
...- Happy Reading -...
Sudah satu Minggu. Layaknya seperti keluarga Cemara, rumah keluarga Choi tampak hidup kembali dengan kehadiran Bora.
Pagi itu Bora benar-benar berperan sebagai ibu pengganti untuk para adik iparnya. Ia membangunkan semua adik iparnya, menyuruh mereka mandi cepat, menyiapkan sarapan serta membereskan rumah. Meski tak seorang diri, ada pelayan yang membantu.
" Ayoo semuanya!!! Turun!!! Kita sarapan dulu!!". Sorak Bora untuk menyuruh Choi bersaudara mendatangi meja makan.
Dengan tubuh yang sempoyongan akibat masih mengantuk, Yebin pun dijemput oleh Bora dan dibantu duduk di kursi makan.
" Ayo, ayo semuanya. Sebelum berkegiatan hari ini kalian harus sarapan. Sarapan bersama, tidak ada yang sarapan di kamar. Paham?!".
Bora tampak menyindir Beomgyu dan Yebin yang memang malas sekali untuk turun ke meja makan. Balasan dari dua adik ipar bungsunya itupun hanya dengan cengengesan.
" Hari ini aku akan pulang malam, karena kejadian Minggu lalu ada banyak pemimpin perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan ku, meninggal. Jadi kami harus berdiskusi untuk kinerja kedepannya".
Tangan Bora mendadak dingin dan dadanya kembali sesak, sama saat di hari pernikahan mereka Minggu lalu.
" Eumm tapi kau akan makan siang di rumah kan?".
" Tidak yeobooo, aku akan makan di restoran sahabatku saja. Kebetulan dekat dari kantor dan aku memang sering berlangganan di sana".
" Jangan khawatir Noona, Yeonjun hyung bukan bayi, dia bisa mengurusi dirinya sendiri. Jika ia lapar, ia pasti akan makan. Tenang saja". Ujar Soobin menenangkan kakak iparnya.
" Tapi ...
" Yeobooo, doakan saja aku ya. Aku janji akan ingat selalu pesan kamu. Tidak boleh telat makan, benar kan?".
" Iya, benar. Tapi aku khawatir denganmu".
" Khawatir apa? Aku akan baik-baik saja, aku janji ".
Bora hanya diam dan memandangi suaminya itu.
" Tenang unniee, kan dia sudah janji padamu. Pasti akan ia penuhi, ia tidak pernah ingkar janji pada siapapun ". Kini Yebin angkat bicara.
Sebenarnya dalam hati Soobin, Beomgyu dan Yebin memang ada kekhawatiran itu juga tapi apa boleh buat? Jika mereka khawatir maka Bora akan semakin khawatir.
" Unniee! Bagaimana jika nanti kita shopping setelah aku selesai bimbingan?". Ajakan Yebin untuk memecahkan suasana.
" Ah iya nanti kamu jemput saja Yebin dan pergi kemana saja yang kalian mau. Oke? Jangan khawatir, aku akan menghubungi mu nanti".
Akhirnya Bora mengangguk setuju dan berusaha menghilangkan kecemasannya.
.
.
.
Setelah selesai bimbingan, kini Yebin tengah menunggu jemputan kakak iparnya. Ia menunggu di dekat parkiran fakultasnya.
Kemudian ada sebuah mobil BMW tipe 320i berwarna putih berhenti di depan Yebin. Yebin pun menyerngit bingung.
" Yebin-shiii!".
Ternyata pemilik mobil itu adalah Kang Taehyun. Yebin pun memutar malas bola matanya.
" Kau!!".
" Kau pasti baru selesai bimbingan. Aku kesini ingin menjemputmu. Tadi kakak ipar mu bilang ia sedang tidak bisa keluar".
" Aku tidak percaya".
" Ya sudah, kau telpon saja dan tanyakan langsung padanya".
Ternyata benar, Bora yang meminta Taehyun untuk menjemputnya. Sebenarnya ia paham dengan trik Bora, agar ia dan Taehyun bisa lebih dekat lagi.
" Tidak, aku naik angkutan umum saja".
Yebin pun menjauh dari Taehyun dan berharap akan ada taksi yang berhenti di sana.
" Bukannya kau sedang mencari tahu tentang jopok?".
Yebin pun menoleh ke Taehyun kemudian mendekat ke lelaki itu dengan memasang wajah yang penasaran.
" Tahu apa kau?!".
" Sudah ku bilang, aku tahu banyak hal tentang mereka. Mereka adalah pasienku".
" Hah?!".
" Iya, pasien ku akan menjadi sumber bahan skripsi mu karna mereka sudah bertemu dengan pasukan jopok itu".
" Jadi? Kejadian Minggu lalu benar-benar ulah kaum mereka?".
" Iya".
Yebin pun menjadi malu sekarang. Ia sebenarnya butuh Taehyun tapi ia juga membenci Taehyun. Rasanya ingin sekali ia membelah diri.
" Yebin-shiii?!!".
" Eummm ya?".
" Bagaimana? Apa kau mau pulang bersamaku? Aku juga bisa membantumu untuk bertanya kepada para pasien ku".
" Ah iyaaaiyaa!! Boleh! Tapi ...,
" Kau masih meragukan apa? Kau masih ragu aku ini jahat atau baik? Iya?".
" Beritahu ke aku siapa dokter itu. Biar aku selesaikan masalahnya".
" Dia sudah menghilang sejak kejadian itu. Makanya!!! Bisa saja kau anaknya kan?! Aku jadi mengkhawatirkan halmi ku".
Taehyun mencubit gemas pipi Yebin hingga wajah gadis itu memerah karena terbawa perasaan dalam sekejap.
" Iss kau ini!". Kesal Yebin yang masih jual mahal.
" Kau selalu berpikiran buruk, aku jadi khawatir dengan kesehatanmu". Ledekan Taehyun.
" Yaaa!!! Jangan seperti itu! Mentang-mentang kau dokter seenaknya mengatakan tentang kesehatan".
" Aku hanya berbicara fakta. Ah ya sudah bagaimana? Mau?".
Yebin berpikir selama 30 menit dan Taehyun masih setia menunggu.
" Oke".
Balas Yebin yang akhirnya setuju, sebenarnya ia sudah mulai menerima Taehyun apalagi ia sangat rindu dengan gaya awal pertemuan mereka. Rasanya ingin sekali ia kembali ke masa itu, masa di mana ia tidak mengenal Taehyun sebelumnya.
.
.
.
Selama di perjalanan mereka hanya saling berdiam-diaman. Taehyun fokus menyetir dan Yebin sibuk bermain dengan ponselnya sehingga ia merasa suntuk dan menoleh ke Taehyun.
" Kenapa?".
Yebin pun tertegun kala Taehyun sadar jika ia memperhatikan lelaki berhidung mancung itu.
" Tak apa-apa".
" Lalu kenapa menatapku seperti itu?".
" Menatap apanya?! Aku hanya melihat pemandangan di kaca jendelamu saja".
Taehyun terkekeh pelan mendengarnya.
" Makanya kalau menatap seseorang tapi tidak mau orang tersebut sadar, jangan frontal. Sangat jelas kau memandangiku, bukan kaca jendelaku".
" Percaya diri sekali kau wahai Kang Taehyun!".
" Pasti, karena sejak awal kau selalu menatap seperti itu. Jadi kau menatapku atau tidak?".
" Astagah!! Ternyata dari awal dia sudah tahu kalau aku suka menatapnya? Bahkan ia paham dengan tatapanku". Herannya membatin.
Akhirnya Yebin terdiam karena sudah menahan malu, kembali lagi ia merasakan Tremor dan ingin menghilang saat itu juga.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Yebin segera diajak Taehyun menuju ruang rawat pasien yang masih dalam kondisi stabil karena nanti akan ditanya-tanya oleh Yebin jadi harus memerlukan pasien yang dirasa sanggup untuk berbicara guna memenuhi tugas Yebin.
" Dia belum sembuh total, tapi bibirnya sudah bisa berbicara lancar. Kau tanyakan saja sewajarnya saja, jangan memancing emosinya". Peringatan dari dokter Taehyun.
" Oke".
" Aku tinggal dulu, ada pasien lain yang menungguku. Nanti kalau sudah, kau tunggu saja di ruanganku".
" Tapi aku tidaaaak ...
" Tanya saja nanti ke perawat di mana letak ruangan ku. Aku pergi dulu, permisi".
Taehyun pun pergi dengan terburu-buru meninggalkan Yebin di ruangan tersebut bersama lelaki tua yang merupakan seorang CEO salah satu perusahaan mekanik terbaik di negara itu.
Yebin pun duduk dengan takut, dalam pikirannya melayang kata " pedofil". Tapi ia berusaha mengingat kata Taehyun " jangan berpikiran buruk".
" Duduk saja, aku bukan penjahat".
Saat di rasa lelaki tua itu ternyata baik dan ramah serta senyumannya yang tidak mengundang kecurigaan maka Yebin pun mau duduk dan menghadap jelas ke lelaki tua itu.
" Ada keperluan apa?".
" Aku mahasiswa dari Seoul Nasional University jurusan sosiologi. Eummm saya di sini ingin menanyakan beberapa hal kepada bapak mengenai penyerangan oleh jopok. Ah sebelumnya saya tidak menonton berita jadi saya baru tahu dari dokter Taehyun bahwa kejadian Minggu lalu adalah ulah dari kumpulan tersebut. Apa bapak bisa jelaskan kronologinya kepada saya?".
Lelaki tua itu hanya tersenyum sehingga Yebin pun menjadi bingung.
" Eumm pak? Bapak kenaaa ...
" Mereka menyerang kami tiba-tiba, mereka datang bergerombolan, tidak memakai pengawal tapi para pemimpinnya yang turun langsung. Mereka menyebar ke berbagai perusahaan untuk menikam para pemimpin seperti saya. Hingga akhirnya di sinilah saya saat ini, terbaring di rumah sakit. Jika kamu bertanya apa tujuan mereka, mereka menginginkan kekuasaan tapi sejak mereka pindah ke Amerika sudah jarang sekali terdengar nama mereka. Hanya satu yang saya tangkap bahwa mereka ingin para pemimpin dan bos-bos besar itu mati di tangan mereka. Mereka ingin ada tumbal, harta serta dendam yang terbalaskan. Hanya itu yang bisa saya beritahu".
Yebin terdiam setelahnya, mengingat Yeonjun kini juga merupakan seorang pemimpin perusahaan.
" Kau tak perlu takut, dokter Taehyun pasti bisa melindungi mu. Apakah kalian sepasang kekasih?".
Mata Yebin pun membulat.
" Hahah kau memilih pasangan yang tepat. Ia pasti akan melindungi mu, percayalah".
Yebin semakin bertanya-tanya dengan ungkapan pasien tersebut, seperti ada yang tersirat dibalik kata-katanya.
^^^Be continued -^^^