As Sweet An Ice Cream

As Sweet An Ice Cream
perasaan apa ini???



Laila menaiki anak tangga menuju lantai 2 tempat kelasnya berada, pikirannya sedang kalut karena berbagai masalah melandanya saat ini, yang membuat Laila ingin memukulkan kepalanya ke dinding.


"Weesss... itu muka atau baju yang nggak di setrika sih, kumal amat neng.." seru Rangga di ambang pintu.


Laila menghiraukan Rangga berlalu menuju bangkunya, membuat Rangga bertanya - tanya ada apa dengan Laila ?.


"Kenapa dia? " tanya Abu kepada Rangga.


"Nggak tau, PMS kali.." jawab Rangga mengendikkan bahunya.


"Lo kan tunangannya, masa gak tau sih... lo tunangannya atau bukan sih???" Ucap Erwin menghampiri Rangga dan Abu.


"Diam!!! Tu mulut jangan kaya cabe bisa??? " seru Rangga berlalu meninggalkan mereka menuju bangku laila.


Rangga menghampiri laila yang sedang membaca novel, Salsa menyadari kehadiran Rangga langsung menyenggol Laila dengan sikutnya.


"Iisssstt... apa sih, sal? Gue lagi nggak mood nih jadi jangan ganggu gue!!" Ucap laila tanpa mengalihkan pandangan dari novel yang dia baca.


Salsa tidak menyerah, ia terus menggangunya membuat Laila jengah dan menutup paksa novelnya dan melemparnya ke meja. Sehingga menimbulkan suara berdebam, seluruh mata menuju kepadanya karena terkejut dengan kelakuannya.


"Kenapa sih sal?? Kan sudah gue bilang jangan ganggu gue!!! " ucap Laila memejamkan matanya berusaha mengontrol emosinya.


"Itu... gu..gue cuma mau bilang disamping lo ada Rangga, gue nggak bermaksud ganggu lo.. sumpah" sahut Salsa terbata-bata dengan suara bergetar, karena baru kali ini Laila marah ketika diganggu olehnya.


"Kenapa???" Tanya Laila menolehkan kepalanya, padahal dia menyadari keberadaan Rangga hanya saja malas menyapanya. Laila benar tidak mood hari ini.


Bukannya menjawab Rangga malah menarik Laila keluar kelas, semua yang berada di kelas hanya melihat bingung.


"Oke.. teman-teman biarkan saja, mungkin mereka butuh tempat untuk menyelesaikan masalah yang tengah melanda rumah tangga mereka."seru Abu berdiri di depan papan tulis.


"Semoga saja pak bos dan bu bos kita tidak berantem lagi, amin.." ucap akbar. Dan di aminkan oleh yang lain.


Rangga mengejar Laila yang mendahuluinya berjalan ke taman di belakang perpustakaan, tempat yang cocok untuk seseorang yang ingin menenangkan pikiran. Karena tempatnya sunyi jauh dari keramaian dan tersembunyi.


"Laila tunggu!!! Hah.. huh..hah.." panggil Rangga dengan napas terengah-engah.


"Iisss... lo ngapain sih?? Jangan ngikutin gue bisa nggak!!" Ucap laila mengepalkan tangannya, ia ingin sendiri tapi Rangga malah mengikutinya. Membuatnya ingin memakan Rangga hidup-hidup.


"Lo kenapa sih, lai??? Kalau ada masalah itu cerita jangan dipendam, nggak baik tau!" Kata Rangga menghampiri Laila dan mengiringnya duduk ke bangku taman yang berada di bawah pohon besar yang rindang.


Laila hanya diam tanpa berniat mendengarkan perkataan Rangga, ia hanya diam sambil mengayunkan kakinya. 15 menit mereka tidak saling bicara membuat Rangga gemas dengan Laila dan memutar badannya menghadap Laila.


"Cerita sama gue! Lo ada masalah apa?? Gue temen lo, setidaknya lo nggak nanggung masalah ini sendiri, La" seru Rangga memajukan badannya, membuat Laila memundurkan badan ke belakang.


"Jangan dekat-dekat taik!!" Ucap Laila mendorong Rangga hingga terjatuh dari bangku taman.


"Aduh!!! Pantat gue.. bisa tepos ini." Seru Rangga meringis dan mengusap-usap pantatnya.


"Biarkan saja!! I DON'T CARE." Bisik Laila dengan menekankan kata' i don't care', dan melangkah meninggalkan Rangga.


"Lo mau kemana??" Tanya Rangga meraih tangan Laila.


"Lepasin!!! Ini bukan urusan lo.. jangan ikut campur!!" Kata Laila berusaha melepas cekalan Rangga, seluruh tenaga ia keluarkan untuk berusaha lolos. Membuat Rangga mempererat cekalannya dan membawa Laila kepelukannya.


"Lepasin gue!!! Hiks... hikss" seru Laila pelan karena tenaganya sudah habis. Runtuh sudah benteng pertahanannya untuk tidak menangis dihadapan orang lain selain keluarganya,Rangga membuatnya teringat dengan kakaknya yang selalu memaksanya untuk mencurahkan isi hatinya jika ia sedang ada masalah.


Rangga mengusap pungung Laila berusaha menenangkan. Membiarkan Laila mengeluarkan semuanya lewat air mata dan ia rela menjadi sandaran jika Laila membutuhkannya, ia tidak tahu kapan perasaan ini datang? Rangga tidak dapat mendiskripsikan perasaan apa yang dia rasakan. Rasa peduli sebagai teman atau lebih ia tidak tahu, hanya saja dia tidak ingin melihat Laila murung. Setelah merasa mulai bisa mengontrol dirinya Laila melepaskan pelukannya dan duduk di bangku taman sambil memijit pangkal hidungnya.


"kakak gue pergi ke New York kemaren.. setelah dia nyatain perasannya ke gue." Ucap Laila mulai bercerita.


Rangga menolehkan kepalanya dia tidak mengira bahwa Laila akan bersedia menceritakan masalahnya dengannya, karena dia tau dari Rere bahwa Laila sangat tertutup dengan masalahnya dia tidak akan menceritakan dengan siapa pun kecuali dengan anggota keluarganya.


"Maksudnya nyatain perasaannya ke elo??" Tanya Rangga bingung.


" dia sayang sama gue, gue juga sayang sama dia.. tapi, kakak gue sayang sama gue lebih dari saudara kandung. Dia marah besar ketika mendengar gue pacaran sama lo, dia nyuruh gue mutusin lo. Terus semua yang dia katakan didengar sama nyokap kalau Ashraf cinta sama gue, nyokap marah dia ngadu sama bokap terus bokap langsung nyuruh kakak gue pergi ke New York nggak tau sampai kapan." Jawab Laila menjelaskan sesekali ia mengusap air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.


Rangga membulatkan matanya terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan Laila, perihalnya Ashraf sangat pintar menyembunyikan perasaannya sehingga tidak ada yang menyadari.


"Gue ngerasa bersalah sama kakak gue,Rangga.. gue udah nyakitin perasaannya. Hiks.. gara-gara gue kakak gue diusir bokap." kata Laila menangis dan dibawa Rangga kepelukkannya.


"Ssstt... lo nggak harus merasa bersalah, karena ini bukan salah lo jadi,berhenti menyalahkan diri sendiri." Sahut Rangga sambil mengusap air mata Laila dengan kedua ibu jarinya.


"Tapikan gu--''


"Ssttt... bokap lo nggak ngusir kakak lo, dia hanya memberi hukuman kepada kakak lo atas apa yang dia perbuat." Ucap Rangga memotong perkataan Laila.


Laila hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, membuat Rangga gemas dan mencubit pipinya.


"Iih.. Sakit Rangga!!" Kata Laila mengaduh kesakitan.


"Biarin jadi kita impaskan.." seru Rangga mengedipkan sebelah matanya.


" jadi, lo tadi balas dendam.. huh dasar kamprettt!!!." Ucap Laila memukul punggung Rangga dan meninggalkannya sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Rangga melihat kelakuan Laila hanya tertawa dan berjalan menyusulnya.


Laila menghentikan langkahnya ketika tiba di depan kelas karena di dalam sana terdapat guru yang sedang mengajar.


"Permisi bu, boleh saya masuk?" Ucap laila mengetuk pintu dan meminta izin.


"Boleh, tapi kamu datang darimana?"


"Woyy!!! Lo kenapa ninggalin gue, nenek.."Seru Rangga diambang pintu. "Eeh... hehehe, maaf ibu saya tadi nggak lihat kalau ada ibu."lanjut Rangga cengengesan.


"Darimana kamu? Kenapa baru masuk padahal sudah hampir 20 menit ibu masuk kelas ini." Kata ibu Elma.


"Saya tadi dari wc bu, habis nabung... tabungan dirumah saya penuh bu, jadi saya nyetor aja disekolah soalnya saya nggak tahan lagi bu.. rasanya perut saya mau meledak." Kata Rangga mencari alasan.


Yang disambut gelak tawa seisi kelas karena mendengar alasan Rangga yang tidak masuk akal.


"Alasan saja kamu... sekarang kamu berjemur dibawah tiang bendera sampai pelajaran ibu selesai!!!"


"Loh tapi bu say--"


"tidak usah banyak alasan.. atau kamu mau ibu jemur sampai bel pulang sekolah??" Ancam Ibu Elma memotong ucapan Rangga.


"Jangan bu... " ucap Rangga memohon.


"Ya sudah cepat sana keluar!!!"


"Iya bu.." sahut Rangga berjalan menuju lapangan bendera.


"Oke buka halaman 56, kerjakan soal nomor 1 sampai 10 kalau ada yang tidak dimengerti tanyakan sama ibu! Ibu keluar dulu mau rapat, kalian jangan ribut!! ." Ucap bu Elma keluar kelas.


"Iya bu.." jawab mereka serentak.


Semua murid tampak sedang sibuk mengerjakan soal. ada yang berkelompok mendiskusikan jawaban dan ada juga yang mengerjakan sendiri. Beginilah suasana kelas XI IPA1 jika diberi tugas atau pekerjaan rumah mereka mengerjakan dengan gotong royong saling membantu, tapi jika sedang ulangan mereka sportif tidak ada istilah teman yang ada hanyalah lawan yang sama - sama berjuang meraih nilai tertinggi.


"Lai, lo ngerti nggak nomor 5 kita semua nggak ngerti nih.. ini harus diapakan?" Tanya Salsa menghampiri Laila yang sudah selesai mengerjakan.


"ini lo cari dulu nilai X, kalau sudah dapat baru lo masukkin ke rumusnya." Ucap Laila menjelaskan.


"Oh gitu, kalau nomor 6 ini gimana??"


" yang ini gampang.. putar balik aja rumusnya kaya gini." Kata Laila menuliskan caranya.


"Terima Kasih!!"


"Sama-sama, kalau gitu gue ke kantin duluan ya." sahut Laila berdiri dari tempat duduknya.


"Nih.. kumpulin buku gue" seru Laila meletakkan buku di atas meja Abu.


"Siap bu bos.."


Laila menumpukan kedua tangannya di pembatas pagar, di lantai 2 ia berdiri dapat melihat jelas Rangga yang berdiri di tengah dengan posisi hormat kepada bendera merah putih.


"Ke kantin yuk, La." Ajak Rere menghampiri.


"Yuk!!"


Mereka berjalan di koridor sekolah sesekali tertawa dengan lelucon yang diberikan Rissa. Langkah mereka terhenti karena Sindy dan antek-antek manghadang mereka.


"Ngapain lo? Misi!!! gue dan teman-teman gue mau LEWAT." kata Rere ingin menerobos dihalangi anak buah Sindy yang laila tidak tahu namanya.


"hei.. BICHT!! Lo dasar cewek MURAHAN!!" Ucap Sindy menunjuk tepat didepan wajah Laila.


"Jaga omongan lo!! Atas dasar apa lo ngatain gue seperti itu?." Laila melipat kedua tangannya didada dan menatap sindy tajam.


"nggak usah pura-pura nggak tau deh, lo itu sudah rebut Rangga dari gue sekarang Aldy juga mau lo rebut.. pake pelet apa lo??" Seru Sindy mendorong bahu Laila ke belakang.


Mereka yang berada dikoridor sontak menjadi perhatian seluruh murid, tapi diantara mereka tidak ada yang menghiraukan.


"Mulut lo itu minta di kasih sambel? Biar jontor biar nggak bisa lagi ngata-ngatain orang sembarangan HAH.." ucap Rissa ingin memjambak rambut Sindy tapi keburu dicegah oleh Laila.


Laila menatap tajam Sindy dan berjalan mendekatinya sehingga ujung sepatu mereka bertemu.


"lo jangan macam-macam sama gue!! Kalau mau ngomong itu pikir dulu pake otak lo baru ngomong, gue bisa saja membalas perbuatan lo.. lo bisa bayangkan saja apa yang gue lakuin kalau lo masih mau cari masalah sama gue!!" Bisik Laila dan berlalu meninggalkan mereka.


Sindy mengepalkan kedua tangannya dan berbalik meneriaki Laila." GUE NGGAK TAKUT SAMA LO BICHT!!!"


Laila mendengar teriakan Sindy hanya tersenyum miring melangkahkan kakinya memasuki kantin.


"Lo ngomong apa tadi? Sampai bikin Sindy murka, mukanya merah tangannya mengepal kaya orang lagi ngejan ***.. hahaha" tanya Rere sambil tertawa ketika mereka duduk di bangku kantin.


"Nggak ngomong apa-apa? Cuman bilang jangan ngatain orang sembarangan." Jawab Laila.


"Mau pesan apa? Biar gue pesankan." Tawar Rissa.


"Gue nasi goreng minumnya jus jeruk." Ucap Rere.


"Samain aja." Sahut Laila.


"Oke."


Laila terkejut ketika bangku disebelahnya baru saja diisi oleh cowok yang tersenyum manis kepadanya, membuat siapa pun pasti akan terpesona.


"Gue boleh gabung disini kan?" tanyanya kepada Laila.


Laila yang syok buru-buru menetralkan wajah."boleh kok nggak ada yang larang."