
Pekan kedua dalam masa liburan. Kemarin sore Ayrisa pergi ke kediaman Carsion untuk menginap di sana. Sang ayah yang mengantarnya. Terasa sudah sangat lama sejak yang terakhir kali. Apa lagi di masa-masa ujian ia tidak bertemu lagi dengan mereka. Jadi, acara menginap ini juga sekalian melepas kangen.
Sekarang Ayrisa sedang bersama sang mama di ruangan pribadi milik Shera. Ruangan yang luas itu digunakan oleh Shera sebagai tempatnya untuk melukis. Duduk bersisian, kedua perempuan itu sibuk dengan kanvas di depan mereka. Walaupun tidak terlalu mahir seperti sang mama, Ayrisa bisa melukis, seperti sesuatu yang sederhana dan bertema abstrak. Ya, sangat pemula, Ayrisa akui itu.
Sedang asik-asiknya melukis, ponsel yang tadi ia simpan di atas lemari drawer—yang terletak di sisi pintu—berbunyi nyaring menandakan pesan yang masuk. Ayrisa sedikit mendengkus kesal karena merasa kegiatannya diganggu, berpikir kalau seharusnya tadi ia menonaktifkan benda persegi panjang itu. Jadi, tidak akan mengganggu quality time-nya bersama sang mama.
Kak Aspen
| Hai, Ay
| Kata Bang Nefra kamu di rumah mama kamu
| Aku boleh ke sana?
Beberapa pertanyaan muncul di benak Ayrisa saat melihat nama pengirim. Mengira-ngira alasan Aspen ingin menemui dirinya. Keningnya sampai mengkerut karena memikirkan hal itu.
"Ma," panggilnya. "Kak Aspen boleh ke sini?"
"Iyaa, Ay. Temen kamu boleh main ke sini." Shera menghentikan sejenak gerakan tangannya untuk melihat Ayrisa. "Siapa tahu merangkap jadi menantu," imbuhnya dengan nada bercanda penuh godaan.
"Iih, Mama gak boleh gitu tahuu." Ayrisa memprotes dengan pipi yang menggembung lucu di mata Shera. Ingin sekali ia menghampiri dan mencubit gemas pipi gadis itu, tetapi segera ingat akan tangannya yang penuh dengan cat.
Setelah membalas singkat dan mengirim lokasi rumah papa dan mamanya, Ayrisa menyimpan kembali ponselnya di atas lemari drawer, lalu ia kembali duduk di samping mamanya. Kemudian tangannya mulai kembali bergerak, menyapukan cat secara lembut ke atas kanvas dengan kuas. Lukisannya dominan warna gelap—gambar hamparan langit malam di suatu pantai.
Ayrisa masih ingat saat ia melihat konjungsi bulan dengan Saturnus bersama kakak serta teman-temannya di pantai waktu itu. Kenangannya di hari itu tidak akan ia lupakan, akan tersimpan dengan baik bersama kumpulan kenangan menyenangkan lainnya.
Ceklek!
"Kalian terlalu sibuk dengan kanvas dan kuas!" Seruan pelan sang papa membuat Ayrisa menoleh, sedangkan Shera hanya mendengkus kecil dan melanjutkan kegiatannya. Ia harus menyelesaikan lukisan itu sebelum pekan depan untuk dikirim.
Arfa meletakkan piring berisi empat macam buah di meja kecil yang terletak di antara tempat duduk kedua perempuan itu. "Makan dulu, Ay," ujarnya seraya mengecup singkat pelipis Ayrisa. Kemudian ia beralih pada sang istri dan membubuhkan kecupan ringan di atas bibir ranum Shera.
Menuruti ucapan sang papa, Ayrisa memakan buah yang ada di piring.
"Ay, ada temen kamu di depan!" Elio yang entah sedari selesai sarapan menghabiskan waktu di mana, tiba-tiba masuk dan berseru pelan memberitahu Ayrisa.
Terdiam sejenak, Ayrisa tidak menyangka Aspen akan datang begitu cepat. Detik selanjutnya ia memutuskan untuk segera menghampiri laki-laki itu. Tidak sopan membiarkan tamu menunggu lama, begitu pikirnya. Sebelum itu ia membersihkan dirinya dari cat terlebih dulu. Begitu tiba di ruang tamu, ia bisa melihat Aspen yang sudah duduk di atas sofa dengan kedua tangan laki-laki itu yang bertumpu di atas lututnya.
"Hai, Ay! Apa kabar?" Laki-laki itu berujar ketika mendapati kehadiran Ayrisa. Posisi duduknya ia tegakkan.
Ayrisa tersenyum. "Aku baik, Kak As sendiri gimana?"
"Semakin baik setelah ketemu kamu." Mata Aspen menyipit, membentuk bulan sabit, begitu juga dengan bibirnya. "Rasanya lama juga ya kita gak ketemu," imbuhnya sebagai basa-basi.
Dengan tubuh yang sudah terduduk di depan Aspen, Ayrisa mengangguk sebagai balasan untuk laki-laki itu. "Kak Aspen sampenya cepet banget, ngebut?"
"Nggak, sebenarnya udah di jalan. Aku baru inget belum ngabarin bakal datengin kamu, jadi tadi ngabarin dulu sebelum lanjut ke sini."
Ayrisa mengangguk sambil membulatkan bibirnya. "Oh, iya. Kak Aspen ada apa mau ketemu aku?"
"Kalau aku bilang kangen, gimana?"
...·Ayrisa·...
Saat makan siang tadi, Aspen ikut serta di antara keluarga Carsion dan Ayrisa. Laki-laki itu betah berlama-lama bersama Ayrisa. Mereka berdua sekarang berada di teras halaman belakang kediaman Carsion, sambil membahas banyak hal tentu saja. Pelajaran favorit, pelajaran yang sulit, penulis buku, lomba yang pernah mereka ikuti, sampai pada hobi kecil Ayrisa—mengamati langit malam beserta isinya. Aspen tidak akan pernah bosan mendengarkan celotehan panjang Ayrisa mengenai hal-hal yang disukai gadis itu. Rasanya memang itulah yang ia inginkan sedari awal, menghabiskan waktu bersama Ayrisa sambil berbincang banyak tanpa ada yang mengganggu. Ia juga suka melihat ekspresi Ayrisa yang berubah-ubah sesuai apa yang dibicarakan.
Menggemaskan.
Tidak ada kata lain yang terpikirkan olehnya selain itu.
Jika sudah seperti ini, Aspen jadi ingin segera menjadikan Ayrisa miliknya. Apalagi waktu itu ia juga sudah membicarakan keinginannya pada sang mama. Tidak sabar rasanya hingga rencana dan keinginan itu terwujud. Ayrisa dengan cincin indah yang melingkari jari manis tangan kirinya, dan menjadi milik seorang Aspen.
Bayangan di benak laki-laki itu sangat indah, membuatnya tersenyum tanpa sadar.
"Kak Aspen dengerin aku gak, sih?" Suara Ayrisa yang terdengar sedikit kesal itu membawa kesadaran Aspen kembali.
"Maaf, Ay." Ia berucap dengan penuh penyesalan. "Kamu bicarain apa tadi?"
Mengembuskan napasnya pelan, Ayrisa kemudian kembali mengeluarkan suara. "Aku ceritain lukisan Mama yang pernah dibeli kolektor terkenal."
Binar di mata gadis itu kembali muncul ketika Aspen menunjukkan ketertarikan dengan ceritanya. "Aku pengen gitu kapan-kapan ikut pameran seni yang nampilin lukisan Mama. Pengen liat gimana kagumnya orang-orang sama lukisan Mama yang memang menakjubkan." Keantusiasan kentara dalam suara gadis itu. Matanya yang berbinar juga menunjukkan rasa kagumnya pada sang mama.
"Ah, kayaknya Mama tadi bilang bakal ada acara lelang di California dua minggu lagi."
"Kamu mau ikut ke sana?" Aspen bertanya. Dalam hati sudah waswas.
"Huum, tapi gak dibolehin Mama." Ayrisa sedikit mempoutkan bibirnya. Di sisi lain, Aspen sedikit lega setelah mendengarnya.
"Kalau Bunda kamu gimana, Ay?" Entah sedang memikirkan apa, Aspen tanpa sadar melontarkan pertanyaan itu.
"Bunda hebat dengan caranya sendiri. Katanya dulu Bunda yang ngurus acara pernikahannya Mama sama Papa."
Aspen hanya mengangguk tidak bertanya lebih lanjut. Membiarkan keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Embusan angin sore menggerakkan dedaunan dari tumbuhan yang ada di halaman belakang.
"Ay, aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Kenapa kamu manggil Tante Shera dengan sebutan 'Mama'? Dari yang aku lihat, Bang Nefra gak gitu."
Jawaban tidak langsung diberikan oleh Ayrisa. Gadis itu membiarkan keheningan melingkupi mereka lagi. Entah sedang memikirkan jawabannya atau pertanda tidak ingin memberikan jawaban, Aspen tidak tahu.
"Mama itu ibu pengganti aku." Mata Ayrisa memandang lurus ke depan. Bibirnya terkatup sebelum menoleh pada Aspen seraya tersenyum. "She is my surrogate."
Tubuh Aspen terpaku di tempatnya. Lidahnya kelu, tidak tahu bagaimana harus merespon. Hal itu tidak pernah terpikirkan dalam benaknya sebagai kemungkinan. Sangat jauh dari perkiraannya selama ini.
"Bukannya itu ...." Aspen yang akhirnya mendapatkan kontrol kembali atas dirinya, tidak bisa menyelesaikan pertanyaan itu.
Ayrisa paham dengan kebingungan yang melanda laki-laki di sampingnya ini. Dulu ia juga seperti itu, tidak percaya akan faktanya. Apalagi ia hanyalah seorang gadis kecil saat itu, saat orang tuanya menceritakan semua yang sebelumnya terpendam. Semuanya terasa sangat sulit untuk dicerna.
"Pertama, gimana bisa? Aku tahu pertanyaan itu pasti muncul di benak Kak Aspen. Jawabannya adalah, aku gak lahir di sini. Beda sama Kak Nef sama Kak Nura" Ayrisa melirik Aspen sekilas. "Kalau bahas ini aku mikirnya kayak negara yang ada di belahan bumi punya manfaat lain selain jadi tempat tinggal manusia. Jadi alasan aku ada di dunia."
Menyebut nama kakak perempuannya terkadang sulit bagi Ayrisa. Karena dapat mengundang cairan lakrimasi untuk berkumpul di pelupuk matanya. Namun, ia tidak bisa memikirkan hal itu sekarang.
"Sebenarnya udah banyak orang di sini yang ngelakuin hal yang sama. Mereka upayain banyak cara biar bisa ngelakuin itu, untuk bisa ngebuat keluarga mereka lengkap." Ayrisa menghirup udara sebanyak yang ia bisa, memberikan jeda pada penjelasannya. "Lalu, tentang Mama. Mama sendiri yang menawarkan dirinya, ya, walaupun ditolak awalnya sama banyak orang. Dan setelah semuanya selesai, Mama menerima imbalan yang Bunda bersikeras berikan."
"Yang terakhir, Bunda gak bisa mengandung lagi saat itu, setelah ngelahirin Kak Nef sama Kak Nura. Padahal pengen banget punya anak lagi. Rahimnya lemah. Jadi, Mama yang ngebawa aku ke dunia ini." Ayrisa menyelesaikan penjelasan singkatnya.
Lagi-lagi hening menyelimuti kedua cucu Adam dan Hawa yang kini sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Aspen mengembuskan napasnya pelan. "Gak papa kamu ceritain ini semua ke aku?"
"Aku percaya sama Kak Aspen, dan aku juga percaya sama ucapan Reylin, untuk mencoba percaya sama orang lain. Lagipula aku tahu selama ini Kak As udah berusaha buat melangkah mendekat. Kalau kata Reylin, seenggaknya aku harus cerita sama Kak As sebelum langkahnya makin jauh dan berasa telat buat cerita ini." Ayrisa membalas dengan suara yang tenang. "Aku gak akan tahu apa yang dipikirin Kak Aspen tentang aku, tapi akhirnya adalah keputusan Kak Aspen, masih mau temenan sama aku atau nggak."
Perasaan laki-laki itu sedikit terenyuh ketika mendengar Ayrisa yang masih dengan santai menganggap hubungan mereka adalah pertemanan yang murni. Awalnya sedikit menaruh harapan pada kalimat awal gadis itu, ternyata pemikiran mereka tidak sama.
"Kak Aspen boleh setelah ini ngejauhin aku. Aku gak papa, karena selama ini pun aku baik-baik aja."
Tentu saja Aspen tidak akan menjauh. Ia tidak peduli dengan fakta mengejutkan mengenai gadis yang disukainya ini. Tidak ada yang salah dengan menjadi seorang bayi hasil surogasi. Mau bagaimanapun, anak-anak itu sangat diinginkan untuk lahir di dunia. Yang ia pedulikan adalah segera membuat gadis itu menjadi miliknya. Dengan menceritakan mengenai dirinya, berarti Ayrisa sudah mulai membuka jalan untuk Aspen. Itu tidak akan disia-siakan.
Namun, ketika sedang memikirkan itu, kalimat terakhir Ayrisa mengusik diri laki-laki itu.
"Apa maksud kamu, Ay? Selama ini, ada orang lain yang permasalahin asal kelahiran kamu?"
"Nggak kayak gitu juga, sih." Ayrisa terkekeh kecil, walaupun sebenarnya getir ia rasakan. "Atau mungkin aja pemikiran Kak As bener ya."
"Apa maksud kamu?"
"Yaa gitu ...." Ayrisa memainkan jarinya dengan canggung. Bibirnya melengkung kaku dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Kak Nura selama ini gak pernah nganggep aku sebagai adiknya."
...·o0o·...
Chapter ini terasa begitu panjang, ya. Sebenarnya nggak, isinya yang padat yang ngebuat terasa panjang. Mau dibilang pun cerita ini sebenarnya cerita pertama yang aku konsisten tulis isinya di atas 1200 kata, jadinya ya gitu. Jangan bosan, ya, alurnya memang begini adanya.
Tinggalkan jejak sebelum meninggalkan cerita ini, ya~ Like, komen, etc. Itu sangat berarti buat aku.