
Laila menghempaskan badannya di ranjang queen size, ia pejamkan matanya sambil menarik napasnya pelan. Hari ini banyak sekali masalah yang harus dia hadapi, terutama mengenai dirinya yang mendadak menjadi sorotan publik, ia yang awalnya murid biasa sekarang menjadi terkenal di sekolah. Teman-temannya yang awalnya tidak mengetahui, menjadi tahu bahwa pengusaha muda putri dari Syarief Noor Asufie adalah dirinya, karena wartawan mengorek habis tentang dirinya yang selama ini ia tutupi.
Laila bangun terduduk di ranjangnya melangkah gontai menuju kamar mandi, padahal dia malas sekali keluar rumah hari ini tapi, ia harus kerumah sakit menjenguk yonica.
Padahal bisa saja dia menghubungi Rangga bahwa dia tidak jadi ke rumah sakit, tapi ia tidak rela membiarkan Rangga bersama yonica berduaan. Jadi ia memutuskan untuk ke rumah sakit menyusul Rangga, Laila tidak mengerti kenapa ia tidak rela kalau Rangga ada hubungan lebih dengan yonica, yang jelas ia tidak suka.
"Shitt!!!" Laila mengumpat kesal sambil memukul setirnya, ketika melihat sekelompok wartawan yang menghalangi pintu rumah sakit.
"Gimana mau lewat? Eettdahh... mana mungkin gue keluar." Laila mendomel sambil berpikir apa yang harus dia lakukan.
"Aha... gue telpon Rangga aja deh minta jemput. Dududu." Serunya sambil menjentikkan jarinya.
"Halo..Rangga"
"...."
"Gue di depan pintu rumah sakit nih.. tapi gue nggak bisa lewat ada banyak wartawan."
"...."
"Ya mana gue tau, tanya aja sama mereka ngapain di depan pintu.. minta sumbangan kali." Seru laila memutarkan kedua matanya.
"..."
"Gue nggak tau di mana pintu belakang.. jemput gue kek, kalaunya lo nggak mau gue pulang aja."
"..."
"*** lo.. cepet!! Lambat gue pulang, gue takut nanti wartawan ngenalin gue bego." Ucap laila geram.
'Tutt...' laila matikan telponnya sepihak males mendengar omong kosong Rangga yang ngegombal receh,
Laila membuka instagram sambil mendengar musik yang mengalun di mobilnya, menunggu kedatangan Rangga.
Ia membuka kaca mobilnya ketika melihat Rangga berjalan menuju mobilnya, baru kali ini Rangga terlihat tampan dimata laila. Ia mengenakan baju kaos putih polos dengan jaket jens yang disampirkan dibahunya.
Jantungnya tiba-tiba berdegub kencang ketika Rangga berada tepat disamping mobilnya.
"Lama banget sih.." gerutu laila keluar dari mobil sambil menggembungkan pipinya, berusaha menutupi kegugupannya.
"Massa? cuman 10 menit. Yuk! kalau ditanya wartawan lo diam aja cukup senyum aja, ok!." Ujar Rangga meraih tangan laila menggenggamnya.
"Dikira lo 10 menit sebentar, lumutan gue."seru laila kesal.
"mana lumut nya? Biar gue bersihin.." tanya Rangga sambil memutar badan laila.
"Iih... Rangga. Lo itu nyebelin tau nggak."seru laila kesal.
"iya gue nyebelin.. sekarang lo diam!." Ucap Rangga terkekeh dan langsung membuat laila mengatup mulutnya.
Rangga menggenggam erat tangan laila ketika mendekati pintu masuk yang dipenuhi wartawan. Kilatan lampu blitz disekelilingnya membuat laila menyipitkan matanya, saat ini ia dan Rangga tidak bisa bergerak kemana-mana.
Mereka terjebak di tengah, ia tidak bisa membayangkan kalau ia memutuskan sendirian melewati para wartawan, mungkin ia tidak akan bisa masuk kedalam karena tertahan disini.
Rangkulan Rangga di pinggangnya membuat laila terkesiap, ia tidak berani mendongak menatap Rangga. Karena saat ini jantungnya berdegub kencang.
"Rangga siapa yang akan kamu pilih? Laila atau yonica?"
"Apa benar kalau laila ini hanya kamu jadikan pelampiasan karena putus dari yonica?"
" apakah Laila yang menjadi pemicu putusnya hubunganmu dengan yonica?" Pertanyaan dari wartawan yang satu ini membuat laila kesal.
Laila menatap Rangga sambil memanyunkan bibirnya.
"Diam aja jangan didengerin." Bisik Rangga.
"Sorry! Misi mau lewatt.." seru Rangga menyunggingkan senyumnyaa.
Akhirnya laila bisa bernapas lega ketika security datang membantunya dan rangga agar bisa masuk ke dalam rumah sakit.
"Huh... akhirnya."ucap laila menarik napas dalam-dalam ketika memasuki rumah sakit.
"iih... Rangga kenapa gue dikatain perusak hubungan lo sama yonica." seru laila menghentak-hentakkan kakinya.
Rangga tersenyum geli dan menyampirkan tangannya dibahu laila.
"Udah jangan didengerin.. mereka memang begitu, menyampaikan berita tanpa tahu itu benar atau tidak.. tujuan mereka cuma ingin kabar mereka menarik perhatian masyarakat. Ada untungnya juga buat lo, lo dikenal sama orang-orang." ucapnya santai.
"Cckk... Apaan untung, yang ada gue SIAL.. dipandang sebelah mata sama orang." Sahutnya kesal sambil menekankan kata'SIAL'.
"Udah jangan marah-marah entar cepet tua, jadi nenek-nenek deh." Rangga berujar sambil tersenyum geli.
Laila mengembungkan pipinya, menandakan kalau dia lagi bete. Rangga mencubit pipi laila, yang entah kenapa terlihat sangat menggemaskan dimatanya. Yang dihadiahi laila dengan pelototan mata.
Rangga menghentikan langkahnya yang juga diikuti oleh laila. 'VVIP anggrek nama nyonya Yonica Meisya' bacanya dalam hati. Tanpa bertanya pun dia sudah tahu kalau ini kamar inap Yonica.
"Yukk!! Masuk." Ajak Rangga membuka pintu tersebut dan melangkah masuk.
Laila mengulas senyum tipis ketika pandangan bertemu dengan sepasang mata hazel yang dimiliki oleh wanita cantik seumurannya, yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Sorry lama, nih si kunyuk minta jemput di depan.. gara-gara takut sama wartawan." Kata Rangga menghampiri Yonica.
"Nggak papa kok, hai.. pasti lo yang namanya laila kan?" Tanya yonica tersenyum ramah.
"Iya, kok tau?." Sahutnya bingung. Karena sebelumnya dia belum pernah bertemu dengan yonica.
"Gue yang ngasih tau nyet!!." Timpal Rangga.
"Gue nggak tanya sama lo nyett.. kenapa lo yang jawab." Kata laila mendelik kesal.
"Biarpun yonica yang jawab, jawabannya tetap sama. Kalau dia tau dari gue kucruttt.." sahut Rangga.
Yonica tertawa melihat mereka yang sedang berdebat seperti anak kecil, hanya hal yang sepele.
"Kenapa ngeliatin gue?" Tanyanya heran ketika Rangga memandangnya.
"Nggak papa kok." Ucap Rangga tersenyum.
Laila mengalihkan pandangannya ke segala arah, karena tidak kuasa melihat Rangga yang tersenyum memandangi yonica.
"Gimana keadaan lo?." Ucapnya berbasa-basi.
"See, gue udah baikkan kok." Sahutnya tersenyum.
Satu kata terbesit dibenaknya yaitu 'Cantik' melihat yonica tersenyum. Tidak dapat dipungkiri ia yang seorang wanita saja terpana melihatnya, apalagi kaum lelaki. Mata yang sipit, hidung mancung tapi mungil, bibir pink yang tipis, Kulitnya yang putih ditambah tinggi yang semampai membuatnya terlihat sangat sempurna. Yang pasti membuat dia minder sendiri.
"Kalau gitu gue balik dulu ya!." Pamit laila.
"Cepet banget balik, entaran aja dulu.. " seru yonica yang di- iyakan Rangga.
"Gue disuruh bokap ke perusahaan, setengah jam lagi harus stand by disana." Jelas laila.
"Yaudah deh kalau gitu."
"Lewat belakang ya La! Biar lo nggak diserbu wartawan." Ucap Rangga.
"Gue nggak tau jalan."
"Yaudah gue anterin.. Ca, gue anterin ni anak dulu ya." Kata Rangga mengusap kepala Yonica.
"Hati-hati.. jangan buat anak orang lecettt, entar bonyoknya ngamuk sama lo." Ujar Yonica mengingatkan.
"Gue balik ya, bye!" Seru laila sambil keluar mengikuti Rangga.
"Bye"
$$$
Laila membelokkan setirnya memasuki wilayah Asufie Group, setelah memarkirkan mobilnya dia berjalan santai di lobi sambil sesekali membalas sapaan para karyawan yang berpapasan dengannya.
"Hai oliv, lama tak jumpa... " sapanya menghampiri olivia yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Hmm.."
"Eeettdaahh... jutek amat neng, Galau ya?" Seru Laila menowel-nowel pipi olivia.
"Iiiss.. gue lagi sibuk!! Jangan ganggu gue entar gue dimarahin pak bos.." ucap olivia kesal.
Laila terkikik dan masih gencar mengganggu olivia, ia melipat kedua tangannya di atas meja sambil bernyanyi nggak jelas.
"Sssttt... diam! Lo nyanyi bikin gue nggak konsentrasi." Kata olivia mendelik kesal.
"Massa?? Terus gu---"
"Laila jangan ganggu olivia!! Lo kenapa sih? Suka banget gangguin dia kerja." Tegur Ashraf menggelengkan kepalanya.
"Nggak tau? Senang aja gangguin dia" serunya mengendikkan bahu.
"Cepet masuk!! Lo ditungguin papa dari tadi.. bukannya masuk malah nyangkut disini." Omel Ashraf.
"Gue masuk dulu ya.. jangan kangen sama gue."kata laila cekikikan.
"OGAH!! "
"Hahaha.." Laila tertawa dan bergegas masuk ke ruangan ayahnya.
Laila menghampiri ayahnya yang sedang menandatangi berkas. " ada apa, yah?"
"Ayah cuma ingin klarifikasi tentang ini." Jawab syarief mengeluarkan majalah dari laci meja kerjanya.
"Maksudnya?" Tanyanya bingung.
" kamu pacaran dengan Rangga, sayang?" Ucap Syarief to the point.
Laila menggigit bibirnya, bingung ingin menjawab apa? Sangat tidak mungkin dia mengatakan sejujurnya, kalau ini hanya kepura-puraan. Karena dia ingin melihat Aldy cemburu jadi dia pacaran pura-pura dengan Rangga, entah kenapa dia yakin Aldy memiliki perasaan kepadanya. Tapi, apa? Ketika mengetahui dia memiliki hubungan dengan Rangga, Aldy malah mendukungnya, itu sangat diluar prediksinya.
"Iya, pa." Katanya sambil menundukkan kepalanya.
Ashraf yang tadinya hanya diam mendengarkan tiba-tiba mengepalkan tangannya, ketika mengetahui bahwa adiknya yang dia cintai secara diam-diam selama ini, telah memiliki tambatan hati. Berbeda dengan Syarief dia malah tersenyum, kemudian mengusap kepala putrinya.
"Kamu nggak perlu takutt!!. Ayah nggak marah kok. Yang penting jangan sampe karena pacaran nilai raport kamu turun ya sayang.." nasihat Syarief.
"Beneran yah ? Aaa... makasih. Love you." Seru laila mendongakkan kepalanya dan memeluk Syarief.
"Love you to."
"Ekhm... "
"Dek, bisa bicara sebentar nggak?"
"Bisa."
"Yah, aku pinjam dulu anaknya ya." Seru Ashraf datar dan membawa laila keluar ruangan.
"Eh.. mau kemana?" Tanya laila bingung.
Ashraf tidak menjawab, ia tetap saja membawa laila keluar kantor. "Masuk!!" Perintahnya mendorong laila masuk ke mobilnya.
"Iya kak, jangan marah-marah.. kalau galau, jangan juga aku yang kena imbas eetdah." Seru Laila memanyunkan bibirnya.
Laila mencengkram erat sabuk pengaman, karena saat ini Ashraf mengendari mobil di atas rata-rata, sudah berapa kali dia berteriak agar Ashraf berhenti. Tapi, Ashraf menghiraukannya dan malah menambah kecepatannya.
'Ciiittt...' bunyi ban mobil yang bergesekan dengan aspal.
Ashraf bergegas keluar dari jok kemudi, dan membuka pintu untuk laila.
"Iiss... kakak kenapa sih? Tanganku sakitt.." laila meringis ketika Ashraf menariknya kasar menuju Apartemennya.
Ashraf mengabaikan Laila yang kesakitan karena cekalannya, ketika sampai di depan pintu Apartemennya, ia bergegas masuk dan menutup pintu dengan keras. Sehingga menghasilkan suara yang memekakkan telinga.
"Aduh.. sakit kak!!." Ucap laila mengaduh ketika punggungnya berbenturan dengan dinding.
Laila menatap Ashraf takut, buliran kristal berjatuhan dari mata indahnya. Ia tidak pernah melihat Ashraf dalam keadaan seperti ini, ketika Ashraf putus dengan Meisya mantan pacar yang paling dicintainya, keadaannya tidak sekacau ini.
"Jangan nangis sayang" ucap Ashraf lirih sambil mengusap Air mata laila dengan ibu jarinya.
"Jangan kaya gini kak! Aku takuttt.. kalau ada masalah cerita sama aku." Seru laila disela isak tangisnya.
Ashraf tersenyum miring dan merengkuh pinggang Laila. "yang membuat kakak seperti ini kamu, sayangg" bisik Rangga di telinga laila, membuat Laila jengah karena posisi seperti ini.
Laila mendorong dada Ashraf agar menjauh darinya, ia menatap Ashraf bingung.
"Kok gara-gara aku? "
"Iya karena kamu aku seperti ini.. selama ini aku mencintaimu. Aku menyayangimu melebihi kasih sayang kakak dan adik, aku selama ini berusaha untuk membuang perasaan itu jauh-jauh, tapi nggak bisa.. sudah berapa kali aku mencoba selalu gagal" jelas Ashraf sambil mengusap lembut pipi Laila.
Laila menatap ashraf tidak percaya, ia menutup matanya ketika Ashraf mengecup keningnya. Ia berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Ashraf, namun Ashraf malah mempererat. Membuat Laila sulit bernapas karna terhimpit dinding dan dada bidang Ashraf.
" aku sakit hati ketika mengetahui kamu pacaran dengan Rangga si bocah ingusan itu. Terserah kamu mau bilang aku egois. Iya, aku emang egois!! tidak boleh ada seorang pun yang bisa memilikimu selain Aku. Because kau MILIKKU!! bagaimanapun caranya." Lanjutnya meraih wajah laila untuk menatapnya.
"IMPOSSIBLE!!! Sekarang lepasin aku kak!" Ucap laila mendorong Ashraf.
"NGGAK!! APAPUN YANG TERJADI KAMU HARUS JADI MILIKKU" Kata Ashraf mencengkram tangan laila.
"Kakak gila!" Seru laila menginjak kaki Ashraf, dan ingin berlari. Tapi apalah daya kekuatannya tidak ada apa-apanya dengan Ashraf, jadi dengan mudahnya Ashraf menarik laila.
"Lepasin!!!." ucap laila berusaha lepas dari cekalan Ashraf.
"sempat kakak berbuat macem-macem, ku bilangin Ayah sama Mama." Ancam Laila.
"Silahkan!! Aku cuma mau 1 macem aja kok.. " seru Ashraf Santai sembil menarik laila ke pangkuannya, dan melingkarkan tanganya di perut laila.
"Lepasin!!! Aku mau pulang kak." Ucap laila disela isak tangisnya memohon.
"Kakak nggak bakal lepasin kamu, sebelum kamu janji sama kakak kalau kamu bakal putusin Rangga." Ujar Ashraf mempererat pelukannya diperut laila.
"Kakak nggak bisa nyuruh aku putusin Rangga gitu aja.." ucap laila lirih.
"Banyak perempuan diluar sana!! Kenapa kakak malah sukanya sama aku..? Kakak sadar nggak sih?? Aku ini adik kandung kakak." Lanjutnya menatap iris mata Ashraf. Laila merasa yang ada dihadapannya ini bukan Ashraf kakaknya, karena sikap Ashraf sekarang ini sangat berbeda.
"Aku nggak peduli.. kamu adik aku, tapi aku cinta sama kamu." Ashraf bersikeras melawan takdir yang telah ditentukan.
"Kakk.. please jangan kaya gini." Kata laila disela isak tangisnya.
Ashraf membenamkan kepalanya dileher laila, menghirup aroma vanila yang melekat ditubuh adiknya ini.. aroma yang selalu membuat hatinya tentram dan damai.
'BRAAKK!!'
Ashraf dan laila terkejut ketika mendengar suara gaduh yang berasal dari pintu apartemen, yang memandang nanar ke arah mereka.