
Laila mengerjapkan matanya karena merasa terganggu, ia menepis tangan Ashraf yang sedang mencubit pipinya gemas, Ashraf terkekeh melihat adiknya terbangun akibat ulahnya.
"Kakak ahh... jangan cubitin pipi aku! Aku ngantuk mau tidur" ucap Laila menyelusupkan kepalanya ke leher Ashraf.
"Eehhh... jangan tidur lagi, ini udah jam 05:10 bangun..mandi,de"kata Ashraf menggoyang tubuh Laila.
"Hmm.... "bukannya bangun Laila malah mempererat pelukannya.
Ashraf memejamkan matanya berusaha menormalkan jantungnya yang berdetak lebih cepat ketika bersama Laila, entah mulai kapan perasaan ini tumbuh. Tapi, Ashraf tidak dapat mencegahnya.
Ashraf meraih dagu Laila dan mempersempit jarak, dapat ia rasakan hembusan nafas Laila yang teratur, ia kecup bibir tipis Laila yang begitu menggoda,'manis 'yang Ashraf rasakan ketika mengecup bibir sang adik, ia terhanyut dalam ciumannya, bibir Laila sedikit terbuka membuat Ashraf tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia masukkan lidahnya kedalam mulut adiknya dan mulai menghisap lidah Laila, tiba-tiba Laila mengalungkan tangannya di leher Ashraf, membuat Ashraf makin memperdalam ciumannya.
"Hnngghh..." Laila bergumam merasa terganggu. Membuat Ashraf langsung melepaskan ciumannya.
Ia kecup sekali bibir tipis Laila seakan tidak rela melepaskannya,
Entah setan mana yang merasukinya,sampai ia nekat melakukannya.
"Bangun sayang.. cepat mandi ayo bangun "seru Ashraf mengguncang tubuh Laila pelan.
"Hmm... "Laila bergumam bangkit dari ranjang dengan mata yang masih terpejam.
"Matanya dibuka dulu, sayang!. entar kejedot tembok baru tau rasa " ucap Ashraf geli melihat Laila yang masih mengumpulkan nyawanya.
"Ini udah dibuka nih..nih.."sahut Laila mengerjap-ngerjapkan matanya.
Laila berdiri ingin berjalan menuju kamar mandi, tapi terhenti ketika tangannya ditarik Ashraf, membuatnya terduduk dipangkuan Ashraf.
"Apa?? Aku mau mandi kak"ucap Laila yang berusaha melepaskan tangan Ashraf yang melingkar di perutnya.
"Morning kiss dulu dong, sama abang " bisik Ashraf ditelinga Laila,membuat Laila menggelinjang kegelian.
" Ahhh... kakak geli iihh, aku nggak mau males,kak "sahut Laila.
"Oh males ya,kalau gitu kakak aja deh yang ngasih morning kiss" kata Ashraf memutar tubuh Laila menghadapnya.
"Terserah.."ucap Laila sambil meletakkan kedua tangannya dileher Ashraf, ingin menggoda kakaknya ini.
Laila tidak tahu bahwa perbuatannya barusan, membuat Ashraf berusaha mati-matian untuk tidak menyumpal bibir tipis adiknya dengan bibirnya, yang hanya berjarak 10 cm.
'Cup'
Ashraf mengecup pipi Laila dan mengedipkan sebelah matanya.
"Geli gue liat lo kak"ucap Laila mendorong muka Ashraf dan bangun dari pangkuan Ashraf.
Laila meraih handuk yang bergantung disamping pintu kamar mandi.
"De mau mandi bareng nggak??"goda Ashraf genit
"Ogah!! " sahut Laila sambil menutup pintu kamar mandi.
'Brakk'
Ashraf tertawa karena berhasil menggoda dan membuat jengkel adiknya.
"Kenapa nggak mau? dulu waktu kamu SD sering mandi bareng abang" teriak Ashraf di depan pintu kamar mandi.
"itukan dulu, bukan sekarang"sahutnya Laila sambil membuka pintu dan menutupnya kembali.
'Brakk'
Ashraf tertawa dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, yang berada di sebelah kamar Laila.
****
Setelah 1 minggu, akhirnya kedua orang tua dan adiknya pulang dari kalimantan. Laila menekuk wajahnya bete, ketika melihat kedatangan mereka, ia sempat ngambek nggak mau bicara dan melakukan aksi mogok makan selama 3 hari. Membuat syarief dan istrinya khawatir dengan keadaan putri kesayangannya, untungnya laila orangnya pemaaf dan dia paling tidak bisa terlalu lama marah dengan orang tuanya. Pada hari ke-4 ia pagi-pagi menerobos masuk ke dalam kamar syarief dan juhana, dan meminta maaf karena sifatnya yang chilids.
# meja makan
" kapan kamu UKK sayang?" tanya syarief kepada laila sambil menyesap kopinya.
" 1 minggu lagi, Yah" sahut laila disela makannya.
" hmm.. Belajar yang rajin! biar kamu bisa banggain Ayah" ujar syarief mengusap lembut kepala putrinya.
" insya allah,. Aku bakal usahain.. Tapi aku nggak janji" laila meneguk susunya hingga habis.
" Ayah nggak maksa kok. Semampumu aja"
" aku berangkat Yah, Ma, kak" pamit laila menyalimi dan mencium pipi mereka satu-satu.
Ashraf mematung ketika pipinya dikecup oleh adiknya, tubuhnya seakan berdesir, tidak dapat dipungkiri bahwa ia jatuh cinta kepada adiknya sendiri.
"Ayo.. Syid, lo bareng gue kan?" tanya laila merangkul adik bungsunya yang hanya beda 1 tahun.
Laila satu sekolah dengan adiknya rasyid, mereka hanya selisih 1tahun. Sekarang laila duduk di kelas XI Ipa, sedangkan Rasyid duduk di kelas X IPS. Ashraf memandang mereka tak suka melihat kedekatan laila dengan rasyid.
"Uh ini gila.. Masa iya gue cemburu liat laila dekat sama rasyid. Sadar Ashraf !! Mereka berdua adik lo. " Ashraf menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ashraf kamu kenapa? Sakit? Kalo sakit nggak usah kuliah, sayang" juhana khawatir melihat anak sulungnya menggelengkan kepala nggak jelas.
"Aku nggak papa,Ma. Aku berangkat dulu. "Ashraf menyalimi kedua orang tuanya.
"Hati-hati di jalan, nak. Jangan ngebut!" seru juhana.
Ashraf mengacungkan jempolnya, menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
"Lo nanti pulang bareng gue atau nggak?" tanya laila kepada rasyid ketika sampai di parkiran sekolah.
"Pulang bareng lo aja, gue duluan!" sahut rasyid membuka pintu mobil, pergi meninggalkan nya.
"Kebiasaan deh.. Gue selalu ditinggalin" omelnya turun dari mobil.
"Hai.. Good morning, jomblo abadi" sapa rangga keluar dari mobilnya yang terparkir di samping mobil laila.
"Iiih.. Lo pagi-pagi cari masalah sama gue, ngeselin banget. Gue bukan jomblo abadi" ucap laila tak terima.
"Tapi lo jomblo kan.. " rangga mengiringi laila menuju kelas .
"Tau..males gue sama lo" cetus laila menduduki bangkunya.
"Hahaha jodi.. Jomblo abadi" ejek rangga ketika melewati laila.
Laila menghiraukan ejekan rangga, ia lebih memilih sibuk dengan handphonenya, dari pada meladeni rangga. Ia menyimpan handphonenya ketika terdengar bell berbunyi, dan mengeluarkan buku bahasa inggris, ketika miss ana masuk kelas.
" hello.. How are you?" tanya miss ana ke murid XI ipa 1.
"I'm fine, and you?" sahut para murid.
"I'm fine, oke please open page 45" perintah miss ana kepada murid-murid.
'Tettt' bell berbunyi menandakan jam pelajaran bahasa inggris telah usai.
Laila menghembuskan nafas berat, karena setelah ini pelajaran Kimia guru yang paling killer di sekolah.
"Woyy.. nih gue dikasih amanah sama bu rizma, beliau nggak bisa masuk karena sibuk, jadi.. Kita suruh ngerjain soal halaman 52, istirahat kedua harus selesai semua, kumpul sama gue" ucap Abu ketua kelas XI ipa1.
Semua murid yang awalnya berwajah lesu tak bersemangat menjadi cerah berseri-seri, bahkan ada yang sujud syukur.
"Gue mending disuruh ngerjain 100 soal, dari pada tu guru masuk, yang buat gue nahan ngantuk dan nggak ngerti sama penjelasannya" gumam salsa membuka buku dan mulai mengerjakan soal, yang disetujui murid yang lain.
Laila membereskan bukunya berjalan menghampiri abu si ketua kelas.
"Abu, gue izin ngerjain ke perpus disini ribut, nggak konsen gue" seru laila memperhatikan teman-temannya yang membentuk lingkaran mengerjakan bersama.
"Iya," sahut abu yang sedang sibuk mengerjakan soal.
Laila melangkahkan kakinya keluar, berjalan menuju perpustakaan, setelah sampai disana, ia mulai membuka buku dan mengerjakan soal kimia. Sekitar setengah jam ia berada disana seorang diri, terdengar suara-suara ganjil. Entah itu bunyi lonceng, pintu berdecit, orang ketawa dan lain-lain.
Laila mencoba untuk menghiraukan dengan menulikan telinganya, padahal keringat dingin sudah bercucuran dipelipisnya.
'Brughh!'
Laila menegakkan tubuhnya, mencari dimana suara itu berasal.
"Mungkin angin kali" gumamnya acuh mengabaikan detak jantungnya yang berdetak kencang.
"Tenang... nggak mungkin ada hantu disiang bolong" serunya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Dorr..." rangga mengagetkannya, dan meletakkan tangannya dipundak laila.
"Aaa... Mamake tolonggg!!" teriak laila kaget.
"Ahahahaha..." rangga tertawa duduki di kursi samping laila, sambil memegangi perutnya.
"Puas lo ngagetin gue?" ucap laila menatap rangga sengit dengan mata berkaca-kaca.
"Asli muka lo, ahaha... Kocak" rangga mengusap matanya yang berair.
"Hikss.. " laila menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"La, lo nangis? Gue keterlaluan ya.. Maaf deh, gue kan cuma bercanda" seru rangga panik melihat laila menangis.
Bukannya menjawab, tangis laila malah bertambah kencang, membuat rangga semakin panik.
"Duh.. La, gue minta maaf. Nggak lagi deh.. Sumpah, ini yang terakhir gue jailin lo" rangga menarik laila kedalam pelukannya.
"Maafin gue la" rangga mengusap punggung laila lembut.
"Gue takut.. Hikss," ucap laila disela tangisnya.
"Ya.. maaf, nggak lagi deh gue jailin lo" seru rangga merasa bersalah.
"Hmm.."
"Maafin gue ya, pliss.." pinta rangga.
"Iya" jawab laila melepaskan pelukannya.
" baikan.." ucap rangga mengacungkan jari kelingkingnya.
"Oke" seru laila mengaitkan jari kelingkingnya.
"Bentar lagi bell, kantin yukk.. gue yang bayarin" ajak rangga.
"Oke.. Kalau lo yang bayar" ucap laila terkekeh sambil membereskan bukunya.
"Maunya gratisan.. Dasar matre" rangga mencibir.
"Biarin.. Bodo amat. Tapi kita ke kelas dulu, anter buku gue" ucap laila berjalan disisi rangga.
"Ok, by the way.. Lo pendek banget sih, cuma seketek gue" ejek rangga.
Laila menatap rangga tajam.
" nih rasain" ia menginjak kaki rangga kuat-kuat, dan berlalu masuk ke dalam kelas.
"Aaw.. Ettdah" ringis rangga di depan kelas.
"Yuk.. Let's go to canten " seru Laila menggandeng rangga menuju kantin.
Rangga memutar bola matanya, melihat laila tampang watados yang nggak peduli dengan kakinya yang jadi korban.
#kantin
"Laila" panggil rangga ke laila yang sibuk menyantap nasi goreng.
"Hmm" sahut laila sibuk dengan makanannya.
"Ihss.. Sini deh" rangga meraih dagu laila, membersihkan nasi yang nempel di ujung bibir laila.
" kayak bocah aja lo" seru rangga terkekeh melanjutkan makannya.
Akibat perhatian kecil yang rangga berikan kepada laila, membuat seluruh kantin menatap mereka berdua, termasuk Aldi dan sindy.
"Duh... Rangga lo bikin gue baper, gue baru sadar lo ganteng, ganteng banget malah." Seru laila dalam hati kecilnya.
Laila memandang nanar kemesraan Aldi dan Sindy, ia sudah menyerah untuk mendapatkan Aldi, ketika melihat Aldi menatap Sindy dengan mata berbinar. Mereka tampak serasi yang satu cantik, dan yang satunya ganteng.
"Jealous ya.." ucap Rangga melihat laila manatap Aldi kecewa.
"Hah.. Nggak!" elaknya mengalihkan pandangannya menatap rangga.
Rangga berdiri dan pindah duduk disamping laila, dan membawa laila ke pelukannya.
Membuat seluruh siswi yang ada di kantin mendesah kecewa.
" mau dong dipeluk"
"Yah.. Pangeran kodok gue sudah punya putri keong.. Pupus harapan gue"
"Oh.. So sweet"
Dan bla bla bla.. Kini kantin berisik dengan sorakan murid melihat rangga dan laila.
"Lo ngapain peluk gue?? Lepasin bego" ucap laila berusaha melepaskan dari.
"Sttt.. Diam, gue tau lo cemburu sama mereka.. Gue rela jadi sandaran buat lo. Kalau mau nangis... nangis aja" bisik rangga mengusap punggung laila lembut.
Hati laila menghangat karena perlakuan Rangga untuknya, tapi ia tidak ingin berharap lebih. Karena perlakuan rangga hanya semata-mata peduli karena nggak ingin melihatnya sedih, karena cintanya bertepuk sebelah tangan.