
...- Happy Reading -...
Hari ini Yebin ikut Taehyun bekerja, ia kembali menemui lelaki tua yang ia wawancarai waktu itu, sekaligus untuk membuatnya lupa akan kesedihan yang baru saja ia rasakan kemarin. Berharap akan ada cerita baru yang ia dapatkan di sana.
" Aku benci Jopok". Ucap Yebin tiba-tiba.
" Hm? Lalu bagaimana dengan dokter?".
" Juga! Sama saja!".
" Ya sudah, sampai kapanpun kau tak akan bisa berdamai denganku".
" Hah?".
" Kan aku dokter".
" Iya tapi kan aku udah mulai terbiasa denganmu".
" Oh ya?".
Yebin pun mengangguk sebagai balasnya.
" Baguslah".
Taehyun pun masuk ke dalam ruangannya dan mulai bersiap-siap untuk bekerja.
" Aku akan mengecek pasien dulu. Kau bisa menunggu di sini atau langsung temui CEO kemarin".
" Aku di sini saja".
" Okela, aku keluar dulu".
Setelah Taehyun keluar, Yebin pun sibuk dengan ponselnya.
" Kau di mana?".
" Apa hak kau untuk mengetahuinya?".
" Aku ingin bertemu denganmu ".
" Tidak, aku sudah muak".
Yebin sangat kesal karena Jay masih saja sibuk menghubunginya, padahal sudah berulangkali ia menolak untuk bertemu tapi Jay masih kekeuh memaksa.
.
.
.
.
.
Yebin pun keluar dari ruangan Taehyun karena ia merasa bosan di sana.
Saat ia keluar, ia menemukan Taehyun tengah terburu-buru menuju ke sebuah ruangan dengan ditemani beberapa perawat dan seperti penjaga khusus.
Yebin penasaran dan menyusul mereka. Sesampainya di sana ia melihat Taehyun tengah menangis hingga terdengar sangat sesak. Para penjaga khusus itu sibuk menenangkan dokter tersebut, membuat Yebin iba dan memberanikan diri untuk segera menghampirinya.
" Taehyun-ahhh!!!".
Yebin menangkap bahu pemuda itu yang kini tengah terduduk di lantai dengan lemas.
" Kau kenapa? Ada apa? Siapa di dalam?". Tanya Yebin dengan sangat panik.
Tangisan Taehyun terhenti saat la melihat adanya Yebin di dekatnya.
" Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya takut gagal menyelamatkan pasienku itu".
"Gagal? Hah! Taehyun-ahhh!!! Kau pasti tertekan dengan perkataan ku yang sebelum sebelumnya. Dengarkan aku! Kau Dokter yang hebat! Kau bisa! Kau sanggup!!! Pasien mu itu pasti akan selamat. Percayalah!."
"Ada apa ini? Kau sudah mengubah mindset -mu?."
"Iyaa, kupikir itu hal konyol. Seharusnya yang ku hakimi hanyalah dokter yang mengurus orangtuaku saja bukan semua dokter. Jadi ku mohon, jangan dengarkan kebencianku itu. Pasien di dalam sana pasti membutuhkanmu." Taehyun pun mengajak Yebin ke dalam ruangan tersebut. Di dalam sana Yebin melihat ada seorang lelaki tua yang tengah terbaring dengan banyak sekali alat-alat yang dipakaikan pada tubuhnya terutama di area dadanya.
"Dia parah sekali ya?."
"Dia appa ku."
"Huh??? Appamu?."
Yebin menatap iba keadaan appa Taehyun, ia juga ikut bersedih sama halnya dengan Taehyun saat ini.
" Apa yang terjadi?".
" la diserang oleh orang-orang jahat. Ditambah lagi ia memang sedang sakit kompilasi jantung."
Yebin menyentuh pundak Taehyun dan mengelusnya dengan pelan.
" Aku barusan berlari kesini karena katanya ia tadi sempat sesak nafas tapi syukurlah ia kembali normal."
"Syukurlah, berarti appamu sekarang sudah baik-baik saja, kan? Jangan sedih lagi".
.
.
.
.
.
Nagyung tengah menemani Bora yang sedang berdiam diri di rumahnya. Wajahnya masih berduka, matanya sayu dan bibirnya pun luka-luka.
" Apa yang kau lakukan dengan dirimu sendiri?!." Tanya Nagyung dengan cemas.
"Aku menepuk bibirku, berharap air mataku akan berhenti. Karena Yeonjun tidak suka jika aku menangis." Jawaban dengan sayu.
"Aigoo!! Unnie!!! Jangan seperti itu. Kau sama saja melukai dirimu, bukankah Yeonjun oppa lebih benci itu?."
" Aku apa adanya Nagyung-ahh, aku lelah. Baru sehari aku ditinggalkannya rasanya aku benar-benar kesepian."
Bora memeluk Nagyung dan menumpahkan segala kesedihannya.
" Aku heran sebenarnya ada apa ini? Apa yang diinginkan mereka?." Tanya Nagyung heran.
" Nagyung-ahh, Soobin akan menggantikan posisi Yeonjun. Unnie semakin tidak tenang jika mereka masih mengintai para pemimpin perusahaan seperti itu."
Nagyung pun tertegun, ia baru sadar bahwa Soobin lah yang akan menggantikan posisi Yeonjun nantinya. Ia takut Dejavu dengan kejadian Yeonjun.
"Aku juga unnie, aku jadi mengkhawatirkan Soobin."
Nagyung pun mencoba menghubungi Soobin tapi sayangnya kekasihnya itu tidak menjawab sama sekali. Rasa takutnya pun kian meningkat dan ia menjadi tidak tenang dengan keadaan calon suaminya itu.
.
.
.
.
.
Yebin mengajak Taehyun makan malam di restoran milik Lucas. Sekaligus untuk bernostalgia karena dulu ia sangat sering diajak makan di sana oleh Yeonjun apalagi saat ia masih menjadi mahasiswa baru.
"Yebinn-ahh?!!! Aigoo!! Akhirnya kau di sini!!!." Sorak Lucas yang excited dengan keberadaan Yebin.
Yebin hanya menunduk sembari tersenyum tipis karena semua pengunjung melihatnya akibat kehebohan Lucas. Memang senior laknat, batinnya.
" Kau?!! Ah dia siapa? Kekasihmu?." Tanya Lucas dengan heboh.
Sementara itu Yebin dan Taehyun hanya bisa saling menahan malu dan salah tingkah.
" Aigooo kalian ini, jangan malu malu. Biasa saja, toh di sini juga banyak pasangan seperti kalian."
" Eumm...
Belum selesai Yebin berbicara, Lucas malah lebih dulu merangkul Taehyun dan melemparkan beragam pertanyaan seputar hubungan sepasang kekasih.
" Biar ku beritahu. la cantik, baik, dermawan, lembut dan suka ayam. Dia suka juga spaghetti tapi dia tidak suka carbonara, aneh bukan?."
Taehyun hanya terkekeh dan sesekali menoleh ke Yebin yang ada di hadapannya dengan muka yang masam karena tingkah Lucas.
" Ah iya, dia suka berenang tapi dia tidak suka kolam, dia lebih suka berenang di pantai. Ya kesukaan dia memang repot sekali tapi percayalah satu hal bahwa ia adalah gadis yang setia dan penyabar. Kesetiannya memang aku tidak tahu aku hanya menebak tapi jika membahas soal kesabaran Yebin lah orangnya. Bagaimana tidak, kepergian orangtuanya, bahkan oppa nya. Ia hanya sesekali menangisi mereka, selebihnya ia hanya akan diam. Dia itu wanita tegarrrrr. Kau tak akan menyesal wahai pemuda tampan." Setelah panjang lebar berbicara,
kini Lucas pergi dengan meninggalkan menu di atas meja mereka.
" Nikmatilah waktu kalian. Ini malam Minggu bukan? Hahah maklum aku kan masih sendiri jadi sering lupa hari. Ya sudah lanjutkan, permisi."
Lucas pun menghilang dan tinggal lah mereka berdua.
" Hhhhaaha siapa dia? Teman mu?."
" Bukan, dia hanya senior ku yang paling menyebalkan plus sahabat karibnya Yeonjun oppa. Di sebelah sana adalah perusahaan appaku, jadi Yeonjun oppa sering mengajakku ke sini sewaktu awal-awal kuliah makanya aku bisa mengenal Lucas oppa."
" Oh di sana. Eumm berarti sekarang yang melanjutkan perusahaan itu Soobin hyung??."
"Iya!."
"Oh begitu."
"Kenapa?"
"Ah tidak, tidak apa-apa aku hanya bertanya."
Saat pesanan mereka telah tiba, Taehyun mencoba menyodorkan satu suapan dari piring pesanannya.
"Untuk aku?."
Tanya Yebin yang kaget dengan tingkah Taehyun. Taehyun hanya mengangguk dan satu suapan tersebut berhasil diterima oleh Yebin.
"Aku dengar, Yeonjun hyung suka melalukan itu untukmu."
Ujar Taehyun sembari fokus ke makanannya tanpa menoleh ke Yebin. Sementara itu Yebin terdiam dan menatap Taehyun.
" lya benar, kau tahu darimana?."
"Dari Beomgyu."
Yebin pun tersenyum.
"Eyy kau banyak tahu tentangku. Aku merasa jadi selebriti."
"Aku bisa menjadi temanmu, saudaramu, bahkan apapun itu untukmu."
Pipi Yebin memerah, ia merasa tersanjung dengan perkataan Taehyun. Rasanya ingin sekali la dan Taehyun bersama selamanya.
" Tapiii ...
"Tapi? Tapi apa Taehyun-ahh?."
" Aku tidak janji jika suatu saat aku bisa saja membuatmu kecewa."
.
Depp.
.
Yebin pun menjadi overthinking dengan ucapan Taehyun barusan.
.
.
.
.
^^^Continued...^^^