
Berada di depan meja belajarnya sejak tiga jam yang lalu. Lelaki itu sibuk menyelesaikan tugas untuk salah satu mata kuliah yang akan dikumpulkan pada hari Selasa minggu depan. Ketika jam menunjukkan pukul setengah enam, ia akhirnya berhasil menyelesaikan tugas.
Menyimpan file tugas itu, kemudian jemarinya bergerak di atas pad untuk men-shut down laptop. Kemudian ia melepaskan kacamata dengan frame tipis yang bertengger di batang hidungnya selama berada di depan laptop. Tangannya tergerak untuk memijat pangkal hidungnya, berharap dapat menghilangkan pening yang terasa.
Tok! Tok!
"Aspen?"
Suara sang mama memasuki rungunya setelah bunyi ketukan pintu. Tanpa menunggu balasan darinya pun pintu langsung didorong membuka dari arah luar.
"Ada apa, Ma?" Ia bertanya setelah memutar kursinya menghadap pintu.
"Sekarang malam minggu, lho. Kamu gak ada janji sama menantu Mama?"
"Iya, ini baru mau siap-siap abis ngerjain tugas."
"Oh, Mama kira libur dulu," sahut wanita itu. "Lagian kamu libur semester gini bukannya istirahat terus perbanyak jalan-jalan sama menantu Mama, malah ngambil semester antara. Papa sama Mama gak ada yang nuntut kamu buat lulus cepet, Aspen."
"Aku yang pengen, Ma. Aku mau bisa cepet kerja dan siapin semuanya buat Ayri dengan usaha aku sendiri."
"Iya, iya. Mama paham, tapi kamu gak perlu forsir tubuh kamu kayak gini. Kamu juga masih muda, nikmatin dulu masa seneng-seneng kamu. Sekarang juga udah jarang main sama temen-temen kamu itu, kan."
"Aku gak ngeforsir diri, Ma. Aku masih sanggup kalau cuma gini."
"Iya, iya. Udah capek Mama nasehatin kamu. Sekarang mending siap-siap buat malam mingguan sama menantu Mama sana. Jangan buat Ayri nunggu."
Setelahnya Sagita meninggalkan sang putra di kamarnya. Tidak lupa menutup pintu sebelum beranjak dari sana.
Aspen bangkit dari duduknya lalu meraih handuk yang tergantung. Ia akan bersiap-siap seperti yang tadi dikatakannya pada sang mama.
Hanya membutuhkan sekitar 15 menit bagi lelaki itu hingga akhirnya terlihat rapi dengan kaus hitam dan celana jeans yang senada. Sepatu putih ia pilih agar tidak terlalu kelam pilihan outfit-nya hari ini.
Kemudian ia meraih jaket hitamnya yang tergantung di belakang pintu sebelum keluar. Kunci mobil sudah lelaki itu masukkan ke saku celananya.
Begitu menginjak anak tangga terakhir, Aspen berpapasan dengan kakaknya—Gala—yang tampaknya baru pulang dari rumah sakit.
"Baru selesai lo?" Aspen bertanya untuk sekadar basa-basi saat melihat raut lelah di wajah kakaknya itu. Berniat sedikit menggodanya dengan iseng.
"Ya lo pikir aja. Badan gue remuk abis nemenin dokter Hadi operasi delapan jam."
Aspen terkekeh kecil. Sangat hafal siapa dokter Hadi itu setelah banyaknya cerita berisi keluhan yang sering dilontarkan oleh kakaknya.
"Lo sendiri udah rapi gini mau ke mana?" Gala balik bertanya.
"Sekarang hari Sabtu. Gue mau jalan sama Ayri," ucap Aspen dengan nada pamer. "Kalau gitu gue jalan."
Aspen berlalu melewati Gala dengan langkah ringan. Begitu keluar dari rumah, ia langsung menuju mobil hitam metaliknya yang berjejer bersama mobil lainnya milik sang papa.
Masuk dan duduk di belakang kemudi, lalu kunci ia tancapkan untuk menghidupkan mesin mobil. Ia menunggu beberapa saat untuk memanaskan mesin, lagipula masih memiliki waktu. Janjinya dengan Ayrisa adalah pukul setengah tujuh.
Ketika akhirnya mobil miliknya bergabung dengan kendaraan lain di jalanan kota, Aspen memfokuskan pandangannya pada jalan yang ramai. Malam Minggu, tentu bukan hanya dirinya dan Ayrisa yang akan menikmati malam khas pasangan itu.
Akhirnya Aspen tiba di depan rumah sederhana kediaman Edwinata. Menarik rem tangan lalu mencabut kunci, detik berikutnya ia keluar dari mobil dan melangkah santai melewati pagar rumah.
Bel rumah yang baru dipasang sejak setahun lalu ia tekan. Bunyinya menggema ke seluruh rumah. Selang beberapa saat, Aspen bisa mendengar suara langkah kaki yang cepat menghampiri pintu, selanjutnya pintu di depannya itu pun terbuka.
"Hai, Kak As!"
Ah, suara gadisnya. Aspen selalu suka mendengar suara gadis itu.
Kini Ayrisa berdiri di depannya dalam balutan dres santai dengan motif floral, berwarna peach dan ditambah dengan kardigan rajut setinggi pinggang gadis itu, pun berwarna coklat muda.
Harus Aspen akui bahwa tiga tahun sejak pertemuan pertama mereka, Ayrisa tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik. Ditambah dengan selera berpakaiannya yang manis—hasil pertemanannya dengan sepupu Ari, gadis itu selalu berhasil membuat Aspen mengucap syukur karena telah mengikatnya dalam ikatan pertunangan.
"Kak, kok malah diem?"
"Kamu cantik, Ay. Selalu."
"Makasih, Kak As," cicit Ayrisa sembari menundukkan pandangannya. Masih terlalu malu untuk menatap kedua mata lelaki di hadapannya itu walaupun sering diperlakukan demikian.
"Udah siapa, kan, buat jalan?" Akhirnya Aspen bertanya.
"Iya ... eh, bentar hape aku ketinggalan di kamar. Kak Aspen masuk dulu, yuk."
Menurut, Aspen melangkah masuk setelah Ayrisa membuka pintu lebih lebar. Ia diarahkan ke ruang keluarga di mana Nefra sedang bersantai sambil menonton televisi bersama Antra.
"Malam, Om.. Bang Nef!" Ia melakukan tos ala lelaki dengan kakak tunangannya itu sebelum mendudukkan diri.
"Malam, Aspen. Mau nge-date sama Ayri, kan?" Antra menaruh perhatiannya pada lelaki itu setelah Aspen mendudukkan diri di samping Nefra.
"Iya, Om."
"Ke sini pakai apa tadi?"
"Mobil, Om."
"Kalau gitu hati-hati ngendarain mobilnya. Ayri cuma satu, Om gak mau ada lecet sedikit pun."
"Iya, Om, pasti. Saya bakal pastiin Ayri pulang dengan aman."
"Kak As, ayo!" Ayrisa akhirnya datang sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang yang menggantung di pundaknya. "Ayah, Kak Nef, aku jalan dulu sama Kak As!" Ia mencium punggung tangan Antra lalu memberikan kecupan di pipi Nefra sesuai permintaan lelaki itu. Kemudian pamit juga pada sang bunda yang sedang berada di dapur.
Tiba di samping mobil, Aspen membukakan pintu untuk Ayrisa lalu meletakkan tangannya di puncak kepala gadis itu. Mengantisipasi kepala yang bisa terantuk ketika masuk.
Kemudian ia berlari kecil memutari mobil dan masuk ke belakang kemudi.
Tujuan mereka kali ini tidak Aspen bocorkan kepada Ayrisa. Sengaja ingin membuat gadis itu bertanya-tanya.
Selama perjalanan itu hening mobil diisi oleh suara penyiar radio. Ayrisa yang menyalakan radio mobil untuk mengusir hening, tidak ingin kantuk menyelimuti. Ketika lagu request-an pendengar diputar pun ia turut menggerakkan bibir untuk ikut menyenandungkan beberapa liriknya.
Saat laju mobil melambat kala memasuki tempat yang tidak asing di ingatannya, Ayrisa sontak menoleh pada Aspen.
"Pantai?"
"Iya. Kamu gak suka?"
Ayrisa dengan cepat menggeleng. "Bukan gitu, cuma bingung aja kenapa Kak As bawa aku ke sini," ujarnya.
Aspen tidak langsung menjawab, menunggu hingga mobil selesai diparkirkan di lahan yang tersedia.
"Yuk, keluar!" ajak lelaki itu setelah mencabut kunci mobil.
Ayrisa pun menurut dan segera membuka pintu di sampingnya. Tidak langsung melangkah ke pantai, ia masih menunggu Aspen yang tengah mengambil sesuatu di jok belakang. Ketika akhirnya berdiri di sampingnya, Ayrisa menemukan sebuah keranjang di tangan lelaki itu.
Tanpa kata Aspen meraih tangan kanan Ayrisa untuk ia genggam. Menuntunnya menuju ke bibir pantai di mana ombak berlarian kecil.
Kemudian ia mengajak gadis itu untuk duduk di atas pasir pantai yang lembut itu. Keranjang yang dibawanya ia letakkan di antara mereka.
"Super moon."
Aspen memandangi wajah Ayrisa yang tengah tersihir oleh keberadaan bulan di depan mereka. Senyum tipis terukir di wajah gadis itu, memicu timbulnya hal yang sama pada dirinya. Aspen akan senang jika Ayrisa senang.
"Makasih udah bawa aku ke sini," ucap Ayrisa dengan pelan setelah menoleh untuk menatap Aspen.
"Sama-sama, Ay. Apa pun buat kamu."
"Aku yang sekarang bahkan udah hampir gak pernah begitu merhatiin kesayangan yang satu itu. Tapi Kak As masih ingat sama hobi aku yang satu ini." Ayrisa bermonolog tanpa memandang ke arah Aspen, sudah kembali terfokus pada benda bulat yang bersinar terang di langit gelap itu. "Bulannya cantik banget. Iya kan, Kak?"
"Iya, cantik.."
Tidak tahu saja gadis itu bahwa Aspen tidak ikut memandangi bulan di atas sana, melainkan menatap dirinya dengan penuh kagum dan terpukau.