
Mata tegas Briyan terus memperhatikan tangan nya yang sedang menggenggam sebuah kalung dengan liontin berbentuk biji delima. dan kartu nama yang tertulis toko A&k. sebuah tempat servis motor dan mobil.
"Bagaimana, apa kau sudah dapat identitas wanita yang ingin mencuri mobil ku itu?" tanya briyan penasaran.
Berharap dapat informasi tentang wanita yang di anggap briyan seorang pencuri. wanita yang dengan berani mencuri ciuman pertamanya, sehingga pikiran briyan terus terganggu karena terus mengingat kejadian malam itu.
"Belum tuan kami sudah mendatangi alamat di kartu nama itu, tapi pemilik usaha dan juga para karyawan itu berpura-pura tidak mengenal wanita bermotor hitam itu tuan," jelas sang supir sekaligus sekretaris pribadinya.
Briyan hanya bisa menghela napas kecewa. bukan karena kerusakan mobilnya,
Melainkan tentang informasi wanita yang di tuduh briyan ingin mencuri mobil nya.
Ia semakin penasaran siapa wanita itu, apa lagi saat menemukan sebuah kalung di dalam mobil miliknya, yang tergeletak tepat dibawah kursi kemudi.
Membuat Briyan cukup penasaran karena itu adalah sebuah kalung yang tidak biasa yang tak banyak orang mengetahui sejarah nya, bahkan di seluruh dunia hanya ada tiga orang yang memiliki benda bersejarah itu,
Meskipun wanita itu sudah meninggalkan sebuah Kartu nama, akan tetapi Briyan belum bisa menggali informasi tentang wanita itu sama sekali.
lagi-lagi Briyan kembali meperhatikan kalung itu yang terlihat sangat berbeda dan juga sangat indah.
"Apa kalung ini barang hasil curian dia juga? sangat menarik, kalau begitu tidak akan ku biarkan kau lepas begitu saja, sebelum aku tahu siapa kau sebenarnya!" gumam briyan dalam hati, berharap bisa menemukan wanita itu secepat nya.
"Maaf tuan, haruskah tuan datang memenuhi undang pesta itu?" tanya sekretaris pribadinya. membuat briyan membuyarkan tentang pencarian wanita itu sementara.
"Iya, tapi bukan untuk memenuhi undang itu, aku datang menemui orang yang telah membeli pulau surga itu, gara-gara dia aku bahkan di rendah kakek," jelas Briyan dengan penuh amarah.
"Apa yang tuan maksud, adalah pemilik perusahaan Irawan group tuan?"
"Iya, lihat saja kakek akan sangat malu telah memuji dan menyamakan ku dengan perusahaan Irawan yang tidak Apa-apanya itu!, karena aku yakin pimpin mereka akan menjual pulau surga itu kepada ku," sahut briyan dengan penuh percaya diri,
Bahwa tidak ada orang yang pernah menolak tawaran dari seorang Briyan Jonathan seorang pimpinan yang paling berkuasa.
Briyan masih kesal dengan kakek mengingatkan ke suksesnya yang hanya di sama dengan perusahaan Irawan group. sehingga briyan harus menjatuhkan kedudukan perusahaan itu.
Dengan cepat mobil yang di tumpangi briyan melaju membelah keramaian kota
****
Di sisi lain, kini Gia telah sampai di sebuah gedung megah di tengah kota,
Gia segera turun dan mulai berekting menjadi kakaknya. bahkan Gia mengangkat sedikit sikutnya untuk tangan sasa agar memeluk lengan Gia. seperti pasangan di pesta pada umum nya.
Dengan sedikit gugup Sasa melingkarkan tangan di lengan Gia yang sedang menyamar, yang terlihat sangat tampan melampaui bosnya sendiri yaitu tuan Giyo.
Segera sasa memberikan undang tersebut dan masuk dengan anggun mendampingi Gia.
Di dalam ruangan terlihat sudah ramai para tamu undangan. Para orang-orang tersohor sebagai pengusaha sukses atau pun para artis terkenal.
Beberapa orang langsung menghampiri mereka berdua untuk menyapa Gia yang menyamar sebagai Gio.
Dengan tenang Gia berusaha berbaur dengan percakapan mereka yang di bantu sasa berbisik mengenalkan satu persatu kepada Gia. agar tidak terlihat mencurigakan.
Gia langsung membalas sapaan mereka yang tidak lain adalah para rekan bisnis kakaknya.
Sambil berbincang ringan tentang bisnis mereka, Gia mulai meperhatikan sekelilingnya.
Banyak para pengusaha yang ikut menghadiri pesta yang berkedok pertunangan, namun pada kenyataan lebih mengarah tentang menunjukkan kekuasaan.
Tidak lupa gia melangkah untuk memberi ucap selamat kepada salah satu rekan bisnis yang telah mengundang dirinya.
"Selamat atas pertunangan putrimu tuan Bimo tak ku sangka tuan mendapat calon besan orang hebat, bahkan seperti perusahaan anda akan semakin sukses di masa depan" ucap Gia ramah, dengan suara di samarkan, agar terdengar seperti nada suara kakanya.
Meski sejujurnya nya ucapan nya lebih mengarah menyinggung.
Karena orang tua mereka hanya ingin berbisnis dan pamer kekuasaan yang lebih tinggi di masa depan.
"Edhmm.."tegur sasa berdehem agar Gia tidak menyinggung dan menjaga ucapan dengan baik.
Tapi Gia hanya melirik tidak peduli. karena Gia tahu orang di hadapannya hanya mengira itu pujian dan kekaguman Gia terhadap keberhasilan nya.
"Terima kasih tuan Giyo, saya memang sangat beruntung memiliki calon besan seorang menteri."
"Anda juga harus tahu? bahkan orang nomer satu perusahaan properti terbesar seAsia akan hadir untuk memenuhi undangan ku,." lanjut tuan bimo penuh rasa percaya diri. dan juga bangga, karena kehadiran orang itu akan membuat dirinya semakin tinggi derajatnya.
"Benarkah siapa tamu istimewa tuan bimo itu? "tanya Gia pura-pura terkesan.
"Beliau adalah CEO briyan Jonathan" seloroh tuan Bimo dengan angkuh, Ia juga mulai menceritakan tentang sosok briyan Jonathan pemilik perusahaan raksasa terbesar se asia, yang akan hadir memenuhi undang pesta nya ini.
Para tamu mulai di buat heboh, dan beberapa orang langsung mendekati dan memuji tuan bimo, berharap bisa mengenal dan mendekati sosok Briyan Jonathan. tamu istimewa tuan bimo.
"Kalau begitu sekali lagi saya ucapkan selamat atas kebahagiaan tuan bimo yang berkali-kali lipat ini" seloroh Gia tersenyum penuh makna.
Setelah para tamu di buat penasaran, kini di mulai lah acara pertunangan dari keluarga tuan bimo seorang pengusaha. Dengan keluarga dari seorang menteri keuangan.
Sebuah tepuk tangan penuh kemeriahaan, sebagai ucapan selamat dari para tamu undangan.
"Minuman nona?"seorang pelayan menawari sasa. Menyodorkan beberapa gelas minuman ber alkohol dan juga beberapa jus buah.
"Ah iya jus saja!" jawab sasa, sambil mengambil minum yang tertata di nampan itu.
Begitu juga Gia mengambil sebuah gelas yang berisi wein, yang membuat sasa terkejut.
"Itu minuman beralkohol tuan!" tegur sasa agar Gia tidak salah pilih.
"Aku tahu, bahkan aku bisa menghabiskan dua botol kalau aku mau! " jawab Gia tersenyum tipis memberi tahu,
karena merasa lucu tentang kapolosan sasa yang mengira, Gia wanita biasa yang tak mengenal minum-minuman beralkohol., sasa di buat terperangah tidak percaya namun ucap Gia benar-benar terlihat jujur apa adanya.
Gia segera mencari tempat sepi dan tenang untuk menikmati wein milikinya. sembari berharap secepatnya pesta hura-hura itu selesai.
Agar dirinya bisa cepat pulang dari tempat pesta itu. lalu pergi bersama teman-teman motornya. yang akan berkumpul untuk melihat dirinya balapan di tengah malam.
"Semua orang sedang di luar menunggu kedatangan CEO briyan, apa tuan ingin menyapa nya juga?" tanya Sasa penasaran, berharap bisa juga melihat sosok sang penguasa terkenal.
"Aku tidak tertarik, apa lagi untuk menyapa pria sombong seperti dia!" keluh Gia malas membahas orang yang pernah ingin merebut rekan bisnis kakaknya.
Sasa hanya terdiam tidak mengerti. Padahal seluruh wanita mengantri ingin bisa dekat. Dan berkenalan dengan sosok pria pebisnis paling genius seantero jagat.
"Coba lihat di sana bukankah itu CEO Briyan!" seloroh seorang wanita menunjuk arah pintu utama dengan antusias. membuat orang orang menengok mencari sosok nya.
Terlihat pria tinggi bertubuh kekar, berwajah tampan yang terlihat dingin dan tenang.
Pria itu melangkah masuk dengan begitu mendominasi. membuat seluruh orang terpanah melihat kehadiran dirinya. yang jelas -jelas tidak biasa di tempat pesta seperti ini.
semua pengusaha terkenal dan para artis mulai berkumpul berharap bisa menyapa dan mengenal sosok Briyan lebih dekat.
Namun mata briyan tidak mempedulikan orang-orang yang ingin berkenalan dengan nya.
Briyan hanya meperhatikan sekeliling mencari sosok pengusaha muda yang telah menjadi target buruannya.
"Tuan, orang yang tuan cari sedang duduk di sudut sana tuan", tengok sekretaris pribadinya.
Briyan pun mengikuti arah tatapan sekretaris itu, terlihat seseorang pemuda yang sedang duduk santai sambil memegang gelas berisi wein yang hanya tinggal tersisa setengah.