil.
Ia sudah memikirkan ini. Mereka akan pulang saat matahari sudah menghilang di ufuk barat nantinya, lalu Ayrisa suka bersin saat terkena udara malam. Jadi, menggunakan mobil adalah pilihan satu-satunya. Itu juga dimasukkan ke dalam bujukan mereka tadi.
Begitu mobil sudah keluar dari pekarangan rumah, Nefra langsung mengendarakannya menuju pantai yang sudah disepakati oleh anak Askar di bawah pimpinan Arsaf.
Letak pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah membuat mereka cepat sampai. Keadaan pantai sore ini sedikit ramai. Kebanyakan mungkin adalah para pemburu senja dan sunset.
Di satu titik, Ayrisa bisa melihat Mia yang berada di antara kumpulan laki-laki yang dominan memakai pakaian serba hitam. Gadis itu melambai padanya pertanda memberitahukan keberadaannya dan meminta Ayrisa untuk segera mendekat.
Kedua kakak-beradik itu pun menghampiri mereka dengan tangan yang saling menggenggam—umm, sebenarnya Nefra yang menggenggam tangan Ayrisa. Dalam hati, laki-laki itu sudah sangat waspada akan tatapan anak Askar yang menatap adiknya dengan tatapan memuja dan kagum.
"Aku gak nyangka bakal rame gini," ujar Ayrisa begitu berdiri di samping Mia.
"Iya, Ay, maaf gue lupa ngasih tahu tujuan sebenarnya gue ngajak lo," sahut Mia merasa sedikit bersalah.
"Jadi, mereka ini—"
"Hai, kita ketemu lagi. Gue sebenernya gak nyangka bakal ketemu lo lagi." Arsaf yang entah sejak kapan berdiri dua langkah di depan Ayrisa, memotong ucapan Mia yang hendak menjelaskan.
Ayrisa tersenyum canggung. "Eh, iya. Halo!"
"Aseek, Pak Ketu mulai beraksi!"
"Ditunggu pajak jadiannya, Saf!"
"Modus lo sama bidadari gini."
Suara-suara seruan dari beberapa anggota Askar terdengar setelah itu. Mengundang sorakan yang lainnya untuk menggoda Arsaf. Tidak tahu saja mereka kalau telinga Nefra dan Aspen terasa panas mendengarnya.
"Udah, banyak omong lo semua. Emang udah selesai apa kerjaan lo pada?!" Nefra akhirnya berseru untuk menghentikan mereka.
"Udah selesai sepuluh menit sebelum lo sampe, Bang. Masa lo lupa jadwalnya, sih." Arsaf menjawab. "Bang Ari sama yang lain aja udah nyantai di sana." Ia menunjuk ke arah sekumpulan laki-laki yang sedang bersantai sambil menikmati es kelapa.
"Emang kerjaan apa?" Ayrisa sedikit memiringkan kepalanya untuk menatap Nefra yang berdiri di sampingnya. Ia ingin tahu apa yang dibicarakan oleh kedua laki-laki itu.
"Lo bisa anggap sebagai bakti sosial. Askar biasanya punya kegiatan rutin buat bersihin pantai, dan hari ini jadwalnya." Arsaf mengambil alih untuk menjawab. Padahal Nefra sudah akan membuka mulutnya.
"Positif banget ya, kegiatan kalian. Aku kagum." Ayrisa tidak berbohong saat mengatakan dirinya kagum, karena ia belum pernah melihat secara langsung para remaja melakukan kegiatan yang sangat positif seperti itu. Ingin rasanya ia ikut di jadwal mereka yang selanjutnya.
"Iyalah, kan, ada gue sebagai ketuanya. Pasti bakal ada banyak kegiatan positif yang kita lakuin," ucap Arsaf dengan keangkuhan yang tersembunyi di balik kalimatnya.
"Yeeuu, masih ketua bau kencur juga." Alnan menabok pundak Arsaf sambil memberikan nyinyiran. "Lagian itu emang udah jadwal rutin Askar dari dulu. Ngigo lo yang bikin."
"Iya, sok-sokan lagi. Liatin noh dua pawangnya udah siap telen lo idup-idup." Kion ikut menimpali sambil menunjuk Aspen dan Nefra bergantian yang sedang menatap tajam.
Tanpa sadar Arsaf meneguk salivanya dengan susah payah. Padahal setelah pertemuannya dengan Ayrisa di rumah sakit waktu itu, ia sudah memutuskan tidak apa kalau gadis itu adalah kakak kelas, yang penting adalah mereka seumuran. Sayang sekali jika gadis yang sangat tipenya ini dilewatkan begitu saja hanya karena memiliki kakak seperti Nefra, begitu pikirnya saat itu.
"Lo pada jangan ngerusuhin kita!" Ia memperingatkan kumpulan laki-laki itu ketika sudah jauh beberapa langkah.
Alasan sebenarnya Mia mengajak Ayrisa ke sini adalah karena tidak ada perempuan lain di antara mereka. Gana yang kelewat rajin jika berurusan dengan kegiatan Askar pasti akan selalu ikut serta dalam kegiatannya. Mia tentu akan mengikuti pacarnya itu. Namun, karena pacar dari anggota Askar lain tidak ada yang ikut, jadilah ia mengajak Ayrisa. Padahal hanya kegiatan Askar seperti ini yang bisa membuat Mia bertemu lagi dengan sahabatnya, Jian. Bukan berarti ia menjadikan Ayrisa sebagai 'pelarian' juga. Tidak seperti itu.
"Ay, siniin hape lo biar gue fotoin."
Ayrisa menuruti perkataan Mia. Lagipula juga sayang sekali jika melewatkan scenery pantai di sore hari seperti ini.
Setelah ponselnya berpindah tangan ke Mia, Ayrisa langsung mengambil jarak dan mempersiapkan gaya yang cocok untuk difoto. Beberapa jepretan sudah berhasil didapat saat semua anak Askar, baik senior mau junior, mendekat ke arah mereka.
"Lo pada udah mau pulang?" tanya Ari.
"Gue masih mau nemenin Ayri, mungkin pulangnya malem." Nefra yang menjawab pertama.
"Mau ngapain?" Pertanyaan yang lolos dari bibir Aspen mewakili semua yang juga penasaran.
"Mau liat bulan." Ayrisa menjawab dengan antusias. "Malam ini ada konjungsi bulan sama Saturnus."
"Kalau gitu gue mau ikutan! Pengen juga ngeliatin langit malam di pantai gini. Pasti seru," ujar Mia seraya menatap Gana untuk meminta persetujuan laki-laki itu, yang akhirnya tentu dibalas anggukan.
"Gue juga ikutan!" timpal Arsaf.
Di akhir, sebagian anak Askar memutuskan untuk menetap sedangkan kebanyakan yang lainnya pulang. Ari, Gala, Arjun, Safik dan dua senior lainnya juga ikut menetap.
Setelah itu Mia dan Ayrisa kembali melanjutkan kegiatan berfoto mereka. Hingga akhirnya sunset tiba. Mereka semua duduk di atas pasir pantai sambil memperhatikan matahari yang perlahan menghilang di ufuk barat. Kemudian disusul bintang yang sedikit demi sedikit mulai memenuhi langit malam. Mata Ayrisa berbinar ketika menatap langit malam yang cerah, tidak ada awan yang menghalangi keindahannya. Ya, walaupun ia harus mengetatkan kardigan yang dipakainya untuk menghangatkan tubuh.
Nefra yang duduk di belakang Ayrisa pun menarik tubuh sang adik untuk semakin menempel padanya. Kemudian ia menyelimuti Ayrisa dengan pelukannya untuk menghangatkan.
Hatchii!
Semuanya menatap ke arah sumber suara, Ayrisa. Membuat gadis itu menunduk, merasa sedikit malu.
"Nefra itu beruntung punya adek yang gemesin kayak lo," ucap Ari pada Ayrisa. Kemudian ia mengusak puncak kepala gadis itu. "Lo mau gak jadi adek gue aja?" tawarnya. Ayrisa hanya tersenyum tanpa membalas tawaran Ari. Kemudian ia kembali menatap hamparan langit malam.
Ah, bulan sudah muncul!
"Kak Nef, liat itu!" Ayrisa menunjuk bulan yang sudah terlihat. Suaranya terdengar seperti sedang berbisik. Saking indahnya pemandangan langit malam di depannya, ia hampir tidak tahu bagaimana mengekspresikan kekagumannya. Sangat cantik apa yang terbentang di depan matanya saat ini.
"Emang lo tahu yang mana Saturnus-nya?"
"Tahu!" Ayrisa dengan cepat mendongakkan kepalanya untuk menatap Nefra. "Kalau Kak Nef perhatiin baik-baik, bintang itu keliatan kelap-kelip karena pembiasan cahayanya, planet nggak."
"Itu Saturnus." Ia menunjuk satu titik yang jaraknya terlihat tidak terlalu jauh dari bulan.
Walaupun di sekitar mereka hanya ada sebuah kafe sederhana yang menjadi sumber cahaya di sana, Nefra masih bisa melihat wajah adiknya. Ekspresi penuh antusias Ayrisa terlihat
menggemaskan di mata Nefra, membuat tangannya refleks mencubit gemas pipi gadis itu.
Setelah puas melihat langit malam, akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang. Apalagi dari tadi Ayrisa sudah bersin beberapa kali. Namun, sebelum itu mereka mampir sebuah rumah makan terdekat untuk makan malam.
Sambil makan Ayrisa memainkan ponselnya. Saat melihat instastory Mia, ia sedikit penasaran kapan gadis itu merekam mereka saat di pantai tadi.
"Makan, Ay, jangan main hape terus." Aspen berujar mengingatkan. Ayrisa mengangguk dan segera melanjutkan makannya.