Ayrisa And Her Story

Ayrisa And Her Story
Ayrisa³⁰ - Answer



Matahari kian menghilang di ufuk barat. Gradasi cahaya jingga kemerahan di langit terlihat seperti lukisan besar yang menaungi Bumi. Walaupun itu merupakan pertanda malam hari yang akan tiba, tidak membuat para pemuda dan pemudi itu menghentikan kegiatan mereka menyiapkan barbeque party di halaman belakang kediaman Edwinata. Sebuah kain yang lebar sudah dibentangkan di atas rumput, dijadikan alas duduk mereka. Memang sengaja seperti itu agar ala piknik.


"Bumbunya udah jadi belum?" Ari Menghampiri Mia dan Jian yang mendapat bagian menyiapkan bumbu.


"Baru jadi dikit."


"Udah siniin aja."


Setelah mendapatkan bumbu dari Jian, Ari kembali menghampiri Gala dan lainnya yang sudah sibuk di depan alat pemanggang.


"Woy, udah jadi belum?" Nefra yang baru keluar dari rumah, dengan santainya menghampiri tempat Mia untuk melihat apa ada makanan yang sudah jadi.


"Abis kita dateng aja lo langsung masuk lagi. Giliran mau makan langsung ke sini." Gala yang sedang melangkah ke arah mereka, berujar untuk menyindir temannya itu.


"Ya, iyalah. Gak ada yang masak di rumah, mana Bunda pergi ke rumah Opa bareng Ayah."


Ya, setelah makan siang tadi Dara mendapat kabar kalau papanya masuk rumah sakit. Jadi, ia dan Antra pergi menjenguk ke rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Tidak hanya itu, Nura yang menginap di rumah temannya membuat Nefra hanya berdua dengan Ayrisa sampai Dara dan Antra pulang, entah jam berapa nanti.


"Ayrisa ke mana, Nef? Kasian mukanya Aspen kusut banget belum liat doi dari tadi."


"Doi apaan, mereka belum ada hubungan." Nefra membalas dengan sewot.


"Lho, doi bukan cuma buat orang yang pacaran kali." Gala terkekeh, tidak habis pikir dengan temannya itu. "Gue jadi kasian sama Ayrisa yang bakal susah punya pacar."


"Ayri juga gak bakal punya pacar sampe kapan pun." Lagi-lagi Nefra membalas dengan tidak santai.


Begitu Alnan datang dengan jagung bakar, Nefra mengambil tiga dan meletakkannya di piring lain. Setelah itu ia kembali masuk ke rumah tanpa menghiraukan panggilan Gala di belakangnya. Laki-laki itu kembali bergabung dengan Ayrisa dan Rashi yang sedang duduk di kursi meja makan. Adiknya sudah lebih baik, Nefra mensyukuri hal itu. Pacarnya pun dengan cepat menjadi dekat dengan Ayrisa.


"Ada yang mau jagung bakar?" Nefra bertanya seraya menaruh piring yang dibawanya di depan Ayrisa dan Rashi.


"Kamu suka jagung bakar, Ay?" tanya Rashi pada gadis yang duduk di sampingnya. Kursi mereka bahkan tidak berjarak. Sengaja, agar Rashi bisa membawa tubuh Ayrisa untuk bersandar pada dirinya. Seperti Nefra, ia juga menyukai posisi ini, entah mengapa.


Ayrisa mengangguk singkat. "Udah lama gak makan," ucapnya pelan dengan suara yang terdengar serak.


Nefra tersenyum kecil melihat kedekatan antara adik dan pacarnya. Tidak salah akhirnya ia memberanikan diri menembak gadis yang selama ini menjadi teman baiknya.


Ayrisa sendiri juga merasa nyaman bersama Rashi. Gadis itu memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Bahkan perasaan sedihnya hampir terlupakan sejak mereka bersama.


"Kak Nef sejak kapan pacaran sama Kak Rashi?" Pertanyaan itu membuat keduanya sedikit tersentak. Padahal sedari tadi tidak ada di antara mereka berdua yang mengungkapkan hubungan mereka. Namun, gadis enam belas tahun itu bertanya seolah sudah mengetahuinya.


"Udah sebulan. Kamu sendiri udah punya pacar?" balas Rashi dengan suara lembutnya.


"Belum."


"Nggak akan!"


Kakak beradik itu bersuara di saat yang bersamaan. Membuat Rashi sedikit bingung.


"Ayri gak akan pacaran, Ra." Nefra berimbuh.


"Kalau tunangan boleh?" Ayrisa bertanya dengan polosnya. Tidak sadar saja jika kedua mata kakaknya sudah membola dengan tangan yang mengepal di bawah meja.


"Emang tunangan sama siapa, Ay?" Rashi bertanya lebih dulu, seakan mengetahui isi pikiran Nefra yang juga sedikit ingin tahu.


"Waktu di rumah Mama waktu itu Kak Aspen ngajak tunangan, tapi belum aku jawab. Mau nanya Bunda dulu, tapi lupa lagi."


Seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi, hanya Aspen yang selalu memilih langkah yang pasti seperti itu. Apalagi ia sendiri juga sudah tahu adik dari Gala itu menyukai Ayrisa.


Dengan langkah tegas Nefra kembali ke halaman belakang untuk mencari sosok yang sudah berani melangkah begitu jauh. Begitu matanya menangkap keberadaan Aspen, ia langsung menghampiri laki-laki itu dan menarik kerah bajunya. Orang-orang yang ada di sana terkejut dengan hal itu. Mia dan Jian bahkan sampai memekik pelan.


"Woy, Nef! Lo apa-apaan, sih. Lepasin Aspen!" Ari berusaha menengahi di antara kedua orang itu, tetapi cengkraman Nefra pada kerah baju Aspen yang kuat tidak membuat jarak mereka bertambah.


"Gue tanya, apa maksud lo ngelakuin itu diam-diam?"


"Gue gak ngerti maksud lo, Bang." Aspen menjawab dengan tenang. Bahkan kelewat tenang karena tidak ada tanda-tanda perlawanan yang terlihat.


"Apa maksud lo ngajak Ayri tunangan?!" Nefra berseru, tidak dapat membendung amarahnya lagi. Sedangkan yang lain seketika terdiam setelah mendengar suara Nefra.


"Bangs*t lo!"


Kepalan tangan Nefra sudah melayang dan siap mendarat di wajah Aspen. Namun, ketika jaraknya tinggal satu jengkal, ia berhenti.


"Kak Nef!" Ayrisa yang sudah berdiri di belakang Nefra, meneriaki kakaknya. Kedua pipinya terlihat memerah karena kesal. Teriakannya yang menghentikan Nefra.


"Satu kata gak baik, Kak Nef." Ayrisa berujar dengan penuh penekanan. Ekspresi di wajah Nefra tidak terbaca lagi, pias menyelimutinya.


"Bang Nefra ternyata kakak takut adek." Oska yang berdiri jauh dari posisi Nefra dan lainnya, berbisik pada sang kembaran. "Lo takut sama gue?" imbuhnya sambil menatap Kion.


"Najis gue daripada takut sama lo."


...·Ayrisa·...


Setelah barbeque party selesai, satu per satu dari mereka pulang dari kediaman Edwinata. Hampir setengah sepuluh malam. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Apalagi setelah insiden Nefra yang hampir menghajar Aspen, hal itu malah membuat anggota Askar yang lain terus membicarakannya. Arsaf yang awalnya ingin terus maju untuk mendapatkan Ayrisa pun akhirnya memilih mundur saja.


Tidak elit namanya jika terjadi perpecahan hanya karena 'suka pada gadis yang sama'.


Sampai Ari yang terakhirnya pulang dari sana, Dara dan Antra belum juga mengabari kapan akan pulang. Karena tidak bisa meninggalkan Ayrisa sendirian di rumah, Nefra meminta Rashi untuk pulang bersama Ari. Walaupun terkenal sebagai player, ia percaya pada temannya itu.


Nefra segera masuk kembali ke dalam rumah setelah memastikan gerbang terkunci dengan benar, seperti pesan sang bunda. Di dalam, Ayrisa sudah menunggu dirinya sambil duduk di anak tangga.


"Ay, Bunda sama Ayah kayaknya pulang malam. Jadi, lo langsung tidur aja kalau udah ngantuk."


Setelah beberapa saat terdiam, Ayrisa membalas, "Boleh aku tidur sama Kak Nef?"


"Ya udah, ayo!"


Nefra merangkul sang adik untuk bersama menuju kamarnya. Kamar yang dominan berwarna abu-abu tua menyambut ketika pintu terbuka. Tidak ingin langsung tidur sebenarnya, pun ia belum mengantuk. Jadi, menonton film menjadi pilihan Ayrisa untuk menemaninya sampai kantuk datang. Dengan tubuh yang sudah bersandar pada bantal yang menambah kenyamanan, ia mulai memiringkan ponselnya dan menekan ikon 'play' untuk menonton film.


A Silence Voice.


Ayrisa tenggelam dalam alurnya. Ia tidak sadar kalau Nefra mulai ikut menonton di sampingnya. Laki-laki itu sedang bosan memainkan ponselnya sekarang.


"Kak Nef, Shouko itu sama kayak aku," celetuknya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.


"Maksud lo apa, Ay?"


Ayrisa terdiam sejenak. "Aku masih inget dengan baik kalau itu dimulai bulan November, sebulan setelah ulang tahun aku yang ke-delapan. Sendirian di kelas baru awalnya nyeremin, dan memang benar. Apalagi waktu itu aku murid akselerasi di kelas 4." Suaranya sedikit bergetar. Padahal ia sudah memikirkannya masak-masak. "Mereka yang gak terima dengan kehadiran aku, mulai melakukan segala hal yang gak pernah aku sangka."


Nefra perlahan mulai paham ke mana cerita Ayrisa akan bermuara. Jantungnya berdegup lebih cepat, merasa siap dan tidak siap mengetahui jawaban atas tanya yang selama ini menghantuinya.


"Pertama, mereka ngunci aku di kamar mandi. Aku gak berani cerita, waktu itu aku cuma bilang ikut pelajaran tambahan sama guru."


Meski samar, Nefra mengingat hari itu. Adik kecilnya hari itu pulang terlambat, membuatnya dan yang lain khawatir. Gadis itu diantar pulang oleh wali kelasnya. Wajah Ayrisa sedikit pucat kala itu, tetapi ia menyembunyikannya dengan baik.


"Setelah itu, makin banyak yang mereka lakuin. Gak ada yang ngebelain aku di kelas, tapi aku masih nganggep kalau itu semua gak papa." Ayrisa menatap lurus sang kakak. "Aku senaif itu 'kan, Kak Nef?" Matanya sudah berembun, tinggal menunggu waktu sampai akhirnya satu tetes jatuh, dan kemudian disusul tetesan lain.


"Ay, kenapa waktu itu lo gak ngasih tau kita? Kenapa lo cuma diem waktu itu?" Nefra menuntut jawaban. Posisinya sudah tidak lagi bersandar di sisi adiknya. Kini ia memandang lurus pada Ayrisa yang tidak berani menatap langsung pada matanya.


Tidak menjawab pertanyaan dari sang kakak, Ayrisa melanjutkan ceritanya. "Sebelum hari itu, mereka narik aku ke toilet. Cacian sama pukulan yang aku terima ... tapi itu gak sesakit waktu aku liat Kak Nura yang cuma berdiri dan ngeliat aku dari depan pintu terus pergi. Aku pikir waktu itu Kak Nura bakal ngebelain aku, ternyata nggak."


"Baru setelahnya aku sadar, Kak Nura gak mau punya adik yang lemah kayak aku. Karena itu, aku mutusin buat pergi. Berpikir Kak Nura bakal lebih baik setelah aku pergi ... dari dunia."


Nefra benar-benar tidak habis pikir dengan adiknya itu. Bagaimana gadis yang saat itu masih berusia delapan tahun berpikiran untuk pergi dari dunia?


"Ay ... kenapa lo bisa sampe berpikiran kayak gitu?!" Nefra berseru sambil mengguncang tubuh Ayrisa. Amarah tiba-tiba menguasai dirinya. "Lo gak mikirin gue, Bunda sama Ayah? Jawab, Ay!"


"Aku cuma mau buat Kak Nura bahagia! Aku takut Kak Nura pergi kayak dia ninggalin aku waktu itu!" Ayrisa balas berseru pada kakaknya itu. Ya, semua akan dilakukannya agar Nura bahagia. Ia ingin melakukan perannya sebagai adik, sambil bagian hati terdalamnya berharap setelah semua yang ia lakukan, Nura akan memandangnya ... menganggapnya sebagai adik. Ia tidak ingin Nura pergi lagi, seperti saat ia ditinggalkan di sana pada hari itu.


"Persetan sama Nura, Ay!" Pertahanan Nefra akhirnya hancur. Setelah sekian lama, air matanya kembali jatuh. Tangannya menggenggam erat tangan Ayrisa. Ia tidak bisa membayangkan jika hari itu benar-benar kehilangan gadis mungil ini. Ia tidak akan sanggup.


Mengapa Tuhan begitu kejam pada adiknya? Batin Nefra menjerit pilu.


Hanya karena ingin Nura menganggap dirinya, gadis itu sampai mau melakukan hal apa pun.


"Gue mohon, jangan pernah berpikir untuk pergi, Ay!" pintanya dengan suara lirih. "Jangan pernah pergi, Ay!"


"Ma—af, Kak Nef. Jangan nangis lagi hiks ...."


"Plis, jangan kayak gitu lagi. Gue bakal hancur kalau lo pergi, Ay." Suara Nefra terdengar bergetar. Kemudian ia mengeratkan pelukannya pada Ayrisa yang pada akhirnya tidak membalas apa-apa lagi.


"Maaf, Kak Nef … maaf."


Malam ini keduanya tertidur lelap setelah puas mengeluarkan air mata. Dalam tidurnya, Nefra memeluk Ayrisa dengan erat, sangat takut jika sang adik pergi ketika ia berada dalam dunia mimpi tidak berujung.