As Sweet An Ice Cream

As Sweet An Ice Cream
Takuttt!!



"Huh... ngeselin banget sih, tu anak, minta ditabok kali ya. " omel laila meletakkan tasnya di meja belajar.


Laila melepas pakaiannya kemudian meletakkan ke keranjang khusus, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah itu ia turun menuju meja makan, ia membuka kulkas mengambil botol air dingin dan menuangkannya ke gelas, kemudian meneguknya hingga tandas tak bersisa.


Drrtt... Drrt...


Laila meraih iphone yang bergetar disaku celananya, tertera disana sms dari mamanya tercinta.


Sayang.. Mama, Ayah, dan Rasyid  berangkat ke kalimantan selatan. Nenek lagi sakit.. kami disini nggak lama kok, sekitar 1 mingguan lah. Kamu baik-baik disana, jangan nakal sama kakakmu,ya.


"Ckk.. Mama sama Ayah ihh, kok tega sih ninggalin anaknya yang cantik ini, nggak lama apaan.. 1 minggu itu mah lama banget, Aahh.. Aku juga kangen sama nenek" laila menghentakkan kakinya kesal, karena ditinggal orang tua dan adiknya ke kalimantan.


Juhana ia berasal dari kalimantan selatan yang berada di kota Amuntai, yang bersuku dayak-banjar. Sedangkan syarief blasteran jerman-indonesia. Ia menikah dengan juhana karena perjodohan. Walaupun mereka di jodohkan, tapi mereka saling mencintai.


Drrtt.. Drt...


Aku mah apa atuh.. Cuma selingkuhan kamu..


Laila mengambil iphone yang berbunyi, dengan ringtone yang dapat diketahuinya bahwa itu telpon dari ashraf, karena dia sengaja mengatur ringtone itu khusus untuk kakaknya tersayang.


"Kak ashraf nelpon gue??." seru laila dalam hati.


"Hmm.. Kenapa?" sahut laila malas, lantaran masih kesal ditinggal pergi kedua orang tuanya.


" kamu dimana, sayang? Kok ngangkat telpon kakak kaya gitu sih" ujar ashraf diseberang sana.


"Aku di rumah, kenapa?" cetus laila.


"Kakak malam ini nggak pulang ke rumah ya,de. Kakak nginep di rumah temen, soalnya ada tugas. Kalau kamu takut sendirian, kamu ajak aja rissa sama rere nginap, sudah dulu ya sayang.. Bye." tutur ashraf dan menutup telepon sepihak.


Laila mengusap wajahnya gusar, sekarang fix dia cuma tinggal sendirian di rumah. Harapannya kali ini hanya rere dan rissa.


Laila membuka grup line dan menchat mereka.


**Laila: kalian sibuk, nggak??🙏.


Rere: nggak,kenapa?.


Rissa: gue sibuk dikit.. Kenapa?😄


Laila: gue sendirian di rumah😟


Kalian bisa nginep nggak?


gue takut😨.


Rissa: kok bisa sendiri sih? orang


tua lo, adik lo, kakak lo.


Pada kemana?.


Rere: iya pada kemana,la?.


Laila: bonyok gue dan adik gue


Ke kalimantan, nggak


ngajak gue,😭. Kakak gue


Nginap di rumah temennya.


Kalian bisa nggak??


Rissa: bukannya gue nggak mau


nemenin lo ya,la. Tapi gue


lagi sibuk nih.. Kakak gue


baru datang dari Amrik,


dia baru pulang setelah 3


tahun nggak pulang. Gue


Lagi dinner diluar sama


bonyok dan kakak gue.


So, I'm sorry😣.


Laila: it's ok. Nggak papa kok.


Rere: yah la, gue nggak bisa juga


nih. Emak gue lagi sakit,


nggak papa kan?


Laila: ya udah deh.. nggak papa.


Gws buat emak lo ya😌.


Rere: so pasti👍. Kenapa nggak


rangga aja.


Laila:ihh.. Ogah 😑mending gue


sendiri. Dah ya bye**..


Laila meletakkan iphonenya di meja pantry, ia mengacak-acak rambutnya kesal.


"Masa iya, gue minta temenin sama rangga. Iih.. Jangan!! entar jatoh harga diri gue, di depan dia" gumam laila sambil berjalan bolak-balik kayak setrikaan.


" uh.. Nggak usah, gue harus bisa lawan rasa takut gue. Oh, ayolah disini nggak ada hantu" laila berjalan ke kamarnya setelah memastikan semua pintu terkunci.


Ia menaiki ranjang queen size dan merebahkan dirinya untuk memejamkan matanya, sudah 2 jam mencoba untuk memejamkan matanya, tapi ia belum juga bisa tidur. Laila melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11:58 hampir jam 12, ia bergerak gelisah di ranjangnya ketika mendengar suara aneh di lantai dasar.


Ini yang paling Laila tidak sukai, jika ia sendiri di rumah pasti selalu mendengar suara-suara aneh, entah itu orang tertawa, menangis, dan bernyanyi. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut sampai dagu, dan menutupi wajahnya dengan bantal, kebiasaannya yang selalu ia lakukan ia sedang takut.


Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, sekuat tenaga ia menetralkan detak jantung nya.


Brakk...


Suara benda terjatuh yang terdengar jelas di telinganya, membuat laila mencengkram erat selimut sehingga buku jarinya memutih. Bibirnya pucat pasi ketika mendengar suara langkah seseorang yang menaiki tangga menuju lantai 2.


"Ya allah.. Lindungi lah aku. Jauhkanlah aku dari setan yang terkutuk."Laila berdoa dalam hati.


Clek!


Terdengar suara pintu kamar ashraf terbuka, dan tertutup kembali.


"Siapa yang masuk ke kamar ashraf? Nggak mungkin ashraf pulang dia kan tadi nelpon gue, nginep di rumah temenya. Lalu siapa dong yang masuk??" gumam laila gelisah.


" apa jangan-jangan perampok, Whahaha.. Mama, papa, ka ashraf tolong aku." laila menangis di balik selimut.


" oh iya telpon ashraf.. Iya ashraf" laila keluar dari selimut mencari handphone nya.


"Mana ya.. Kok nggak ada sih." laila mencari handphone nya.


Dia mencari ke seluruh penjuru kamar, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan handphonenya.


"Shit! Handpone gue di bawah. Yah gimana dong, nggak mungkin gue turun ke bawah. Bunuh diri itu namanya, aahh.. Mama, Ayah, ka ashraf tolong!!" laila menangis dipojok kamar.


Tidak ada yang dapat ia lakukan, ia hanya bisa pasrah jika perampok itu masuk ke kamarnya.


Laila menutup mulutnya, agar suara tangisnya tidak terdengar. Ketika melihat gagang pintunya bergerak, tapi tidak bisa terbuka karena terkunci.


Orang dibalik pintu berusaha untuk membukanya tapi tidak berhasil, setelah beberapa detik berhenti bergerak, laila dibuat terkejut dengan benturan keras dibalik pintunya. Dapat disimpulkan bahwa orang tersebut berusaha membukanya, dengan mendobrak pintu jati yang kokoh itu.


Tubuh laila semakin bergetar, dan peluh dingin mengalir deras dipelipisnya. Ketika mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka dengan kunci, ia bingung dari mana perampok dapat kunci cadangan kamarnya.


Clek!


Pintu terbuka, laila menutup matanya pasrah dengan apa yang terjadi.


Terdengar langkah seseorang mendekatinya dan berhenti di depannya.


Detak jantungnya berdetak kencang, ketika merasakan tangan seseorang mendarat di pundaknya.


"Heii.. Kamu kenapa sayang?"


Tettot...


"Ini kaya suara kakak gue." Seru laila dalam hati.


Laila mendongakkan kepalanya menghadap seseorang yang berada di hadapannya.


Dan benar.. Seseorang yang berada di hadapannya adalah kakaknya ashraf.


Laila langsung menghambur ke pelukan ashraf, ia menangis sejadi-jadinya. Ashraf mengusap punggung adiknya, ia awalnya memang ingin menginap di rumah Andre, tapi setelah rere dan rissa menelponnya, bahwa tidak bisa menginap di rumahnya untuk menemani adiknya. Membuat ashraf membatalkan niatnya untuk menginap,ia menyelesaikan tugas dengan cepat dan bergegas pulang ke rumah.


"Udah jangan nangis.. Kakak ada di sini" ashraf menenangkan adiknya yang menangis di pelukannya.


" gue takut.. Gue kira lo perampok" ucap laila disela isak tangisnya.


"Maaf deh.. Kakak telpon kamu minta bukain pintu, tapi kamu nggak angkat telpon kakak. Jadi kakak dobrak deh pintunya. " tutur ashraf membelai lembut rambut gadis yang dia sayangi.


"Handphone aku ketinggalan di bawah kak, aku takut banget" laila menyelusupkan kepalanya ke leher ashraf.


" udah nggak papa kok. Kamu aman sama kakak sayang, yuk tidur besok kamu sekolah kan" ashraf melepaskan pelukan laila dan menghapus air matanya.


Ashraf membaringkan laila di ranjang queen size dan menyelimuti sampai dagu. Laila menarik lengan ashraf, ketika kakaknya itu akan pergi meninggalkannya.


" jangan tinggalin gue kak.. Kakak tidur sini aja" pinta laila.


"Ok.." ashraf menaiki ranjang queen size dan berbaring di samping laila.


"Good night, kak" ucap laila memeluk ashraf.


"Good night, baby." sahut ashraf mengecup puncak kepala adiknya.


"Gue sayang banget sama lo, tapi rasa sayang gue melebihi kasih sayang antara kakak dan adik. Gue nggak tau kapan rasa ini mulai tumbuh, yang nyata gue nggak bisa jauh-jauh dari lo. Gue cuma bisa mendam rasa ini, gue sadar kita nggak bakal bisa bersatu, karena kenyataan yang membuat gue sakit hati, kalau kita saudara kandung. Maafin gue.. Gue cinta lo." Seru ashraf dalam hati kecilnya memandang wajah adiknya yang tertidur nyenyak di pelukannya.


Entah dorongan dari mana ashraf menghapus jarak antar mereka, hembusan nafas laila yang teratur dapat ia rasakan. Ashraf mengecup bibir ranum adiknya 'manis' itu yang dia rasakan.


"Astaga.. Gue khilaf maafin gue" seru ashraf mengecup puncak kepala adiknya. Ia pun memejamkan matanya dan terbang ke alam mimpi.