Angel & Devil TXT

Angel & Devil TXT
Meet Again




Yebin dan Yeonjun sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka, sementara itu Soobin dan Beomgyu hanya sibuk menonton televisi.


Sangat berbeda bukan?


Sebenarnya Soobin dan Beomgyu sudah menawarkan diri tapi ditolak oleh Yeonjun, katanya mereka hanya bisa menghancurkan seisi dapur ketimbang membantu untuk memasak sarapan, sehingga dua anak tengah itu memilih untuk sibuk bersantai.


" Oppa! Kapan kau akan mengajak calon mu untuk makan di sini? Kami belum ada yang mengenalnya".


Tanya Yebin.


" Ah iya, aku selalu lupa menanyakan kepadanya. Nanti saja ku tanyakan".


" Okee".


" Jika kau mau mengajak Jay juga tak apa, biar Soobin nanti juga ajak calon tunangannya".


" Eumm tak usah!".


" Tak usaha? Waee?".


" Eumm eee, kasihan Beomgyu oppa, nanti dia sendirian tidak ada pasangan".


" Hahahah iya juga yaa. Ah okela, terserah saja, mau kau ajak atau tidak. Tapi lain kali ajak dia makan di sini ya, sudah lama aku tidak berjumpa dengannya".


Yebin hanya membalasnya dengan senyuman tipis dan melanjutkan kegiatan memasaknya.


.


.


.



Karena libur, Yebin pun memilih untuk bersepeda melewati Sungai Han. Ia memakai celana training batas lutut, kaus tipis yang ditutupi oleh cardigan hitam, lengkap dengan sneakers kesayangannya.


Kebetulan area tersebut merupakan tempat terjadinya kecelakaan maut yang dialami oleh orangtuanya, ia mengenang dua malaikat itu dengan memandangi sungai yang airnya sangat tenang di pagi hari itu.


" Brughhh!!!."


Yebin terjatuh karena tidak memperhatikan jalanan. Semua pengunjung ataupun orang lewat di sana tak ada yang mempedulikan dirinya. Ia pun termenung dan berpikir betapa tak berguna dirinya untuk hidup di muka bumi ini.


Ia merengkuh dan mencoba menahan perih akibat luka di kakinya.


" Sini ku bantu."


Yebin pun segera mendongak ke atas hingga matanya bertemu dengan sepasang manik berbinar indah yang menawarkan bantuan kepada dirinya.


" Kau lagi?".


Sama seperti kemarin, kini ia kembali terpaku dan tidak tahu berbuat apa.


" Kaki mu terluka, jika tidak diobati nanti bisa infeksi."


Ucap seorang lelaki itu dengan mengulurkan tangannya.


Yebin pun menerima uluran tangan tersebut.


" Gomawoo!".


" Neee".


Lelaki itu mengajak Yebin untuk menepi dari tengah jalanan. Kemudian ia pergi sejenak menuju mobilnya.


" Aku bertemu dia lagi? Hanya dalam jarak beberapa jam? Sungguh? Dan dia membantuku lagi? Yah Yebin! Kau sangat beruntung!". Batinnya yang masih tidak percaya akan kejadian hari itu.


" Sini ku obati".


Lelaki itu mengajak Yebin untuk duduk, ya duduk di tepi sungai Han dengan udara yang sangat sejuk karena masih pagi.


Tenang. Itu yang dirasakan oleh Yebin setelah ia tadi sempat merasa hancur karena tidak ada satupun orang di sana yang mau membantunya.


" Mungkin akan sangat perih, tapi kamu tahan saja ya, biar lukanya cepat sembuh".


Yebin menganggukkan kepalanya dan berusaha mencoba untuk menahan rasa perihnya.


" Aaaaaa!!!!".


Yebin pun berteriak sekeras mungkin hingga orang-orang di sana menoleh kepadanya namun Yebin tidak peduli, yang ia pikirkan sekarang hanyalah rasa perih yang terasa di kakinya.


" Perih sekali? Jika begitu kau pukul saja aku, atau kau cubit aku. Tak masalah".


Tanpa menunggu lama, Yebin pun langsung melakukan hal tersebut. Tujuan lelaki itu menyuruh Yebin untuk memukulnya agar Yebin tidak terus-menerus mukul kakinya, iya gadis itu memiliki reflek yang berbeda dari orang lain, padahal jika dengan begitu bukankah tambah sakit?


Setelah selesai dibersihkan, diberi obat merah dan di beri perban karena lukanya cukup lebar. Yebin pun segera sadar dengan apa yang ia lakukan barusan, yakni memukul lelaki itu.


" Aaa mianhee!".


" Tak apa-apa, kan aku sendiri yang menawarkan diri".


" Iya tapi itu pasti sakit apalagi aku memukulmu secara beruntun".


" Sudah biasa".


" Hah?".


" Sudah, bagaimana kita pulang saja? Aku antar kau pulang karena sepertinya sepedamu rusak parah".


" Aigo!! Hanya jatuh seperti tadi sampai rusak begitu? Aishh!!! Padahal aku baru memakainya beberapakali saja".


Keluh Yebin dengan mendengus kesal.


" Tidak apa-apa, namanya musibah siapa yang tahu?".


Yebin diam sejenak dan mengingat sesuatu.


" Ah iyaa namamu siapa? Ini kali kedua kita bertemu".


" Oh ya? Di mana?".


" Ha? Kau lupa? Padahal baru saja kemarin sore kita bertemu, di supermarket dekat Kampus ku".


" Oh kau yang kemarin ku pinjamkan jaket ya? Ah maaf aku lupa, soalnya kemarin aku juga sedang terburu-buru makanya lupa jika aku telah bertemu denganmu kemarin".


" Aku kira ia akan mengingatku! Ah sudah la lupakan".


Kesalnya membatin.


" Baiklah, kita perkenalan diri dulu. Aku Kang Taehyun, kau?".


" Hahah memangnya kenapa? Ada yang spesial dari keluarga Kang?".


" Ya biasanya keluarga Kang itu isinya berlian semua".


Raut wajah lelaki bernama Taehyun itu pun kebingungan.


" Eh maksudku, aku tidak pernah ada kenalan dari keluarga Kang. Makanya aku speechless".


" Oh begitu".


" Iya heheh".


" Dasar Yebin, biasa saja jika melihat lelaki tampan seperti ini. Padahal circle sendiri berlian semua, ada Sunghoon, Jake dan senior abadi di kampus si Koko Lucas. Tapi kenapa bertemu dengan lelaki tampan masih tremor?."


Lagi- lagi Yebin membantin kesal.


" Kau siapa?".


" Eum aku Choi Yebin".


" Ohh Choi, eumm aku juga punya sahabat bermarga Choi tapi sayangnya kami sudah lama tidak bertemu".


" Oh ya? Wahh semoga lain kali bisa bertemu ya".


.


.


.



Ketika jam makan siang, Yeonjun pergi mengunjungi salah satu Restoran terdekat di kantornya.


Lekan Resto


Itu adalah restoran milik sahabatnya ketika semasa kuliah dulu, yakni Wong Yuk Hei, Huang Xuxi atau Lucas Wong.


Inilah yang disebut senior abadi oleh Yebin karena Lucas memang tidak ada niat menyelesaikan skripsinya, bahkan Yeonjun, teman seangkatannya sudah mau menikah, ia masih sibuk berkutat di kampus itu. Entah apa yang ia cari.


Meski begitu ia juga terbilang sukses dengan bisnis kuliner yang dijalaninya dan restoran tersebut salah satu dari banyaknya bisnis yang ia jalankan, belum lagi yang ada di negara asalnya yakni, Tionghoa.


" Silakan calon pengantin, mau pesan apa?".


Lucas mendatangi meja Yeonjun dan menawarkan menu.


" Wahhh si bos turun tangan nih".


" Waiyalah, kan aku sedang menabung untuk menikah brader".


" Wah kau mau menikah juga?".


Lucas membalas dengan anggukan sombong.


" Lulus saja dulu, nikahnya nanti saja".


" Ah aku malas menyelesaikan skripsi ku. Aku bahkan sudah lama tidak ke kampus lagi".


" Ya tidak apa-apa sih, kau juga sudah sukses".


" Hahah makanya, ah sudahlah tak usah membahas diriku".


Yeonjun pun mulai memperhatikan menu.


" Loh nama resto ini sudah ganti? Aku baru sadar".


" Iya Lekan Resto. Bagus kan?".


" Apa artinya?".


" Bukan arti tapi singkatan. Singkatan dari Lelaki Tampan, soalnya semua pekerja di sini hingga owner-nya kan tampan semua. Masuk kesini perlu menjalankan tes ketampanan".


" Tak heran, kau masih Lucas yang sama. Aku bangga padamu, tingkatkan itu".


" Bukannya sudah jadi hukum alam bahwa kita tidak mengenal apa itu insecure? Hahah".


" Iya hahahah".


Yeonjun dan Lucas sibuk berbincang guna melepas kerinduan diantara mereka. Wajar saja, karena sudah lama sekali mereka tidak seperti ini. Meski Restoran Lucas dan Kantor Yeonjun berdekatan namun tetap saja tidak bisa dijadikan alasan untuk mereka bisa sering bertemu.


.


.


Saat pesanan Yeonjun datang, Yeonjun menyantap habis semuanya. Sementara itu Lucas masih berada di sana dan mengajak Yeonjun mengobrol di sela-sela makannya.


" Ku dengar-dengar ada kasus Jopok lagi".


Yeonjun tertegun dan segera menghentikan kegiatan makannya sejenak.


" Ha? Jopok? Ada apalagi?".


" Iya katanya mereka kan dulu pindah ke Amerika, nah sekarang mereka kembali lagi ke sini katanya mau balas dendam atau apalah itu aku juga lupa".


" Kau tahu dari mana?".


" Aku tahu dari teman kepolisian ku. Kemarin mereka melakukan patroli untuk mencari tahu. Bahkan di kampus saja kemarin baru terjadi tembakan misterius. Sepertinya itu ulah Jopok".


" Astagahh! Yebin tak cerita apapun".


" Oh ya? Tapi dia baik-baik saja, kan? Ku dengar katanya korban tembakan kemarin ada di kelas dia".


" Sungguh? Hah! Tapi dia baik-baik saja".


" Syukurlah".


" Jopok? Mereka di sini? Ini sangat bahaya, aku harus menjaga semua adik-adikku".


Ucap Yeonjun membatin karena mengingat kegiatan adik-adiknya yang berbeda sehingga mereka jarang bertemu jika di luar rumah.


* Gumawoo : terima kasih


* Nee : iya/ya


* Mianhe : maaf


Continued ...