
Sesampainya di rumah, Yebin langsung memberitahu Beomgyu untuk segera menjemput mereka, mengingat perjalanan dari Seoul ke Daegu memang cukup jauh.
Ternyata Beomgyu tertidur sepulang dari kantornya, bahkan ia tertidur di ruang kerjanya.
Yebin pun menyiapkan bekal makanan untuk abangnya itu, pasti ia lupa makan siang, pikirnya.
Ketika malamnya Yebin pun mulai video call dengan neneknya plus dengan calon kakak iparnya, Lee Nagyung.
Karena Yebin cucu bungsunya dan juga merupakan cucu perempuan satu-satunya. Hati Na Sujin luluh dan mau dibawa ke Seoul bahkan dirawat inap sekalipun.
Di samping itu, Nagyung selaku calon isteri Soobin nantinya juga rela untuk menunggu Sujin hingga ia benar-benar sembuh. Kebetulan Nagyung memang berhenti kerja karena Soobin memintanya. Soobin ingin isterinya di rumah saja dan ia sendiri yang akan bekerja untuk masa depan rumah tangga mereka. Nagyung pun juga tidak sama dengan wanita Korea Selatan lainnya yang sibuk ingin menjadi wanita karir, ia justru memilih untuk mengikuti perintah calon suaminya kelak. Meski saat ini ia belum sepenuhnya berhenti kerja.
.
.
.
Seoul.
09:35 KST.
Akhirnya mereka berhasil membawa Sujin ke rumah sakit tapi sayangnya mereka masih menunggu dokter yang akan mengecek keadaan sang nenek.
" Maaf sebelumnya, dokter belum bisa datang karena ada kendala mungkin bisa menunggu sejenak, ya. Sementara waktu, biar kami saja dulu yang urus".
Soobin pun menyetujui dan sang Nenek pun dibawa ke dalam ruangan.
Yebin pun datang diakhir bersama Yeonjun dan Kim Bora, calon isteri Yeonjun.
" Gimana?".
Tanya Yebin ke yang lainnya.
" Dokternya belum datang jadi perawat dulu yang urus halmi".
" Hah? Dokter sinting! Jam segini dia belum juga stand by?!."
Kesal Yebin yang terlepas begitu saja karena mengingat betapa gagalnya dokter yang mengurusi kedua orangtuanya dan jangan lupa, Yebin masih membenci profesi tersebut hingga saat ini.
" Sabar Yebinn-ahh, unniee paham isi hatimu. Kau masih kesal, kan? Tapi berdoa saja yang terbaik, percaya sama unnie bahwa di dunia ini tidak semuanya manusia seperti itu. Buktinya, lihat para pasien itu mereka masih bisa bernapas berkat bantuan dokter juga. Dokter itu kaki-tangannya Tuhan. Kita tidak bisa mengharapkan lebih padanya karena ada Tuhan yang mengurusi, bukan mereka".
Ujar Bora untuk menenangkan Yebin.
Sementara itu, Yeonjun tengah tersenyum-senyum manis ke arah Bora dan Yebin. Senyuman yang penuh kebahagiaan.
" Bora Noona itu jodoh titipan Papa. Kalian sudah direstui, tunggu apalagi?".
Tanya Beomgyu tiba-tiba.
Yeonjun pun mengelus pundak Beomgyu.
" Iyaa hyung akan segerakan pernikahan kami. Kau senang?".
" Jangankan aku, halmi pun juga pastinya sangat senang".
.
.
.
Berselang beberapa waktu lamanya, akhirnya seorang perawat keluar dan berjalan menuju seorang dokter yang tampaknya dokter tersebutlah yang akan mengecek Na Sujin.
Yeonjun, Soobin, Beomgyu, Nagyung, Bora dan Yebin memandangi Dokter tersebut.
" Silakan Dokter".
Perawat tersebut mempersilahkan sang dokter untuk masuk.
" Hah?!! Taehyun?!".
Reflek Yebin dengan kaget.
" Ah aku lupa jika kau seorang dokter, aku tidak menyangka kau yang akan mengurus halmi kami".
" Iyaa, aku juga baru tahu jika pasien di dalam itu halmi kalian. Maaf menunggu agak lama ya, tadi aku ada sedikit urusan".
Taehyun dan satu perawat itu masuk ke dalam ruangan untuk mengecek keadaan Sujin.
" Taehyun Dokter?!!!".
Tanya Yebin masih tidak menyangka.
" Iya, wae? Kau tidak senang dengannya?".
Tanya Soobin.
" Oh ya jelas! Aku tidak suka!".
Yebin segera mengeluarkan ponselnya dan memblokir kontak line Taehyun. Kemudian Yebin pun pergi dari tempat itu.
" Hah? Ada apa dengan anak itu?". Tanya Soobin heran.
" Panjang ceritanya, intinya dia seperti sedang jatuh hati dengan Taehyun. Tapi karena Taehyun dokter dia jadi kesal? Maybe".
Jawab Beomgyu yang paham dengan kondisi si bungsu.
" Akan ku susul". Bora pun menyusul Yebin.
" Yeonjun oppa pasti bahagia memiliki Bora unnie". Celetuk Nagyung.
" Iyaa pasti!".
Sejak detik itu juga Yeonjun berusaha memikirkan prosesi pernikahannya nanti.
.
.
.
Yebin duduk di pendopo rumah sakit itu, raut wajahnya sangat kesal.
" Ya ya ya!!!!! Yebinn-ahh!!!! Kenapa kau tidak konsisten!!!! Katanya benci seumur hidup tapi kau malah suka dan kagum dengan seseorang yang berprofesi dokter!!! Cihh!! Menjijikkan!".
Teriaknya memaki diri.
" Tak ada yang menjijikkan, rasa itu adalah sebuah anugerah".
Bora duduk bersama Yebin di sana.
" Unnie! Unnie tahu kan masalah kematian Papa dan Mama? Mereka mati karena keteledoran dokter. Aku tidak bisa memaafkannya".
" Tapi itu dokter yang berbeda Yebinn-ahh, bukan Taehyun".
" TapiiiiĀ ...
" Unnie juga membenci oppa mu dulu. Tapi setelah itu kami malah saling mencintai. Kau bisa belajar dari hubungan kami".
Yebin mengelap air matanya.
" Ya omong kosong saja itu. Aku sudah punya Jay, rasaku ke Taehyun hanya sebatas kagum".
" Sungguh?".
" Sungguh unnie!".
Bora memeluk Yebin dengan erat. Yebin merasa seperti di dalam pelukan Mamanya dulu, hangat dan menenangkan. Bora memang pantas untuk Yeonjun, pikir Yebin.
.
.
.
^^^Continued ...^^^