
...- happy reading -...
" Maafkan hyung mu ini Sunoo-aaahh. hyung lalai menjagamu. Kau boleh mengutuk hyung! Ajak hyung bersamamu juga tidak apa-apa. Lagipula, hanya sedikit harapan appa untuk hidup. Jika pun appa nanti sembuh bagaimana caranya aku bisa menjelaskan padanya tentang kematian mu ini? Sama saja bukan? Ia pasti akan tertekan setelah kehilangan dirimu".
Taehyun mengelus pucuk kepala Sunoo dan menutupinya dengan kain putih. Jasadnya siap diantar pulang.
.
.
.
Yebin kembali ke ruangan neneknya, sesampainya di sana ia tidak menemukan keberadaan Taehyun.
" Ya! Dokter biadab! Lihat! Pasien pun ditinggal olehnya!". Celetuk Yebin yang tak karuan.
" Yebinn-ahh, kau kira dokter itu hanya ditugaskan untuk halmi?".
Tanya neneknya.
" Tidak, tapi aku kesal dengannya".
" Kesal tanpa alasan tidaklah baik Yebin. Bahkan dokter tadi baik sekali, ia ramah dan juga sopan".
" Dia sahabatku". Sahut Beomgyu.
" Oh iya? Ah harusnya kau merasa tenang Yebinn-ahh, dia bahkan sahabat oppa mu".
Kemudian ada seorang perawat masuk ke dalam untuk mengantarkan makan siang.
" Dimakan ya halmoni".
" Terima kasih suster".
" Iya sama-sama".
.
.
.
Yebin berada di roof top rumah sakit guna melihat sunset yang sudah lama ia rindukan. Sebenarnya bukan sunset yang ia rindukan, melainkan momen berharga kala sunset itu datang.
" Kehadiran Taehyun membuatku semakin ingat dengan kepergian eomma dan appa". Gumamnya.
" Yebinn-shii?!".
Yebin pun menoleh dan menemukan Taehyun yang sedang berdiri di belakangnya.
" Kau?! Hah!".
Tangan Yebin ditahan oleh Taehyun saat ia hendak meninggalkan area tersebut.
" Lepas!".
" Tidak".
" LEPAS!".
Yebin pun bertindak kasar dengan menampar Taehyun secara tiba-tiba menggunakan tangannya yang tidak ditahan oleh Taehyun.
Situasi diam sejenak. Kemudian hiruk-pikuk jalanan terdengar jelas.
" Aaa-aaku pergi!".
" Sebegitu bencinya kau dengan profesi ku ini? Sampai-sampai kau ikut membenci diriku".
Baru tiga langkah Yebin langsung terhenti mendengar pertanyaan Taehyun. Dengan segera ia membalikkan badan.
" Iyaaa!!! Karena kematian orangtuaku dari seorang dokter!".
Taehyun menghampiri Yebin sedangkan Yebin semakin mundur.
" Kita sudah dua kali bertemu secara dadakan. Kau bisa menilai aku ini seseorang yang bagaimana, terlepas profesi ku sebagai seorang dokter".
Yebin pun terdiam sejenak, ia kembali mengeja kebaikan Taehyun padanya.
" DOKTER!!!! ADA PASIEN KORBAN KECELAKAAN!".
sorak seorang perawat dari pintu roof top.
Tanpa berpikir lama, Taehyun pun langsung mengejar pasien itu dan segera menanganinya.
Yebin pun juga ikut turun untuk melihat korban tersebut.
" Parah ya!!!".
" Iyaa ih darahnya banyak banget".
" Ya ampun masih tertolong tidak, ya?".
Semua pengunjung di rumah sakit itu heboh.
" Kondisinya persisi seperti appa dulu". Ucap Yebin membatin.
" Cepat bawa ke dalam!". Perintah Taehyun kepada dua perawat laki-lakinya.
.
.
.
Berselang beberapa waktu lamanya, Taehyun pun keluar dan segera menuju ruang yang lain untuk memeriksa kondisi pasien di ruangan tersebut.
Sementara itu Yebin sebenarnya diam-diam takjub dengan Taehyun yang masih muda namun mau bekerja keras dan bertanggungjawab atas pekerjaannya.
Pasien yang baru saja diurus oleh Taehyun tadi dipindahkan ke ruang rawat, melihat kondisi pasien tersebut membuat Yebin iri. Andai orangtuanya diurus oleh dokter yang tepat mungkin tidak seperti ini alurnya.
.
.
.
Yebin memilih untuk kembali ke ruangan neneknya dan di sana hanya ada Nagyung yang sedang mengupas buah untuk sang nenek.
" Yebinn-ahh, dari mana saja? Tadi Yeonjun oppa mencari mu".
Tanya Nagyung.
" Ah iya unnie aku tadi ke luar sebentar untuk mencari udara segar. Eumm memangnya ada apa dia mencari ku?".
" Mungkin ia ingin meminta bantuan mu untuk pernikahannya lusa besok".
Sambung neneknya.
" Lusa? Jinjah halmi?!!".
" Nee".
Wah, ini adalah berita yang menyenangkan, akhirnya Keluarga mereka akan kedatangan anggota baru dan akan menjadi teman untuk Yebin, saatnya menunggu abang keduanya untuk segera meresmikan hubungan mereka juga.
.
.
.
" Aku sudah bilang berulangkali. Inilah akibat kau tidak mendengarkan perkataan ku!".
Terdengar suara seseorang menggunakan bahasa Inggris dengan aksen british dari telponan tersebut.
" Iya, aku menyesal".
" Ya sudah, kau jaga diri baik-baik, ingat tujuanmu datang ke negara itu untuk apa. Paham?".
" Iya paham".
" Ya sudah, aku akan bantu kau untuk urus semuanya".
Telponan pun dimatikan sepihak oleh orang tersebut. Taehyun pun keluar dari ruangannya menuju kamar Na Sujin.
Saat berjalan menuju ruangan Sujin, ia malah menemukan keberadaan Yebin yang tengah melihat berita di televisi rumah sakit.
" Tetap jaga diri baik-baik karena Polisi saat ini sedang menjaga beberapa titik area yang diduga akan dihancurkan oleh Jopok tersebut."
Taehyun pun menghampiri Yebin dan mencoba mengajak bicara gadis yang tadi sempat menamparnya.
" Yebinn-shii".
" Huh? Kau lagi!".
" Kau tampak serius sekali memperhatikan berita itu. Kau takut?".
" Eoh, untuk apa kau sok akrab dengan ku? Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa aku benci dokter?".
" Iya maaf, aku salah. Aku kesini hanya ingin menanyakan dirimu saja. Kau tahu? Jopok itu berbahaya".
" Tau apa kau soal mereka?!".
" Banyak. Banyak hal yang ku ketahui, kau ingin mengetahuinya?".
Yebin pun berpikir keras, di sisi lain ia sedang kesal dengan Taehyun tapi di sisi lain juga ia butuh informasi yang banyak mengenai Jopok itu untuk menyelesaikan skripsinya.
" Eummm ..,
" Berpikirlah dulu, aku akan menanyakannya lain waktu. Aku ke kamar halmonimu dulu".
Taehyun pun pergi.
" Aku ingin tahu apapun yang ia tahu tentang Jopok itu. Tapi aku kan sedang kesal dan benci dengannya. Aku sudah janji dengan diriku sendiri untuk membenci setiap dokter. Bahkan sejak awal ingin ke sini saja aku enggan sekali".
.
.
.
" Bagaimana? Apa dia sedang mendekati seorang lelaki?".
Tanya Jay yang kini tengah duduk bersama Sunghoon dan Gyuri di sebuah Cafetaria tengah Kota.
" Ya! Untuk apa kau menanyakan ini? Kau masih mencintai Yebin? Usaha saja! Jangan membawa-bawa lelaki lain!".
Jawab Gyuri yang kali ini dengan serius.
" Tumben sekali kau galak seperti ini".
Tanya Sunghoon dengan berbisik ke Gyuri.
" Namanya juga untuk sahabat, harus sangar".
" Hahah baiklah".
" Ya!! Aku setuju!". Jawab Sunghoon dengan lantang kemudian mendapat pukulan di lengannya oleh Gyuri.
" Buat kata-kata yang lain, jangan apa-apa setuju saja!". Celetuk Gyuri.
" Sudah! Sudah! Aku hanya mempertanyakan soal sederhana, kenapa repot sekali?". Tanya Jay kembali.
" Kau yang sadar diri. Jika kau memang mencintai dia, ya nyatakan!".
Jawab Sunghoon dengan jantan.
" Aku suka gayamu!". Sorak Gyuri.
" Hanya gaya? Diriku?".
" Jangan mengada-ada, hatiku hanya untuk Beomgyu oppa semata".
" AKU SERIUS!!!".
Kali ini Jay menggertak meja karena merasa ia sedari tadi hanya diajak bercanda.
" Santai brader, jangan terlalu serius nanti masalah hidupmu semakin banyak".
" Benar itu Park Jong Seong!".
" Ah sudahla! Aku cari tahu sendiri. Tak ada gunanya menanyakannya ke kalian!".
Jay pun beranjak pergi dari Cafetaria tersebut.
" Gawat jika Jay tahu Yebin sedang kasmaran dengan sahabat lamanya Beomgyu oppa!".
" Yaa, bisa-bisa terjadi perang dunia".
" Makanya. Kita harus awasi Jay".
" Okay!".
-
^^^Continued ...^^^