Ayrisa And Her Story

Ayrisa And Her Story
HLW 02 - Teman Lama



Pukul sembilan pagi dan ia masih bermalas-malasan di meja makan dengan sepiring sarapan, sebenarnya amat telat untuk disebut sarapan. Namun, karena baru bangun pukul setengah delapan tadi, jadi Ayrisa memaksakan diri untuk sarapan kala perutnya berdemo meminta asupan.


Sendirian di ruang makan, sang bunda berada di ruang keluarga untuk menonton televisi. Acara yang ditampilkan pada jam ini begitu ditunggu oleh sang bunda, yaitu acara memasak yang dibawakan oleh seorang chef yang pernah menjadi juri di ajang memasak besar.


Karena sedang libur semester seperti ini, Ayrisa jadi tidak punya kegiatan selain bermalas-malasan di rumah. Ia hanya akan keluar saat ada yang mengajaknya jalan, itu pun jarang. Jadi, ia sangat mengandalkan Aspen di setiap malam minggu mereka.


Membicarakan tentang itu, acara malam minggu mereka tiga hari lalu cukup menyenangkan.


Berada di pantai dengan super moon yang semakin meninggi bersamaan dengan malam yang kian larut. Deburan ombak yang menjadi iringan musik alami saat sesekali terdengar suara jangkrik. Dirinya dan Aspen duduk bersampingan sambil menikmati cemilan yang dibawa oleh lelaki itu di dalam keranjangnya.


It's more like night picnic. Dan Ayrisa suka.


Ide-ide Aspen untuk kegiatan malam minggu mereka memang selalu berhasil membuat Ayrisa menambah banyak memori tentang mereka. Pernah, saat baru satu bulan setelah pertunangan mereka, Aspen membawanya ke music fest di pinggir kota. Mereka pulang cukup larut hari itu, membuat Nefra menunggu mereka di teras rumah dengan ditemani gigitan-gigitan nyamuk.


Pernah juga selama beberapa waktu secara berturut-turut mereka mengunjungi pasar malam dekat alun-alun kota. Setiap ke sana mereka akan mencoba satu permainan yang ditawarkan di sana, kemudian mencoba jajanan-jajanan kaki lima yang mereka temui.


Drrt.. drrtt..


Kegiatan nostalgianya terhenti oleh getar ponsel yang tergeletak di samping piringnya. Nama seorang sahabat yang muncul di layar gelap itu membuatnya sontak membulatkan mata. Lalu segera diraihnya benda pipih itu untuk menerima panggilan yang masuk.


"Reylin astagaa! Kangen!" Ia langsung berseru senang setelah menempelkan ponsel ke telinganya.


"Gue juga kangen lo pake banget!"


"Aku pikir kamu ganti nomor karena gak ada foto profil lagi."


"Astaga, nggak bakal. Ini nomor bersejarah banget di hidup gue, gak akan gue ganti," balas Reylin di seberang sana. "Itu gak ada foto profilnya gegara gue males nyari foto setelah sebulan penuh profilnya pake twibbon ospek. Terlanjur enek jadi ya udahlah gak usah pasang dulu, eh, tahunya keterusan."


"Parah kamu, Re, setahun gitu. Bikin aku overthinking aja."


"Iya, deh, maaf ya. By the way lo sekarang lagi libur juga, kan?"


"Iya. Masih ada sebulan lagi."


"Good, sama berarti. Gue lagi di sini, nih, baru landing kemarin. Mau ketemuan gak?"


"Di sini maksudnya kamu lagi ada di kota ini?!"


"Iyaa, Ayrisaku sayang. Gue di sini sampe akhir bulan nanti, ngabisin libur semester di sini gue."


"Mau ketemuan!"


"Iya, iya, ini makanya gue nanya. Nanti sore lo udah ada janji gak?"


"Nggak ada. Totally free till this holiday ends."


"Kita ketemuan di mall deket SMA kita dulu, gimana? Sekalian gue pengen nonton film baru itu, si Mbak Margot."


"Boleh, boleh. Mau jam berapa?"


"Bentar gue liat jadwalnya di bioskop dulu."


Obrolan mereka terjeda sejenak, dan Ayrisa menunggu dengan sabar sampai Reylin bersuara kembali.


"Ada, nih, tapi jam setengah lima. Lo oke gak kalau jam segitu?"


"Bisa, kok. Sekarang aku udah lebih free kalau mau ke mana-mana, jadi aman."


"Wah, anak rumahan ini sudah bertransformasi, ya," ujar Reylin diakhiri dengan gelak tawa kecil.


"Dipikir aku rumah yang direnovasi kayak di tivi-tivi apa, bertransformasi segala." Ayrisa menggeleng kecil. "Ini mau fiks janjian ketemunya jam berapa?"


"Sepuluh menit sebelum jam tayangnya udah di sana aja. Kita langsung ketemuan di bioskopnya."


"Oke, oke."


"Kalau gitu see you soon, Ay!"


Setelah Ayrisa membalas dengan singkat, sambungan telepon mereka pun diakhiri.


"Bun," panggilnya pelan membuat Dara langsung menoleh, hanya sebentar lalu kembali memandangi layar televisi.


"Ada apa, Ay?"


"Nanti sore aku keluar, ya. Mau main sama temen. Bunda masih ingat Reylin, kan? Sekarang dia lagi di sini."


"Temen kamu waktu kelas sepuluh dulu itu, kan?"


"Iya, Bun, yang itu."


"Walah, sekarang kuliah di mana dia?"


"Lanjut di sana juga, Bun. Ke sini buat liburan semester."


"Ya udah Bunda izinin. Kalian udah lama gak ketemu gitu."


"Makasih, Bun."


...·୨୧·...


Tanpa menghiraukan beberapa orang yang juga ada di sekitar depan bioskop itu, Ayrisa dan Reylin berpelukan layaknya Teletubbies dan saling menyerukan betapa mereka merindukan satu sama lain. Baru bertemu setelah tiga tahun lamanya, memangnya siapa yang bisa menahan rindu? Apalagi satu tahun terakhir kebersamaan mereka begitu menyenangkan.


"Masih gak nyangka akhirnya bisa ketemu kamu lagi, Re," ujar Ayrisa setelah pelukan mereka terurai. Tangannya terangkat untuk menghapus titik basah di ujung matanya.


"Gue juga, Ay. Ini bener-bener liburan semester paling ajib karena akhirnya gue dibolehin pergi sendiri gini."


"Jadi kamu ke sini sendiri doang, gak sama keluarga kamu?"


"Iya, gue sendiri. Jadinya di sini gue tinggal bareng di rumah Tante dari pihak Papa gue," jawab Reylin. "Oh iya, hampir lupa. Gue ke sini bareng sepupu gue. Gak papa kan, Ay? Namanya—"


"Kalin?" Ayrisa menyela saat mengenali lelaki yang berdiri tidak jauh di belakang Reylin.


"Lho, lo kenal sama sepupu gue, Ay?"


"Kita satu jurusan, bahkan sekelas." Kini lelaki bernama lengkap Kalindra Haga Andhika itu yang menjawab. Sembari melangkah pelan untuk berdiri di samping Reylin.


"Ternyata dunia sesempit daun kelor emang." Reylin menatap Ayrisa dan sepupunya secara bergantian. "Kalau gitu gue gak perlu buang suara buat ngenalin kalian lagi. Yuklah, langsung masuk! Gue takut kehabisan tiket, nih."


Reylin langsung menarik pelan tangan Ayrisa untuk memasuki bioskop bersama. Kalin mengikuti dengan langkah kecil, tidak ikut mengantre dan membiarkan kedua gadis itu yang membeli tiket. Lagipula jika bukan karena paksaan sepupunya itu untuk mengantar sekaligus menemani, ia pasti lebih memilih berada di kamar seharian untuk bermain dota.


Kedua gadis itu kembali menghampirinya yang sedang berdiri di depan poster film horor, sambil membawa satu popcorn berukuran medium dengan rasa cokelat juga tiga botol minuman soda. Kalin terima saja ketika satu botol soda disodorkan padanya.


"Kita bisa langsung masuk ke teaternya. Ini tiket punya lo," ujar Reylin.


Kemudian mereka memasuki teater nomor tiga. Ayrisa dan Reylin yang memimpin di depan, sedangkan Kalin mengikuti di belakang dengan malas-malasan.


Kursi yang dipilih oleh mereka berada di bagian tengah, posisi yang cukup strategis untuk menonton di bioskop.


"Gue ujung ya, Ay. Lo yang tengah."


"Iya, Re. Mana-mana aja aku, mah."


Dan begitulah posisi duduk mereka jika disebutkan adalah Kalin, Ayrisa, baru Reylin yang duduk di bangku kelima dari ujung.


Film pun dimulai tidak lama setelahnya, ruangan pun telah kehilangan pencahayaannya.


Kalin lagi-lagi menatap layar lebar di depannya itu dengan malas. Terlalu banyak warna merah muda. Kedua gadis di sampingnya pun memakai pakaian dengan nuansa merah muda.


Membuka tutup botol minuman soda miliknya, lalu meneguknya beberapa kali. Kalin menoleh untuk melihat sepupunya serta teman sekelasnya yang fokus memandang ke depan.


Ia mungkin tidak sadar jika menoleh terlalu lama, sehingga Ayrisa yang duduk tepat di sampingnya menoleh. Gadis itu memberikan tatapan penuh tanya yang tidak dapat ditangkap oleh Kalin karena minimnya cahaya.


"Mau?" Ayrisa menyodorkan popcorn ke depan lelaki itu untuk menawarkan.


"Nope, thanks."


"Oke." Tidak terlalu menghiraukannya, Ayrisa kembali menempatkan popcorn itu di antara dirinya dan Reylin lalu fokus menonton.