
Kartun spons kuning yang berprofesi sebagai koki sudah tampil di layar televisi. Ponsel yang akan menganggur untuk beberapa waktu ke depan pun sudah tergeletak di atas meja. Tidak lupa dengan setoples keripik singkong dengan bumbu balado yang sudah ada di pelukan. Ah, semuanya terasa begitu sempurna bagi Ayrisa pada akhir pekan ini. Ditambah lagi ia kedatangan seorang tamu yang akan menemaninya menonton.
Ketika muncul adegan yang sangat dihafal oleh gadis itu, ia akan ikut menggumamkan dialog bersamaan dengan tokoh kartun di televisi itu. Setelah menyelesaikannya, Ayrisa akan langsung tertawa lepas. Mengundang tatapan si tamu untuk memandanginya.
"Selucu itu ya, Ay?"
Ayrisa menggangguk dengan cepat, sarat akan keantusiasan. "Itu lucu banget tahuu sampe aku hafal! Kak Aspen gak merhatiin, sih."
"Soalnya gue lebih tertarik merhatiin lo."
Aspen, si tamu, yang bisa dibilang kurang berpengalaman dalam hal berbau romantis, tentu tidak bisa mengatakan hal itu secara langsung. Ia hanya bisa mengatakannya dalam hati, menyimpan itu untuk dirinya sendiri. Sayang sekali.
"Kak Aspen mau aku ambilin minum lagi?" Ayrisa bertanya, menawarkan sebagai seorang tuan rumah, begitu melihat gelas laki-laki itu yang sudah kosong.
Belum sempat Aspen menjawab, sebuah teko berukuran sedang sudah diletakkan di atas meja dengan kasar.
"Gak perlu. Udah gue bawain, tuh, sama tekonya sekalian!" Nefra berujar seraya mendudukkan diri di samping Ayrisa. Setelah itu menarik tubuh Ayrisa untuk bersandar di dirinya. Ia tidak mau adik kesayangannya itu dibuat ribet.
Sambil ikut menonton, sesekali Nefra mengecup puncak kepala Ayrisa dengan pelan. Ah, rasanya ia ingin menyimpan Ayrisa untuk dirinya sendiri. Kalau bisa, untuk selama-lamanya. Ia ingin selalu membuat Ayrisa bahagia dan memanjakannya.
Ponsel yang sedari tadi menganggur di atas meja tiba-tiba bergetar dan berbunyi pelan. Layarnya yang menyala menampilkan bar notifikasi berisi chat dari seseorang bernama Rio.
Tangan Nefra lebih dulu mengambil ponsel Ayrisa, tidak membiarkan sang pemilik mengajukan protes. Itu berakhir dengan Ayrisa yang memasang wajah cemberut, lalu membuang wajahnya dengan kesal untuk kembali menonton kartun di televisi.
"Gue pinjem bentar." Nefra berujar sambil mengelus pelan pipi Ayrisa agar gadis itu tidak kesal padanya.
"Jangan bales yang aneh-aneh!" peringat Ayrisa.
Di sisi lain, Aspen sebenarnya juga ingin tahu isi chat antara Ayrisa dengan laki-laki bernama Rio itu. Namun, ia belum terlalu dekat dengan Ayrisa sehingga memiliki hak untuk membuka ponsel gadis itu. Ya, hal yang sangat jelas itu terdengar menyebalkan sekarang.
Kedua ibu jari Nefra bergerak lincah di atas layar ponsel untuk mengetikkan balasan, lalu mengakhiri secara sepihak dengan mengirim stiker. Pada saat yang sama, sebuah chat masuk lagi, dari guru Ayrisa. Hanya sebuah dokumen berbentuk PDF—portable document format. Jadi, ibu jarinya menekan gambar panah untuk mengunduh sebelum membukanya.
"Ay," panggil Nefra seraya menunjukkan layar ponsel di depan wajah Ayrisa.
Gadis itu sedikit kesal karena sang kakak yang menghalangi pandangannya. Namun, ketika melihat apa yang tertampil di layar ponselnya, ia langsung berseru senang seraya memeluk Nefra.
"Kak Nef, aku lolos!"
Ayrisa memeluk Nefra dengan erat sambil menggumamkan ketidakpercayaannya. Pasalnya ini benar-benar di luar perkiraannya. Ia pikir Lisa yang akan terpilih mewakili daerah mereka karena selama bimbingan gadis itu lumayan lebih menguasai materi daripada dirinya. Kemungkinan juga peserta dari sekolah lain. Namun, namanya ada di urutan pertama, yang berarti dirinyalah yang lolos untuk mengikuti babak final Olimpiade Bahasa Jerman itu.
Perasaan senangnya saat ini sukar untuk diekspresikan.
Ah, rasanya Ayrisa ingin berteriak saja. Kedua tangannya yang mengalung di leher sang kakak sampai gemetar saking tidak percayanya.
Nefra merasakan pundaknya yang tiba-tiba menjadi basah. Tangannya dengan cepat membawa wajah Ayrisa ke depannya. Pipi Ayrisa yang terdapat air mata menggembung karena tekanan dari kedua telapak tangannya yang menangkup wajah sang adik.
"Gak usah nangis gitu," ucapnya sambil menghapus air mata di pipi Ayrisa. "Gue tahu lo itu pinter, jadi bakal loloslah. Adek siapa dulu dong." Ia berimbuh dengan nada yang terdengar angkuh.
Ayrisa mengangguk dengan sedikit sesenggukan. Sebenarnya tidak begitu sadar awalnya jika dirinya sampai menangis.
"Selamat ya, Ay!" Aspen turut memberi selamat. "Kamu hebat."
Selang beberapa detik, Dara yang sebelumnya pergi ke minimarket terdekat kembali dengan satu plastik berukuran sedang. Saat akan langsung ke dapur, ia sekilas melihat mata putri bungsunya yang tampak sembab.
"Nefra, kamu apain lagi Ayrisa?!" Dara berdiri dengan salah satu tangannya berada di pinggang.
"Nggak, Bun! Astagaa!" Nefra membalas cepat, sedikit tidak terima. "Ayri lolos olimpiade, makanya nangis," imbuhnya menjelaskan.
Seketika raut wajah Dara yang siap memberi omelan digantikan oleh senyuman begitu mendengarnya, tanpa sadar sekaligus mengembuskan napas pelan, ia merasa bangga untuk putri bungsunya itu. Sebagai hadiah kecil, ia mengeluarkan es krim yang tadi dibelinya dari dalam plastik belanjaan. Untung tadi ia terpikirkan untuk membeli makanan manis.
"Bun, Ayri gak boleh makan es krim." Nefra berseru. Tangannya terulur menolak es krim yang akan disodorkan Dara.
"Ihhh, Kak Nef!" Ayrisa memberenggut kesal.
"Bunda bolehin," balas Dara membela Ayrisa. Ia tetap memberikan es krim itu pada Ayrisa, tidak menghiraukan tatapan protes putra tunggalnya.
Ayrisa menyambut es krim yang diberikan oleh sang bunda dengan antusias. Tangannya bergerak cepat untuk membuka bungkusan. Sambil bersandar pada sang kakak, ia melahap es krimnya dengan nikmat.
Rasanya akhir pekan Ayrisa semakin sempurna dengan sebuah es krim.
Kurang lebih dua jam sudah terlewati sejak bel pertanda berakhirnya waktu sekolah berbunyi. Langit yang semakin gelap dan keadaan sekolah yang sepi membuat pikiran Ayrisa berkeliaran ke mana-mana. Bulu romanya sempat berdiri saat terkena embusan angin yang terasa dingin.
Ayrisa baru selesai mengikuti bimbingan dengan Bu Mela untuk persiapan babak final Olimpiade Bahasa Jerman nanti. Terhitung dua pekan lagi sampai hari H.
Selang beberapa menit sebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Ayrisa mengenalinya dengan baik, itu adalah mobil papanya. Jadi, ia langsung beranjak dari duduknya. Ia membuka pintu di samping pengemudi untuk masuk. Di dalam, Elio menatap Ayrisa dengan tatapan yang tidak dipahami gadis itu.
"Kenapa, Kak?" Akhirnya Ayrisa bertanya.
"Kamu gak capek bimbingan? Kata Bunda, kamu tiap hari pulang jam segini," ujar Elio dengan suara yang sarat akan kekhawatiran.
Ayrisa menggeleng lalu membalas, "Nggak. Kan, buat persiapan babak finalnya."
Elio mengembuskan napas pelan seraya menjulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Ayrisa. "Kalau capek kamu bisa langsung izin gak ikut bimbingannya. Jangan maksain diri." Setelah itu ia langsung melajukan mobil agar segera sampai di rumah dan Ayrisa bisa beristirahat.
Tiba di rumah, Ayrisa disambut dengan dengungan obrolan yang berasal dari dapur. Semua orang sudah berkumpul di sana sambil berbincang ringan untuk menunggu makanan yang masih dimasak oleh Dara dan Shera.
Ayrisa berjalan lurus menaiki tangga untuk segera mengganti seragamnya dan menyegarkan tubuh. Lima belas menit kemudian ia sudah bergabung dengan yang lainnya dan duduk nyaman di samping Nefra.
Tidak lama setelah itu makanan terakhir yang dibuat oleh Dara dan Shera pun sudah siap lalu diletakkan di meja makan. Makan malam mereka langsung dimulai setelah itu. Kehangatan yang menguar di sekitarnya membuat Ayrisa tidak tahu ingin mengekspresikan rasa senangnya bagaimana lagi. Berada di meja makan bersama semua keluarganya membuat ia merasa seperti menjadi orang paling bahagia di dunia. Kakak perempuannya pun banyak bicara kali ini, tidak seperti biasanya yang hanya melontarkan beberapa patah kata.
Selesai makan Ayrisa dan yang lainnya berpindah ke ruang keluarga.
Nefra membuat dirinya menempel pada Ayrisa sepanjang waktu karena tahu jika Elio datang, maka laki-laki itu akan memonopoli Ayrisa untuk dirinya sendiri. Itu membuat para orang tua memandang geli ke arah Nefra.
Sang kembaran, Nura, sibuk berbincang dengan Shera dan Dara. Membahas kuliah dan lainnya. Lalu merambah ke topik kue kering. Entah siapa yang memulai, ketiga perempuan itu merencanakan membuat kue bersama nanti, ketika mereka memiliki waktu luang.
Di sisi lain. Ayrisa duduk di antara Nefra dan Elio, menunggu film action pilihan ayahnya yang akan tayang di televisi. Tubuhnya bersandar dengan nyaman pada Nefra sedang tangan kanannya di genggam oleh Elio sambil sesekali dimainkan dan dikecup oleh laki-laki itu.
"Finalnya kapan, Ay?" Nefra tiba-tiba bertanya. Sekedar basa-basi, tetapi sebenarnya juga ingin tahu.
"Tanggal dua puluh delapan nanti," jawab Ayrisa.
Nefra berpikir sejenak setelah mendengar jawaban Ayrisa. "Oh, nanti biar gue aja yang nganter lo."
Ayrisa mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sang kakak, keningnya mengkerut bingung. "Emangnya Kak Nef bisa ikut?"
"Ikut ke mana? Kan, palingan tempatnya di sekolah."
"Ih, Kak Nef kebiasaan sok tahu banget." Ayrisa meledek sang kakak sambil menusuk pipi laki-laki itu dengan jari telunjuknya. "Hari Minggu tanggal dua puluh lima nanti aku berangkat ke Jakarta buat finalnya tahu!"
Seketika mata Nefra membola. "Lo cuma sendirian ke sana bareng guru gitu?!" tanyanya dengan nada tidak santai. Lebih terdengar seperti sebuah teriakan sehingga membuat yang lain menatap ke arah mereka.
"Gak usah teriak-teriak, Nefra!" tegur Dara.
"Gak bisa, Bun, masa babak finalnya di Jakarta. Ayri gak pernah pergi jauh tanpa kita, Bun." Nefra mengajukan protesnya dengan dramatis.
"Dia udah besar, lo-nya aja yang terlalu berlebihan. Lagian paling gak lama di sana," sahut Nura seraya merotasikan bola matanya jengah. Perkataan yang ia lontarkan pun benar, saudara kembarnya itu terlalu berlebihan.
"Ayri itu masih kecil. Gimana kalau peserta lain ada niatan jahat terus gak ada yang nolongin? Dia gak boleh pergi sendiri ke sana!"
"Nura benar, Nefra, kamu terlalu berlebihan. Ayri saja tidak berpikir negatif seperti kamu." Antra ikut menambahkan. Dirinya sudah memberi persetujuan saat putri bungsunya itu memberitahukan hal ini pada ia dan Dara. Tidak ada alasan untuk melarangnya ini dan itu.
"Kalau gitu aku izin aja ke kampus buat nemenin Ayri di sana."
"Gak mau! Sama Kak Nefra nanti ribet!" seru Ayrisa untuk menolak.
"Ay—"
"Nggak mau denger lagi! Aku mau nonton aja." Ayrisa membungkam Nefra dengan ketus lalu pindah bersandar pada Elio. Ia sedang berada dalam mode kesal pada Nefra.
Itu membuat Nefra berdecak pelan. Setelah itu ia menarik tubuh Ayrisa untuk bersandar pada dirinya lagi, lalu memeluk sang adik dengan erat agar tidak bisa berpindah seperti tadi. "Gue gak suka lo tumbuh secepat ini," ucapnya pelan seraya membubuhkan kecupan ringan di puncak kepala Ayrisa.
...·o0o·...
Jangan boom like, ya~ Just give like(s) as you enjoy the story.