
"Lo nggak usah nangis!!. maafin gue, gue nggak bermaksud buat nyakitin lo." Ucap rangga menghapus air mata laila.
"Apa yang lo bilang itu benar, gue yang bodoh.. gu--"
"Sstt... lo nggak bodoh, hati tidak bisa memilih, kita boleh cinta sama siapa pun. Jadi lo jangan salahkan diri lo sendiri, lo cukup harus move on dari Aldy. Oke" seru Rangga ke Laila.
Laila mengangguk dan memeluk Rangga." Thanks ya"
"Ya. kita teman, jadi harus saling membantu" jawab rangga.
Laila melepaskan pelukannya dan berbalik pergi meninggalkan Rangga.
Huh.. jangan sampai dia tau kalau gue deg-degan, mau ditaruh dimana muka gue. Seru laila dalam hati.
"Eeh.. kok gue ditinggal sih? Huh hah huh" ucap Rangga menghampiri Laila sambil menormalkan napasnya.
"Loh, emangnya kenapa kalau gue tinggal?"tanya laila.
"Gue takut elah.. sendiri di perpus, horor" sahut Rangga sambil bergidik.
"Alah.. dasar penakut lo." Ucap laila masuk ke dalam kelas.
"Eehmm... uuhhuukkk... eeheemmm... uuhhhuukk.. UUHHHUUKKK"
"sejak kapan kalian kena batuk masal kaya gini?" Tanya laila kepada teman-teman di kelasnya.
"Sejak hari ini,jam ini,menit ini,detik ini."sahut erwin.
"Penyebabnya?" Tanya Rangga sambil berdiri di depan pintu kelas.
"Penyebabnya, ketika 2 orang manusia yang berdiri di depan kelas.. Nggak ngomong kalau mereka sudah tunangan."sahut salsa.
Rangga dan Laila saling pandang, seakan-akan lewat pandangan mata,mereka bisa bertukar pendapat untuk membuat alasan di hadapan teman-temannya.
"Sorry, kita nggak bermaksud untuk tidak memberi tahu kalian, cuman belum ada moment yang tepat."ucap rangga menjelaskan.
"Jadi benar lo tunangan sama Laila? Oh.. sakit hati hayati bang, kalau begitu bunuh saja hayati bang.. Hayati nggak kuat!!" ucap salsa melankolis.
"Alah.. Sok melankolis lo, jijik gue liatnya." seru erwin melempari salsa dengan penghapus.
Salsa memajukan bibirnya mendengar seruan erwin, dan melempar kembali penghapus yang erwin lemparkan.
"Eeeh.. Astaga!! Itu penghapus gue yang kalian lempar!!" teriak Azizah ketika sadar bahwa milik nya menjadi bahan peperangan antara salsa dan erwin.
"Aaa... Lari!!!"teriak erwin dan salsa ketika Azizah mengejar mereka.
"Awas!! Lo sini, jangan lari!!" seru Azizah mengejar salsa dan erwin. Membuat murid-murid tertawa menyaksikan mereka bertiga.
Rangga melihat ibu lita di ujung koridor berjalan menuju kelas XI IPA 1, langsung mengambil posisi agar tidak ikut kena omel.
"Duduk yuk, ibu lita bentar lagi mau masuk." ujar Rangga kepada Laila.
Laila menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju bangku yang ia tempati, rangga pun melakukan hal yang sama.
"Astagfirullah... Kalian sudah kelas 2 SMA masih main kejar-kejaran di kelas. Salsa, erwin, dan Azizah kalian berdiri di tengah lapangan sambil hormat menghadap tiang bendera, sampai bel pulang berbunyi." ucap ibu lita.
"Tapi, saya kan cu--"
"Tidak ada tapi-tapian, sekarang juga kalian keluar dari kelas!!!" sahut ibu kita memotong ucapan Azizah.
"Iya bu." seru mereka bersamaan dan berjalan ke luar kelas dan menuju tiang bendera.
*****
"Mama,ngapain? Sibuk banget.." gumam laila berdiri diundakan tangga menatap heran juhana yang sibuk menata meja makan.
"Seperti yang kamu lihat, mama ngapain? Bukannya dibantuin ini malah diam disini, bantuin sana!" Seru Ashraf berjalan menuruni tangga menuju halaman belakang.
"Iyaa.. ini juga aku mau bantuin, kakak sendiri bukannya bantuin malah santai ke belakang." Sahut laila mendelik kesal menatap kakanya.
"Loh.. itukan tugas para cewek bukan cowok. jadi, kamu harus syukuri ajalah.." ucap Ashraf.
"Alaaahh.. itu lo aja yang males, kalau anak berbakti mah nggak mentingin itu tugas cewek atau cowok." Jawab laila kesal.
Juhana yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan kedua putra-putrinya, mulai menengahi sebelum terjadi pertengkaran, setelah melihat putri kesayanganya mulai tersulut emosi.
"Udah.. udah.. mending kamu bantuin mama, letakkan ini di sana!" Perintah juhana.
Laila meletakkan vas bunga ke tengah meja makan sesuai dengan yang diperintahkan juhana.
"Buat apa sih,ma? Biasanya juga nggak pake bunga-bunga kaya gini" tanya laila sambil menyusun menu makanan di meja makan.
"Dalam hal apa?"
"Mempererat silaturahmi aja kok, lebih baik kamu siap-siap! Bentar lagi mereka datang" jawab juhana.
"Oh... begono. Ya udah deh, aku ke kamar dulu" seru laila berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Pake baju apa ya?" Gumam laila pada dirinya sendiri sambil memilah-milah baju yang bergantung di almarinya.
"Yang ini aja deh..." pandangannya jatuh pada gaun selutut dengan tangan seperempat berwarna pink.
Ia berdiri di depan cermin memandang pantulan dirinya dan memutar-mutar badannya ke kanan dan ke kiri. Setelah merasa cukup dengan penampilannya ia pun keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
Ruang makan yang awalnya dipenuhi gelak tawa tiba-tiba hening, menbuat laila merasa gugup seketika.
"Duh...kok gue jadi gugup sih, c'mon laila santai. Tidak ada yang spesial kok malam ini." Ucapnya dalam hati.
"Sayang, kamu kok diam di situ aja sih? Ayo sini!" Panggil syarief kepada putrinya.
"Iya Ayah"sahut laila menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan menuju kursi kosong yang berada diantara Ashraf dan Rangga.
Suasana di meja makan hanya didominasi oleh syarief dan rudi, yang membicarakan tentang bisnis mereka, yang hanya dimengerti oleh mereka berdua dan dimengerti oleh laila.
Sedangkan juhana dan laura sibuk membicarakan butik yang baru saja mereka buka bersama.
"La... laila!!"panggil Rangga sambil mengoyang-goyang lengan laila.
"Apa?" Sahut laila sambil menyuap stik goreng ke dalam mulutnya.
"Ke taman belakang yukk!!" Ajak rangga.
"Ngapain? Males tau.. aku mau minum ini dulu" tanya laila cuek sambil menyeruput jus strawberry.
"Astaga.. kamu itu nggak kenyang-kenyang kah? Udah dari tadi makan, belum selesai juga." Seru Rangga menatap laila bergidik.
"Bodo amat, yang penting hati gue senang." Sahut laila menjulurkan lidah.
"Ayo.. bentar aja kok." Rangga menarik tangan laila dan berdiri dari kursi.
"Om,tante.. saya sama laila ke taman belakang dulu." Pamit Rangga minta izin, dan dibalas anggukan kepala oleh syarief.
"Eh bentar... jus gue." Seru laila meraih segelas jus yang masih penuh, dan berjalan menyusul Rangga ke taman belakang.
"Mau ngapain sih, ke sini? Enak juga di dalam.. di sini dingin." Omel laila menghampiri Rangga yang sedah duduk di bangku taman.
"Nggak usah ngomel-ngomel deh.. entar cepet tua." Ledek Rangga sambil mencolek-colek dagu laila.
"Jangan rese deh jadi orang!" Teriak laila sambil menepis tangan Rangga.
Rangga terkekeh memandang laila yang meminun jusnya sambil merengut kesal.
"Gue cuma mau kasih ini." Seru Rangga mengeluarkan kotak beludru berwarna merah.
"Apa ini?."tanya laila bingung.
"Buka aja dulu!" Ujar rangga meletakkan kotak bludru ke tangan laila.
"Apa maksud nih?" Tanya laila spontan.
"Gak ada maksud apa-apa sih, gue ngasih ini biar rencana kita berjalan lancar.. kan gue udah janji sama mereka kalau kita besok pake cincin tunangan." Ucap rangga. Sambil memakaikan cicin ke jari tangan laila.
JEPRETTTTTT!
Sebuah kamera telah mengabadikan adengan ketika Rangga sedang memakaikan cincin.
"Cahaya apa tadi?" Ucap laila sambil mengucek matanya.
"Oh.. Shittt!!!!" Rangga mengumpat sambil mengejar seseorang yang menaiki motor meninggalkan mereka.
"Kenapa? Siapa tadi?" Tanya laila menghampiri Rangga.
"Tadi wartawan mengambil gambar kita berdua, kurang ajar!" Ucap rangga.
" Hah wartawan??? Kita kan bukan artis."seru laila.
"Walaupun lo terkenal karena sering memacari artis papan atas, tapi aku bukan artis.. terus apa untungnya? Wah aku bakal jadi artis dadakan dong." Lanjutnya.
"Mana gue tau." Rangga terkekeh sambil mencubit pipi laila.
"Sakit pipi gue Rangga, lepasin bego." Seru laila kesakitan.