
Beberapa bulan telah berlalu. Ayrisa baru melewati masa ujian akhir semester, sekaligus ujian terakhir di kelas 11, pada pekan lalu. Mia sering datang ke rumahnya untuk belajar bersama, tetapi tidak bersama Gana. Gana dan yang lainnya tentu sibuk mendaftar kuliah setelah ujian akhir mereka. Jadi, Mia diantar oleh sopirnya atau sesekali menggunakan jasa ojek online.
Akhir pekan nanti akan ada pembagian rapor mereka. Bohong jika mengatakan Ayrisa tidak berharap bisa meraih juara kelas lagi. Itu adalah salah satu cara untuk membanggakan kedua orang tuanya. Ya, walaupun tidak apa jika nilainya ada yang turun nantinya. Semua sudah tertulis dalam buku takdir, bukan?
"Hey, Ay! Ngelamunin apa sampe gak denger bel gitu."
Tubuh Ayrisa sedikit tersentak saat Mia menepuk pundaknya pelan. Ia menggeleng kecil. "Nggak ada apa-apa, kok. Cuma lagi daydreaming aja."
"Ada-ada aja lo. Yuk, pulang!" Ayrisa mengangguk dan segera memakai tasnya.
Begitu sampai di lobi, mereka bisa melihat Gana dan lainnya yang menunggu di tempat parkiran seperti biasa. Apa mereka sudah selesai dengan urusan kampus? Pertanyaan itu muncul di benak Ayrisa, mengundang kerutan di keningnya.
"Kak Gana sama yang lain udah selesai urusannya?" Ayrisa bertanya pada Mia.
"Semalam Gana bilang udah sih, walaupun Kak Viran sama Kak Alnan beda kampus sama mereka."
Ayrisa sudah akan mengikuti jejak Mia untuk menghampiri mereka, tetapi suara Ilham yang memanggilnya membuat gadis itu menghentikan langkahnya. Ilham dan Farzi ada di parkiran guru yang ada di sisi lain.
"Mi, aku ke sana dulu ya," ujar Ayrisa sambil menunjuk ke arah Ilham dan Farzi. Sudah lama juga ia tidak sekedar berbincang dengan kedua temannya sejak SMP itu.
"Iyaa, lagian cuma di situ doang."
Setelahnya Ayrisa langsung melanjutkan langkahnya menuju tempat Ilham dan Farzi.
"Lo sekarang mainnya sama mereka ya," ujar Ilham sambil menggerakkan dagunya untuk menunjuk ke arah Gana dan lainnya.
"Mereka kan temannya Mia, jadi pasti temenan juga dong," balas Ayrisa.
"Oh, iya. Si Reylin sekarang gimana di sana?" Farzi bertanya.
"Hum, katanya juga udah selesai ujian. Semalam baru abis chatan."
Di saat Ayrisa asik berbincang lagi dengan Ilham dan Farzi, Gana dan yang lainnya menatap penasaran. Pasalnya, selama bersama Ayrisa, mereka tidak tahu kalau gadis itu memiliki teman laki-laki.
"Mereka, kok, keliatan akrab banget." Oska berceletuk.
"Tuh, dua orang siapa sih, bu bos?"
"Oh, Farzi sama Ilham kalau gue gak salah ingat. Mereka emang temennya Ayri sejak SMP."
Aspen yang sedari tidak mengeluarkan suara, diam-diam memandang tajam ke arah dua laki-laki yang diketahuinya sebagai teman Ayrisa itu. Hatinya terasa panas melihat Ayrisa yang mengobrol santai dengan kedua orang itu. Padahal kalau saat dengannya saja mereka hanya mengobrol singkat.
Dari arah lobi, terlihat anak-anak basket yang terlihat akan pulang setelah bermain rutin saat pulang sekolah sekalian berlatih. Mereka pun terlihat masih asik saling melempar bola ke satu sama lain. Hingga ketika salah satu dari mereka melempar terlalu jauh, bola itu melambung ke tempat Ayrisa yang sedang duduk.
Aspen yang melihatnya sontak berdiri dan hendak berlari untuk menghalangi bola itu. Namun, baru beranjak dari duduknya, Ayrisa sudah lebih dulu dilindungi oleh Ilham yang berdiri di dekatnya. Laki-laki itu merentangkan tangannya untuk menghalangi bola basket tersebut.
"Lo pada main yang bener dong, kalau kena temen gue kan berabe," ujar Ilham.
"Iyaa, maaf. Gak sengaja kita," balas salah satunya.
"Makasih ya, Ham." Ayrisa berujar setelah anak-anak basket itu berlalu.
"Tumben jemputan lo lama," sahut Farzi setelah melihat jam tangannya.
"Bukan tumben ya, kadang juga lama gini, kok."
"Ay, ultah lo yang kemarin kita gak dapet traktiran, nih. Yang kali ini dikali dua ya," ujar Ilham dengan tatapan tengilnya.
"Iya, iya, tapi jangan yang buat bangkrut." Walaupun menggeleng, Ayrisa tetap mengiyakan saja.
"Ya, udah, kalau gitu pizza party aja nanti." Farzi memberi usulan.
"Bener, tuh, pizza party aja udah. Gue tunggu ya." Ilham ikut menimpali.
"Iya, iya, kalau sempet ya."
"Ay, Bunda lo udah datang, tuh," imbuh Ilham memberitahu.
"Oh, kalau gitu aku duluan. Bye!" Sebelum menghampiri bundanya Ayrisa tidak lupa pamit pada Mia dan yang lainnya.
"Sabar, As, lo bukan siapa-siapanya Ayrisa." Alnan menepuk pundak Aspen dengan pelan. Walaupun kalimatnya seperti sedang menasehati, sebenarnya ia meledek Aspen.
Yang bukan siapa-siapa memang tidak memiliki hak.
"Gue cabut duluan." Laki-laki yang memakai kaus putih dibalut jaket hitam itu melangkah menjauh dari teman-temannya. Tidak lagi menghiraukan panggilan mereka. Aspen benar-benar tidak suka melihat Ayrisa dekat dengan laki-laki lain. Namun, perkataan Alnan menamparnya dengan kenyataan yang terasa menyesakkan. Ia ingin segera pulang, untuk menagih ucapan sang mama yang katanya akan memberi bantuan ketika Aspen membutuhkannya jika berkaitan dengan Ayrisa.
...·Ayrisa·...
Sekarang Ayrisa bersama Mia di taman kecil sisi lapangan. Mereka sedang menyantap kue cokelat yang dibawakan oleh mama Mia sambil menunggu selesainya pembagian rapor. Di lapangan ada beberapa siswa yang masih menyempatkan tanding basket kecil-kecilan. Gadis enam belas tahun yang sekarang memakai blus berwarna putih dan rok hitam selutut bermotif floral itu menatap Mia yang duduk di hadapannya.
"Mia cantik," ucapnya mengutarakan isi pikirannya.
"Bisa aja lo, Ay. Masih ada banyak kali yang lebih cantik dari gue."
"Mia itu masuk urutan ke-empat perempuan yang cantik di mata aku tahuuu." Ayrisa berujar. "Pertama itu Bunda, kedua mama, ketiga Kak Nura. Ya, walaupun Kak Nura seringnya keliatan datar aja mukanya. Terus Mia yang ke-empat."
"Tersunjang gue, Ay." Mia terkekeh, tidak habis pikir dengan temannya itu.
"Hei, Ay!"
Sapaan itu mengalihkan perhatian mereka berdua. Terlihat seorang laki-laki yang melangkah ke arah mereka. Ayrisa mengenalinya, Fathan.
"Oh, hai!" Akhirnya Ayrisa membalas dengan canggung. Mereka hanya pernah berada di kelas yang sama saat masa orientasi, selama ini Reylin yang menjadi penghubung hingga tercipta obrolan jika mereka berpapasan. Jadi, terasa sedikit canggung ketika saling berbicara kembali.
"Reylin ke mana? Perasaan gue gak pernah liat dia lagi."
"Kamu gak tahu? Reylin udah pindah sejak awal kelas sebelas."
Laki-laki itu refleks menaikkan salah satu alisnya, kebiasaannya ketika tidak percaya dengan ucapan lawan bicaranya. "Pindah ke mana?" tanyanya.
"Ke luar kota pokoknya."
"Terus dia temen baru lo?" Fathan bertanya untuk memastikan sambil menatap Mia sekilas.
"Iya, namanya Mia." Ayrisa membalas. "Jangan suka ya, soalnya udah ada pawangnya," imbuhnya penuh canda.
Dalam diamnya, Mia sedikit mencerna sisi Ayrisa yang belakangan ini muncul ketika bersama teman laki-lakinya. Gadis itu seperti sangat terbuka dan lebih bebas pada mereka. Ia jadi sedikit merasa terenyuh karena berpikiran kalau Ayrisa belum sepenuhnya merasa memiliki hubungan pertemanan dengan dirinya dan yang lain.
"Mia ngelamunin apa?"
Mia sontak mengangkat wajahnya untuk melihat Ayrisa. Ia sendiri tidak sadar kalau dirinya sibuk akan pikirannya.
"Eh, yang barusan ke mana? Kok, udah gak ada."
"Ya, karena kamu melamun jadinya gak sadar kalau Fathan udah pergi." Ayrisa tersenyum geli menatap Mia. "Udah yuk, nyusul ke kelas aja. Kuenya juga udah habis."
Tidak langsung mengikuti jejak Ayrisa yang sudah bangkit dari duduknya. Mia masih terdiam di tempatnya. "Ay, lo nganggep gue sama yang lain temen, 'kan?" Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari bibir Mia. Ia menatap Ayrisa dalam.
"Iya, kalian udah jadi temen aku," balas Ayrisa dengan yakin.
Tercipta keheningan untuk beberapa saat di antara mereka berdua. Sebelum akhirnya Mia menghela napas pelan dan memberikan senyuman pada Ayrisa.
"Gue seneng dengernya," ujar Mia seraya bangkit dan meraih tangan Ayrisa. Ia menarik pelan tangan Ayrisa untuk segera beranjak dari sana.
Sampai di kelas mereka, bersamaan dengan keluarnya Dara dan Alana—mama Mia.
"Nilai kamu naik, Mama bangga. Lingkaran pertemanan yang baik memang memiliki dampak baik juga," ujar Alana ketika putrinya sudah berdiri di depannya.
"Iya, Ma." Mia membalas singkat.
"Terima kasih ya, Ayrisa, sudah mau membantu Mia setelah kepindahannya ke sini." Alana berimbuh seraya memberikan senyum hangat terbaiknya pada Ayrisa.
"Iya, Tante, senang bisa membantu."
"Gimana kalau kita buat perayaan kecil-kecilan. Anggap juga sebagai rasa terima kasih saya," tawar Alana pada ibu dan anak di depannya itu.
"Ah, maaf, ayahnya Ayrisa sudah menunggu. Mungkin lain kali." Dara menolaknya secara halus, merasa tidak enak tetapi tidak bisa menerimanya juga. Suami dan putranya sudah berpesan untuk langsung pulang setelah pembagian rapor tadi.
"Tidak apa-apa, saya pastikan lain waktu kita bisa melakukannya," balas Alana. "Kami pamit duluan kalau begitu."
Ayrisa dan Mia saling melemparkan ucapan sampai jumpa setelahnya.
"Mamanya Mia keliatan tegas banget, Bun. Agak nyeremin," ujar Ayrisa dengan nada berbisik.
"Kamu mau Bunda tegas juga?"
"Bunda mah mana bisa, lagi marah aja ujung-ujungnya ketawa bareng." Ayrisa tertawa kecil memikirkannya.