
Laila berusaha menetralkan jantungnya karena seseorang yang baru saja duduk disebelahnya adalah orang yang dia sukai selama ini.
"Tumben sendirian.. biasanya kemana-mana sama sindy. Kalian itu kaya perangko nempel terus." Seru Rere kepada Aldy yang sedang manyeruput es kelapa.
"Gue udahan sama sindy." Sahut Aldy menoleh ke Laila yang berada disampingnya.
"Loh kok bisa?perasaan kalian adem anyem aja.. nggak ada masalah." Rere terkejut mendengar penuturan Aldy.
"Dia selama ini manfaatin gue, karena gue banyak uang yang bisa belikan dia apa aja. Dan bodohnya lagi gue mau dimanfaatkan, selama dia mau berada disisi gue. yang bikin gue sakit hati dia selama ini nggak cinta sama gue. Dia cinta sama Rangga tunangan lo, La." Laila merasa namanya disebut menoleh kearah Aldy dan mengangkat alisnya.
"kok gue senang sih.. dengar dia putusan sama sindy, tapi gue nggak tega lihat mukanya sedih kek gitu. Tapi ini kesempatan emas buat pdkt sama Aldy, Apa gue udahin aja ya sandiwara gue sama Rangga, biar gue bisa deket sama Aldy kayak dulu terus jadian deh.. hahaha."seru laila dalam hati memperhatikan Aldy.
"So, gue harus gimana?"
"Ya nggak harus gimana-gimana sih.. gue cum--"
"Nih! Nasgor sama jusruknya (jus jeruk). Sorry lama antarian panjang." Rissa menyodorkan nasi goreng dan jus jeruk, membuat perkataan Aldy terpotong.
"Eh.. ada Aldy toh, tumben gabung sama kita. Biasanya sama sindy terus." Rissa mendaratkan bokongnya disamping rere.
"Dia udahan sama sindy, Riss." Kata Rere menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
"Kok bisa??" Tanya Rissa membulatkan matanya terkejut.
"Ya bisalah Riss.." celetuk Laila memakan suapan terakhirnya.
Rissa memanyunkan bibirnya karena mendengar celetukan Laila,
Dan memilih menghabiskan makanannya.
Laila terkejut ketika tangan seseorang mendarat dibahunya, matanya pun mengarah ke si pemilik empunya.
"Gue cariin lo ternyata disini, jahat banget sih.. tunangannya dijemur bukannya diantarin minum kek ini malah asik di kantin makan sama cowo lain." Rangga menekuk wajahnya dan meminum habis es jeruk Laila.
Laila memutar bola matanya.
"kebiasaan deh.. minum punya orang tanpa izin"
Rangga mendengar Laila mengomel hanya terkekeh dan mencubit pipinya gemas.
"Ekkhemm!!!...."
Laila dan Rangga menoleh ke arah Rissa,Rere dan Aldy kemudian tertawa.
"Emang ya! Kalau udah ketemu pujaan hati dunia serasa milik berdua yang lain mah pada numpang." celetuk Rissa melahap makanannya.
"Kenapa, lo iri? Makanya cari pacar dong! Biar nggak jones" sahut Rangga melempari Rissa dengan sedotan.
"Ihh... gue nggak jones ya! Gue punya pacar kok, cuma LDR-an sih." bela rissa tidak terima ucapan Rangga.
"Ya tetap aja lo ngenes liat orang pacaran." Rangga tidak mau kalah membuat Rissa naik pitam dan menjambak jambul Rangga yang kece badai mereka hanya dipisahkan oleh meja.
"Akkhhh.. lepasin!! Sakit kampret! Jambul gue TIDAKk!! AAKKHHH!!!" Teriakan Rangga membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Aldy yang sedari tadi memperhatikan tertawa ngakak karena aksi brutal Rissa.
"Nggakk!! Lo udah ngatain gue!!! biar lo tau rasaa!!" Rissa mempererat jambakannya.
"Dasar cewek BARBAR!!! Lepasin!! sakit tau kotoran onta."
"Apa lo bil--"
"UDAH JANGAN KAYA GEMBEL TERIAK-TERIAK!!! MINTA SEMBAKOK." Laila menggeplak tangan Rissa yang menjambak rambut Rangga.
Laila berdiri dari bangku pergi meninggalkan mereka dan disusul oleh Aldy.
"La, tunggu!!" Panggil Aldy meraih tangan Laila.
"Kenapa? " tanya Laila sambil memandang tangannya yang digenggam Aldy.
Aldy yang menyadari langsung melepas genggamannya.
"Yahh.. kok dilepas sih," seru Laila di benaknya.
"Eemmm... sorry" Aldy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nggak papa kok, santai aja." Laila tersenyum.
"Engg... gue mau tanya, lo serius tunangan sama Rangga?"
"Iya. Kenapa? Nih.. cincin nya" Laila memperlihatkan cicin berlian yang tersemat indah di jari manisnya.
"Nggak papa sih.. cum--"
"Laila!" Panggil Salsa menghampirinya memotong ucapan Aldy.
"Kenapa sih? Kok gue hari ini kalau lagi ngomong sama Laila ada aja yang motong.. tadi Rissa, sekarang Salsa.. ntar siapa lagi? Ngeselin banget sih!!" Seru Aldy dalam hati menatap malas ke arah Salsa.
"Kenapa?"
"Itu lo dicari Ucup, lo disuruh ke perpustakaan!"
"Ngapain gue disuruh kesana?"
"Nggak tau, udah ya bye! Gue mau ketemu ayang bebs dulu." Salsa mengendikkan bahu dan pergi meninggalkan mereka.
"Emm.. Dy, kalau gitu gue ke perpustakaan dulu ya.. bye!" Laila berlalu pergi menuju gedung ketiga.
"Bye.. " gumam Aldy menghela napasnya.
"Apa nggak ada kesempatan lagi buat gue Lai? Gue baru sadar selama ini lo selalu ada buat gue.. tapi, gue malah ngejauhin lo karena nggak mau Sindy tambah nggak suka sama lo. Tapi apa balasan Sindy ke gue? Dia malah manfaatin gue, gue nyensal selama ini selalu manyangkal perasaan gue ke elo.. tanpa gue sadari sosok yang mengisi relung hati gue itu lo, bukan Sindy. Rasa nyaman yang gue rasakan itu cuma ada disaat bersama lo, entah kenapa gue nggak rela ketika lo tunangan dengan Rangga." Aldy bergumam memandang punggung Laila yang menjauh.
Laila menyusuri lorong perpustakaan mencari keberadaan Ucup, nama aslinya Reza Fahlevi. Panggilan Ucup melekat pada dirinya karena sifatnya yang dingin tak tersentuh, garis wajah datar tanpa ekspresi dan penampilan yang sangat cupu membuat perempuan risih dengannya. Laila padahal merasa risih tapi dia tidak menampakkannya seperti teman-temannya, karena dia merasa kasihan melihat Ucup tidak ada yang mau berteman dengannya. Jarang sekali Ucup memanggilnya kecuali ada hal penting yang akan dikatakan.
"Kenapa manggil gue kesini?" Laila menarik kursi dan mendudukinya, butuh waktu 20 menit mencari keberadaannya di perpustakaan yang luas ini.
Ucup yang semula fokus dengan buku yang dibaca mendongakkan kepala, dan menutup bukunya.
"Gue mau ngomong sama lo?" Ucap Ucup menatap lurus mata Laila.
Laila cukup terkejut ketika Ucup menatapnya, perihalnya selama ini Ucup tidak pernah menatapnya jika sedang berbicara. Dan selalu tergagap jika berbicara, tapi hari ini Ucup terlihat berbeda dari biasanya. Walaupun pakaiannya masih cupu tapi gaya rambutnya berubah, biasanya memakai poni sekarang berjambul membuat ia terlihat ganteng bahkan lebih ganteng dari Aldy dan Rangga. Laila baru sadar bahwa Ucup menyembunyikan pesonanya dengan berpenampilan cupu sehingga tidak ada yang menyadari.
"Hello!!" Ucup melambaikan tangannya di depan wajah Laila.
Laila mengerjapkan matanya dan menutup mukanya dengan kedua tangannya. "Iih.. bodoh banget sih gue, pasti geer nih dia karena gue pandangin."
Laila tersentak ketika kedua tangannya yang digunakan untuk menutup wajahnya ditarik oleh ucup.
"Lo kenapa sih?" Ucup memandang heran Laila yang bertingkah aneh.
"Ng...nggak papa kok." Laila menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kok gue gagap sih.. astaga!! jatuh reputasi gue.
"Mau ngomong apa?" Laila membuka asal buku yang ada dihadapan untuk menyembunyikan kegugupannya. "Astaga, kenapa sama jantung gue??? Kenapa juga dia mandangin gue dari tadi? Emang nggak ada objek yang menarik apa?".
"Mau nggak jadi teman gue?" Tanya Ucup mengulurkan tangannya.
"Eh.. kan kita emang udah teman, cup" seru Laila bingung menyambut uluran tangan Ucup.
"Ya, maksud gue.. teman dekat, La."
"Emm.. boleh."
"Oke makasih, lo sibuk nggak malam ini? Mau nonton? Kebetulan ada film yang baru tayang di bioskop." Ajak ucup memandang Laila yang sedang bermain dengan handphone.
"Aa.. gimana ya???" Laila meremas roknya karena dia sangat tidak tertarik dengan ajakan Ucup. Tapi, dia bingung harus ngomong apa?.
Tiba-tiba muncul ide dikepalanya cara dia menolak ajakan ucup.
"Gue tanya Rangga dulu, kalau dia ngizinin nanti gue WA lo."
"Rangga tunangan gue,cup. Jadi gue harus izin dulu sama dia."
"Bukannya lo sama dia cuma pura-pura, hanya untuk buat Aldy cemburu agar dia peka sama perasaan lo. Dan Rangga agar dia nggak dikejar-kejar sama Sindy dan Disa." Ucap Ucup menyandarkan punggungnya dikursi dan melipat kedua tangannya memandang Laila tajam.
Laila membulatkan matanya terkejut, "indah" satu kata yang cocok dia katakan ketika melihat sepasang mata abu-abu terang dibalik bulu mata panjang dan lentik, tengah menatapnya .
"Jangan ngomong sembarangan!!" Ucap Laila mendelikkan matanya.
Ucup tersenyum tipis bahkan hampir tidak terlihat. Dia mengeluarkan handphonenya dari saku celananya.
"Dengarkan baik-baik!" Ucup menyodorkan handphonenya ke Laila.
" gue tau kenapa lo tiba-tiba jadi baik ama gue, pasti ada maunya"
"Hehehe.. Kalau iya kenapa? Gue mau ngajak lo kerjasama aja"
"Dalam hal apa?"
" pura-pura jadi pacar gue"
"WHAT'S!! Lo gila? Ogah!!"
"Lo tenang aja, lo nggak rugi pura-pura jadi pacar gue, lo dapat untung. "
"Apa untungnya?"
" gue bakal terhindar dari sindy dan Disa, dan lo bisa membuat Aldi cemburu karena udah sia-siain lo"
Laila terkejut mendengar percakapannya dengan Rangga 5 bulan yang lalu direkam Ucup.
"Lo dapat dari mana rekaman ini?" Tanya Laila menyelidik.
"Kalian berdua terlalu serius ngerencanakan ini sehingga tidak sadar dengan keadaan sekitar, gue saat itu ada di Caffe itu. Tepat dibelakang kursi kalian." Jelas Ucup.
"Lo ngikutin kita??!!" Laila menggebrak meja, untung saja perpustakaan lagi sepi. Jika saja banyak orang yang sedang membaca mungkin dia sudah dikeluarkan dari perpustakaan, karena membuat keributan dan mendapatkan sanksi.
"Untuk apa? gue ngikutin kalian kurang kerjaan banget!!"
"Teruss kenapa lo ada disana?" Tanya Laila.
"Kebetulan aja gue disana." Jawab Ucup santai.
Laila berdiri dari kursi berjalan mendekati Ucup yang berada diseberang meja. "Please.. jangan lo kasih tahu siapa-siapa!!"
"Gue nggak akan sebarkan rekaman ini, asal lo mau berangkat sekolah bareng sama gue!"
Laila mengangkat sebelah alisnya, rupanya Ucup sekarang mencoba PDKT sama dia, sudah berani terang-terangan nggak kaya kucing malu-malu tapi mau.
"Cari kesempatan dalam kesempitan, lo" Laila tersenyum sinis.
"Kalau iya, kenapa? Kalau lo nggak mau juga nggak papa sih.. tinggal gue kasih sama Sindy rekaman ini. Selesai!!" Sahut Ucup enteng.
"Oke gue berangkat bareng sama lo, tapi jangan sebarkan rekaman itu!!"
Laila menyetujui asal jangan disebarkan, jika ketahuan bisa malu setengah mati dia apalagi sama Disa dan Sindy. Lagi pula ia cukup penasaran dengan kepribadian Ucup yang tertutup.
"Oke!! Malam ini bisa nonton sama gue?" Tanya Ucup sekali lagi.
"Hehe.. nggak deh, gue lagi boring.. lain kali aja." Jawab Laila cengengesan.
Ucup menganggukkan kepalanya dan berdiri dari kursinya sontak laila menjauh darinya. Dia menghampiri Laila.
"Nama gue REZA FAHLEVI bukan Ucup. Jadi jangan panggil gue dengan sebutan sampah!! Gue punya nama R-E-Z-A F-A-H-L-E-V-I" Ucapnya meraih bahu Laila dan menyebutkan kata Reza Fahlevi perhuruf, menegaskan bahwa dia tidak suka dipanggil ucup.
"Ii.. iya, cup eh reza" Laila tergagap karena Syok dengan reaksi Reza yang menatapnya tajam dan dingin, selama ini Reza tidak pernah protes dengan nama itu tapi, ini pertama kali dia protes.
Reza keluar meninggalkan Laila yang sibuk mengatur napas yang dia tahan ketika berdekatan dengan Reza dan menetralkan jantungnya yang berdetak tidak teratur.
*****
Laila berjalan masuk kedalam kelas ia melihat Reza yang duduk dibelakang bangkunya, penampilannya kembali Rambutnya berponi tidak berjambul lagi. Padahal seandainya dia merubah penampilannya mungkin dia akan menggeser posisi Rangga yang sekarang menjadi Most Wanted.
"Darimana lo?" Tanya Salsa ketika Laila menduduki kursinya.
"Dari perpustakaan." Laila membuka tasnya dan mengambil buku dan pulpen.
"Habis mojok sama Ucup ya.." Salsa meledek Laila, karena Laila dan Ucup hampir berbarengan masuk ke dalam kelas.
"Bukan urusan lo!! Abu catat apa sih dipapan tulis?"
"Ciee.. betul dong! Lo mojok sama ucup hahaha.. Jadwal UKK itu."
"Oh.." Laila ber-oh ria dan mulai mencatat.
"Cie.. cie hahaha cie.. lagi pdkt" Salsa menyenggol lengan Laila.
"Nah kecoret, ih.. salsa. Usil banget sih!! Minta Tip X!!"Laila memanyunkan bibir dan menadahkan tangannya.
"Ettdaah... lo itu cewek atau cowok sih, sekolah kok bawa pulpen cuma dua. Tip X nggak punya, minta terus.. sekolah kok nggak modal. Padahal punya uang banyak daripada gue."Salsa mengomel dan menyerahkan tip x-nya.
"Bodo," sahut Laila ditelinga Salsa.
"Gue aduin, lo sama Rangga!" Ancam Salsa kesal dengan Laila.
"Aduin sana!! Gue nggak perduli." Laila mendorong bahu Salsa, membuat Salsa hampir terjatuh dari bangkunya.
"Rangga!!! Tunangan lo nih, jahat sama gue." Salsa berbalik kebelakang menghadap Rangga.
"Sayang!! Dorong lembih kencang, biar Salsa jatuh sampai cium lantai.. hahahaha" seru Rangga tertawa.
"Iih.. kalian berdua sama aja, jahat!. Gue aduin sama pacar gue. "Ucap Salsa berjalan keluar kelas sambil menghentak-hentakkan kaki.
"Dasar tukang adu." Teriak Fikri di luar kelas. Tapi, tidak di dengar Salsa.
Laila yang sedang sibuk menulis jadwal hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. "Kekanak-kanakkan" serunya dalam hati.
'Brakk..'
Laila terkejut begitu juga dengan yang lain. Ketika mendengar suara yang memekakkan telinga berasal dari pintu kelas.
Sindy menghampiri Laila dan mencengkram dagunya, sehingga membuat Laila meringis kesakitan.
"Ternyata lo selama ini memang pantes disebut BICTH!!" Ucap Sindy di depan wajah Laila.
"Mulut lo itu di jaga!! Seharusnya sebelum lo ngatain dia bicth, lebih baik lo ngaca!! Siapa yang ***** disini." Kata Rangga menarik tangan Sindy yang mencengkram dagu Laila dan terlepas.
"Kenapa?? Memang benar kan, dia *****.. ngaku-ngaku pacaran sama lo biar Aldy cemburu. Tinggi banget tingkat kepedean dia.. sudah jelas Aldy cintanya sama gue." Ucap Sindy menunjuk Laila tepat di depan wajahnya.
"Dapat sumber darimana, lo??." Rangga terkejut dengan ucapan Sindy, langsung dia menormalnya wajahnya.
"Ada seseorang yang ngirim rekaman ini ke WA gue,, gue sangat berterima kasih banget sama dia.. walaupun tidak ada nama yang tertera di sana. Nanti bakal gue cari tahu siapa yang ngirim rekaman ini." Sindy menyerahkan handphone-nya ke Rangga.
" lo kenapa sih.. bawa gue ke sini?" Tanya rangga.
"Harusnya gue yang tanya sama lo, kenapa lo bilang kita tunangan hah???" Sahut laila gusar.
"Emangnya kenapa? Lo masih ngarepin Aldy, lo nggak sadar apa, dia biasa - biasa aja pas tau kalau kita pacaran.. itu bukti bahwa dia nggak ada rasa sama lo!!" Ucap Rangga dingin.
"Gimana apa nggak cukup itu sebagai buktinya.. heh." Sindy menarik handphone-nya .
"Dasar *****!!" Sindy memandang sinis Laila kemudian pergi meninggalkan kelas.
Suasana hening tidak ada yang berani berbicara, seakan-akan jika ada yang berbicara sepatah kata, akan menyebabkan ledakan yang sangat hebat.
Setelah kepergian Sindy, Laila hanya tertunduk diam. Rangga mengepalkan tangan berusaha menahan emosi yang kapan saja akan meledak jika ada yang menyulut emosinya.
"Gue bakal cari tahu siapa yang berani ngirim rekaman itu.. kalau sampai gue ketemu orangnya, gue bakal habisin orang itu di tangan gue." Seru Rangga dalam hati.