As Sweet An Ice Cream

As Sweet An Ice Cream
Berubah!!



"KURANG AJAR!!!! Berita sampah!!! Nggak bermutu"


"Kenapa, La? " Rere terkejut melihat perubahan sikap Laila, setelah mengecek Handphone.


"Liat nih!!!  Berita sampah."


"Ternyata isu pertunangan Rangga dan Laila hanya settingan, faktanya mereka hanya hubungan sebatas tetangga dan teman sekolah.  Tujuan lakukan settingan karena Laila cemburu dengan Aldy, yang berpacaran dengan Sindy. Dari beberapa isu yang beredar, Laila yang menyebabkan putusnya hubungan Aldy dan Sindy.---" Rere menarik napas berat,Ia memandang prihatin dan memberikan Handphone kepada pemiliknya yang tengah memijat pangkal hidungnya.


" Yang sabar ya!! Percaya sama gue, berita ini ntar bakalan hilang sendiri.  Lo cukup tutup telinga! jangan hiraukan.  Oke!! " Rere memeluk sahabatnya.


"Thanks ya!!  Kalau gitu gue masuk kelas dulu." Laila mengurai pelukannya,  berlalu meninggalkan mereka.


Laila menundukkan kepala disaat melewati koridor sekolah, ia hanya bisa menulikan telinga ketika yang lain sibuk mencibirnya secara terang-terangan. Sesekali ia mengusap air mata yang sejak kapan mengalir dari pelupuk matanya, ia benci dengan dirinya sendiri, karena terlihat begitu lemah, ia benci karena tidak punya keberanian untuk melawan mereka yang mencibirnya.


Reza menyandarkan tubuhnya di dinding kelas, dan memandang lurus kearah Laila yang berjalan dengan wajah yang tertunduk, masuk ke dalam kelas melewatinya. Ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Laila,dan berlalu menuju bangkunya ketika melihat Rangga memeluk Laila.


"Please..  Lo jangan nangis!! Gue janji secepatnya membersihkan nama lo di media, gue minta maaf!!  Gara-gara rencana gue lo malah dibenci orang-orang." Rangga mengusap punggung Laila yang bergetar.


"Lo jangan sedih!! Kita di sini nge-sport lo, kita semua di sini saudara. Jadi, lo jangan merasa sendirian ketika lo dikucilkan di sekolah ini. " Ucap Abu dan diangguki yang lain.


Semua penghuni kelas menghampiri Laila dan bergiliran memberi pelukan hangat, Reza berdiri menghampiri gadis cantik bersurai coklat dan memeluknya. Membuat Laila kembali menangis kencang, semua mata memandang Reza terkejut. Sebelumnya mereka mengira Reza  tidak peduli dengan keadaan sekitar, karena ia hanya duduk di bangkunya dengan buku yang tidak pisah dari tangannya.


" Menangislah!! kalau itu dapat mengurangi kesedihan lo. Gue disini siap menjadi sandaran disaat lo butuh." Reza mengusap kepala Laila.


Erwin memandang Reza tidak suka dengan perilakunya yang seperti pahlawan disiang hari, Aldy menatap tajam Reza ketika pandangan mereka bertemu. Reza mengangkat sebelah alisnya ketika menyadari semua memandang ke arahnya, ia mengurai pelukannya ketika Laila menghentikan tangisannya.


" Jangan pendam masalah lo sendirian!! Hati gue sakit ngeliat lo nangis kaya begini, Kalau lo butuh teman curhat hubungi gue,  gue siap mendengarkan. Oke!!" Reza mengusap air mata Laila.


" oowwhh...  So sweet banget!!!  Biarpun penampilan lo culun tapi sikap lo sweet banget!!  Terima aja perasaan Ucup, La!! Gue rasa dia itu ganteng cuma tertutup oleh gaya culunnya aja. " Seru Salsha dan mendapatkan delikan tajam dari Erwin dan Aldy.


"Kenapa???  Perasaan ucapan gue nggak salah deh." Salsha merengut.


'Plakkk'


Laila menatap tajam ke arah Reza yang mengusap pipinya merah akibat tamparannya.


" kok gue ditampar sih?? "


" jangan berlagak sok nggak tau deh..  Lo kan yang ngirim rekaman obrolan gue sama Rangga ke Sindy. Jujur aja lo!! " Teriak Laila.


"gue berani sumpah!! Gue nggak ada ngebocorin rencana kalian..  Bukan gue yang ngirim rekaman ke Sindy. " Reza membela diri.


"terus kalau bukan lo siapa???  Cuma lo yang tau rencana kami? "


Rangga berusaha mencerna perkataan mereka, kemudian mengerti mengapa Laila marah dengan Reza. Erwin tersenyum sinis ketika Laila menyalahkan Reza, ia buru-buru mengubah raut wajahnya sebelum ada yang menyadari.


"Maksud lo apa HAH??  Gue baru ngerti ternyata dibalik penampilan lo yang cupu, ternyata lo itu licik!! " Rangga menarik kerah baju Reza.


"Gue memang nggak ada ngelakuin apa-apa..  Gue berani sumpah!! Mungkin ada orang yang tau rencana kalian selain gue!" Reza melepaskan tangan Rangga dari kerah bajunya.


Laila meraih ransel kemudian menyampirkan ke bahunya, ketika mendengar bel pulang berbunyi. Dan berbalik menghadap Reza.


"Gue BENCI sama lo!!!" Laila menekankan kata 'benci' pada Reza.


"Bubar!!!  Gue mau pulang!!  Misi!! " Laila menerobos kerumunan.


"Urusan kita belum selesai! Kalau sampai gue tau, yang ngelakuin ini lo!  Lo bakal menyesal pernah berurusan sama gue." ujar Rangga menunjuk Reza.


Reza tersenyum miring dengan menaikkan sebelah alisnya, ia menaikkan dagu menampilkan wajah angkuhnya, tidak pernah selama ini ia memperlihatkan raut wajahnya yang angkuh kepada orang lain, kecuali dengan seseorang yang sudah mengusik ketenangannya. Kali ini ia memperlihatkan kepada seseorang dihadapannya yang telah meremehkannya, karena penampilannya yang culun.


" Silahkan!!  Kalau memang bukan gue pelakunya, gue pastikan lo yang bakal menyesal telah mengancam gue." Reza berlalu pergi dari hadapan Rangga.


 


"Tolong urus semua berita yang menyangkut pautkan aku dengan berita putusnya hubungan Sindy dan Aldy, aku nggak mau ikut terseret sama berita yang nggak bermutu, Yah.. " kata Laila kepada seseorang diseberang sana.


"...."


"oke!!! Aku pulang sekarang. "


"..."


"aku serahkan semua sama ayah.."


Laila mematikan telepon, kemudian menambah kecepatan untuk segera tiba menemui seseorang yang baru saja menghubunginya yang tengah menunggunya di rumah. Ia masih tidak menyangka Reza tega berbuat seperti itu kepadanya, membuatnya sangat membenci Reza.


"Assalamualaikum..." Laila membuka pintu yang terbuat dari kayu jati.


"Waalaikum salam.. " Jawab Juhana dan Syarief bersamaan.


Laila menghampiri mereka yang tengah menunggu kedatangannya kemudian menyalami mereka, ia mengerutkan kening ketika menyadari kedua orangtuanya memandang ke arahnya.


"Kenapa??  Kok ngeliatnya gitu banget. Berasa punya hutang banyak."  Laila terkekeh ringan.


"Kamu memang punya hutang sama kami, banyak banget hutangnya. "


"Hutang apaan???  Nggak ada ya. "  Laila sewot sambil meraih toples kacang dan berusaha membukanya.


"Kamu hutang penjelasan dengan kami,  terutama sama mama!!  Kamu nggak cerita sama mama tentang hubungan kamu dengan Rangga!?dan juga mengenai berita yang hot news siang ini. " Juhana memperhatikan putrinya yang tengah kesusahan membuka tutup toples.


"perihal hubungan aku dengan Rangga,  seperti apa yang diberita itu,


Jadi apa yang harus dijelaskan?? semua sudah jelas."


" Iiih..   Susah banget sih dibuka!! Kenapa juga tutupnya ini keras banget. Aaarrgghhh!! " Laila geram dan mengerahkan seluruh tenaga untuk membuat tutup toples.


Syarief mulai jengah melihat Laila yang kesusahan dan merebut toples dari tangan putrinya, dengan sekali putaran penutup toples terbuka dan memberikan kembali kepada putrinya, Laila terperangah melihat Ayahnya yang dengan mudahnya membuka penutup toples.


"Ayah tahu kamu sedang kalut dengan berita yang melanda, jadi jangan kamu pendam sendiri!!  Cobalah diskusikan dengan kami,  Ayah pasti bantu kamu. " Syarief memberi nasihat untuk putrinya.


Laila menarik napasnya berat dan memandang kearah kedua orangtuanya yang duduk berseberangan dengannya, setelah ia rasa cukup dengan acara ngemilnya dengan kacang goreng, Laila menegakkan tubuhnya dan mulai  menceritakan awal kenapa ia dan rangga memutuskan menjalankan rencana ini, kemudian sampai rencana kacau seperti ini,  tidak lupa ia juga menyesal akibat rencananya ini membuatnya kakaknya Ashraf dikirim ke New York.


"Kamu jangan terlalu pikirin masalah ini, kamu cukup belajar aja karena sebentar lagi ukk. Ayah yang akan ngatur waktu untuk melakukan klasifikasi, supaya berita ini tidak berlarut-larut. "


"Untuk masalah kakak yang pergi ke New York itu bukan salah kamu, jadi berhenti menyalahkan dirimu!! Mama nggak suka kamu nyalahkan dirimu. Itu demi kebaikan kakak kamu. "  Juhana menimpali.


"Iya..  Kalau gitu aku ke kamar dulu. " izin Laila berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


                                 ****


Reza merebahkan badannya dengan melipat kedua tangannya untuk dijadikan bantal, ia menatap nyalang langit-langit kamarnya. Ingatannya kembali berputar kepada kejadian di sekolah, hatinya mendadak sakit ketika Laila membencinya.


"Gue harus cari siapa yang sudah ngebongkar rencana Laila dan Rangga, supaya Laila nggak benci sama gue..  Gimana mau ngedekatin dia, kalau dia aja sudah benci sama gue. "  Reza berseru dalam hati.


"Woy!!!  Lagi ngelamunin apaan?? Pasti lagi bayangin yang jorok-jorok. " Seru Alfin mengagetkannya.


"sembarangan aja lo! " Reza menatap Alfin sewot.


" Lah terus apa?? "


" Cewek yang gue ceritakan kemarin, dia benci sama gue. "


"kenapa bisa begitu?? " Tanya Alfin heran.


"Rencana dia sama Rangga terbongkar, dia mengira gue yang ngebongkar rencananya pada Sindy, Padahal bukan gue." Reza memijit kepalanya berharap dengan memijat dapat mengurangi beban di kepala.


"Terus lo diam aja, nggak ada pembelaan?? "


"Ya kalau gitu..  Lo harus cari!! siapa yang sudah ngebongkar rencananya cewek yang lo taksir itu. Lo buktikan bahwa bukan lo yang ngelakuin, jadi cowok itu harus gentle bro..  Jangan gara-gara dia nggak percaya sama perkataan lo, lo putus asa." Alfin memberikan saran dan menyemangati.


"Tapi gue harus bagaimana??" Tanya Reza prustasi.


"pertama lo rubah penampilan lo, lepas kacamata ini!! Mata lo nggak minus kenapa lo pake? Lo juga harus ngerubah tatanan rambut, ketampanan seorang lelaki itu terletak pada jambul dan penampilan,  seperti ini...  Waahh, gue akui lo ganteng banget!! " Alfin takjub melihat hasil karyanya.


Reza mengambil bantal dan melempar kearah Alfin, ia jijik melihat reaksi Alfin yang berlebihan mengenai dirinya. Apalagi di kamar ini hanya ada mereka berdua, dia khawatir jika ada yang melihat mengira mereka homoseksual.


Reza terpaku memperhatikan pria tampan yang ada dibayangan cermin, sedikit tidak percaya bahwa seseorang diseberang sana adalah bayangan dirinya. Ia baru menyadari bahwa dirinya tampan,  untuk kali ini ia bertekad mengubah penampilannya dari sekarang. Supaya Laila mau meliriknya seperti yang dilakukannya terhadap Rangga dan Aldy,  ia juga ingin mempunyai banyak teman seperti yang lain,  ia juga ingin menjadi pusat perhatian.



"Apa hubungannya sama gue yang ngerubah penampilan??  Dengan mencari pelaku yang ngebongkar rencana mereka? "


"Ada banget hubungannya, dengan penampilan lo yang sekarang..  Lo bisa ngedekatin Sindy dan cari tahu siapa pelakunya. " Alfin berujar kemudian merebahkan badannya di kasur empuk milik reza.


"nggak ada rencana lain??  Selain ngedekatin Sindy?? " Reza mencoba mencari solusi lain tanpa harus mendekati Sindy.


"nggak ada!!  Hanya itu satu-satunya pintu dari masalah ini."


Reza menghembuskan napasnya berat, tidak ada sedikit pun dari lubuk hatinya untuk berurusan dengan wanita itu. Tapi mau bagaimana pun hanya itu jalan satu-satunya, ia rela melakukan apa saja demi mendapatkan hati wanita yang ia cintai.


"Oke!!  Akan gue coba,  selain penampilan apa yang harus gue rubah?? "


"hmmm.. Apa ya?? Sebentar gue pikir-pikir dulu. " Alfin berpikir sambil mengetukkan jari telunjuk ke dagunya.


"oh iya..  Lo mulai besok berangkat pake mobil!! Nggak usah pake angkot lagi..  Lo itu orang kaya, punya segalanya..  Terus handphone jadul lo ini buang!!  Ganti IPhone yang baru rilis tahun ini. Gue yakin lo ganti IPhone nggak bakalan buat lo langsung miskin." Alfin membuang handphone Reza ke luar jendela.


"Eh..  Gila!!  Jangan dibuang juga kali,  kan bisa disimpan." Reza menyayangkan Handphone yang dibuang Alfin telah hancur berkeping-keping, dan tidak digubris oleh Alfin.


" Ayo!!  Kita ke mall,  buat beli keperluan lo..  Baju-baju lo semua ini singkirkan!!  Ganti yang baru, Buang kalau perlu." Alfin mengeluarkan semua baju Reza dari lemari.


"Jangan dibuang!!  Mending gue sumbangkan ke panti aja, biar dapat pahala."


"Terserah lu!! "


Reza hanya bisa mendengus melihat semua bajunya yang berceceran dilantai, ia hanya bisa menggerutu dan merapikan bajunya kemudian memasukkan ke dalam kardus untuk disumbangkan. Sepupunya ini sangat tidak bertanggung jawab setelah apa yang dia lakukan, membuatnya menelan dalam-dalam kekesalannya, ia ingin marah tapi percuma pasti tidak akan didengar oleh Alfin.


"Cepat!!  Bantu gue angkat kardus-kardus ini ke mobil, kita antar ke panti dulu, baru ke mall beli semua kebutuhan gue." Perintah Reza keluar kamar.


Dengan malas Alfin membawa kardus menyusul Reza, setelah selesai meletakkan kardus di pelataran. Ia menghampiri Reza yang tengah berbincang dengan pak tono selaku satpam di rumah ini.


"kenapa?? "


"bajunya nggak jadi di antar ke panti, soalnya pak tono minta buat anaknya."


Alfin hanya mengangguk-angguk dan berlalu meninggalkan Reza menuju mobil BMW yang akan digunakan mereka, kemudian ia menghidupkan mobil sembari menunggu Reza.


"Gass kuat-kuat mang!! " Ucap Reza setelah memasang Seatbelt.


Alfin tertawa dan melajukan mobilnya diatas kecepatan rata-rata, ia senang dengan perubahan Reza sekarang, Reza lebih banyak bicara dan membuatnya tidak canggung lagi jika ingin mengutarakan sesuatu.


Setelah memakan waktu kurang lebih 15 menit, akhirnya mereka tiba dipusat perbelanjaan terbesar di kota malang. Reza hanya mengikuti kemana Alfin berjalan, ini adalah pertama kalinya ia pergi ke Mall untuk membeli keperluannya, biasanya yang mengurus semua keperluannya adalah mamanya. Namun kali ini ia mengurusnya sendiri ditemani oleh Alfin,  Satu persatu toko mereka kunjungi, sudah memakan waktu satu jam tapi Alfin belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyudahinya. Reza menghembuskan napasnya lelah, kakinya terasa pegal karena berkeliling.


"Woy!!  Kaki gue capek..  Lo belanja kaya cewek ya, lama banget!!  Segini aja cukup. " omel Reza menghampiri Alfin yang berada di depannya.


"nggak usah rempong deh!!  Bentar lagi selesai kok. Ini juga buat kepentingan lo. "


"apalagi yang belum?? perasaan sudah semua."


"Tinggal beli handphone baru buat lo..  Cepat sini!!!  Pilih Mau yang mana?" Ajak Alfin menuju Ibox dan dibalas cibiran oleh Reza.


" Gue ambil IPhone eleven pro warna green. " Ucap Reza asal.


"oke mas..  Mau unboxing sendiri mas? Biar kita bantu buat ID Apple. Bisa sembari tanya-tanya apa yang tidak dimengerti " tawar penjual.


"boleh.. "


Reza membuka plastik yang membungkus kotak IPhone, ia terpana melihat iPhone yang  mempunyai design sangat mewah dan elegan. Setelah membuat ID Apple dengan dibantu oleh pegawai toko, mereka memutuskan makan malam di Restoran terdekat.


"Lo pesan apa bro?? " Alfin bertanya sembari membolak-balik buku menu.


"Samakan aja sama lo." jawab Reza yang tengah sibuk dengan IPhone barunya.


Alfin tersenyum geli melihat Reza seperti bocah yang mendapat mainan baru, lupa dengan keadaan sekitar hanya terfokus pada apa yang sudah ia dapatkan. Seperti ia menyukai Laila, hanya tertuju kepada seorang gadis yang telah berhasil mengisi relung hatinya yang hampa.


"ngapa lu?? Lu suka sama gue??  Sori gue masih normal. "Reza menatap Alfin jijik.


"*****..  Gue juga masih normal, kamprett. " Alfin mendelik tajam tak terima.


"Siapa tau kan..  Lo naksir sama gue, karena penampilan gue sekarang. "


Alfin berdecih mendengar penuturan Reza yang kelewat percaya diri, ia tidak menyangka sepupunya ini berubah menjadi sosok yang tidak ia kenali,  berbeda jauh dengan Reza yang sebelumnya pendiam, dan terkesan pemalu. Sebuah penghargaan baginya yang telah sukses mengubah penampilan dan tingkah laku seseorang, ia tidak sabar melihat tante Rika dan om Padli orangtua Reza yang terkejut dengan perubahan drastis anaknya.


"Permisi.. Boleh gabung?? Soalnya semua meja sudah penuh. "


"Boleh..  Silahkan!!" Alfin tersenyum ramah.


Reza mengangkat sebelah alisnya ketika menyadari dua orang gadis duduk dihadapannya, ia sangat mengenal siapa yang ada dihadapannya ini. Mereka adalah Rere dan Rissa sahabat Laila, ia tersenyum simpul karena melihat Rissa dan Rere yang nampak tidak mengenalnya.


"Oh iya..  Kenalin gue Rere dan ini sahabat gue Rissa. " Rere memperkenalkan diri dan tersenyum manis.


Reza mengalihkan pandangannya kepada Alfin yang terpesona dengan senyuman Rere, ia terkekeh pelan kemudian menyikut Alfin. Alfin mendelik tajam kearah Reza,  yang dibalas Reza dengan tatapan tidak bersalah, Alfin mendengus melihat Reza berlagak tidak melakukan apa-apa.


"Kenalin gue Alfin dan dia sepupu gue Reza. "Alfin memperkenalkan diri.


Setelah perkenalkan tidak ada obrolan diantara mereka, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, tidak berselang lama makanan mereka pesan telah datang.


"kalian dari sekolah mana? Terus kelas berapa? "tanya Alfin sembil sesekali menyeruput jus mangga.


"kami dari SMANSA,kelas XI Ipa. kalau kalian dari sekolah mana? "


"gue sudah kuliah.. "


"kuliah dimana kak?? " Rere mengubah cara bicaranya dengan sopan ketika mengetahui Alfin lebih tua darinya.


"gue kuliah di UMM.. Semester empat jurusan manajemen bisnis."


" Terus Reza kuliah di UMM juga? Jurusan apa.? " Rissa memandang kearah Reza yang sibuk melahap makanannya, tanpa niat untuk mengikuti obrolan mereka.


"Kalau dia satu sekolah dengan kalian. " Alfin menjawab pertanyaan Rissa.


"tapi kok kita nggak pernah ketemu lo di sekolah, kelas berapa lo? " Rissa berujar menatap Reza penasaran.


Reza menelan suapan terakhirnya, sebelum menjawab pertanyaan Rissa dan menyeruput habis minumannya.


"Gue kelas XI Ipa satu, kalian pasti kenal sama gue..  Yang sering kalian panggil Ucup itu gue. " Reza menyandarkan punggungnya kesandaran kursi.


"HAH!! " Ucap Rissa dan Rere berbarengan.


Alfin menangkupkan kedua tangannya, ketika memperhatikan pengunjung yang memandang kearah mereka, merasa terganggu dengan keributan yang diciptakan Rere dan Rissa.


"Gue nggak percaya lo itu Ucup." Rissa memandang Reza dengan tatapan tidak percaya.