
"Bere ng sek, akan kuhancurkan perusahaan milikmu itu." ancam briyan tidak terima di bilang bodoh dan tuli oleh Giyo alias Gia.
"Coba saja kalau kau bisa, dasar pria sombong " sahut Gia menyeringai.
Meskipun Briyan dan Gia saling adu mulut, akan tetapi mereka tetap kompak bekerja sama mengalahkan para pembunuh bayaran itu.
Setelah cukup terkuras tenaga membuat para musuh tergeletak tidak berdaya.
Briyan melirik Gia yang terlihat senang karena bisa mengalahkan mereka semua.
Briyan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Gia.
padahal nyawanya mereka berdua hampir di buat melayang para pembunuh bayaran itu. tapi tidak dengan Gia yang terlihat seperti permainan saja.
segera Briyan mendekati salah satu dari mereka yang tergeletak tidak berdaya sembari menahan sakit yang amat luar biasa.
Lalu menarik paksa kerah baju orang itu hingga terduduk di depan briyan.
"Siapa yang sudah menyuruh mu, cepat katakan?" tanya briyan dengan kesal. namun pria itu hanya berwajah semakin pucat
"Kenapa diam saja,cepat katakan!" lanjut briyan penuh penekanan.
"A....a... aku tidak tahu Apa-apa?" sahut musuh itu berkilah.
"Berani-beraninya kau berpura-pura tidak tahu, kalau begitu langsung saja akan ku kirim nyawa mu ke Neraka jaha nam" seloroh Briyan sambil memainkan sebilah pisau belati di leher musuh.
orang itu begitu ketakutan sampai tubuh nya gemetar.
"A...am... ampun tuan, aku mohon ampuni nyawaku, aku mohon biarkan aku hidup" pinta pembunuhan itu terus memohon.
"Kalau begitu cepat katakan siap orang yang menyuruh kalian?" tanya briyan mulai tidak sabar.
"Oh, siiiiit....cepat menghindari...!!!!' Dorrrr.... Dorrrrr..... Dorrrrr..... "teriak Gia berbareng suara tembakan dari arah depan lorong. Gia mendorong tubuh briyan kesudut lorong untuk menghindari peluruh menembus tubuh mereka berdua.
seketika Gia dan Briyan tersungkur di lantai. demi menghindari sasaran tembakan itu. Lalu Briyan yang ingin berterimakasih. langsung melirik Gia yang telah menolongnya.
Betapa terkejut nya mata Briyan. hingga pria berewok tipis itu tertegun tidak percaya apa yang ada di hadapan nya.
Begitu juga dengan Gia yang membulat kan mata. Saat melihat kalung emas dengan lionti berbentuk biji delima terjatuh dari dalam jas Briyan
"kalung ku! " pekik Gia dalam hati.
Sontak tangan Gia ingin mengambil nya, namun kalah cepat dengan tangan briyan yang lebih dulu menggapai kalung itu.
"Tidak akan kubiarkan kau mengambil hasil curian mu dengan mudah, dasar pencuri " seloroh briyan mempertahankan kalung itu. sambil menatap Gia yang sudah tergerai rambut panjangnya.
Gia terbelalak menyadari penyamaran telah terbongkar di depan briyan. karena wig yang ia kenakan sudah tergeletak di lantai.
"Dasar pria sombong, cepat berikan kalung itu" pinta Gia penuh penekanan. ia sudah tidak peduli dengan penyamaran yang terbongkar.
"Tidak akan..!" jawab briyan singkat sambil menepis tangan gia yang menjulur meminta.
"Dasar pria bere ngsek, akan ku hajar kau!" teriak Gia kesal. lalu mencoba merebut kalung itu dari tangan Briyan.
Bahkan Gia sampai naik dan duduk di tubuh Briyan. Untuk bisa merebut kalung miliknya yang paling berharga.
"Apa yang kau lakukan, cepat turun dari tubuh ku, kita berdua masih dalam bahaya." tegur briyan meresa tidak nyaman disentuh Gia. apa lagi penembak itu masih memburu Briyan dan Gia
"Aku tidak peduli, berikan dulu kalung itu." sahut Gia terus mencoba merebut kalung dari tangan Briyan
"Tidak akan" briyan tak mau mengalah.
tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh kekar berdiri tepat di hadapan Gia dan Briyan.
"Jangan bergerak, atau peluruh ini akan menembus tubuh kalian berdua." tegur pria itu mengancam.
Sontak pergulatan Gia dan Briyan berhenti. lalu sama-sama meletakkan tangan di belakang kepala sebagai pertanda menyerah.
Sehingga para pembunuh bayaran lebih mudah menyelesaikan misi.
Dengan bangga Pembunuh itu menodongkan senjata kepada Briyan. pria tampan yang masih telentang di lantai dengan kedua telapak tangannya di belakang kepala.
" Hehk Jadi kau seorang buronan?" tanya Gia terkekeh. sembari duduk santai dengan kedua tangan sama seperti briyan. yaitu di letakkan di belakang kepala.
"Bukan buronan, lebih tepatnya target pembunuhan, dan kau cepat bangun dari tubuh ku!" gerutu Briyan marasa tidak nyaman di tindih Gia tepat di bagian intim sensitif nya.
padahal dirinya dan Gia sedang dalam bahaya yang sudah di depan mata.
Namun wanita itu malah duduk santai di bawah perut Briyan.
"Kau sudah lupa tadi dia bilang apa, Jangan bergerak! " seloroh Gia berpura-pura polos sembari mengerjai briyan.
Sebenarnya Gia sedang mencari kesempatan untuk melawan, tapi dia ingin lihat dulu, apa yang akan di lakukan pembunuhan bayaran itu.
"Oh No...!!' dasar pencuri mesum" hardik briyan menatap Gia.
Briyan benar-benar di buat tidak nyaman. dan mulai merasakan sesuatu yang berdesir di jantungnya. sehingga membangkitkan naluri seorang pria.
"Hehk jangan menuduh ku yang tidak-tidak, lagi pula ada apa dengan wajahmu yang semakin memerah?" tanya Gia dengan polos nya. padahal briyan sedang menahan nafsu karena ulahnya.
"Oh my god, bisakah kau jangan pura-pura bodoh" maki briyan sudah tidak tahan.
Seketika Gia menyadari sesuatu yang ia duduki mengeras.
"Upssss... ku pikir kau impoten, ternyata tidak !" goda Gia terkekeh. sembari bangun dari tubuh briyan.
" Kau benar-benar pencuri mesummm....!!" omel briyan menatap tajam gia. tiba-tiba sebuah peluru melesat tepat di samping Gia dan briyan, sebagai ancaman.
"Dorrrr... " membuat Gia dan briyan terkejut.
"Berhenti berdebat, sudah waktunya akan aku siapakan kalian berdua dalam satu peti mati" ujar pembunuhan itu mulai menekan pelatuk senjata itu dan.....
"Dorrrr...". sebuah suara terdengar sangat dekat di telinga Gia dan Briyan, akan tetapi ada yang aneh karena mereka berdua tidak merasakan sakit apa pun,
Lalu mereka berdua melihat musuh itu. yang tiba-tiba tumbang dan bersimbah darah.
"Maaf nona aku terlambat " seloroh Ipan dengan napas memburu. sambil menggenggam sebuah senjata. yang baru saja di gunakan untuk membunuh musuh itu.
Ipan yang mendapat pesan dari sasa, segera berlari mencari keberadaan Gia.
"Tidak masalah, kau tepat waktu Pan," sahut Gia lalu menatap briyan.
"Sekarang nyawa anda sudah selamat tuan Jonathan, jadi bisa berikan kalung itu pada ku." ujar Gia kembali meminta benda itu.
"Oh yang kau maksud perhiasan ini, apa ini milik keluarga mu?" tanya briyan ingin tahu. sambil menunjukan kalung itu.
Namu Gia tidak bisa menjawab yak, karena itu sama saja memberitahu bahwa dirinya seorang penerus dari generasi keluarga Mafia yang paling ditakuti di seluruh negara.
Bahkan ipan sangat terkejut melihat benda milik keluarga Albert bisa berada di tangan Briyan.
"Kenapa tidak dijawab, karena aku menduga barang ini adalah barang hasil curian. tapi aku bisa memberikan ini pada mu, asalkan kau mau menjual Pulau surga itu pada ku," ujar briyan penuh penekanan.
"Kau benar-benar licik". hardik Gia kesal
" izinkan aku menghabisi dia nona!" pinta ipan sembari menodongkan senjata tepat di hadapan briyan.
" sebaiknya jangan coba-coba mencelakainya, atau sekretaris pribadi Irawan group ini akan kehilangan nyawa". ancam sam yang datang tiba-tiba sambil menyandera sasa.
"Sasa" panggil Gia penuh kekhawatiran.
"Kau benar-benar licik Jonathan, apa salah perusahaan Irawan, padahal perusahaan kami tidak pernah menyinggung atau mengusik apa pun tentang bisnis mu itu." jelas Gia menetap tajam penuh kemarahan.
tinggalkan jejak kalian setelah membaca yak 😘😘😘😘😘