
...- Happy Reading -...
" permisa baru saja terjadi aksi penembakan di provinsi Gangwon. Diduga dibalik peristiwa ini adalah pergerakan dari Jopok yang memang belakangan ini sedang ramai diperbincangkan. Ada banyak warga yang menjadi korban dan salah satunya adalah pemimpin baru dari Perusahaan Choi Gamya, yakni Choi Yeonjun.
Menurut laporan, jasad pemimpin baru itu ditemukan dalam kondisi yang sangat parah dengan beberapa bekas tembakan di bagian dada, kepala dan pinggang ...
Siaran berita televisi menyebarkan informasi terkait kejahatan yang baru dilakukan oleh kaum Jopok.
Di sisi lain, Bora tengah duduk di ruang televisi dan menyaksikan berita tersebut dan seketika ia mengingat keberadaan Yeonjun tadi pagi yang masih berada di sampingnya.
" Tapi ..,
'" Yeobooo, doakan saja aku ya. Aku janji akan ingat selalu pesan kamu. Tidak boleh telat makan, benar kan?."
"Iyaa, benar. Tapi aku khawatir denganmu."
" Khawatir apa? Aku akan baik baik saja, aku janji."
-
Akhirnya jasad Yeonjun dikembalikan ke rumah duka setelah dilakukan pemeriksaan dan juga pembersihan di rumah sakit bahkan ditangani langsung oleh Taehyun.
Saat berita itu disebar, posisi Yebin tengah bersama Taehyun di Kantin Rumah Sakit. Mereka menyaksikan berita itu di televisi yang ada di sana dan Yebin juga mendapat panggilan dari Soobin untuk segera pulang.
Dadanya sesak setelah tahu bahwa abang tertuanya menjadi korban dalam aksi penembakan oleh pasukan Jopok itu. la tak bisa berkata apapun selain berteriak menyebut nama abangnya itu.
Sementara itu kondisi Bora drop setelah ia mendengar kabar itu lewat siaran tv, beruntungnya Nagyung datang tepat waktu dan berusaha menyadarkan Bora yang tengah dibaringkan di ranjangnya.
Namun saat jasad Yeonjun telah sampai di rumah mereka, Bora pun berhasil disadarkan meski langkah kakinya masih kacau.
la menangis histeris mengingat betapa singkatnya umur pernikahan mereka, ia sangat terpukul atas kepergian sang suami yang dicintainya. Kini sudah tidak ada lagi teman hidupnya.
"Bora, aku akan selalu ada di sini bersamamu, hendaknya maut menjemput aku hanya ingin bersamamu. Aku ingin seperi Mama dan Papaku, mengakhiri segalanya bersama-sama. Tapi jika Tuhan lebih dulu menjemput ku, kau tak perlu membunuh dirimu. Aku akan tetap bahagia meski harus berpisah alam denganmu. Mengerti?."
Sekarang Bora paham kenapa Yeonjun berbicara seperti itu. Ternyata Yeonjun sudah membaca rencana Tuhan sehingga ia sudah mengingatkan Bora sejak awal pernikahan mereka.
Bora tidak bisa berbuat apa-apa selain ikhlas dan sabar dalam menghadapi semuanya. 7 hari adalah waktu yang singkat, tapi setidaknya ia sudah mengenal sejak lama sosok lelaki yang kini ia panggil dengan sebutan "yeoboo."
"Aku berusaha ikhlas. Nantikan aku di sana! Tunggu akuuu!!!."
Bora menangisi jasad Yeonjun yang masih berada di dalam peti.
Kemudian Bora menghiasi Yeonjun, memakaikan seragam yang rapi, memberinya bedak serta sedikit pewarna bibir agar terlihat segar.
Rencananya Yeonjun akan dimakamkan karena mengingat di leher Yeonjun masih ada kalung berleontin isi abu jenazah orangtuanya. mereka ingin mengenang ketiga-tiganya dalam satu makam.
.
.
.
Malamnya, Taehyun membawa Yebin ke pinggiran Sungai Han. Tempat di mana orangtuanya mengalami kecelakaan maut kala itu.
" Eomma, appa! Yeonjun oppa sudah sama kalian sekarang. Kalian bahagia? Kalau kalian bahagia, tolong mampir ke mimpiku ya. Ah iya satu lagi, tadi Yeonjun oppa sangat tampan sekali di dalam peti itu, seperti bukan orang mati. Hahah appa pasti dengan percaya dirinya akan berkata bahwa itu hal wajar karena ia adalah anak appa, ya kan?".
Yebin sibuk mengoceh seorang diri, menghadap ke jalanan tersebut dengan mata yang sudah sangat sembab dan memerah. Kemudian ia membalik ke arah Sungai dan menemukan manik Taehyun.
" Begini kisah Keluargaku. Mereka semua terlalu baik, makanya seperti ini."
Taehyun menyentuh pundak Yebin.
" kau memahami kondisiku?".
"tentu!".
"sungguh?!".
"iya".
Karena merasa tidak sanggup menatap Yebin, Taehyun pun membalikkan badannya mengarah ke Sungai.
" Beberapa waktu lalu, adikku juga meninggal. Ia juga tertembak sama seperti Yeonjun hyung."
Yebin mencoba meraih tangan Taehyun, ia yakin pemuda bermarga Kang itu pasti sedang menahan tangisnya karena suaranya sudah sangat bergetar.
Namun niat Yebin gagal karena ia masih berpikiran untuk menjaga jarak dengan Taehyun, ia masih egois pada dirinya sendiri.
Taehyun pun duduk dan menatap Sungai Han tersebut.
"Aku gagal menjadi hyung yang baik untuknya."
Yebin mencoba mengabaikan keegoisan pada dirinya dan ikut duduk di samping Taehyun. la membawa Taehyun pada dekapannya. Menurutnya, baik ia dan Taehyun yang diperlukan sekarang hanyalah pelukan, dekapan dan sentuhan tulus.
Mereka berdua terdiam sejenak seakan-akan telah menemukan obat dari kesedihan masing masing.
" Karena itulah mengapa aku terlambat datang saat halmi mu akan di cek, maafkan aku".
" Ah andweee! Justru memang seperti itu. Kalau aku tahu kau terlambat karena mengurusi adikmu dulu, aku pasti tidak akan marah. Justru aku yang terlalu aneh, bisa-bisanya membenci seorang dokter seperti mu. Kau masih menyempatkan diri untuk datang ke rumah sakit dan mengabdi pada para pasien mu, padahal jasad adikmu pasti lebih membutuhkan mu, kau hebat!".
"Yebinn-shii!".
" Nee?".
" Berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa kau bisa mengobati lukamu sendiri."
" Andwee!!!."
Taehyun menoleh ke Yebin dengan bingung.
" Jangan pakai panggilan itu bodoh! Kan kita sudah kenal dekat." Taehyun terkekeh kecil.
"Jika aku bodoh, lalu kau apa?."
"Maksudmu?."
" Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau aneh, bahkan kau itu lebih aneh dariku. Membenci semua dokter hanya karena satu dokter, menjaga jarak denganku nyatanya sekarang kau perlahan-lahan mulai terbuka denganku. Apa itu tidak bodoh?."
"Bodoh si, tapi sedikit."
Mereka berdua pun tertawa lepas setelahnya.
Kemudian mereka berdua baru saling menyadari, ada sedikit rasa yang terselip malam itu. tapi kedua-duanya masih mengabaikan dan menganggap itu adalah hal biasa.
.
.
.
" Aku tidak mau larut seperti ini, permainanku belum selesai ".
^^^continued ....^^^