Angel & Devil TXT

Angel & Devil TXT
Goodbye Mom and Dad.



...- Happy Reading -...


^^^



Minhyuk Nayeon ^^^


 


Yebin POV :


Aku Choi Yebin, aku merupakan adik bungsu dari Choi bersaudara. Pertama Choi Yeonjun, kedua Choi Soobin dan yang di atas ku Choi Beomgyu.


Aku merasa layaknya seorang tuan puteri karena berada diantara mereka, saudara-saudara yang selalu memanjakan ku, namun juga sedikit menyebalkan.


Mereka sangat random, kadang membuatku kesal, emosi bahkan pernah membuatku sampai menangis tapi semuanya tertutupi dengan rasa sayang mereka padaku.


Im a princess, mereka tak pernah menolak apapun permintaanku.


" Appa dan eomaa akan pulang sebentar lagi, jangan takut ya".


Ucap Papaku dari telfon. Jujur aku memang penakut apalagi sendirian di rumah yang begitu besar, para pelayan tentunya sedang beristirahat dan tidak mungkin aku mengganggu mereka apalagi mereka berada di lantai bawah sedangkan aku ada di lantai atas, aku sangat takut untuk menuju ke bawah.


Duarrr!!!!


Kilat petir bercahaya sekejap menerangi langit malam. Tentunya aku semakin takut, dua abang tertuaku masih sibuk bekerja di Kantor sedangkan yang satu lagi masih di rumah Nenek karena beliau sedang sakit dan perlu ditemani. Sebenarnya aku ingin ikut tapi besok aku harus ke Kampus.


.


.


.


Sudah 3 jam lamanya aku menunggu kedatangan orangtuaku, sedari tadi aku hanya berdiam diri di kamar. Sebenarnya aku ada pengalaman buruk dengan lantai dua rumah kami, sewaktu SMP aku pernah merasa ada yang bicara tanpa wujud ketika aku hendak berjalan menuju kamarku. Sejak saat itulah aku jadi ketakutan dan tidak mau lagi ke lantai dua jika sudah larut malam seperti ini.


Toktotkok!!!


" Siapa?!!!".


" Jumaa Dami".


Aku pun keluar kala bibi Dami memanggilku, apalagi larut begini, pasti sangat penting.


" Ada apa?".


" Nyonya dan tuannn..,


Belum siap ia bicara, air matanya sudah lebih dulu mengucur.


" Jumaa, tenang dulu setelah itu baru cerita".


" Begini ..,


" Nyonya dan tuan ..


Kemudian ada sopir pribadi rumah kami datang dengan tergesa-gesa dan raut wajah yang sama dengan bibi Dami, aku mengerutkan kening melihat mereka.


" Tuan dan nyonya mengalami kecelakaan dan kini sedang dilarikan ke rumah sakit". Ucap sopir tersebut.


Aku tidak tahu harus bagaimana, badanku kaku, bibirku bergetar, mataku mulai berair dan tanganku mulai dingin.


" Appaaa? Eomaaaa? Andwaeeee!!!!!!!".


.


.


.


Sesampainya aku di rumah sakit, aku segera mencari keberadaan mereka dan ternyata dokter masih sibuk memeriksa. Aku berdoa agar mereka selamat.


Ketiga abang ku masih belum bisa dihubungi sehingga aku terpaksa menunggu bersama salah seorang pelayan rumah dan sopir pribadi kami.


Setelah 20 menit lamanya, sang dokter pun keluar dan menghadap ke arahku.


" Tadi mereka sempat sadar tapi 13 menit setelah itu mereka telah kehilangan nyawa. Mereka memang dalam keadaan yang sangat parah bahkan beberapa bagian tubuh nyonya Choi banyak yang patah dan isi kepala tuan Choi pun keluar".


Tragis.


Kecelakaan yang mereka alami adalah kecelakaan maut akibat kecepatan tinggi dan berada di jalanan licin akibat curah hujan yang mengenai jalanan.


Aku berteriak dan memaki dokter tersebut.


Seharusnya 13 menit itu bisa ku gunakan untuk bertemu dengan mereka.


" Dan tadi dokter salah melakukan penanganan, beliau lalai, beliau tidak mengecek kondisi jantungnya terlebih dahulu sehingga kami terlambat". Ujar salah seorang Perawat yang baru saja keluar.


Mataku kini berfokus kepada dokter yang mukanya tampak terkejut mendengar pengakuan perawat tersebut.


" Tidak! Bukan begitu. Memang sudah takdirnya begitu".


" Dokter! Saya ini Perawat! Asisten anda juga! Saya melihat dengan jelas bagaimana aksi anda terhadap tubuh sepasang suami isteri itu. Sangat disayangkan, dan bodohnya saya telat memahaminya bahwa kau ingin mencelakai mereka, kan?!".


" Sekali lagi itu bukan salah saya, sudah prosedurnya seperti itu".


" DIAMMM!!!!!!!!.".


" KAU! KAU DOKTER TAPI LALAI! KETERLALUAN!!! APA KAU BISA GANTI SEMUA INI HAH?".


" Maaf dokter, saya terpaksa harus memberitahukan ini. Dua pasien tersebut meninggal karena tabung oksigennya kosong, dan itu sepertiga disengaja oleh dokter". Ujar seorang Perawat laki-laki yang baru keluar.


" Hah?! Apalagi ini?!!!! Keterlaluan! Aku akan tuntut kalian, paham?!!! Terutama kau!!!."


Aku memaki habis sang dokter yang tampaknya menyepelekan kondisi orangtuaku dan merasa tidak bersalah sama sekali meski dua Perawat tadi sudah angkat bicara.


.


.


.



.


.


Di acara prosesi pemakaman kedua orangtuaku, aku dipeluk erat oleh ketiga abangku. Aku juga dapat merasakan tetesan air mata yang membasahi sekujur tubuhku, dan pastinya itu air mata mereka bertiga.


Setelah prosesi pemakaman, abang tertua kami kembali memeluk.


" Orang-orang yang aku sayangi harus bersamaku selamanya, termasuk kalian bertiga, jangan merasa sepi, ya. Ada aku di sini untuk kalian."


Ujar abang tertua kami, sembari menarik kami semua ke dalam dekapannya.


Sejak saat itu aku sangat membenci profesi dokter. Di mataku semua dokter sama saja, hanya menginginkan uang, saat nyawa pasien ada yang sudah melayang pun masih sempat mengatakan


" mengikuti prosedur".


Sungguh, bagiku tidak ada dokter yang tulus di muka bumi ini.


Dan dari sinilah cerita baruku bermula ...


END POV


.


.


.


* Andwae : Tidak/Jangan.


*Oppa : Panggilan adik perempuan kepada saudara laki-laki.


*Juma : Ahjumma (bibi)


^^^continued ...^^^