As Sweet An Ice Cream

As Sweet An Ice Cream
Keputusan!!!



Juhana menatap putra dan putrinya tidak percaya ketika mendengar percakapan mereka di balik pintu apartemen, bagaikan belati mengiris-iris hatinya ketika mengetahui fakta bahwa putranya mencintai adik kandungnya sendiri. Ia tidak menyangka ini terjadi.


Laila berlari menghampiri juhana dan berlindung dibalik badannya. 'Ma.. ayo pulang! Aku takuttt.. hikss..' seru laila disela isak tangisnya.


Juhana menghiraukan seruan putrinya, ia menatap lurus putranya yang sedang dalam keadaan berantakan.


"Kamu Ashraf temui mama nanti di ruang kerja ayah kamu!" Perintahnya dan membawa putrinya yang sedang menangis.


Pikirannya saat ini sedang kalut karena bagaimana caranya mengatakan kepada suaminya, karena dia takut Syarief akan marah besar dengan Ashraf. Ia tidak mungkin menyalahkan Ashraf yang mencintai Laila Adiknya,karena kita tidak tahu kemana kita jatuh cinta dan sama siapa.


Laila turun dari mobil dan langsung mengurungkan diri dikamarnya, juhana memandang miris putrinya yang syok dengan pengakuan Ashraf.


"Mas.. pulang sekarang juga!! Ada masalah yang harus kita selesaikan." Ucap Juhana ketika Syarief mengangkat telponnya.


Ia tahu bahwa suaminya sangat sibuk, tapi ini lebih penting dari urusan di kantor.


"Masalah apa sayang?? Aku masih sibuk, habis ini ada meeting." Seru Syarief disebrang sana.


"Pokoknya gawat!! Ok, Selesai meeting kamu pulang.. bye love you." Sahut juhana kemudian menutup telponnya.


****


Syarief menatap tajam Ashraf


yang sedang menjelaskan perasaannya terhadap adiknya, rahangnya mengeras dan tangan mengepal. Ingin sekali ia layangkan bogem mentah ketika mendengar pengakuan Ashraf bahwa ia sudah beberapa kali mencuri ciuman dari adiknya, Syarief tidak habis pikir kenapa putranya mencintai adiknya? Banyak perempuan di luar sana yang mengantri untuk jadi pacarnya. Ia sekarang mengetahui mengapa putranya selama ini belum ingin mencari pendamping, karena ia mencintai adiknya sendiri.


"Oke, ayah maafkan kamu.. tapi, bukan berarti ayah tidak marah dengan kamu, karena perlakuanmu kepada adikmu.." tutur Syarief dengan penuh wibawa.


"Terimakasih, yah.. maafkan aku Ma, yah.." ucap Ashraf bersujud.


"Tapi, kamu Ayah pindahkan ke New York.. kamu pimpin perusahaan ayah di sana, karena om Zainal pensiun dari kerjaannya. Agar kamu bisa move on dari adikmu, kamu tidak boleh pulang sebelum kamu benar-benar move on dari adikmu dan membawa seseorang yang akan kamu jadikan istri." Sahut Syarief.


Ashraf menatap ayahnya terkejut dan mengalihkan pandangannya kepada mamanya, juhana yang melihat Ashraf memandangnya, buru-buru ia membuang muka karena ia masih marah dengan putranya.


"Oke.." ucap Ashraf berat.


"Sekarang???" Tanya Ashraf.


"Iya."jawab Syarief.


Setelah itu Ashraf bergegas menuju kamarnya untuk membereskan barang-barangnya, sebelum menuruni tangga ia menatap pintu kamar yang di dalam sana ada seseorang yang dia cintai. "Mungkin, dengan aku pergi ke New York bisa membantuku move on dari kamu." Ucapnya dalam hati. Dan melanjutkan langkahnya menuju lantai dasar menghampiri Ayahnya.


Selama diperjalanan Ashraf memandang keluar jendela merekam semua kenangan yang dia lalui bersama adiknya, sebentar lagi ia akan meninggalkan tempat lahirnya. Berapa tahun ia harus meninggalkan kota ini? Ia pun tidak tahu.


"seandainya aku bisa mengendalikan perasaanku mungkin kita tidak harus berpisah seperti ini, dan seandainya aku tidak menganggap lebih dari seorang saudara perhatian-perhatian yang kamu berikan, mungkin kita masih bisa bersama saat ini.. tapi, aku sungguh tidak bisa mengingkari perasaanku sendiri. Maafkan aku..." ucapnya dalam hati sambil memandang photo mereka berdua yang diambil beberapa hari yang lalu.


Kurang lebih 20 menit ia tiba di Bandara Abdul Rachman Saleh, Ashraf menggeret kopernya dengan sedikit tidak rela.


"kamu pasti bisa, pergilah!! Cari penawar yang bisa mengobati hatimu, jika kamu sudah mendapatkannya dan bawa dia untuk menemuiku."ucap syarief menepuk pundak putranya.


Ashraf hanya mengangguk patuh dan membalikkan tubuhnya masuk ke bandara. Disekanya tetesan air yang tidak tahu malu keluar dari pelupuk matanya. Ia terharu karena Ayahnya yang tidak membencinya, terhadap apa yang ia lakukan. Padahal ia sudah menyiapkan mental untuk menerima jika namanya akan dicoret dari kartu keluarga, tapi yang terjadi malah diluar pemikirannya.


Juhana mengusap lembut puncak kepala putrinya, berusaha menyalurkan kekuatan untuk laila. Ia mengerti perasaan laila yang syok dengan pernyataan Ashraf, seorang kakak yang sudah melindunginya dari kecil baru saja beberapa jam lalu mengatakan bahwa Ashraf mencintainya.


"Sssttt... sudah sayang, jangan nangis lagi!" Ucap Juhana memeluk putrinya, yang menangis karena mendengar kabar Ashraf pergi ke New York.


"Kakak sekarang dimana, ma?" tanya Laila disela isak tangisnya.


"Kakakmu sekarang dalam perjalanan ke New York." Sahut Juhana membelai rambut putrinya.


"Berapa lama? "


"Mama tidak tahu sayang.. jika kakakmu cepat move on dari kamu, maka ia akan cepat kembali."


"Kalau kakak pergi, siapa yang akan ngelindungin aku? Siapa yang belikan aku ice cream tiap hari? siapa yang menemaniku di rumah kalau mama sama ayah pergi?? Siapa yang ngehibur aku kalau aku bosan? Siapa yang jailin aku lagi??" Ucap laila sesegukkan.


Juhana memegang kedua pundak laila, "Dengar sayang!! Biarpun Ashraf pergi, bukan berarti tidak ada yang melindungimu.. masih ada ayah dan adikmu Rasyid yang menjagamu,membelikan ice cream,dan menemanimu. Hanya ini yang bisa kami lakukan agar Ashraf tidak terhanyut terlalu jauh dengan perasaannya, mama harap ia di sana cepat move on dari kamu sayang.. supaya kita bisa berkumpul bersama lagi."


Laila mendengar penuturan Juhana hanya mengangguk dan berharap kakaknya Ashraf baik-baik saja disana. Karena bagaimanapun perbuatan yang telah Ashraf  lakukan kepadanya, Ashraf tetaplah kakaknya yang selalu melindunginya, menjadi pendengar ketika laila mencurahkan isi hatinya dan tempat ia bersandar ketika ia ada masalah.