
Sekarang adalah hari Minggu, dan seharusnya Ayrisa bisa bersantai di depan televisi sambil menonton kartun spons kuning favoritnya. Namun, ia tidak akan bisa melakukan itu untuk satu pekan ke depan karena akan berada di kota lain selama itu. Ya, hari H final Olimpiade Bahasa Jerman tinggal tiga hari lagi. Oleh karena itu, sekarang Ayrisa sudah berada di hotel setelah keberangkatannya ke Jakarta.
Antra, Dara dan Nefra ikut mengantar Ayrisa ke bandara tadi. Nura sendiri tidak ikut karena katanya memiliki tugas kelompok dengan temannya. Sebelum naik ke pesawat, Nefra melakukan drama kecil untuk menahan kepergian Ayrisa. Gadis enam belas tahun itu dibuat menunduk malu karenanya.
Sampai di hotel Bu Mela menyuruh Ayrisa untuk istirahat seharian ini. Perjalanan jauh mereka dengan pesawat selama satu jam lebih lima belas menit tentunya juga terasa melelahkan. Bu Mela tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan pada siswanya, bagaimanapun beliau yang bertanggung jawab selama mereka di Jakarta.
Tipe kamar yang ditempati mereka adalah deluxe room dengan twin bed. Ayrisa memilih tempat tidur yang dekat dengan jendela. Sebenarnya karena Bu Mela sudah menempati tempat tidur yang jaraknya lebih dekat dengan pintu, jadi hanya tempat tidur itu yang tersisa.
Bell boy yang membantu membawakan koper mereka langsung pergi setelah menerima tip dari Bu Mela.
"Ayrisa, Ibu akan keluar sebentar. Ada kenalan yang juga sedang menginap di hotel ini, jadi Ibu mau bertemu sebentar." Bu Mela berujar.
"Iya, Bu."
"Kamu istirahat saja dulu untuk hari ini, besok baru kita mulai lagi latihannya." Ayrisa membalasnya dengan sebuah anggukan. Kemudian Bu Mela meninggalkan kamar mereka.
Setelah kepergian Bu Mela, Ayrisa merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Posisinya telentang dengan bantal di belakang kepalanya yang membantu ia untuk sedikit bersandar. Jemari tangannya mulai berselancar di atas layar ponsel. Seperti pesan sang bunda sebelum berangkat, Ayrisa mengirimkan pesan kalau ia sudah sampai di hotel dan akan beristirahat seharian ini. Setelah pesannya terkirim, ponsel ia letakkan di dekat bantal sebelum kemudian ia jatuh terlelap.
Pilihan yang tepat menuruti perkataan Bu Mela untuk beristirahat karena tubuhnya juga terasa lelah.
Jarum jam yang terus bergerak. Posisi matahari yang juga berubah, menandakan waktu yang terus berjalan di kala gadis itu tertidur pulas. Ia tidak menghiraukan cahaya matahari yang menerobos masuk dari jendela yang tidak tertutupi tirai.
Kelopak matanya perlahan terbuka saat jam menunjukkan pukul setengah tiga sore. Ia mengerjap sebentar sebelum menegakkan tubuhnya. Pandangannya mengedar ke sekitar dan tidak menemukan siapa pun. Mungkin Bu Mela masih bersama temannya, begitu pikir Ayrisa.
Setelah beberapa saat mengumpulkan nyawanya, Ayrisa memutuskan untuk menyegarkan dirinya saja. Dua puluh menit kemudian ia sudah berada dalam balutan kaus oversized berwarna krem dan celana legging selutut berwarna hitam dengan garis putih di sisinya.
Ayrisa mendudukkan dirinya di atas tempat tidur dengan ponsel yang sudah bertengger di tangannya. Membalas beberapa pesan dari sang bunda, Nefra dan juga Mia. Setelah itu beralih ke aplikasi bacanya untuk melanjutkan cerita yang belum selesai ia baca sambil mengisi waktu. Selang beberapa detik pintu kamar terbuka, disusul munculnya Bu Mela. Beliau berjalan mendekat ke tempat tidurnya.
"Nanti kita makan malam sama temen Ibu, ya. Kamu juga bisa kenalan sama siswanya," ujar Bu Mela seraya membuka kopernya.
"Baik, Bu." Ayrisa membalas singkat.
Ketika waktu makan malam tiba, seperti yang sudah diberitahukan Bu Mela, mereka akan makan malam di restoran hotel bersama temannya. Mereka keluar dari kamar saat jam menunjukkan pukul setengah enam lebih tujuh menit.
Teman Bu Mela adalah seorang pria seumurannya yang dipanggil Pak Raka. Sedang siswanya yang mengikuti babak final olimpiade bernama Kaysa. Bu Mela dan Ayrisa duduk di hadapan kedua orang itu.
Kaysa yang merupakan tipe easy going dan ramah bisa membuat dirinya cepat akrab dengan Ayrisa. Mereka berdua membincangkan hal-hal menarik di saat guru mereka juga sibuk berbincang mengenai pekerjaan mereka.
"Aku boleh minta nama akun Instagram kamu? Biar kita bisa saling follow, sayang banget kalau gak buat instastory bareng." Kaysa berujar.
"Boleh." Ayrisa kemudian mengetikkan nama akun Instagram-nya di ponsel Kaysa. Gadis itu langsung menekan tulisan 'follow' begitu ponselnya dikembalikan oleh Ayrisa. Setelahnya Kaysa mengambil foto dirinya berdua dengan Ayrisa. Kemudian dilanjutkan dengan boomerang bersama guru mereka. Ia mengupload foto dan boomerang mereka ke instastory-nya, tidak lupa menandai akun Instagram Ayrisa.
Begitu Ayrisa menambahkan ke instastory-nya, beberapa Direct Message langsung menyerbunya. Dari beberapa teman sekelas yang saling follow dengannya, Mia, Oska dan Kion, dan tentu saja Nefra. Ayrisa membalas singkat Direct Message mereka semua, kecuali Nefra. Itu karena ia merasa sedikit jengah dengan segala aturan dan peringatan yang diberikan kakak laki-lakinya itu. Ia sampai sangat hafal semua ucapan Nefra di luar kepalanya.
Selesai makan malam, mereka menetap di sana sebentar untuk berbincang singkat sambil menikmati es krim sorbet sebagai hidangan penutup.
...·Ayrisa·...
Suara tepuk tangan terdengar bersahut-sahutan, disusul ucapan selamat yang dilayangkan kepada sang peraih juara pertama yang sudah berdiri di atas panggung kecil di depan sana. Kemudian dilanjutkan dengan acara penyerahan piala pada keempat juara Olimpiade Bahasa Jerman itu.
Ayrisa menoleh pada Kaysa yang duduk di sampingnya. Ucapan gadis itu benar, juga mewakili perasaannya.
"Iya, belum rezeki kita," balasnya disertai senyuman kecil.
"Aah, walaupun nanti berakhir jadi penonton instastory, aku seneng sempat kenal sama kamu." Tangan Kaysa terulur untuk merangkul Ayrisa sebentar.
"Sama, kamu orang yang nyenengin."
Walaupun baru bersama selama hampir satu pekan, Kaysa dan Ayrisa memang sudah cukup dekat. Bahkan di hari pengumuman hasil olimpiade ini, mereka menggunakan pakaian dengan warna yang sama. Yaa, itu atas usulan Kaysa sebenarnya.
"Ayrisa, terima kasih untuk usaha kamu selama ini."
Ayrisa menoleh pada Bu Mela yang duduk di sisinya yang lain. Ia tersenyum kecil, di lubuk hatinya terdapat sedikit perasaan bersalah karena tidak bisa meraih juara.
"Masuk sepuluh besar saja sudah bagus, jangan patah semangat." Bu Mela berimbuh.
Ayrisa mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Setelah acara pengumuman dan penyerahan piala kepada pada juara, para finalis lainnya mendapat bingkisan kecil dan juga sertifikat untuk masing-masing. Acara mereka hari ini diakhiri dengan penutupan dan makan siang bersama.
"Ayrisa, temenin ke toilet, yuk!" pinta Kaysa sambil menggoyang pelan tangan Ayrisa. Setelah dibalas dengan sebuah anggukan, mereka langsung keluar dari banquet hall, tidak lupa izin pada guru mereka.
Sambil menunggu Kaysa selesai dengan urusannya di dalam bilik toilet, Ayrisa bersandar pada meja wastafel yang berlapis keramik. Tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu mengenai pihak penyelenggara olimpiade ini.
Penyewaan function room seperti banquet hall, lalu games yang mereka adakan seharian kemarin di Taman Mini Indonesia Indah. Berapa banyak penghasilan pihak penyelenggara hingga bisa menyewa itu semua? Ah, juga jangan lupakan bingkisan kecil berisi beberapa barang yang terbuat dari bahan yang ... ugh, entah menyebutnya dengan apa. Ayrisa sangat yakin kualitasnya tidak bisa diragukan.
"Ayrisa, udah nih."
"Ah, iya."
Tidak lama setelah kembali ke banquet hall, mereka langsung pulang karena acara yang sudah selesai. Mereka memesan satu taksi online untuk bersama. Sampai di hotel mereka berpisah untuk ke kamar masing-masing.
Baru saja mendudukkan diri di atas tempat tidur yang nyaman, ponsel di tangannya berdering. Terdapat nama Nefra di layarnya. Mengusap ikon berwarna hijau di layar, kemudian ponsel dibawa mendekati rungunya.
"Kenapa, Kak Nef? Emangnya gak sibuk kuliah apa telponin tiap hari terus," gerutu Ayrisa sebelum Nefra yang ada di seberang sana mengeluarkan suaranya.
"Ya, kan, gue khawatir. Lo juga lama banget di sana." Nefra membalas dengan nada tidak santai.
"Cuma seminggu, Kak Nef. Seminggu." Ayrisa menekan kata terakhirnya. "Lagian besok udah pulang, kok. Jadi, gak usah telponin lagi."
"Bener ya, awas aja kalau ditunda."
"Iya, Kak Nef yang bawel. Bye!"
Setelah sambungan terputus, Ayrisa memutuskan untuk membersihkan dirinya. Bergantian dengan Bu Mela yang sudah duluan.