
Matahari sudah kembali ke peraduannya. Menjalankan tugas untuk menyinari Bumi dengan ditemani langit yang cerah juga beberapa gumpalan awan yang berlalu lalang. Suara burung pun sudah terdengar bising di luar sana.
Dara yang sedang melakukan tugasnya di dapur merasakan hal janggal hingga mengernyitkan dahinya. Menyelesaikan kegiatannya membuat sarapan dengan cepat, Dara mencuci tangannya dan langsung berlalu menuju lantai dua. Ia langsung masuk ke kamar putrinya begitu sampai di depan pintu. Saat masuk, ia mendapati ranjang Nura yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Sedangkan penghuni lain kamar itu masih tenggelam di dalam bedcover-nya.
Dara mendekati ranjang Ayrisa, kemudian duduk di tepinya. "Ay," panggilnya dengan lembut, dibalas dengan lenguhan pelan dari Ayrisa. "Gak enak badan?" Ia langsung bertanya untuk memastikan karena putri bungsunya memang selalu seperti ini ketika sakit.
Dengan kesadaran yang belum terkumpul seutuhnya, Ayrisa menjawab dengan suara serak dan pelan. "Iya, pusing."
"Ya udah, kalau gitu Bunda telpon wali kelas kamu dulu." Setelah mengatakan itu Dara keluar dari kamar.
Tidak lama setelah kepergian sang bunda, pintu kembali dibuka oleh Nura. Kedatangan Nura membuat seluruh kesadaran Ayrisa kembali. Dengan susah payah ia mengubah posisinya menjadi duduk. Kelopak matanya yang terasa berat ia paksa untuk terbuka, walaupun hanya sesaat.
"Kak Nura kuliah pagi hari ini?" Ia bertanya dengan suara yang begitu pelan.
Tidak ada balasan. Malah, selang beberapa detik setelah pertanyaan itu ia lontarkan, terdengar derit suara pintu. Nura pergi tanpa menjawab pertanyaannya.
Ah, memori itu membuat dadanya terasa sesak.
Sudah cukup dengan sakitnya hari ini, Ayrisa tidak ingin menambah beban pikiran keluarganya karena tampak sedih. Menapakkan kakinya ke lantai kamar yang masih terasa dingin, setelah itu Ayrisa bangkit dari ranjang dengan bedcover yang masih menyelimuti dirinya. Kemudian ia melangkah pelan untuk keluar dari kamar.
Sampai di depan tangga pusing hebat melanda kepalanya, membuat tubuh Ayrisa terhuyung. Tidak sempat mencari pegangan, ia pasrah jika akhirnya melakukan sesi temu-kangen dengan lantai yang keras. Namun, tidak seperti pemikirannya. Ada sepasang tangan yang sudah dengan sigap menangkap tubuhnya. Lalu disusul suara Nefra yang masuk ke rungunya.
"Lo sakit?"
Nefra mengatai dirinya dalam hati setelah melontarkan pertanyaan itu. Bodoh sekali, padahal wajah Ayrisa saja sudah terlihat pucat seperti itu. Jangan lupakan gadis itu yang hampir terjatuh beberapa saat yang lalu.
"Lo mau ke mana?" Ia mengganti pertanyaannya sebelum Ayrisa membalas yang tadi ia lontarkan.
"Ke bawah." Ayrisa membalas dengan suaranya yang serak.
Nefra menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangkat tubuh Ayrisa untuk ia gendong dalam bridal style. Ia membawa Ayrisa ke ruang keluarga, lalu meletakkannya di atas sofa. Sebelum pergi ia memperbaiki bedcover Ayrisa untuk menutupi tubuh gadis itu dengan baik. Selang beberapa saat Nefra kembali dengan semangkuk semangka yang sudah dipotong dan dibersihkan dari bijinya. Ia menempatkan diri di depan sofa yang ditempati Ayrisa. Ia mengusap pipi Ayrisa dengan lembut menggunakan telunjuknya untuk membangunkan gadis itu.
"Apa, Kak Nef?"
"Mau makan buah atau bubur aja?"
"Nggak," jawab Ayrisa dengan singkat. Kelopak matanya sudah terbuka walau terlihat sayu, menatap lurus kakak laki-lakinya itu.
"Buah atau bubur?" Nefra mengulang pertanyaannya.
"Nggak mau."
"Oke, gue bawain bubur."
Belum Nefra beranjak, Ayrisa sudah lebih dulu menahan tangan kakaknya itu. "Kak Nef," rengeknya disusul cairan lakrimasi yang jatuh di sudut matanya. Kemudian mulai terdengar suara isakan kecil.
Nefra lagi-lagi menghela napas pelan. "Ya udah, kalau gitu makan buah," ujarnya dengan suara lembut, kemudian langsung dibalas oleh anggukan kecil dari Ayrisa.
Sebelum menyuapi sang adik, Nefra membersihkan sisa air mata yang ada di pipi gadis itu. Ia menyuapi Ayrisa dengan telaten walaupun harus menunggu lama sampai suapan berikutnya. Sisa potongan semangka yang tidak muat di mulut Ayrisa, ia makan dengan santai. Padahal bisa saja itu diberikan pada suapan selanjutnya. Begitu terus sampai mangkuk yang tadi ia bawa kosong tidak bersisa.
"Ay, gak mau ke rumah sakit aja?" tawar Nefra sambil memainkan helaian rambut sang adik.
"Nggak, paling cuman kecapekan." Ayrisa membalas seraya mengalungkan tangannya di leher Nefra. Ia menarik Nefra mendekat agar bisa menenggelamkan wajahnya di leher sang kakak. Suhu tubuh Nefra yang terasa sejuk di kulit Ayrisa membuat gadis itu ingin terus menempel.
Nefra membiarkan apa pun yang dilakukan Ayrisa. Sesekali ia hanya mengusap surai panjang adiknya yang tergerai.
...·Ayrisa·...
Seperti janjinya tadi pada Ayrisa, Nefra berusaha untuk langsung pulang begitu jam kuliahnya selesai. Hal itu mengundang pertanyaan untuk bermunculan di kepala kedua temannya.
"Buru-buru amat, Nef. Emang mau ke mana?" Rivan menyuarakan isi kepalanya.
"Iya, biasanya juga nongkrong bentar bareng kita sama anak teknik temen SMA lo itu." Januar ikut menimpali.
"Gue mau pulang, lain kali aja nongkrongnya," ujar Nefra. "Kalau gitu gue duluan."
Laki-laki itu melangkah secepat yang ia bisa untuk ke parkiran. Sampai di sana ia berpapasan dengan Rashi, teman baiknya sejak masa SMA.
"Hai, Nef!" sapa Rashi.
"Lo kayaknya buru-buru banget, ya," celetuk Rashi sambil menatap Nefra.
"Iya, gue harus cepet pulang."
"Kenapa?" Rashi bertanya ingin tahu.
Nefra menghela napas sebelum menurunkan kembali standar motor besarnya, yang sudah sempat ia naikkan setelah memasukkan kunci. "Ayri lagi sakit. Gue tadi udah janji bakal pulang cepet."
"Gue boleh ikut jengukin Ayri?" Rashi menatap Nefra penuh harap.
"Lain kali aja ya, Ra. Nanti gue bakal kenalin lo ke Ayri sekalian." Setelah mengatakan itu Nefra langsung melajukan Ducati Panigale miliknya meninggalkan parkiran kampus.
Sesampainya di rumah, ia disambut oleh kehadiran Mia dan lainnya yang sepertinya baru ingin masuk.
Setelah memasukkan motornya ke pekarangan rumah Nefra langsung mengajak mereka masuk, tetapi sebelum itu ia memperingati agar tidak berisik nantinya. Ia berjalan paling depan untuk memimpin mereka ke ruang keluarga.
Nefra mendudukkan dirinya di depan sofa yang ditempati Ayrisa, mengelus lembut pipi sang adik untuk membangunkannya.
"Ay, Mia sama yang lain datang jengukin lo," ujarnya dengan jari yang masih setia mengelus pipi Ayrisa.
Hal itu tidak luput dari perhatian Mia dan lainnya. Oska dan Kion sampai merangkul satu sama lain karena tersentuh dengan yang dilakukan Nefra.
"Bang Nefra emang kakak-able banget. Jadi pengen dah," celetuk Oska dengan suara pelan.
"Harusnya lo bersyukur punya gue sebagai kakak lo," sahut Kion.
"Ah, lo mah tahunya nyembunyiin ****** gue. Giliran ketemu malah udah bolong dimakan rayap."
"Kak Nef lama."
Rengekan Ayrisa membuat si kembar kembali menaruh perhatian ke depan mereka. Ayrisa mendudukkan dirinya dibantu oleh Nefra. Seharusnya tidak perlu, bagi Ayrisa itu berlebihan karena dirinya hanya demam biasa.
"Kalian duduk aja, gak perlu gue sodorin sofa, kan." Nefra beralih pada para tamu yang datang bersamanya tadi.
Menggeser meja kecil yang ada di sana, mereka mengikuti jejak Nefra untuk duduk di atas karpet. Mia yang duduk di dekat Ayrisa, menjulurkan tangannya untuk mengetahui suhu tubuh Ayrisa. Ketika telapak tangannya jatuh di atas dahi Ayrisa, ia bisa merasakan suhu yang sangat hangat. Pantas saja wajah Ayrisa sangat pucat, begitu batinnya.
"Gak mau ke rumah sakit aja?"
Mia menoleh pada Gana yang duduk di sampingnya. Ia sedikit mengernyit bingung setelah Gana melontarkan pertanyaan itu, pasalnya pacarnya itu tidak pernah bertanya seperti itu dulu ketika ia sakit. Paling hanya menyuruhnya untuk istirahat penuh dan minum obat.
Menyingkirkan pikiran negatifnya, Mia menambahi ucapan Gana. "Iya, Ay, lo pucet banget tahu. Kenapa juga malah tiduran di sini? Lo bisa tambah kedinginan, Ay."
"Tuh, mereka aja setuju. Lo gak mau dengerin gue dari tadi!" Nefra menimpali.
"Udah, gak usah. Tadi Papa sama Mama udah panggilin dokter." Suara serak yang terdengar pelan itu terlontar.
Nefra mencubit pelan pipi Ayrisa. "Giliran sama Tante Shera lo gak nolak. Sama gue nolaknya sampe nangis-nangis."
"Ihh, bukan gitu, Kak Nef."
"Udahlah, gue mau ke kamar aja." Nefra bangkit dari duduknya, berpura-pura marah. Baru saja akan melangkah, ia mengurungkan niatnya karena merasakan tepi bajunya yang ditarik. Saat menoleh terlihat Ayrisa yang sudah menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Hah, ia lupa jika sedang sakit adiknya itu akan berubah menjadi sangat manja.
Mendudukkan dirinya di samping Ayrisa, kemudian Nefra membawa tubuh sang adik ke dalam dekapannya. Suhu tubuh Ayrisa bisa ia rasakan. Itu membuatnya ingin mengambil alih sakit yang dirasakan Ayrisa, adik kesayangannya.
"Datang buat ngejenguk malah berasa jadi nyamuk."
"Berasa makhluk gak kasat mata malah." Oska menimpali ucapan kembarannya.
"Iya, uwu-nya menyiksa jiwa jomlo gue." Alnan ikut menimpali.
Di sisi lain, Aspen yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan, memiliki banyak pertanyaan di kepalanya. Topik mengenai 'mama Ayrisa' kembali memunculkan tanda tanya, membuatnya begitu penasaran. Apalagi sepertinya hanya gadis itu yang menggunakan panggilan mama.
Hah, otaknya yang biasanya cepat tanggap menyelesaikan segala soal yang diberikan guru, kini tidak menemukan satu petunjuk pun untuk mengurangi rasa penasarannya.