As Sweet An Ice Cream

As Sweet An Ice Cream
Sindy Si Pengacau



Erwin yang sibuk menulis tersenyum sinis dan mengalihkan pandangannya, melihat Laila menundukkan kepala. Kemudian ia menolehkan kepalanya memandang Aldy yang berjarak satu bangku dengannya, ia langsung menetralkan wajahnya ketika Aldy berbalik menghadapnya.


"Kenapa, Al? " tanya Erwin sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Lo yang kenapa, ngeliatin gue kaya punya utang. " sahut Aldy.


"Siapa yang ngeliatin lo, geer banget sih.. Gue aja lagi ngeliatin Azizah. " seru Erwin beralasan.


"Massssa ciihhhh.. " olok Aldy pada Erwin dengan gaya ngondek.


"Gila!! Dasar banci Thailand.. " desis Erwin mendelikkan matanya, dan kembali fokus pada buku tulisnya.


" La, gue mau tanya boleh? " Tanya Abu mendekati Laila yang sedang mencoret-coret kertas kosong.


"Hmmm... " Laila berdehem sebagai jawaban.


"apa betul lo... cuma pura-pura sama Rangga? " tanya Abu dengan hati-hati.


Semua penghuni kelas mendadak sunyi sepi tanpa suara setelah Abu mengutarakan pertanyaan kepada Laila. Aldy yang semula berselancar ria di Instagram menghentikan kegiatannya, Erwin melipat tangan didada sambil menatap lurus ke arah Laila, Reza yang duduk dibelakang bangku Laila pura-pura tidak peduli, tapi ia memasang telinga untuk mendengarkan jawaban Laila.


Laila memejamkan mata dan menarik napasnya berat. " Iya, semua yang dikatakan Sindy benar. "


Tidak ada yang bersuara, yang terdengar hanya suara nyamuk dan lalat beterbangan. Mereka ingin Laila menyangkal semua yang dikatakan Sindy, tapi yang keluar dari mulut Laila membuat mereka mendesah kecewa. Reza tersentak ketika mendengar jawaban Laila, ia merasa senang ketika mengetahui Laila hanya berpura-pura tapi disisi lain ia tidak suka Aldy mengetahui perasaan Laila, itu sama aja Aldy mendapatkan peluang besar untuk mendekatinya.


' Tidak masalah untuk saat ini lo sukanya sama Aldy, tapi nanti gue buktikan lo hanya suka, cinta sama gue bukan sama Aldy. ' ucap Reza dalam hati, sambil menatap punggung Laila yang duduk membelakanginya.


Aldy tersenyum cerah mendengar penuturan Laila, kemudian ia berdiri menghampiri gadis bersurai coklat yang sedang mencoret abstrak diatas kertas. Abu yang menyadari kehadirannya, langsung menyenggol lengan Laila.


"Isshh.. Apa lagi sih?? " Laila mendesis sebal kemudian mendongakkan kepalanya.


Abu tersenyum sambil melambangkan jari telunjuk dan jari tengah tanda damai, dan menunjukkan ke arah Aldy. Laila yang melihat Aldy berada disampingnya lebih tepatnya menduduki bangku salsa, hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sangat malu untuk menunjukkan wajahnya untuk sekarang ini, ingin sekali dia menghilangkan dari muka bumi.


"Jangan ditutup mukanya, La!!" seru Aldy menurunkan kedua tangan Laila yang menutupi wajahnya.


Reza mengepalkan tangannya dibawah meja, ketika melihat Aldy melakukan hal yang membuatnya mual. Ia mengalihkan pandangannya ke pintu kelas ketika melihat Salsa masuk dengan muka cemberut sambil menghentakkan kaki.


"Aldy minggir lo!! Gue mau duduk.. " Seru Salsa menghentakkan kakinya.


"ihhh.. Cepet minggir!!!" Salsa menarik Aldy untuk bangkit dari tempat duduknya.


"iya, iya sabar kenapa sih.. " omel Aldy bangkit dari duduknya.


Kini Aldy berpindah ke bangku Azizah membuat sang empunya mendengus kesal. " geser sedikit cantik! Numpang duduk gue..."


"ih Aldy sempit tau!!" seru Azizah mendorong Aldy sekuat tenaga.


"apasih??? Pelit banget lo, ngasih gue tumpangan separuh kursi aja nda mau."


"pantat lo besar.. Gue cuma kebagian sedikit kamprettt!!" ucap Azizah.


"Alah.. Gue cuma numpang sebentar aja.. Nggak sampai lima menit, jadi kasih gue kesempatan duduk ya.. Plissss" seru Aldy menatap harap pada Azizah.


"Oke!! Lima menit, kalau lebih lo harus.. Minggat!!"


"iya. "


Aldy menatap Laila yang menundukkan kepala sambil memilin jarinya, diraihnya dagu Laila agar bisa menatap kearahnya. Aldy tersenyum sambil menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Laila ke belakang telinga.


"lo nggak usah malu!! Gue senang kalau lo masih suka sama gue. " Tutur Aldy.


Tidak ada sahutan dari Laila, ia hanya menatap Aldy dengan tatapan bingung, begitu pun yang lain juga bingung dengan maksud perkataan Aldy.


"Gue baru sadar.. kalau selama ini gue itu suka sama lo, La. " Aldy meraih tangan Laila dan menggemgamnya.


"Nggak!!! Lo bohong, Al. " ucap Laila menarik tangannya.


" Gue nggak bohong!! gue cinta sama lo, gue sayang sama lo. " Aldy berusaha meraih tangan Laila tapi langsung ditepisnya.


" Kalau lo cinta sama gue, sayang sama gue.. Tapi kenapa lo malah pacaran sama Sindy disaat gue lagi sayang bahkan cinta sama lo? Lo ngejauhin gue disaat lo tau kalau gue cinta sama lo, lo nganggap perasaan gue ini salah, lo bilang hubungan kita ini hanyalah sebatas sahabat nggak lebih.." Sahut Laila memandang Aldy dengan kecewa.


"gue akui.. Gue bodoh,La. Gue mohon beri gue kesempatan."


"Maaf Al.. Gue gk bisa." seru Laila.


"kenapa nggak bisa? Bukannya lo melakukan semua ini biar gue cemburu, tapi disaat gue sadar kalau gue nggak rela lo sama Rangga.. Kenapa lo gak bisa ngasih gue kesempatan? Kita mulai dari awal kaya dulu..." Ucap Aldy memohon.


" karena Laila sekarang sudah move on dari lo.. " seru Rangga berjalan kearah mereka.


"Dia sudah move on dari lo dari satu bulan yang lalu. " Rangga menduduki bangkunya dan melipat tangannya didada.


" gue sudah move on dari lo, gue ikhlas lo sama Sindy. " sahut Laila tersenyum.


"kalau lo berhasil move on dari gue. Terus siapa yang sudah berhasil menggeser posisi gue dihati lo? " Tanya Aldy penasaran.


"Rangga yang telah berhasil menggeser posisi lo di hati gue, Al. Entah kenapa? Gue nyaman berada disisinya.. Walaupun dia nyebelin tapi gue suka. " Seru Laila dalam hati.


" Rahasia lah.. " ucap Laila tersenyum lebar.


"jangan main rahasia dong.. Kita semua penasaran tau. " Seru Fikri dan diangguki yang lain.


Laila terkekeh melihat reaksi mereka yang penasaran. " ke kantin yukk!! Kalian nggak dengar kalau bel sudah bunyi?? ".


" iih.. La. Kita semua penasaran tau.. Siapa orangnya?" tanya salsa menggoyangkan tangan Laila.


"Hahahahha.. Nggak ada. Untuk sekarang aku nggak mau pacaran dulu. " sahutnya berlalu keluar kelas menghampiri Rere dan Rissa.


                              *****


"La, gue mau nanya nih? Emang bener ya.. klau lo sama rangga cuma pura-pura? " tanya Rere sambil memakan lahap siomay didepannya.


"ya, gitu deh. " sahut Laila acuh tak acuh.


"Berita lo sudah tersebar ke seluruh sekolah la. "


" kok lo santai banget sih.. Lo nggak malu apa?" ucap rissa geram.


"nggak.. Ngapain malu.. Gue masih pake baju kok. Hahahaha.. " sahut Laila sambil tertawa.


"Dasar cewek gila.. " Desis Rissa.


"Santai aja kali.. Mau bagaimana pun kalau sudah terbongkar, ya gue bisa apa? " Ucap Laila melipat tangannya diatas meja, karena telah selesai menghabiskan satu mangkok mie ayam.


"Padahal kita sudah senang banget.. Ketika dengar lo tunangan sama rangga, tapi ternyata malah bohongan. " Seru Rissa cemberut.


"Gimana reaksi Aldy ketika dia tahu kalau lo cuman pura-pura sama Rangga? " Tanya Rere memajukan badannya yang duduk berseberangan dengan Laila.


"Dia minta kesempatan sekali lagi.. Katanya sih dia sudah sadar kalau selama ini dia cinta sama gue, bukan sama Sindy." jawab Laila dengan sesekali menyeruput jus mangga yang tinggal setengah.


"terus.. Lo mau?? Gue saranin jangan deh.. Kalau lo kasih Aldy kesempatan kedua, bisa-bisa lo bahaya.. Secara kan Sindy nggak suka sama lo, bisa aja kan dia berbuat yang diluar prediksi kita. " Kata Rissa mengingatkan.


" kalian takut sama Sindy? " Laila mengangkat sebelah alisnya.


"iya, secara kan dia itu artis..  Bokap nyokapnya orang kaya..  Punya perusahaan banyak. Semudah membalikkan telapak tangan aja bisa ngehancurin hidup lo. "


Laila memutar bola matanya mendengar penuturan Rissa, kemudian tersenyum sinis.


" Kalian lupa siapa gue? Bukannya sombong ya,  cuma kalau dibandingkan gue sama Sindy..  Dia itu belum ada apa-apanya sama gue. "


'Brrakkk!!!!'


"Astaga!!! Kok gue bisa lupa ya... Secara kan yang ada dihadapan gue ini anak om Syarief. Pasti buat lo menyingkirkan orang yang kaya Sindy itu, semudah mengeluarkan upil di lubang hidung." Rere menggebrak meja dengan membulatkan matanya.


"Biasa saja kali.. Nggak usah juga pake mukul-mukul meja. Kita jadi pusat perhatian gara-gara lo. " ucap Laila mendelik tajam.


"ya maaf.." Rere nyengir.


"La, kita pulang sekolah main ke rumah lo ya. " pinta Rere tersenyum lebar.


"Nda usah!!  Gue lagi nggak mau terima tamu. " jawab Laila enteng.


"Iih..  Lo kok gitu sih.  Gue mau ketemu Ashraf kakak lo yang ganteng tapi dingin itu."


Mendengar Rere berucap ingin bertemu Ashraf membuat Laila tertunduk lesu, Rere  terheran melihat sikap Laila yang mendadak berubah.


"Lo kenapa? kok mendadak lesu kaya gutu..  Gue salah ngomong ya." ucap Rere merasa tidak enak.


"Nggak... Lo nggak salah omong kok. " Laila  menatap Rere tersenyum.


"Terus kenapa lo jadi sedih? " tanya Rere.


"Kakak gue kemaren diusir ayah gue, dia disuruh tinggal di New York. Dan gue nggak tau dia tinggal di sana sampai kapan?" Laila menengadahkan kepalanya menahan air mata yang sebentar lagi turun.


"kenapa bisa diusir?  Memang apa yang dilakukan kakak lo sampai diusir? Secara kan om syarief nggak mungkin melakukan itu hanya karena masalah sepele." ucap Rere dan di angguki oleh Rissa.


"kalian kalau dengar cerita gue pasti kaget..  Dan nggak percaya. " Laila memperhatikan mimik wajah Rere dan Rissa yang lucu karena penasaran .


"Mukanya biasa aja kali.. Jangan kaya orang yang sakit kena penyakit ayan. Hahahahaha. " Tawa Laila seraya melempari mereka dengan sedotan.


Sontak mereka mengubah mimik wajah cemberut, sembari mengerucutkan bibir.


"iih..  Kita penasaran, tapi lo malah bercanda. Ya sudah kita balik kelas aja,Ris." Omel Rere akan beranjak dari kantin.


"oke.. Gue cerita.. Pengambekkan banget sih. " seru Laila, membuat mereka kembali duduk siap mendengarkan.


"Kakak gue selama ini, sayang sama gue melebihi kasih sayang antara kakak dan adik.  Dia cinta sama gu--"


"APA!!  CINTA!! " ucap Rere dan Rissa berbarengan. Laila mengangguk membuat mereka memandang Laila tidak percaya.


"Sulit dipercaya.. Lo tau dari mana kakak lo cinta sama lo? " Tanya Rissa menggebu-gebu.


"Dia jujur sama gue Kemarin, dia marah gue pacaran sama Rangga. Terus nyokap gue dengar semua apa yang dikatakan kakak gue."


" Pantesan kakak lo sering ngelarang kalau ada cowok yang ngedeketin..  Gue kira dia ngelarang karena nggak mau lo dipermainkan cowok." ucap Rissa dan disetujui oleh Rere.


"Gue aja kaget, sampai sekarang nggak percaya. Kalau kakak gue cinta sama gue. "


"Ya,  mau bagaimana pun lo nggak bisa nyalahin dia..  Dia mungkin juga nggak mau ini terjadi. Secara kan kakak lo sayang banget sama lo, tapi karena rasa sayang yang dia punya itu terlalu berlebihan, jadi membuat dia kayak sekarang ini. " Rere meraih tangan Laila dan menggenggamnya.


Ia tahu bahwa temannya saat ini belum bisa menerima apa yang terjadi, ia berharap hubungan Laila dengan kakaknya tidak renggang hanya karena kakaknya mempunyai perasaan kepadanya. Walaupun dia tidak yakin apakah hubungan mereka kedepannya baik-baik saja,  secara orang tuanya telah mengusir Ashraf dari rumah. Rere hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keduanya.


"Makasih ya, atas masukkannya. Gue ngerasa bersalah sama kakak gue,  karena gue nggak bisa ngertiin dia. Bahkan gue nggak tau dia kemarin kapan berangkat ke  New York." Laila menarik napasnya lelah dan menelungkupkan kepalanya di meja.


"Sama-sama, sudah semestinya kita sebagai sahabat saling menasihati. Gue doakan lo dan kakak lo cepat berbaikan, agar masalah ini nggak berkepanjangan." Seru Rere mengusap kepala Laila.


"HAY!!!  PEMBOHONG ULUNG!! " ucap Sindy menghampiri Laila.


Laila mengangkat kepalanya memandang datar ke arah Sindy, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin. Semua mata tertuju ke arah mereka, menunggu apa yang akan terjadi diantara ia dan Sindy.


" Mau apa lo? " tanya Laila menatap Sindy tidak suka.


"Wow..  Berani ya natap gue seperti itu. Mau gue colok mata lo biar buta sekalian?? " ucap Sindy menaikkan sebelah alisnya.


Laila tertawa sinis dan beranjak dari bangku menghampiri Sindy.


"lo jangan macam-macam sama gue, kalau nggak mau hancur lebur. " bisik laila.


"jangan Laila, aku takut!! " sahut Sindy dengan nada mengejek.


"dengar ya!!!  Gue nggak takut dengan segala ancaman lo. Dan juga selamat menikmati berita yang ada di televisi... Karena ada berita baru yang update mengenai Lo, Rangga dan Yonica.  Kolaborasi yang unik. " Lanjut Sindy kemudian beranjak dari kantin meninggalkan mereka.


Mendengar perkataan Sindy membuat Laila bergegas membuka berita terbaru di smartphone, ia mengepalkan tangannya ketika membaca berita mengenai drinya.


"KURANG AJAR!!!! Berita sampah!!! Nggak bermutu"