Ayrisa And Her Story

Ayrisa And Her Story
HLW 03 - Ya Begitulah



Ketika film berakhir, jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Mall terlihat semakin ramai daripada saat mereka datang tadi. Ayrisa dan Reylin menyempatkan untuk berfoto bersama dengan poster film yang mereka tonton tadi. Kalin yang bersama dengan mereka dijadikan juru kamera begitu Reylin menyerahkan ponselnya.


"Sekalian makan malam aja, gimana?" usul Reylin begitu mereka selesai berfoto.


"Boleh. Mau makan di mana?"


"Soyaria aja, deh. Sekalian deket pintu keluar juga, kan."


"Oke. Yuk, langsung aja."


Lagi-lagi Ayrisa dan Reylin berjalan duluan untuk memimpin, sedangkan Kalin mengikuti mereka dengan langkah yang terkesan enggan. Mereka turun ke lantai dasar menggunakan eskalator, terlalu malas mengantre menggunakan lift.


Tiba di restoran yang diusulkan oleh Reylin, mereka bertiga menempati meja dekat jendela. Ayrisa duduk di seberang Reylin dan Kalin yang duduk bersisian. Seorang waiter menghampiri meja mereka tidak lama setelah mendudukkan diri.


Makanan diputuskan untuk disamakan saja agar tidak perlu menunggu lama, yaitu Chicken Cordon Bleu, sedangkan minuman dibiarkan berbeda. Reylin memesan Thai tea, lalu iced lemon tea untuk Ayrisa dan Kalin.


"Jadi, Ay, how's life?" Reylin membuka suara setelah kepergian waiter.


"Ya.. gini-gini aja, gak ada yang spesial banget kecuali Kak Nef yang sekarang udah gak posesif banget."


"Oh iya, kakak lo yang satu itu. Kak Nefra berarti sekarang udah mulai kerja apa gimana?"


"Iya, udah. Kemarin gabung ke timnya Papa as surveyor."


Reylin membulatkan bibirnya seraya mengangguk kecil. "Berarti gak jauh-jauh amat, ya. Terus kakak lo yang satu?"


"Aussie." Ayrisa menjawab dengan lesu. "Abis lulus langsung gencar lamar ke perusahaan swasta besar, keterima terus dikirim ke Australia buat tambahan SDM di sana."


"Keren juga Kak Nura. Diem-diem geraknya cakep banget. Terus udah pernah pulang ke sini lagi belum? Gue, sih, kalau jadi lo bakalan guenya yang ke sana."


"Nah itu, tuh. Kak Nura belum ada balik dari tahun lalu. Libur hari raya kemarin juga nggak."


"Tahun depan susul gih, Ay. Kapan lagi coba punya alasan pergi jauh gitu. Lo, kan, selama ini dikekep terus sama Kak Nefra. Sesekali harus rasain udara bebas."


"Mungkin bakal aku coba," sahut Ayrisa sembari mengedikkan pundak. "By the way, Re, pas kamu pindah dulu gak ada ngasih tahu Farzi atau anak yang lain? Masa hampir setengah tahun si Farzi baru tahu kamu pindah, itu pun gegara abis nanya kenapa kamu gak keliatan."


"Nggak. Buat apa juga. Gue cuma ngasih tahu ke lo sama temen-temen deket gue di kelas IPA."


"Ih, gitu banget, Re. Padahal waktu kelas sepuluh kalian deket, kan, ya." Ayrisa menggeleng pelan. "Abis tahu kamu pindah gitu Farzi jadi sering nanya-nanya tentang kamu ke aku beberapa kali. Kayak bukan dia aja yang biasanya don't give a thing buat sekitarnya."


"Males gue. Lagian buat apa coba nyari-nyari gue lagi, udah jadi mantan juga."


"Lho, Re? Mantan? Kalian pernah pacaran?" Jika saja Ayrisa lupa bahwa mereka sedang berada di tempat umum, pasti ia sudah akan berseru nyaring saat ini.


Reylin terlihat meringis pelan, tangannya yang saling menggenggam di atas meja bergerak gelisah. Dalam hati merutuki ucapannya.


"Re, jahat banget kamu gak ngasih tahu aku. Kalian berdua, kan, sama-sama temenku."


"Maaf, Ay, bukan gitu maksud gue." Reylin membalas dengan suara pelan. "Gue sama Farzi cuma jadi tiga bulan mendekati ujian kenaikan kelas, terus putus pas liburan. Mana dia putusin lewat chat doang, kan, buat apa gue inget-inget lagi."


"Wah, parah si Farzi!"


"Iya, kan. Makanya gak mau gue inget-inget lagi, apalagi pas masuk kelas sebelas gue gak lama setelah itu pindah. Jadi buat apa bawa-bawa masa lalu ke tempat baru."


"Aku setuju, sih."


Percakapan mereka disela ketika seorang waiter datang membawa pesanan tadi. Setelah semua yang ada di atas nampan berpindah ke meja, waiter itu langsung meninggalkan mereka. Ayrisa dan Reylin tidak lupa mengucapkan terima kasih sebelum waiter itu beranjak, kebiasaan mereka sejak dulu—atau lebih tepatnya Ayrisa, karena Reylin jadi ikut seperti itu setelah berteman dengan Ayrisa.


Tidak langsung makan, Ayrisa terdiam sambil menatap iced lemon tea miliknya dan milik Kalin secara bergantian. Ia bimbang, dan hal itu ditangkap oleh penglihatan Reylin.


"Kenapa, Ay?" tanya Reylin akhirnya.


"Ini ... punyaku esnya lebih banyak."


"Oh, langsung ngomong aja kali. Gak papa, kok." Kemudian Reylin beralih menoleh pada sepupunya. "Kal, tuker gelas lo sama punya Ayrisa, ya. Biarin dia yang esnya dikit."


Kalin yang ingin segera makan langsung saja mengiyakan. "Hm." Para gadis memang selalu meribetkan banyak hal.


"Makasih, Kalin," ujar Ayrisa dengan tulus.


"Masih sama kayak dulu ya, Ay. No ice."


Reylin terkekeh geli. "Kak Nefra bakal kekepin lo buat cekokin air anget dua liter, kan."


"Ya nggak dua liter juga kali, Re. Bisa-bisa kembung aku."


"Tapi kelakuan ajaib kakak lo emang gitu, kan?"


"Iya, sih." Dengan berat hati Ayrisa menyetujui ucapan sahabatnya itu. "Asal kamu tahu, Re, pernah aku ketahuan minum es di sekolah abis jajan sama temen. Awalnya cuma disuruh buang sisanya, aku pikir aman dong. Eh, tahunya pas sampe rumah bener disodorin air hangat di botol ukuran dua liter itu."


"Anjir, Ay, Kak Nefra emang kocak banget!" Reylin berusaha untuk menahan tawanya. Untung makanan sudah tertelan, jadi tidak akan ada insiden tersedak karena cerita Ayrisa itu.


Kemudian mereka kembali menikmati makanan masing-masing dengan lebih tenang, sesekali Reylin menceritakan teman-temannya di kota sana. Ayrisa mendengarkan dengan seksama seraya tangannya menyelam ke dalam tas selempang untuk mengambil ponsel.


Benda pipih itu sudah ia anggurkan sejak bertemu dengan Reylin. Ketika menyalakan mobile data, Ayrisa dibuat terkejut oleh tiga panggilan tidak terjawab dari Aspen. Pun beberapa pesan dari lelaki itu yang menanyakan keberadaannya.


Ayrisa baru ingat jika ia lupa mengabari Aspen akan bertemu dengan Reylin, hanya pada sang bunda. Pantas saja lelaki itu membombardir isi ponselnya.


Baru akan mengetikkan pesan balasan, layar ponselnya sudah berubah gelap dengan nama Aspen sebagai id caller. Ayrisa langsung menerima panggilan itu dan membawa ponselnya ke samping telinga.


"Iya, Kak, maaf aku tadi lupa ngabarin. Aku ketemuan sama temen lama, terlalu excited jadi cuma izin ke Bunda aja. Maaf ya, Kak." Ayrisa menyatakan rasa bersalahnya dengan sungguh-sungguh. Apalagi begitu mengetahui bahwa Aspen menunggunya di rumah sejak jam setengah enam. "Aku lagi makan sama temenku di Soyaria, di mall deket SMA .... Iya, Kak, hati-hati di jalan."


Setelah sambungan telepon berakhir, Ayrisa mengembuskan napasnya dengan berat. Kemudian meraih gelasnya untuk minum.


"Siapa, Ay? Kak Nefra?"


"Bukan." Ayrisa menggeleng pelan. "Abis ini aku langsung pulang, ya. Dijemput soalnya. Makasih banyak buat hari ini, Re."


"Nanti keluarnya bareng aja, ini kita juga udah mau selesai, kok."


"Iya, Re."


Begitu menyelesaikan makan malam itu lalu membayar, ketiganya langsung keluar dari mall. Langit yang sedang menjatuhkan muatannya langsung menyambut mereka. Tumben sekali hujan di bulan ini.


Ayrisa langsung bisa menemukan mobil milik Aspen yang melaju menghampiri posisinya.


"Is it just me atau emang itu jemputan lo, Ay?"


"Iya. Kalau gitu aku duluan, ya."


Reylin membulatkan matanya saat melihat Aspen yang keluar dari mobil dan mengembangkan payung. Lelaki itu berlari kecil untuk menghampiri Ayrisa.


"I'm totally need your explanation. Besok gue ke rumah lo, Ay. Gak terima penolakan!"


"Iya, Re, datang aja. Kalian pulangnya hati-hati, ya."


Setelahnya Ayrisa melangkah ke bawah naungan payung yang sama dengan Aspen. Lelaki itu membawanya ke sisi kiri mobil, setia memayunginya hingga ia masuk. Berikutnya baru lelaki itu yang kembali masuk ke belakang kemudi.


Karena ada mobil lain yang menunggu di belakang mereka, Aspen langsung melajukan mobilnya.


"Maaf ya, Kak As. Aku beneran lupa ngabarin Kak As, gak ada maksud sengaja buat nggak ngabarin."


"Gak papa, Ay." Aspen mengusap puncak kepala Ayrisa dengan lembut. "Aku cuma khawatir tadi waktu ke rumah Bunda bilang kamu keluar tapi gak tahu kamu ke mana, cuma bilang main sama temen. Terus kamu gak bales pesan atau angkat telepon dari aku. Aku khawatir karena kamu belum pulang juga padahal udah malem."


"Maaf, Kak As. Nggak lagi-lagi."


"Iya, gak papa, Ay. Jangan diulangi aja, ya. Selalu nyalain mobile data-nya kalau keluar, kalau habis bisa aku isiin." Tangan Aspen beralih mengusap pipi Ayrisa, masih dengan sangat lembut. Seperti takut melukai gadis itu jika memberikan sedikit lebih tenaga pada usapannya. "Jadi gimana mainnya tadi? Seru?"


Ayrisa sontak mengangguk dengan antusias. "Iya, aku seneng ketemu lagi sama Reylin. Reylin itu temen SMA aku sebelum Mia pindah. Reylin pindah waktu kenaikan kelas sebelas dan sekarang baru ketemu lagi," ceritanya. "Terus tadi kita nonton, terus langsung makan. Ada sepupunya Reylin juga tadi, ternyata anak sekelasku."


"Oh ya?"


"Iya. Tapi aku agak kesel soalnya Kalin ketus gitu selama kita berinteraksi. Padahal aku gak ngelakuin kesalahan ke dia."


"Iya, Ay, kamu pasti gak pernah ngelakuin salah ke orang lain. Itu mungkin moodnya aja yang lagi gak bagus."


"Iya juga, ya. Aku sama Reylin kebanyakan ngobrol berdua doang tadi."


Setelahnya perjalanan pulang itu diisi dengan suara Ayrisa yang menceritakan agenda 'mainnya' dengan Reylin. Aspen mendengarkan dengan seksama, selalu suka mendengar suara gadis itu.