
...- Happy Reading -...
Seoul City, 2019
.
.
Pagi itu Yebin diantar oleh Beomgyu karena kebetulan tujuan mereka searah.
" Sebentar lagi kamu akan lulus, Yeonjun hyung akan menikah, Soobin hyung akan lamaran. Hah! Kalian semua akan memiliki kisah baru".
Keluh Beomgyu yang merasa dirinya yang masih stuck di situ saja.
" Jangan sedih, setelah aku wisuda kita liburan ke Jepang! Oke?".
Beomgyu mengangguk kecil, terkadang Yebin suka heran, siapa sebenarnya yang lebih tua, Beomgyu apa dirinya? Kenapa kelakuan abangnya yang satu itu lebih menggemaskan daripada dirinya.
" Ya sudah, aku balik dulu ya! Jaga dirimu baik-baik".
" Iyaa chagii".
" Heh!".
" Hahahahahah".
Beomgyu pun pergi meninggalkan area Kampus Yebin.
.
.
.
Sebenarnya Yebin tidak ada kelas lagi karena ia kini hanya tinggal menyelesaikan tugas akhir. Tapi kebetulan pagi itu ia seperti ada sesi kelas tambahan yakni sebagai ide dalam penelitian mereka untuk skripsi nanti.
" Baiklah ananda semuanya, hari ini kita akan membahas tentang kasus kriminal yang sangat legendaris atau sangat populer. Apakah kalian ada yang bisa memberikan contoh? Atau cerita mengenai pengalaman kalian?."
Kemudian seorang mahasiswi berdiri dan segala sorot mata pun tertuju padanya.
" Saya Pak. Saya pernah mendengar tentang mafia yang bermuara di Amerika. Awalnya saya kira itu hanyalah fiksi semata di sebuah novel ataupun sekedar mitos belaka tentang keberadaan mereka, mengingat betapa brutalnya mereka. Tapi setelah saya melihatnya, sungguh ini sangat mengejutkan Pak. Para mafia itu membunuh orang-orang yang tak mengikuti perkataan mereka dengan berbagai senjata. Bahkan terjadi huru-hara kala itu juga, itu adalah pengalaman yang tak akan terlupakan bagi saya".
Semua mahasiswa pun tercengang mendengar cerita salah seorang teman mereka itu.
" Mafia? Yang di drama Vicenzo bukan?".
Bisik Yebin kepada Gyuri.
" Iyaaa, kenapa? Kau akan berpikir omongan dia itu bohong lantaran di Vicenzo mafianya tampan?".
" Iyaa, ku rasa tidak. Masa wajah setampan itu membunuh secara brutal".
" Haduh Yebin! Kau ini korban drama. Ah sudahla, lupakan".
" Hahahah aku kan cuma bertanya. Tapi itu di Amerika kan? Di sini aman kan?".
" Ku rasa iya aman".
" Wah pengalamanmu sungguh menyeramkan, oke. Selanjutnya siapa?".
Kemudian seorang pemuda yang duduk di pojok kelas paling belakang berdiri sehingga seluruh atensi ruangan tersebut beralih kepadanya.
" Dia niat kuliah apa tidak?". Heran Yebin
" Sepertinya tidak besti".
" Jopok".
Sebut lelaki itu dengan singkat dan raut wajah yang datar.
" Jopok? Apa itu?".
" Mafia juga?".
" Ha? Jopok?".
Semua mahasiswa di ruangan tersebut terheran-heran dengan nama yang disebutkan oleh pemuda itu.
" Jopok? Ah ku dengar sudah tidak ada di negara kita. Tapi jika kau ada pengalaman dengan jopok itu silahkan ceritakan saja".
" Iya, saya ada kisah buruk dengan kumpulan jopok, mafia yang ada di negara kita ini. Mereka tidak kalah menyeramkan dari Yakuza. Mereka seperti saudara".
Yebin diam-diam mencoba search di internet mengenai topik tersebut.
" Appa saya pernah tidak sengaja membunuh orangtua anggota Jopok era baru ini. Sebagai balasannya, mereka bergerombolan ke mari untuk balas dendam dan melakukan aksi kriminal lainnya demi mencapai kejayaan mereka ...
Belum selesai pemuda itu bercerita tiba-tiba ada bunyi ledakan di lantai utama, semua mahasiswa sibuk melihat ke arah sumber suara. Namun saat disadari ternyata pemuda yang menceritakan tentang jopok tadi tewas ditempat dan ada dua pisau yang melekat di perutnya.
Suara tembakan pun terdengar dari ruangan audit kampus, sontak saja seisi ruangan histeris dan ketakutan, mereka pun berlari keluar gedung dan berusaha untuk menyelamatkan diri.
Di sela-sela itu, Yebin didekap oleh seseorang dan dibawanya pergi menjauh dari area tersebut.
" Lepas!!!!!".
Yebin mendorong tubuh pemuda itu.
" Jay?".
Ternyata Jay yang membawanya menjauh dari area berbahaya tadi.
" Kau tidak apa-apa kan? Apa kau terkena tembakannya?". Tanya Jay dengan panik.
" Tidak, aku baik-baik saja. Terima kasih".
Jay menahan tangan Yebin kala gadis itu hendak pergi meninggalkan dirinya.
Sepasang bola mata mereka saling bertatapan dengan penuh kerinduan, penyesalan dan kekecewaan.
" Lepas!".
" Tidak. Kapan lagi aku bisa menyentuhmu lagi seperti ini? Bukankah ini kesempatan untukku menjelaskan semuanya?".
" Menjelaskan semuanya? Menjelaskan apa? Fakta atau mitos?! Sudahla! Aku sedang sibuk dengan urusan kuliah! Jangan ganggu aku lagi! Sana!".
Jay tak pantang menyerah, ia langsung memeluk Yebin dengan erat.
" Aku akui aku salah, tapi aku mohon jangan hukum aku dengan jarak ini. Kamu tahu kan bahwa aku mencintaimu? Sampai kapan kita akan begini?".
" Selamanya".
Yebin melepas paksa pelukan tersebut dan pergi meninggalkan lelaki yang sekarang sudah berstatus mantan kekasihnya.
.
.
.
Andaikan Jay tidak berprilaku seperti itu, mungkin ia masih menjadi lelaki yang dicintai oleh Yebin.
Flashback on.
Jay dan Yebin tengah berjalan santai di taman pusat Kota Seoul, yakni taman Seoullo 7017 skygarden.
Selama mereka bersantai dengan pemandangan di sana, Jay selalu sibuk dengan ponsel genggamnya bahkan ia mengabaikan isi curahan hati Yebin yang saat itu tengah bertengkar ringan dengan Gyuri.
" Aku kesal! Gyuri selalu susah diajak. Padahal aku kan ingin jalan-jalan bersamanya. Huftt .., untuk modus ke Beomgyu oppa saja dia kuat, tiba aku ajak jalan dia malah selalu menolak. Menyebalkan!".
Yebin menoleh ke Jay yang sejak tadi tidak merespon perkataanya.
" Iyaa baik-baik".
" Jay?!".
Namun Jay masih sibuk dengan telponan tersebut.
" Park Jong Seong!!!".
Jay pun mematikan telponan tersebut dan kembali berfokus kepada kekasihnya.
" Waee Chagii? Eumm? Kenapa?".
Biasanya Yebin akan melting dengan panggilan itu, tapi tidak lagi sejak saat itu. Ia sudah muak dengan tingkah Jay yang bersikap manis kala setelah melakukan kesalahan, bahkan maaf pun tidak ia ujarkan. Padahal Yebin hanya ingin Jay fokus padanya, jika Jay memang tidak bisa diganggu kenapa ia malah mengajak pergi? Ini sama saja ia tidak menghargai waktu diantara mereka.
" Aku muak! Aku mau pulang".
Yebin pun pergi dan segera mencari taksi.
" Yebin!!! Yebinn-ahh!!! Tunggu!!!".
Jay berlari mengejar gadis itu dan berusaha menahannya.
" Tunggu!".
" Aku muak Jay! Ini bukan sekali, dua kali kamu bersikap bodoh seperti ini kepadaku! Ini sudah kesekian kalinya. Aku kan selalu bilang sama kamu, jika kamu sibuk kita bisa cari waktu yang lain. Aku tidak suka jika kamu tidak menghargai waktu kita seperti ini, padahal aku kan tidak pernah memaksa untuk kita saling bertemu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu, apakah itu sulit bagimu?".
" Chagii .., ada sebuah masalah yang tidak bisa aku ceritakan dan ini penting. Aku tidak bisa membiarkannya dan di sisi lain aku juga ingin menghabiskan waktu bersama kamu, apalagi sejak awal pacaran kita jarang sekali ada waktu bersama seperti ini".
" Masalah? Masalah apa?".
Jay hanya menunduk diam.
" Kau bahkan tidak mau menceritakannya kepadaku. Sudahla, abaikan saja. Sepertinya aku tidak dipercaya olehmu lagi".
Yebin melepaskan pegangan Jay secara perlahan.
" Kita hentikan sejenak hubungan ini hingga kamu memercayai ku. Oke?".
Yebin pun pergi menaiki sebuah taksi, sementara itu Jay hanya bisa terdiam dan meneteskan air matanya.
" Aku bersumpah, suatu saat aku akan mendapatkan dirimu kembali. Apapun caranya".
Berselang beberapa hari setelah itu, tersebar rumor bahwa Jay dijodohkan dengan teman rekan bisnis Papanya yang kebetulan merupakan seorang CEO dari perusahaan yang terkemuka di Korea Selatan.
" Jangan sedih, aku yakin itu hanya berita palsu. Jay hanya mencintaimu. Aku yakin itu".
Ujar Sunghoon yang berusaha menguatkan Yebin.
" Aku sedang malas membahas tentang dia".
Yebin pun pergi dan menyisakan Sunghoon, Jake serta Gyuri. Kebetulan setelah semua mata kuliah selesai, Jake mentraktir mereka di kantin kampus.
" Kenapa kau malah membahasnya sih!".
Kesal Jake.
" Aku kira ia masih bisa diberitahu".
Balas Sunghoon dengan polos.
" Aku tahu niat baikmu, tapi niat baikmu salah sasaran". Ucap Gyuri yang akhirnya menyusul Yebin.
.
.
.
" Ini kan masalah yang tidak bisa kamu jelaskan ke aku". Tanya Yebin secara tiba-tiba kepada Jay yang tengah duduk bersama adiknya di perpustakaan, Park Jungwon.
" Yebin? Andwaee, maksudnya rumor itu? Bukan! Itu hanya berita palsu".
" Iya Noona, itu hanya berita palsu, aku bisa menjaminnya".
Ucap Jungwon untuk membela abangnya.
" Oh ya? Lalu ini?!".
Yebin memperlihatkan foto Jay yang sedang berduaan dengan seorang gadis cantik di apartemennya.
" Kau bahkan tidak pernah mengajak ku ke tempat privasi ini. Apalagi jika bukan tanda bahwa hubungan kalian memang sudah jauh?".
Flashback off.
Sejak saat itulah hubungan mereka tampaknya akan sulit untuk diperbaiki.
.
.
.
* Hyung : Panggilan adik laki-laki kepada kakak laki-laki.
*Noona : Panggilan dari adik laki-laki kepada kakak perempuan.
*Oppa : panggilan dari adik perempuan kepada kakak laki-laki.
*Chagii : Sayang
*Andwae : Tidak/Jangan.
^^^continued...^^^