
"Edhemm...... , sudah cukup main-mainnya" dengan sikap tenang Briyan berdehem untuk menegur Gia. dan juga tiga ekor harimau peliharaan miliknya sendiri.
Meski sejujurnya Briyan sangat syok dengan sikap Gia. Yang sangat berani mengurus harimau -harimau itu layaknya mengurus kucing-kucing kecil lucu dan imut,
Akan tetapi Briyan berusaha untuk santai dan menganggap itu normal. ia tak mau menunjukan keterkejutannya.
karena itu hanya akan membuat harga dirinya turun level. di mata gia dan para penjaga yang sedang berada di lingkungan itu. sekaligus para pelayannya sendiri.
"Cenn, Hans, Tutu, cepat kembali kedalam kandang atau kalian tidak akan dapat jatah makan hari ini" ujar Briyan tegas mengintruksi memanggil satu persatu harimau-harimau itu.
Tiba-tiba. Tiga ekor harimau itu pun pergi meninggalkan gia. lalu mulai kembali masuk kedalam kandang. tiga harimau itu seperti mengerti apa yang di ucap Briyan.
Membuat gia mendengus kesal terhadap Briyan. karena ia sudah lama tak bermain-main dengan hewan buas selama tinggal di indonesia.
Gia hanya bisa menatap tiga harimau itu pergi lalu melirik briyan dengan kesal.
"Cihk dasar si sombong....!!" gumam gia pelan. sambil membuang muka. lalu memperhatikan Samuel dan para penjaga yang mulai turun dari pohon besar. yang tingginya hampir tiga meter itu.
Begitu juga para pelayan yang tadi bersembunyi dari selah-selah tumbuhan pagar atau ruangan loundry. mulai muncul dan berbaris menghadapi briyan bersama-sama.
"Kalian semua benar-benar tidak berguna. sia-sia aku menggajih kalian dengan mahal. mengurus pelayan baru saja tidak becus." maki Briyan menatap tajam barisan penjaga dan belayan itu.
Sedangkan Gia. Hanya berdiri santai dari kejauhan. sembari berpura-pura tidak dengar apa yang sedang di keluhkan briyan.
setelah puas memarahi penjaga dan pelayan. kini giliran Gia yang di datangi briyan.
Pria tampan, tinggi bertubuh ideal itu melangkah dengan angkuh mendatangi gia.
lalu berdiri tepat di hadapan gia. membuat pandangan gia menatap penuh tanda tanya. apa yang akan di lakukan selanjutnya oleh briyan. agar dirinya terlihat rendah tidak berdaya.
Sudah beberapa detik briyan hanya diam di hadapan gia. hingga menit pun berlalu.
Gia hanya bisa menghela nafas dengan kasar karena mulai tidak sabar. sembari melirik penjaga dan pelayan yang semuanya ternyata sudah pergih menjauh. meningggalkan dirinya berdua dengan Briyan.
"Ada apa jangan hanya diam? kenapa kau tidak menghukumku di depan mereka, bukankah tadi itu kesempatan bagus untuk merendahkan ku?" tanya gia bertanya duluan karena tidak sabaran.
"Usulan yang bagus!" sahut briyan santai.
"Kalau begitu lakukanlah, jangan sampai aku yang melakukanya " seloroh gia mendekat dan semakin mendekat. bahkan ia sengaja memasang wajah menggoda.
Tidak hanya itu. baju gia yang sudah basah dari tadi. semakin seksi menambah panas kondisi.
Bahkan terlihat jelas. Dua bongkahan yang kini terlihat transparan. hanya tertutup bra merah terang. semakin mencolok di depan briyan. tepatnya hampir menempel di tubuh briyan.
Dengan cepat Briyan membuang muka sambil mendorong tubuh gia untuk menjauh. karena tiba-tiba saja muncul seorang pelayan membawa sebuah handuk kehadapan briyan dan juga Gia.
"Aaaahk maaf, saya tidak tahu, kalau tuan masih disini" seloroh pelayan itu sembari memasang wajah kaget. dan juga takut.
"Ini handuk untuk mu" seloroh pelayan itu, ramah menyodorkan handuk kehadapan gia.
Akan tetapi Gia hanya diam saja. tak ingin menerima pemberian pelayan itu
Bukan di jawab. Dengan cepat Briyan meraih dan melempar handuk kedada Gia.
"Cepat ganti baju mu" ujar briyan menatap dingin gia.
Sedangkan Gia hanya terkekeh memeluk handuk yang di lempar Briyan, ia pun merasa pelayan ini memang sengaja datang untuk mengganggu dirinya yang mencoba menggoda Briyan.
"kalau sudah selesai antarkan dia kedapur!" titah briyan kepada pelayan wanita itu.
"Ba...baik tuan," jawab pelayan itu. sambil menarik lengan gia dengan kasar. untuk pergi menjauh dari briyan yang masih berdiri di hadapan gia.
pelayan itu pun terus menarik tangan gia dengan kasar. sampai kesebuah kamar di bagian belakang dekat gudang. yang ternyata kamar itu di persiapkan memang untuk gia.
"ini kamar mu, cepat ganti baju mu, sudah ada baju pelayan di lemari pakaian, dasar wanita penggoda!" ujar pelayan itu menjelaskan sambil sesekali mencibir.
ia mersa tida suka melihat tatapan majikannya yang terlihat berbeda saat menatap ke arah gia.
"Baiklah kau tunggu di luar! oh..yak.. tadi kau bilang aku menggoda? padahal jelas-jelas aku malah ingin meniduri majikanmu itu tadi" seloroh gia sambil terkekeh geli.
Menoel hidung pelayan itu. karena ingin menggoda pelayan itu yang terlihat jelas iri hati.
Membuat mata pelayan itu membulat sempurna dengan wajah kesal. karena terkejut mendengar ucapan gia.
Sehingga Gia langsung masuk dan menutup pintu kamar rapat-rapat. ia takut wanita yang sedang iri akan berubah menjadi mesin pemusnah seperti di filem-filem.
****
Sedangkan Briyan kembali keruangan kerja. Akan tetapi bukan untuk bekerja. melainkan melamun sampai pusing tujuh keliling.
Ia masih tidak habis pikir dengan wanita seperti gia ini. yang handal dalam segala hal.
Yang sangat mahir menyamar, pintar bela diri, bahkan balapan liar yang jelas-jelas resiko keselamatannya selalu di ambang kematian atau cacad saat mengalami kecelakaan. padahal dia jelas-jelas seorang wanita.
Dan kini beriyan lagi-lagi di buat terkejut melihat tingkah gia. yang tidak ada takut-takutnya.
Saat tiga harimau itu malah di ajak bermain dengan gemas hingga memeluknya layaknya seperti boneka.
sehingga briyan mulai berpikir wanita seperti apa Gia alena irawan sebenarnya.
Tidak hanya itu. sebuah pertanyaan besar kembali muncul tentang bagaimana Gia bisa mencuri kalung. yang sangat langka seperti itu.
Karena yang Briyan tahu kalung itu pemilik seorang bos mafia yang paling di takuti seantero jagat.
"AAAkkkkkk, sial kenapa aku jadi susah-susah begini sih, hanya gara-gara pulau surga yang di inginkan Kakek ku, aku malah jadi berurusan dengan seorang pencuri!' perempuan lagi!" keluh briyan sembari mengacak-ngacak rambutnya sendiri hingga berantakan.
"Aku benar-benar tidak pengerti ada apa dengan pulau jelek itu?' kakek bahkan sangat marah saat pulau itu di beli putra irawan? bisa-bisanya kakek memaki-maki ku dan juga merendahkan aku. bahkan mengataiku tidak becus. yang bisa kalah dengan seorang putra irawan. " seloroh briyan mengingat kembali betapa kakek tua itu sangat merendakan Briyan. dengan terang-terangan di depan para rekan-rekan bisni briyan.
Membuat dirinya yang paling hebat berbisnis dan berkuasa terhina di depan banyak orang.
Sehingga Briyan bertekat untuk menjatuhkan perusahan Irawan grup dan mengambil pulau surga itu untuk membungkam ucapan pedas kakeknya itu.
"Itu benar-benar membuat ku sangat kesal, sial...sial....sial... belum lagi si perentas itu, hingga sekarang belum ada titik terang sekalipun!' padahal aku sudah banyak menyewa orang untuk mengurusnya" keluh Briyan membuang berkas-berkas itu hingga berserakan di lantai.
Ia benar-benar di buat stresss. dengan masalah yang baru-baru ini.
ππππππππππΆπΆπΆ
tinggalkan jejak yak sayyyyy....ππππππππ