Ayrisa And Her Story

Ayrisa And Her Story
Ayrisa³³ - Nura and the Gift



Selama hidupnya, baru kali ini ia merasa sangat, sangat gugup. Jantungnya terasa memompa dengan tidak normal, lebih cepat dari biasanya. Beberapa bulir keringat yang menampakkan diri di pelipis dan dahinya ia usap dengan tisu. Tangan yang kembali di sisi tubuhnya, menggenggam rok dari gaun yang ia pakai.


"Hey, relax. Calm yourself, okay?"


Kehangatan melingkupi telapak tangannya. Tangan lain yang lebih besar dari miliknya, adalah penyebabnya. Laki-laki dua-puluh-dua tahun itu memberikan senyuman untuk menenangkan. "Anggap aja cuma pesta ulang tahun biasa." Nefra berujar. "Tapi kalau lo belum siap tunangan sama Aspen, kita bisa batalin. Sepenuhnya acara ini cuma buat ulang tahun lo nanti."


"Lo tahu, gue bakal selalu dukung keputusan lo," imbuhnya dengan suara yang lembut. Ia tidak berhenti memberi ketenangan dengan sebuah usapan kecil pada tangan Ayrisa.


Kepalanya bergerak, menggeleng kecil. "Nggak, aku udah siap. Kak As juga udah nunggu lama buat ini."


"Gue yakin dia bakal sabar buat nunggu lagi kalau lo belum siap," ujar Nefra. "But, okay kalau lo mau lanjut. Gue yang bakal dampingin ke atas sana."


"Your hand, My Lady." Nefra mengulurkan tangannya di depan sang adik. Kemudian langsung disambut oleh Ayrisa setelah menghirup udara beberapa saat.


"And this is our star today, Ayrisa Gladerin Edwinata!" Seruan dari master of ceremony disambut tepuk tangan dari para undangan yang didominasi oleh anak Askar dan teman-teman kampus Ayrisa juga Aspen.


Gadis yang hari ini telah berusia delapan belas tahun itu tampak cantik dalam balutan gaun prom panjang renda tulle berwarna putih dengan gradasi biru tua pada pinggangnya. Sang kakak yang tampak tampan dalam balutan jas putih tulang berada di sisinya. Dalam satu frame bersama, mereka seperti tokoh dalam negeri dongeng. Mereka seakan-akan baru saja keluar dari sebuah buku dongeng bertema kerajaan dengan seorang pangeran dan putri yang menjadi tokoh di dalam ceritanya.


Aspen sendiri tampak menawan malam ini. Ia memakai kemeja putih yang dibalut jas berwarna biru tua, senada dengan gaun Ayrisa. Celana bahan yang ia pakai pun memiliki warna yang sama dengan jasnya. Senyuman tidak lepas dari wajah laki-laki itu sejak pagi. Mengundang godaan demi godaan yang berasal dari kakaknya.


Setelah sepasang kakak-adik itu berada di atas panggung kecil di depan sana, acara dilanjutkan dengan penyampaian doa dari Dara dan Antra untuk putri bungsu mereka. Kemudian tiup lilin dan potong kue. Lalu, dilanjutkan dengan acara pertunangan antara Ayrisa dan Aspen. Pemasangan cincin di jari kedua cucu Adam dan Hawa itu secara bergantian.


Beberapa teman Ayrisa juga Aspen merekam acara pertunangan itu dengan ponsel masing-masing. Merasa kalau baper yang mereka rasakan harus dibagikan, sayang jika hanya dirasakan sendiri.


Setelah dua sesi dansa, acara itu selesai ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih dua puluh lima menit. Para tamu undangan perlahan mulai meninggalkan ballroom tempat acara itu diadakan.


Karena sudah sangat lelah dengan semua kegiatan yang ia lakukan seharian ini, Ayrisa memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Ia menemui teman-temannya setelah sesi dansa tadi. Reylin dan Mia, dua orang yang sudah lama tidak ditemuinya sejak masuk kuliah, ia temui pertama kali. Menyampaikan rindunya pada kedua gadis itu melalui pelukan erat. Setelahnya ia juga menghampiri teman kuliahnya yang lain.


Terlalu lama berdiri dengan heels membuat kakinya pegal-pegal, walaupun tingginya tidak sampai 5 centimeter. Apalagi dia juga berkeliling menyapa para tamu.


Gadis itu kembali ke kamarnya sendirian setelah memberitahu Dara, karena keluarganya yang lain pasti mengurus sisa acara, juga sejumlah hadiah yang mungkin akan dibukanya besok. Keluarganya dan juga keluarga Aspen memang memutuskan untuk menginap di hotel tiga hari sebelum acara. Karena itu ia diizinkan pergi sendiri.


Begitu masuk ke kamar, ia langsung melepas heels putihnya dan membiarkan itu tergeletak begitu saja. Terlalu lelah untuk memastikannya berada di tempat yang benar.


Ayrisa menuju ke depan meja rias, kemudian tangannya bergerak naik untuk melepaskan beberapa hiasan rambut di kepala dan membersihkan riasan yang ada di wajahnya. Selesai dengan itu, ia sedikit melakukan peregangan. Di saat itulah matanya menangkap sebuah paper bag berukuran sedang di atas ranjangnya. Warnanya yang soft blue begitu mencuri perhatian Ayrisa. Ia mendudukkan diri di atas ranjang sebelum meraih paper bag itu dan mencari tahu isinya.


Sebuah boneka panda dan surat.


Keningnya mengkerut, heran dengan benda yang didapatnya ini. Terakhir kali ia mendapat boneka sebagai hadiah adalah ketika ia berusia sepuluh tahun. Penasaran dengan sang pemberi, tetapi di surat maupun di paper bag tidak terdapat nama pemberinya. Akhirnya ia lebih memilih untuk membaca surat itu.


Maniknya bergerak membaca runtutan kalimat yang terukir di kertas itu. Sedikit asing dengan tulisan dalam surat itu, tetapi isi dari surat itu mampu menjelaskan siapa yang merupakan pengirimnya.


...—...


Selamat ulang tahun, dan selamat buat pertunangan lo.


Well, tahu kok kalau gue terlalu pengecut karena gak bisa ngucapin itu secara langsung. Rasanya gue gak punya muka lagi setelah apa yang gue lakuin selama ini. Ngebuat lo nangis, sakit hati, bahkan sampai punya pemikiran bodoh di umur delapan.


Tahu gak, sih? Pemikiran bodoh lo ngebuat semua orang berasa kena serangan jantung. Gue gak pernah minta lo buat ngelakuin hal bodoh itu. Ya, walaupun gue yang waktu itu masih kecil punya perasaan iri sama lo. Lo disayang banget sama Ayah, Bunda, bahkan Nefra yang awalnya suka nyari perhatian gue pun berpaling ke lo. Tapi gue gak akan selamanya, kan, jadi anak kecil. Iri bukan berarti gue mau lo pergi. Nggak sama sekali.


Emang susah buat nerima lo dengan kenyataan kalau lo gak dibawa sama Bunda ke dunia ini, tapi wanita lain. Itu awal dari semua pemikiran konyol dan menyebalkan di kepala gue.


Hingga hari di mana lo tahu kenyataannya. Gue pikir lo bakal tinggal sama Tante Shera setelah itu, tapi pemikiran anak kecil hampir gak akan pernah jadi kenyataan. Hari itu lo malah jadi beda. Ayrisa yang hari itu beda dari Ayrisa yang selalu berusaha nyari perhatian gue. Murung, pendiem, gak berwarna. Ayrisa di hari itu gak gue suka. Lo bahkan sampai gak nafsu makan dan berakhir di rumah sakit selama tiga hari. Gegara itu gue sampe bela-belain minta bolos sekolah ke Bunda buat nemenin lo. Mungkin waktu itu lo ngeliatnya gue terpaksa jagain lo di rumah sakit. Tapi nggak, gue yang minta ke Bunda.


Setelah itu, dengan bertambahnya umur, gue gak tahu lagi mau lakuin apa buat lo. Nefra udah lakuin banyak hal buat lo, ngasih lo banyak hal. Sampai akhirnya gue cuma bisa diem. Sekarang giliran gue yang mandang lo dari jauh.


Lalu, kesempatan gue untuk deketin lo datang, walaupun cuma sebentar dan bukan dalam keadaan yang gue harapkan.


Waktu itu lo sakit setelah ngikutin lomba dan ngeyel gak mau ke dokter sampai Tante Shera yang datengin dokter ke rumah. Gue terlalu takut buat keliatan deket sama lo waktu itu, dan berakhir yang bisa gue lakuin cuma ngusap kepala dan pipi lo. Panas. Itu yang gue rasain waktu tangan gue nyentuh kulit lo. Gue gak mau liat lo sakit lagi. Masa yang doyan makan sayur sakitnya parah gitu.


Dari surat ini gue juga mau minta maaf sama lo. Maaf buat semua kata-kata jahat yang udah gue ucapin. Gue tahu itu nyakitin banget, tapi sebenarnya gue gak bermaksud buat gitu. Mau gimanapun lo juga adek gue.


Bodoh banget waktu itu gue dengan jahatnya bilang kalau gak nganggep lo adek gue. Padahal makin ke sini gue seneng punya adek cewek, apalagi itu lo, Ay.


Ay.


Gue juga pengen manggil lo gitu. Kayak Bunda. Kayak Ayah. Kayak Nefra. Bahkan temen-temen lo.


Gue juga bukannya gak ngebolehin lo manggil gue kakak. Gue pengen punya panggilan kayak Nefra. Gue iri sama dia tiap lo manggil dia kayak gitu.


Maaf untuk segala yang udah gue lakuin ke lo. Gue terlalu pengecut ya, minta maaf pake surat gini. Emang gak punya muka lagi gue buat ngadepin lo. Karena itu, gue ambil tawaran masa percobaan buat kerja di Aussie. Gak terlalu jauh sama Indo, tapi tetap aja ... gue jauh dari lo.


Sekali lagi selamat ulang tahun, Ay. Bilangan ke Aspen kalau gue percayain adek cewek gue ke dia. Jangan pernah buat adek cewek gue nangis atau dia bakal dapat ganjarannya.


Kalau gitu sampai jumpa! Entah sampai kapan. Jangan nyari gue dalam waktu dekat, dan belajar yang bener.


...—...


Tubuh Ayrisa bergetar. Air mata telah membasahi wajah dan surat itu. Pandangannya memburam karena cairan bening yang menumpuk di pelupuk matanya. Bibirnya meloloskan isakan demi isakan pilu. Semakin lama berubah menjadi menjadi raungan sambil sesekali memanggil-manggil nama kakak perempuannya.


Ya, Ayrisa ingat ketika ia dilarikan diri ke rumah sakit beberapa hari setelah mengetahui kenyataan mengenai ibu penggantinya, dan bagaimana ia hadir di dunia terungkap. Rasanya senang saat menemukan Nura berada di sisinya saat membuka mata, walaupun dalam benaknya langsung disusupi oleh pemikiran bahwa Nura terpaksa berada di sana entah atas suruhan ayah atau bundanya.


Namun, ternyata pemikiran itu salah. Nura benar-benar ingin mendampinginya, menemaninya di rumah sakit. Mengetahui kenyataan itu membuat Ayrisa semakin tidak bisa membendung desakan demi desakan air mata.


Lalu, ketika ia sakit setelah mengikuti olimpiade waktu itu. Ayrisa pikir itu hanya mimpi ketika merasakan usapan lembut di pipinya. Juga bayangan samar Nura yang tertangkap matanya. Ia berpikir bahwa itu semua hanyalah mimpinya karena berada dalam kondisi yang kurang sehat. Namun, nyatanya lagi-lagi itu salah. Pemikirannya lagi-lagi salah. Bukan hanya mimpinya, ia benar-benar merasakan usapan lembut dari kakak perempuannya.


Ayrisa tidak ingin Nura pergi setelah semuanya. Mau bagaimanapun perlakuan yang ia terima dulu, tetaplah itu semua sudah berlalu. Ayrisa ingin kakak perempuannya sekarang dan seterusnya.


Dengan gerakan cepat tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi. Walaupun tidak begitu berguna karena air mata tidak ingin berhenti jatuh dari pelupuk matanya. Ayrisa melangkah menuju pintu untuk keluar dari kamarnya, tidak mempedulikan dirinya yang tanpa alas kaki.


Baru saja daun pintu mengayun membuka, sosok Aspen menyambut penglihatannya. Ekspresi wajah laki-laki itu langsung berubah ketika melihat wajah Ayrisa yang sembab dan dipenuhi air mata.


"Ay." Tangannya bergerak menangkup wajah Ayrisa dan mengusap pipi gadis itu setiap ada air mata yang jatuh. "Hey, kamu kenapa? Bilang sama aku."


"Aku ... aku mau Kak Nura," ucap Ayrisa dengan sedikit terbata. "Aku mau Kak Nura." Tangisannya kembali pecah dan mengundang kekhawatiran Aspen.


"Ay, tenangin diri kamu dulu. Bicara pelan-pelan biar aku ngerti."


"Gak bisa, Kak As. Aku mau Kak Nura! Aku gak mau Kak Nura pergi."


Ini terlalu lama. Ayrisa tertahan terlalu lama oleh Aspen. Itu membuatnya semakin gelisah dan ... ketakutan. Walaupun hanya tersisa sedikit waktu, ia akan melakukan apa pun untuk mencegah kepergian Nura.


Di sisi lain, tampak Nefra dan Dara yang muncul dari arah lift berada. Mereka terkejut melihat keadaan Ayrisa yang seperti itu. Nefra langsung melangkah dengan cepat lalu meraih tubuh Ayrisa. "Ay, lo kenapa?"


"Kak Nef, aku mau Kak Nura! Bawa Kak Nura pulang, Kak Nef!" Ayrisa memohon pada Nefra masih sambil sesenggukan.


"Ada apa sama Nura, Ay? Nura lakuin sesuatu ke lo?"


Ayrisa menggeleng dengan cepat. "Aku gak mau Kak Nura pergi."


"Ay, tenang ya." Suara lembut Dara mengalun. Tangan wanita itu mengambil alih tubuh Ayrisa dari kakaknya dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya. "Nura gak lama perginya. Nanti Nura kembali ke sini lagi, kok."


Nefra menatap sang bunda dengan tatapan bingung. Ia tidak mengerti dengan kalimat yang diucapkan oleh bundanya. Dalam diam, ia menatap Dara untuk menuntut penjelasan. Bukan jawaban langsung yang ia dapat, melainkan ponsel yang disodorkan padanya. Di layar, tertampil ruang percakapan sang bunda dan Nura.


Membaca percakapan yang ada di sana, akhirnya Nefra mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Dilihat dari jam saat pesan itu terkirim, kembarannya telah pergi saat acara di ballroom hotel berlangsung, dan tidak ada yang mengetahuinya selain sang bunda.


"Bundaaa ... aku mau Kak Nura! Jangan bolehin Kak Nura pergi."


"Iyaa, Ay. Nanti Nura pulang kalau udah waktunya. Sekarang berhenti dulu nangisnya. Kalau Nura udah sampai kita telpon."


Akhirnya Ayrisa hanya bisa mengangguk patuh dan menenggelamkan wajahnya di pundak sang bunda.


"Ayri kenapa gitu, Bang?" Dengan suara berbisik, Aspen bertanya pada Nefra yang berdiri di sampingnya. Ia juga khawatir ketika mendapati keadaan Ayrisa yang seperti itu, apalagi di hari pertunangan mereka yang seharusnya hanya ada air mata kebahagiaan.


"Gak papa, dia cuma cariin Nura yang pergi gak bilang-bilang." Kemudian Nefra memandang Aspen. "Gue percayain Ayri ke lo mulai hari ini. Kalau sampe dia nangis karena lo, gue bakal bawa adek gue pergi."


"Iya, tenang aja, Bang. Gue tahu itu, dan gue gak akan biarin itu terjadi."


"Bagus kalau lo ngerti gini."


...·Ayrisa·...


"Ra?"


"Nura?"


Dengan sedikit gelagapan Nura menoleh ke sampingnya, temannya itu sedang melemparkan pandangan bingung.


"Lo mikirin apa? Gue panggil sampai gak denger gitu."


Nura menggeleng kecil. "Gak ada. Cuma lagi mikir gimana nanti." Ia akhirnya menyadari kalau sedari tadi tenggelam dalam lamunan, sejak sepuluh menit pesawat melakukan lepas landas.


"Yaa gue juga agak deg-degan sih. Rada takut juga kalau nanti gue gak bener kerjanya."


"Gue yakin, kok, lo pasti bisa. Walaupun baru kenal lo, gue tahu lo pasti bisa."


"Hum, makasih. Beruntung gue punya rekan kayak lo. Gak kepikiran deh, kalau gak ketemu sama lo."


Shenaya, gadis yang ditemui Nura saat wawancara kerja tiga bulan lalu, adalah sosok yang mampu mengimbangi Nura dalam segi kepribadian. Gadis yang akrab dipanggil Naya itu sangat bisa memahami seorang Nura. Karena itulah mereka jadi cepat akrab. Hingga akhirnya mereka sama-sama lolos wawancara untuk pekerjaan di perusahaan besar itu, walaupun masih harus mengikuti masa percobaan selama enam bulan.


"By the way, lo gak ada nyesel karena gak hadir di acara ultah adek lo?"


"Gak papa. Gue udah siapin hadiah buat dia, kok. Lagian juga ada banyak orang di sekitar dia."


"Huum, okay. Gue bakal tagih janji lo sampe kapan pun buat nunjukin foto adek yang selalu lo ceritain itu. Penasaran banget gue. Lo jahat karena ngebuat gue jadi penasaran gini." Naya menatap Nura dengan tatapan kesal yang dibuat-buat.


"Iyaa, kapan-kapan."


"Ya udah, deh, gue mau tidur aja. Masih lama juga nyampenya."


"Nah, mendingan lo tidur aja. Dari tadi lo ngomong mulu pas di bandara, istirahatin mulut."


"Iya, deh. Kalau lo kangen suara gue jangan ganggu tidur gue, ya." Setelahnya Naya langsung memasang penutup mata dan menyamankan posisinya agar bisa terlelap.


Nura menatap temannya itu sebentar sebelum menatap ke arah luar jendela yang tidak menampakkan apa-apa karena langit malam yang gelap. Pikirannya menerawang pada apa yang terjadi setelah Ayrisa menemukan hadiahnya ... suratnya.


"Bahagia selalu, Ay."


Kemudian Nura mengikuti jejak temannya untuk terlelap. Rasanya ia sekarang bisa tertidur dengan pulas setelah sekian lama.


...Tamat....