
"Laila" gumam sindy dan Aldi bersamaan.
"Eh.. Hai" sapa laila tersenyum merangkul rangga.
"K-kalian kapan jadian?" tanya sindy.
" 2 hari yang lalu.. ya kan,sayang" jawab rangga mengedipkan sebelah matanya. Yang dibalas laila dengan anggukan kecil.
Sindy terkesiap mendengar penuturan rangga.
Mereka jadian 2 hari yang lalu...
Pantas rangga marah banget pas gue jelekin laila.. Pacaran toh mereka. Cihh...
Seru sindy dalam hati.
"Kita duluan, soalnya udah sore." ucap rangga.
"Ok, bye" sahut sindy malas.
Rangga menarik tangan laila, keluar dari restoran.
"Ettsss... Apa maksud lo? Barusan" laila menatap rangga sengit.
Rangga mengusap wajahnya dan meletakkan tangannya dipundak laila.
"Apa boleh buat?? Udah terjadi..
Lo nggak bisa mundur,la" ucap rangga mengedikkan bahunya.
"Aarrrgghh... Gue kan belum setuju sama rencana lo"laila mengusap kasar wajahnya.
"Terima ajalah.." sahut rangga sambil merangkul laila.
"Tau ah" cetus laila meninggalkan rangga menuju parkiran
****
"Iiihh.... Benci gue sama Rangga, seenak jidatnya aja.. Ngaku jadi pacar gue di depan Aldy, padahalkan gue belum setuju" gerutu laila menghempaskan tubuhnya di ranjang queen sizenya.
Ddrrtt Ddrrtt...
Laila menyambar handphonenya yang terletak di nakas.
"Mau apa lagi sih?" ucapnya ketika melihat pesan yang dikirim rangga.
**From:Rangga
Lo knp? Teriak-teriak..
Kek mak lampir,setress lo?
From: laila
Ini semua gara-gara
lo... Gue kan belum
setuju ..
From:rangga
Ya udahlah...
Udah terjadi gk perlu
Disesali sayang**...
Laila menggeram ketika membaca pesan yang dikirimkan oleh rangga,kemudian ia mengambil ular mainan yang dia beli minggu lalu dan berjalan menuju balkon yang menghadap kamar rangga, dan melemparnya.
"Sayang-sayang... Pala lu peyang,
Makan nih sayang..." ucap laila melemparkan ular mainan ke balkon kamar Rangga.
Clek!!!
"Ngapain lo disitu? Kek orang saraf... senyum-senyum sendiri" tanya rangga berdiri di depan pintu.
Laila mengangkat bahunya acuh, dan melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya.
"Gue cuman mau bilang... Disamping kaki lo, ada ular tuh!! Hati-hati digigit!" ucap laila sebelum menutup pintunya.
"MANA???? Kurang asseemm.. AWAS LO! Liat aja besok lo gue balas" teriak rangga ketika melihat ular mainan tergeletak disamping kakinya.
"Gue gak takut... " teriak Laila dari dalam kamar.
Rangga menggeram mendengar teriakan laila, kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. setelah itu yang terdengar hanyalah dentuman pintu yang dihasilkan rangga ketika menutup pintunya.
Laila mengusap ujung matanya yang berair karena tertawa mendengar teriakan murka rangga. Dilihatnya jam minions yang tergantung cantik di dindingnya, yang menunjukkan pukul 09:31 pm, ia berjalan menuju ranjang queen size untuk mengistirahatkan badannya, yang terasa remuk karena jalan-jalan seharian bersama rangga.Tidak butuh waktu lama, ia pun terbang ke alam mimpi.
#di meja makan.
" kak, princes kita udah bangun belum?" tanya juhana pada putra sulungnya yang baru saja tiba di meja makan.
"Hmm... Nggak tau mah, aku liat tadi sih pintu kamarnya masih ketutup rapat" sahut Ashraf sambil mengunyah kerupuk yang baru saja digoreng oleh juhana.
"Kamu periksa gih sana!! Kalau dia belum bangun, bangunin ya"
"Oke.. Sip mah" Ashraf bergegas menaiki tangga menuju kamar laila.
"Ngomong apa sih kamu sayang sama Ashraf ?" tanya syarief memeluk juhana dari belakang dan meletakkan dagunya dipundak istrinya.
"Iiih... Kamu ini loh, ngagetin aku tau" seru juhana memukul tangan syarief yang melingkar di perutnya.
"Aduhh... Sakit yang" syarief mengaduh kesakitan akibat dipukul oleh juhana.
Mereka ini selalu romantis walaupun sudah punya anak tiga dan usia yang tidak muda lagi, banyak orang iri dengan keromantisan mereka berdua, yang selalu menyayangi dan saling mencintai.
"Ngomong apa sih kamu sama ashraf ? Kayanya asyik banget" lanjutnya.
Juhana memutar bola matanya, karena sifat suaminya kelewat kepo, ia pun membalikkan badannya menghadap syarief.
" aku nggak ngomong apa-apa kok, cuman nyuruh Ashraf bangunin princes kita" jelas juhana.
"Oh... Begitu toh" syarief mencubit pipi juhana.
"Iiih... Kamu ini loh---"
"EEKHHEEMMMMM......" suara deheman menyadarkan mereka berdua.
Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi bagi mereka bertiga bahkan mungkin sudah biasa, melihat juhana dan syarief yang sedang bermesraan, tidak kenal tempat.
Syarief dan juhana hanya bisa cengengesan nggak jelas, karena kepergok oleh ketiga anaknya.
****
"Mah,yah,kak.. Aku berangkat ya" seru laila ketika telah menyelesaikan sarapannya.
"Hati-hati sayang jangan ngebut!" pesan syarief pada putrinya.
"Oke... Syid kamu berangkat bareng aku? Atau berangkat sendiri ?" tanya laila pada adiknya.
"Aku berangkat sendiri aja deh, kak." jawab Rasyid sambil menyuap sesendok terakhir sarapannya.
"Kamu Nggak boleh berangkat pake mobil sendiri!! Mending kamu ikut kakakmu aja!..." larang syarief pada putra bungsunya.
Rasyid mengerucutkan bibirnya ketika mendengar penuturan syarief.
"Loh... Kenapa, pah?" protes rasyid.
"Kamu baru kelas satu SMA, nanti kalau udah kelas 2 baru boleh."jelas syarief.
"Hmm... Ya udah deh, aku berangkat dulu." seru rasyid.
Biar bagaimana pun ia tidak berani membantah apa yang dilarang oleh syaref, kalau kata syarief 'nggak boleh' ya nggak boleh, itu semua juga buat kebaikan dirinya juga.
" yang rajin ya, sekolahnya... Hati-hati di jalan!" seru juhana.
"Iyaaa.... Assalamualaikum.." ucap rasyid dan laila bersamaan.
Laila terkekeh melihat rasyid yang menekuk wajahnya bete, karena dilarang oleh ayahnya untuk nyetir mobil sendiri.
"Kenapa sih ? Perasaan mulai keluar rumah sampe sekarang tu muka ditekuk terus.." ucap laila tanpa mengalihkan pandangannya ke jalan raya.
"Ckk... Aku maunya bawa mobil sendiri ke sekolah." gerutu Rasyid sambil memukul dasboard mobil.
"Eeee.... Marah sih iya, tapi jangan sampe ngerusak mobil gue juga kali... Etsdah."
"Iiisss... Aku sebelllll, kak." teriak Rasyid.
"Loh.. Kenapa sih? Cuma gak dibolehin bawa mobil juga, kamu marah-marah" tanya laila heran.
Rasyid yang awalnya menghadap jendela, berbalik menghadap laila dengan memanyunkan bibirnya.
" aku hari ini ada janji tau... Mau PDKT ama cewek"ucapnya.
"Siapa?"
"Raina, anak kelas X IPA2"
"Accciiee.... Kasian deh, yang PDKTnya gagal " ledek laila ke rasyid.
"Iihh.. Aku gak gagal, cuma terhambat gara-gara Ayah tuh.. Nyuruh aku ikut kakak!" sahut rasyid nggak terima.
"Hahahaa .. Itu sih sama aja, kalau rencanamu buat PDKT hari ini gagal, ya kan?" ucap Laila sambil membelokkan setirnya memasuki gerbang sekolah yang mulai ramai dengan siswa siswi yang berdatangan.
"Serah kakak deh.." seru rangga membuka pintu mobil ketika laila telah selesai memarkirkan mobilnya.
Laila hanya tertawa kecil melihat adiknya yang jengkel karena diledek olehnya.
"Adek gue Udah baligh rupanya... Haha" gumam laila sambil melangkahkan kakinya melewati koridor Sekolah.
"Apa yang salah dari gue sih?? Kok ngeliatin gue gitu banget, kek mau gigit aja.. Mata pada melotot lagi, ih.. Serem." Seru laila dalam hati memperhatikan siswi-siswi di koridor.
Ia menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan sindy, laila tersenyum dan ingin menyapa tapi sindy sudah lebih dulu melengos meninggalkannya.
"Kenapa dia???" tanya laila pada dirinya sendiri. Ia pun melanjutkan langkahnya masuk ke kelasnya.
"Ciee... "erwin bersorak ketika melihat laila masuk kelas.
" PJ dong..." seru Aldy menepuk bahu laila.
" maksud?" Sahut laila bingung.
" PJ karena lo udah jadian sama Rangga" ucap Aldy.
"Pupus sudah harapan gue, Aldy betul-betul nggak ada rasa sama gue.. buktinya dia biasa-biasa aja pas tau gue pacaran sama Rangga." Seru laila dalam hati, sambil berjalan menuju bangkunya, tanpa menjawab ucapan Aldy.
"Iiss... lo memang teman yang nggak setia kawan." Ucap salsa ketika laila menduduki bangku disebelahnya.
"Maksudnya?" Tanya laila.
"Lo nggak ngasih tau gue, kalau lo pacaran sama Rangga.. lo nganggap gue teman apa nggak sih? Seharusnya gue denger berita ini dari lo bukan dari orang lain" seru salsa memandang laila kecewa.
"Sorry sal, gue bukannya nggak mau ngasih tau lo.. tapi belum ada waktu yang tepat" ucap laila.
"Oh gitu ya... PJ nya mana?" Pinta salsa sambil menadahkan tangannya.
"Eh... gi--"
"Istirahat nanti lo kita bayarin makan deh.. "sahut Rangga sambil merangkul laila.
"Oke..sip, gue doain langgeng deh.." ucap salsa dengan gaya lebaynya.
*****
"Apa bagusnya sih dia? Sampe-sampe rangga mau pacaran sama dia, cantik nggak, tinggi nggak, jelek iya... hahahaha." Ucap cewek berambut panjang coklat curly.
"Iya sih... perasaan masih cantikkan lo sindy, kayanya rangga itu dipelet sama Laila.. ihhsss..." sambung cewek rambung sebahu.
"Mungkin dia sudah menyerahkan tubuhnya buat rangga, agar rangga mau sama dia... iiiieeuuuwwww.." sambung yang lain.
Laila mematung ketika mendengar sekelompok para siswi yang berkumpul di meja kantin paling ujung, rangga melihat laila diam di tempat langsung menghampiri mereka sambil menggenggam tangan laila. Ia tidak terima laila disakiti, entah kenapa? Dia juga tidak tau.
"Heh... kalian!!! Gue mau ngejelasin sama kalian, kalau pemikiran kalian itu salah!!" Ucap rangga menatap mereka tajam.
Semua mata tertuju kepada mereka berdua, ketika mendengar seruan Rangga.
"Gue pacaran sama dia bukan karena gue dipelet atau dia nyerahin tubuhnya ke gue, dia cewek baik-baik nggak kaya kalian.." bela rangga sambil merangkul laila.
"Dan juga, gue udah tunangan sama dia.." lanjut Rangga sambil mencium pipi laila mesra.
Bukan cuma para siswi yang syok, mendengar pernyataan dan perlakuan Rangga. Laila pun terkejut, dan menatap Rangga meminta penjelasan, tapi hanya dijawab rangga dengan senyuman manis. Yang dapat membuat siapa pun melihatnya lemas seketika kecuali Laila, karena itu hanyalah sandiwara.
"Kalian nggak percaya kalau kami berdua tunangan? Oke.. Besok kita bakal pake cincin tunangan kita, sayang" ucap rangga menatap laila mesra.
Laila menarik rangga menjauh dari kantin dan pergi menuju perpustakaan, agar percakapan mereka tidak ada yang mendengar.
" lo kenapa sih.. bawa gue ke sini?" Tanya rangga.
"Harusnya gue yang tanya sama lo, kenapa lo bilang kita tunangan hah???" Sahut laila gusar.
"Emangnya kenapa? Lo masih ngarepin Aldy, lo nggak sadar apa, dia biasa - biasa aja pas tau kalau kita pacaran.. itu bukti bahwa dia nggak ada rasa sama lo!!" Ucap Rangga dingin.
Laila diam termangu mendengar perkataan Rangga, tidak dapat dipungkiri bahwa semua yang dikatakan Rangga itu benar, tanpa ia sadari sebulir air mata berhasil lolos dari mata indahnya.