
Ponsel di depannya dalam posisi miring dengan gelas sebagai penyangga. Layarnya menampilkan anime bergenre aksi yang memiliki jadwal tayang hari ini. Sesekali ringisan kecil keluar dari bibirnya begitu mendapati adegan yang sangat 'berdarah-darah'. Walaupun begitu, tidak membuat Ayrisa enggan melanjutkan kegiatan menontonnya.
Sang ayah yang berada di ruang keluarga menjadi alasan gadis itu menonton melalui ponselnya. Ingin menonton si spons kuning, tetapi ayahnya sudah lebih dulu menetap di saluran televisi yang menayangkan berita. Jadi, di sinilah ia sekarang. Menonton di ruang makan sambil sesekali mendengar suara kakak laki-lakinya.
"Boleh ya, Bun, adain barbekyunya di sini."
Sedari selesai sarapan, Nefra sudah sibuk membujuk sang bunda agar dibolehkan mengadakan barbeque party di rumah mereka. Bukan tanpa alasan, ia tentu memiliki tujuan lain, acara itu hanya alibi untuk menutupi tujuan sebenarnya. Ia sudah mengantongi izin dari sang ayah, tinggal izin dari bundanya saja.
"Pasti Ayri juga pengen ketemu temennya, Bun. Bolehin yaa?"
Seketika Ayrisa menoleh begitu mendengar namanya mulai dijual oleh sang kakak. Namun, belum sempat ia angkat suara untuk protes, Nefra sudah lebih dulu menyuruhnya diam dengan isyarat tangan. Memutar bola matanya dengan malas, akhirnya ia kembali duduk diam di kursi meja makan.
"Iya, iya, boleh. Tapi inget harus bertanggung jawab!" Karena sudah lelah mendengar suara putranya, Dara akhirnya memberi izin. Hal itu mengundang seruan senang dari Nefra. Setelah memberondong sang bunda dengan ucapan terima kasih dan kecupan di kedua pipi, laki-laki itu segera berlari ke kamar.
"Emang barbekyu buat apa sih, Bun? Ulang tahun aja udah lewat akhir Januari kemarin," ujar Ayrisa ingin tahu.
"Paling cuma buat kumpul bareng temen-temennya," sahut Dara. "Temen Ay juga, 'kan?"
"Iya." Ayrisa membalas seadanya. "Kalau gitu aku mau tanya Mia aja." Kebetulan anime yang ditontonnya telah selesai, jadi ia langsung menekan tombol kembali. Kemudian menuju aplikasi chatting.
Ternyata sudah ada pesan masuk dari Mia, memberitahu acara barbekyu yang akan mereka lakukan bersama beberapa anggota inti Askar. Gadis itu juga memberitahu kalau kemungkinan mereka akan datang sekitar pukul setengah empat sore, setelah mempersiapkan beberapa hal.
"Bun, kata Mia bakal banyak kayaknya yang datang," ujar Ayrisa memberitahu.
"Halaman belakang, kan, luas." Dara membalas seadanya. Ayrisa mengangguk paham kemudian kembali menarikan jarinya di atas layar ponsel. Setelah chatting singkat dengan Mia, ia beralih ke aplikasi bergambar kamera berwarna-warni. Ia melihat-lihat beberapa postingan baru dari teman yang di-follow olehnya, kemudian menjelajah lebih jauh untuk mencari tontonan menarik di sana.
"Ay," panggil Dara.
"Iya, Bunda."
"Tolong kasih kopinya ke Ayah," ujar Dara seraya meletakkan cangkir kopi di depan Ayrisa. Gadis itu menurut. Ia meletakkan ponselnya kemudian meraih cangkir kopi itu. Dengan langkah hati-hati Ayrisa menuju ruang keluarga di mana ayahnya berada.
...·Ayrisa·...
Selesai makan siang dua jam yang lalu, Ayrisa langsung kembali ke kamar untuk mengisi ulang daya ponselnya. Begitu juga dengan Nefra yang katanya akan menjemput seseorang. Sebelum itu ia menyempatkan untuk tidur sebentar karena kelopak matanya yang telah berat. Laki-laki itu terbangun ketika jam yang menempel di dinding kamarnya menunjukkan pukul dua lebih dua puluh menit. Ia segera meraih handuk dan menuju ke kamar mandi.
Beberapa menit setelahnya, selesai mengenakan pakaiannya dan meraih kunci motor dari atas nakas samping tempat tidurnya, Nefra segera memutar tumitnya ke arah pintu kamar. Ia tidak lupa meraih jaket yang tergantung di balik pintu sebelum keluar. Namun, tidak langsung ke lantai dasar, Nefra terdiam di depan pintu kamarnya karena suara yang masuk ke dalam indra pendengarannya.
"Bisa jalan yang bener gak, sih?! Jalan luas gitu masih aja nabrak!"
"Maaf, Kak, aku gak sengaja."
"Ughh, gue muak denger lo yang manggil gue kakak!" Setelah seruan terakhirnya, Nura muncul dari arah jalan ke kamar mandi. Tangan Nefra dengan cepat menarik tangan saudara kembarnya itu sebelum masuk kamar.
"Apa, sih?! Lepasin, Nef!" Nura menghempaskan tangan Nefra agar segera dilepaskan.
"Lain kali gak usah kasar gitu sama Ayri," ucap Nefra dengan mata yang memicing tajam. Rahangnya mengetat karena menahan amarah. Ia tidak akan membiarkan siapa pun melukai Ayrisa, bahkan dalam bentuk apa pun dan sekecil apa pun. Juga tidak peduli siapa yang berani melakukan itu.
"Terserah gue. Itu gak ada urusannya sama lo."
"Bisa gak sehari aja lo ngehargai Ayri sebagai adek lo?! Ayri cuma mau lo mandang dia sebagai adek, sesusah itu?"
"Emang susah, dan gak akan bisa!" Nura menjawab dengan mantap. "Gue gak akan pernah mandang anak yang bukan lahir dari rahim Bunda sebagai adik."
Nura mendengkus. Salah satu sudut bibirnya terangkat, ia memandang Nefra dengan sinis. "Ini jadi salah satu alasan gue makin gak suka sama anak itu. Kalian terlalu ... ah, nggak. Lupain aja, percuma juga gue ngomong." Tidak ingin melanjutkan pertengkaran sia-sia dengan kembarannya, dengan cepat Nura masuk ke kamar dan menutup pintu tepat di depan wajah Nefra.
Di sisi lain, Ayrisa yang menyelesaikan urusannya di kamar dengan cepat, mendengar apa yang dikatakan oleh kakak perempuannya. Dadanya terasa seperti diremas, rasanya sakit sekali mendengar Nura berkata seperti itu. Air matanya pun sudah tidak terbendung lagi.
Bibirnya selama ini memang melontarkan kalimat baik-baik saja, tetapi hatinya tidak bisa berbohong. Itu sangat menyakitkan setiap kali Nura tidak menganggapnya sebagai adik. Bahkan Nura mengatakannya dengan lantang. Mereka memiliki orang tua yang sama meskipun lahir dari rahim yang berbeda. Darah yang mengalir di nadi mereka pun sama. Apa itu tidak cukup untuk dianggap sebagai saudara?
Selama ini Ayrisa selalu menunggu sampai Nura bisa membuka hati untuk menerimanya sebagai adik. Namun, sepertinya itu keinginan yang sangat serakah dan egoistis sampai-sampai rasanya sangat mustahil akan terwujud.
"Ayri ...."
Suara Nefra rasanya hilang saat mendapati Ayrisa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Air mata yang membasahi pipi gadis itu membuat hati Nefra mencelos. Tanpa kata, laki-laki itu segera membawa Ayrisa ke dalam pelukannya. Dadanya terasa sakit ketika mendengar tangisan sang adik yang semakin pecah.
"Gak usah dengerin perkataan Nura, Ay."
"Apa keberadaan aku hiks sesalah itu?" Ayrisa bertanya sambil sesenggukan. "Aku cuma mau ngerasain gimana punya kakak perempuan kayak temen yang lain hiks .... Aku janji gak akan minta yang lain, bahkan kalau cuma bisa ngerasain sehari aja. Aku suka iri sama temen-temen yang bisa jalan sama kakak perempuannya. Bisa foto bareng hiks .... Kapan aku bisa gitu sama Kak Nura? Aku juga pengen kayak temen-temen."
"Nggak, Ay, keberadaan lo itu keajaiban terindah. Gue juga paham sama keinginan lo, tapi lo masih punya gue yang bakal selalu ada di samping lo," ujar Nefra berusaha menenangkan. "Gue bakal lakuin apa aja buat lo. Lo harus inget kalau gue juga kakak lo."
Ayrisa tidak membalas. Ia melanjutkan tangisnya, meluapkan segala sakit yang dirasanya. Tangannya meremas sisi kaus yang dipakai Nefra. Berusaha mengalihkan rasa sesak dan sakit di dadanya. Namun, akhirnya hanya menangis yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan sakitnya. Sembari berharap setelahnya bisa kembali seperti biasa, terlihat baik-baik saja meski hancur di dalam.
Nefra membawa Ayrisa ke dalam kamarnya. Untuk sementara ini ia akan menjauhkan gadis itu dari Nura. Setelah adiknya terduduk di tepi ranjang miliknya, ia menuntun Ayrisa untuk berbaring. Gadis itu masih sesenggukan walaupun air mata sudah hampir tidak ada jatuh lagi. Membuat dirinya memangkas jarak wajah mereka untuk membubuhkan kecupan di kedua kelopak mata adiknya.
"Kak Nef mau pergi ke mana?" Ayrisa bertanya dengan suara serak. Ia sedari tadi sedikit memperhatikan penampilan kakaknya yang sudah rapi setelah tangisnya mereda.
"Ah, gue mau pergi bentar." Setelah Ayrisa bertanya begitu Nefra baru teringat niat awalnya. "Lo tunggu bentar ya, gue gak lama."
"Nih, lo mainin hape gue biar gak bosen," imbuhnya seraya memberikan ponselnya ke Ayrisa. Setelah memastikan adiknya lebih baik daripada tadi, Nefra segera beranjak dari sana. Ia memberikan usapan lembut sebelum pergi.
Laki-laki dua-puluh tahun itu berlari kecil menuruni tangga. Gerakannya memakai sepatu pun dilakukan secepat yang ia bisa. Rasanya tidak tenang meninggalkan adiknya dalam waktu lama. Ia tidak ingin hal itu terulang kembali, bahkan tidak sanggup membayangkannya.
Laju Ducati Panigale putih miliknya lebih cepat dari yang biasanya. Hingga akhirnya berhenti di tempat tujuan, rumah teman baik sekaligus pacarnya—Rashi. Mereka sudah menjalin hubungan satu bulan belakangan ini.
Gadis itu sudah berdiri di depan rumahnya menunggu kedatangan Nefra ketika laki-laki itu menghentikan laju motornya. Ia akan ikut dalam barbeque party di rumah pacarnya itu.
"Maaf, Ra, gue telat." Nefra berujar dengan sungguh-sungguh.
"Gak papa, Nef. Cuma beberapa menit aja, kok," balas Rashi dengan santai. "Langsung jalan aja kalau gitu. Gue mau ke minimarket bentar buat beli camilan soalnya."
Nefra mengiyakan tanpa banyak bicara. Setelah Rashi duduk di jok belakang, ia langsung melajukan motor besarnya ke minimarket terdekat. Ia langsung menyusul Rashi masuk ke minimarket setelah memarkirkan motornya dengan benar.
"Nef, Ayri lebih suka camilan yang gimana?" Rashi bertanya begitu Nefra sudah berdiri di sampingnya. Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari laki-laki di sampingnya, Rashi mengguncang tubuh Nefra. "Nef! Lo mikirin apa, sih, sampe gak dengerin gue."
"Sori, Ra."
Rashi menghela napasnya pelan. Memberikan seluruh perhatiannya pada sang pacar. "Ada sesuatu sama Ayri?" Ia sudah sangat hafal dengan hampir segalanya tentang Nefra. Jadi, bukan tanpa alasan ia bertanya seperti itu.
"Boleh gue minta tolong?" Laki-laki itu tampak ragu untuk beberapa saat.
"Ya ampun, kayak sama siapa aja, Nef. Gue ini temen sekaligus pacar lo, gak usah pake nanya segala. Gue bakal lakuin kalau itu masih dalam kesanggupan gue."
Menimang beberapa saat sebelum akhirnya melontarkan kalimat dari mulutnya. "Tolong nanti perlakuin Ayrisa kayak adek lo sendiri."