
"Kita masuk kelas yukk!" rangga menarik tangan laila.
Setelah sampai di kelas, mereka disambut oleh sorakan teman-temannya.
"Ciye... Kalian pacaran ya" seru erwin memandang rangga dan laila penuh arti.
"Kata siapa? Kita nggak pacaran" sahut laila berlalu menuju kursinya.
"Massa sih.. Gue nggak percaya" selidik erwin mengangkat sebelah alisnya.
"Bodo" laila mengendikkan bahunya nggak peduli.
" lo mah gi--" seruan erwin terpotong oleh bu elma.
"Erwin duduk!!" perintah bu elma memandang tajam erwin yang sedang berdiri disamping kursi laila.
"Hehehe iya bu" sahut erwin cengengesan berjalan ke kursinya.
Laila mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, cuma barisan pertama dan kedua saja yang memperhatikan Penjelasan bu elma, sisanya dari barisan ketiga sampai barisan kelima, tampak tidak ada yang memperhatikannya.
Kebanyakan mereka memilih tidur dan memainkan handpone, termasuk laila, ia mendirikan bukunya diatas meja sebagai pelindung, agar bu elma tidak curiga bahwa ia tidak memperhatikannya, ia membuka handponenya yang bergetar.
"Rangga sms,gue." gumam laila membuka pesan yang dikirim oleh rangga.
**From
Rangga coeek: Entar pulang sekolah bareng gue!
Gue mau ngomong ama lo, penting!!.
To
Rangga coeek: mobil gue gimana??.
From
Rangga coeek: suruh aja rasyid bawa mobil lo pulang..
To
Rangga coeek: oke.
From
Rangga coeek: gue tunggu lo, di parkir sekolah. Bye..
To
Rangga coeek: ok, bye**..
Kringggg....
Bel berbunyi menandakan kegiatan belajar mengajar telah usai, laila membereskan bukunya dan membuatnya kedalam tas.
"La, gue duluan ya.. Bye" pamit salsa sambil memakai tas ranselnya.
"Ok bye.." sahut laila yang tengah menutup resleting tasnya.
Laila melangkakan kakinya keluar kelas pergi menuju parkiran, ia tersenyum melihat Rasyid yang berdiri disamping mobilnya, ia terlalu cuek sama keadaan sekitar, tidak memperdulikan tatapan para siswi yang sedang menatapnya.
Laila akui adiknya ini dapat dikategorikan ganteng, ia memiliki ketampan yang diatas rata-rata. Alisnya tebal, dengan bola mata yang berwarna coklat terang, siapa pun yang menatap matanya langsung jatuh hati, hidungnya yang mancung, pipi yang tidak terlalu tirus dan tidak juga terlalu chubby, rahang yang kokoh, dan bibir tebal kemerah-merahan yang begitu menggoda siapa saja. Tubuhnya yang tinggi, dan mempunyai kulit seputih susu, ditambah dengan sifatnya yang dingin, membuat para siswi berlomba untuk mendapatkan hati adiknya ini, entah itu kelas 10 yang sepantaran dengannya, bahkan yang senior.
"Syid, lo pulang duluan aja. Gue pulang bareng rangga." ucap laila berdiri dihadapan rasyid dan menyerahkan kunci mobil.
" ok" ujar rasyid menerima kunci mobil.
"Hati-hati" ucap laila melihat rasyid memasuki mobilnya dan menjalankannya keluar dari pekarangan sekolah.
Laila masuk kedalam mobil BMW, duduk disamping kemudi.
"lo mau ngomong apa?" ucap laila sambil memasang seatbelt.
"Kita ngomongnya di caffe aja" sahut rangga yang fokus dengan kemudinya.
Laila menganggukkan kepalanya, ia mengambil handphonenya ketika mendengar notifikasi line, ia mengerutkan keningnya ketika melihat si ucup yang nama aslinya Reza Fahlevi teman sekelasnya mengiriminya pesan.
Reza fahlevi: lai, lagi ngapain?
"Nggak biasanya, nik anak.. Ngechat gue di line cuma sekedar nanya gue lagi ngapain, bukan ucup banget." Seru laila dalam hati.
**Laila: lagi di jalan nih..
Reza fahlevi: mau kemana? Sama siapa?
Laila: mau ke caffe, sama rangga.
Reza fahlevi: oh, lo pacaran sama dia?
Laila : nggak, gosip di kelas itu hoax.
Reza fahlevi: oh, kirain.. Sdah dulu ya bye..
Laila : bye**..
Read..
Ia kemudian memasukkan handphonenya kedalam saku seragamnya.
Clek!
Laila menatap rangga bingung, melihat rangga membukakan pintu untuknya .
" udah sampai, nyonya.." ucap rangga geli melihat wajah kebingungan laila.
Laila mendengus menghiraukan rangga dan berlalu masuk ke dalam caffe.
"Lo mau pesen apa? Gue yang bayar" ucap rangga yang tengah melihat-lihat buku menu.
"Samain aja kaya lo" sahut laila.
Rangga memanggil waitress dan menyebutkan menu yang mereka pesan.
"Vanilla late nya 2 dan spaghetti 2" ucap rangga.
"Ada lagi, mas"
"Udah itu aja"
"Tunggu sebentar ya mas" ucap waitress dan berlalu meninggalkan mereka.
"Hehehe.. Kalau iya kenapa? Gue mau ngajak lo kerjasama aja" sahut rangga cengengesan.
Laila memutar bola matanya jengah.
"Dalam hal apa?" tanya laila
" pura-pura jadi pacar gue" ucap rangga santai.
Laila membulatkan matanya.
"WHAT'S!! Lo gila? Ogah!!"
"Lo tenang aja, lo nggak rugi pura-pura jadi pacar gue, lo dapat untung. " ujar rangga mengedipkan sebelah matanya.
"Apa untungnya?"tanya laila melipat tangan di meja.
" gue bakal terhindar dari sindy dan Disa, dan lo bisa membuat Aldi cemburu karena udah sia-siain lo" ucap rangga.
"Maksudnya Sindy???" tanya laila bingung ketika rangga ingin menghindari sindy.
'flashback on'
"***Rangga tunggu!" panggil sindy ketika berpapasan dengan rangga di lorong.
"Apa?" ucap rangga ketus.
Sindy terkesiap dan seketika menormalkan wajahnya.
"Lo pacaran sama laila?" tanya sindy.
"Kalau iya kenapa? Kalau nggak kenapa?" jawab rangga malas.
" cihh, seleramu sekarang turun ya. Apa sih bagusnya dia? Cantik? Nggak, seksi? Nggak " ujar sindy meremehkan.
" terus??"
" gue ada disini, lihat gue!! Gue cinta ama lo dari 2 tahun yang lalu sampai sekarang, kenapa lo malah pilih laila? Please.. Beri gue kesempatan jadi orang spesial buat lo" ucap sindy menggenggam tangan rangga.
Rangga dan sindy sudah saling kenal, ketika sindy menghadiri acara penayangan film yang di sutradarai oleh papanya di bioskop, dan sindy pemeran utamanya. Sindy menyukai rangga, sudah lebih 3 kali ia nembak rangga yang selalu ditolak rangga mentah-mentah.
" udah gue bilang berapa kali, gue nggak cinta ama lo.. Ngapain lo nembak gue ? Padahal lo udah punya pacar" rangga melepaskan tangannya dari genggaman sindy, dan memasukkannya ke saku celananya.
"Gue nggak cinta dia. Gue tau kok, kalau laila suka sama Aldi.. Gue benci laila, makanya gue terima Aldi jadi pacar gue " tutur sindy tersenyum miring.
" jadi, lo manfaatin Aldi.. Dasar gila lo" rangga menatap sindy nggak percaya.
"Iya gue gila, gila gara-gara lo"
"Gue ingatin sekali lagi, gue NGGAK akan pernah jatuh cinta sama lo.. Jangan ganggu gue sama laila" ucap rangga menekankan kata 'nggak' dalam ucapannya, dan berlalu meninggalkan sindy yang menangis karena perkataan tajamnya***.
'flashback off'
" jadi sindy cuman manfaatin Aldi.. Gara-gara benci sama gue? Tapi dari tingkahnya, nggak ada tanda-tanda dia benci sama gue.." ucap laila nggak percaya ketika mendengar cerita rangga barusan.
"Dia kan artis pemain film, akting pura-pura baik sama lo bukan hal yang susah, laila" sahut rangga.
"Iya yah.. Kok gue selama ini nggak sadar sih"
"Makanya.. Orang yang baik belum tentu baik" ucap rangga.
"Termasuk lo" timpal laila.
"Kok gue sih?" gerutu rangga tidak terima.
"Iya lo k--"
Pertengkaran kecil mereka terhenti ketika waitress datang membawa pesanan mereka.
"Makasih" ucap rangga pada waitress.
Mereka makan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, Laila sibuk memikirkan perkataan rangga bahwa sindy hanya memanfaatkan Aldi, rangga menawarinya berpura-pura jadi pacarnya, dengan imbalan Aldi akan menyesal karena telah menyia-nyiakannya. Tapi ia nggak yakin Aldi akan menyesal setelah melihat Aldi menatap sindy dengan mata berbinar penuh cinta, kecil kemungkinan semua itu terjadi.
"Jadi gimana? Lo mau" tanya rangga menyuruput vanilla late.
"Emm... Gue pikir-pikir dulu ya" ucap laila mengaduk minumannya.
"Oke.. Gue tunggu jawaban lo besok" rangga bersandar dikursi.
"Hmm... Pulang yukk udah sore" ajak laila.
"Yukk" rangga meletakkan uang diatas meja dan berdiri berjalan keluar dari caffe.
"Oh... Ayolah, lo harus mau pura-pura jadi pacar gue , lo nggak rugi kok. Apalagi gue ganteng" pinta rangga sambil menjalankan mobilnya.
"Cihh.. Pede banget lo"laila mencibir.
"Gue kan memang ganteng, banyak diluar sana cewek yang ngejar-ngejar gue"
"Masa sih, terus kenapa lo maksa gue pura-pura jadi pacar lo? . Bilang aja lo nggak laku" cerocos laila
"Hehh.. Apa lo bilang? Gue nggak laku, nggak ke balik nih. Gue kan milih lo, pura-pura jadi pacar gue karena lo ikut andil dalam masalah ini" sahut rangga nggak mau kalah.
"Bangke.. Iihh gue sebel sama lo" teriak laila memukul rangga bertubi-tubi.
"Aduh laila sakit.. Badan lo kecil, kok pukulan lo sakit banget sumpah" rangga mengaduh kesakitan.
"Lo sih... Gue kesel ama lo" teriak laila didekat kuping rangga.
"Aduhh.. Laila bisa budek gue lama-lama"rangga mengusap-usap telinganya .
"Bodo" ucap laila menjulurkan lidahnya.
"ingat woy.. Ini lagi dimobil bukan dihutan, dasar orang utan" teriak rangga di kuping laila.
" ihhh... lo ya!!" laila bersiap hendak memukul rangga.
"Turun lo.. Udah sampe" ucap rangga memberhentikan mobilnya didepan rumah laila.
"Makasih tumpangannya" ucap laila tersenyum.
"Sama-sama"
"Duluan ya.." laila membuka pintu dan turun dari mobil.
"Hmm" sahut rangga menjalankan mobilnya ke rumah yang berada disebelah rumah laila.
"Tumben bangettt.. Bilang makasih. Biasanya langsung nyelonong aja." Gumam rangga tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Turun dari mobil masuk ke dalam rumahnya.