
sontak Gia mencoba mendorong tubuh beriyan sekuat tenaga. namun pria kekar itu tidak bergeming sama sekali dari posisi nya, yang hanya berjarak beberapa senti saja dengan tubuh Gia.
"Sebaiknya tuan jangan macam-macam, atau aku akan teriak sekuat-kuatnya" tegur Gia sembari membuang pandangan kesamping agar wajah mereka tidak melekat.
"Kenapa apa kau takut?" tanya briyan licik. ia semakin sengaja mengurung dan memperkecil jarak dari tubuh Gia.
Sejujurnya Gia bisa saja melawan briyan dengan ilmu bela diri nya. hanya saja ia tak ingin gegabah.
Karena itu hanya akan membuat dirinya semakin ketahuan siapa jati dirinya yang bukan dari golongan orang biasa. saat briyan semakin mendekat.
Tiba-tiba sebuah suara dering hendpon berbunyi.
Membuat Briyan menjeda waktu untuk menakut-nakuti Gia.
Kini mereka berdua malah saling menatap, karena meraka berdua sama-sama mencari sumber suara.
Gia pun melirik hendpon di tangan nya yang ternyata mati.
Sehingga Gia melirik jas yang dikenakan briyan. karena terdengar sumber suara berasal dari orang yang ada di hadapan nya. Dan itu benar saja hendpon milik Briyan.
"seperti ada panggilan dari handphone mu tuan" tegur Gia, agar dirinya bisa terlepas dari situasi seperti ini.
"Itu tidak penting, sebaiknya kita lanjutkan membahas tentang kerugianku yang sudah kau buat" ujar briyan. menatap wajah Gia dengan intens.
Gia mendengus kesal sembari memutar bola mata, tak ingin membalas tatapan briyan.
"Tapi tidak seperti ini juga, Bisakah tuan menjauh dulu" dorong Gia sekuat tenaga karena merasa tidak nyaman di perhatikan seperti itu.
"Tidak bisa, karena aku tahu kau sedang mencari kesempatan untuk kabur" ujar briyan menyeringai. membuat gia menelan ludah karena semakin panik.
Akan tetapi lagi-lagi hendpon itu semakin kuat berdering, membuat briyan memejamkan mata sekilas dengan rahang mengeras dan menggertak gigi.
Lalu merogoh saku celana dan mengambil handphone, dengan cepat langsung di matikan briyan tanpa melihat dulu nomor siapa yang sedang menghubungi dirinya.
"Cihk mengganggu saja" gumam briyan kesal. tapi tidak Gia. ia mulai punya ide gila untuk menyelesaikan masalah saat ini karena posisi nya seperti ini.
"Kenapa tidak dijawab...?? mungkin saja itu panggilan yang sangat penting," tegur Gia menasihati.
"Aku tidak peduli!"
"Begini saja ini untuk tuan, bawa saja mobil tuan ke alamat ini," Gia mencoba menasihati dan lalu memberikan sebuah Kartu nama. yang langsung di masukan kesaku depan jas Briyan. sehingga pria itu menautkan alis.
Tidak hanya itu Gia juga langsung menarik kerah depan jas briyan membuat briyan sedikit membungkuk.
"Dan yang ini, ganti rugi luka di keningmu...!" sambung Gia tiba-tiba lalu berjinjit sembari menatap Briyan dengan tegas.
Terlihat beberapa benjol lebam di kening briyan bekas benturan kabin dalam mobil tadi
"Cup..." sebuah kecupan mendarat di bibir briyan dengan lembut dan sedikit di tekan.
Sontak Briyan terbelalak sangat terkejut hingga mundur.
Briyan terdiam seribu bahasa. Tidak menyangka wanita itu malah yang lebih dulu mencium bibirnya. padahal briyan hanya mencoba menakut-nakutinya saja.
Tanpa berpikir mencari keuntungan untuk melecehkan wanita yang tidak ia kenal sama sekali oleh dirinya.
Gia yang menyadari keanehan briyan. menyeringai tipis menatap briyan. kaki mungil nya melangkah mendekat tubuh briyan yang terlihat panik dan juga tegang.
Sehingga briyan kembali mundur. bahkan tubuhnya menjadi kaku dengan jantung berdebar tidak menentu yang di sertai otak nya sampai sulit berpikir.
Tanpa sadar wanita itu tersenyum semringah dan langsung kabur dari hadapannya.
Briyan membulatkan mata sangat terkejut, melihat wanita itu berlari bak lomba maraton.
"Dasar pencuri berhenti kau jangan kabur!" segera briyan berlari mencoba mengejar Gia.
Gia berlari dengan cepat, sembari melirik kiri dan kanan.
Lalu melihat sebuah jalan kecil yang seperti hanya untuk di gunakan pejalan kaki. ia segera berbelok mencoba menghindari kejaran Briayan.
Yang terlihat sedang berusaha mengajar dirinya.
sebuah jalan kecil yang di lalui Gia sangat gelap tanpa penerangan membuat briyan sulit melihat pemandangan di depan.
Ditambah wanita itu memakai jaket kulit hitam membuat briyan kesulitan mengejar nya.
Dan benar saja saat di perbelokan jalan. Gia benar-benar sudah tidak terlihat sama sekali.
Briyan terus meneliti dan berputar-putar mencari sosok Gia. namun benar-benar sudah menghilang.
"sungguh sial hari ini, bagaimana bisa dia lari secepat itu, padahal sangat gelap" keluh Briyan berdecak pinggang sembari menendang apa saja dengan sembarangan.
Belum lagi panggil handphone yang tiada henti-hentinya mengganggu briyan. membuat briyan memijit kening nya menahan marah.
Dengan cepat briyan segera mengangkat handphone menerima panggilan, sambil pergi menuju arah mobil miliknya berada.
****
Sedang kan Gia, yang bersembunyi di belakang pohon. Tanpa sedikit pun bersuara.
Mulai keluar dari persembunyian nya sembari meperhatikan kepergian Briyan, yang mulai mengambil alih kemudi dan pergi dari lokasi itu.
"Akhirnya bebas juga." ujar Gia merasa lega.
ia segera menghubungi seseorang untuk menjemput dirinya di lokasi.
Tak butuh lama sebuah mobil hitam datang menghampiri dirinya. lalu terbuka sedikit kaca pintu depan.
Terlihat seseorang berpenampilan rapih dengan kaca mata hitam yang membuat tak kalah tampan dengan pria yang tadi di kecup Gia.
"Cepat masuk !" titah pria itu dengan tegas.
"i... iya..." sahut Gia panik. dan segera masuk kedalaman mobil.
Tidak hanya itu belum juga Gia memasang sabuk pengaman. namun pria itu sudah menginjak gas. membuat mobil itu melaju dengan cepat.
membuat gia terkejut dan khawatir pria ini yang akan membunuh dirinya nya.
"Apa kau baik-baik saja? " tanya pria itu melemah, sambil membuka kaca mata hitam yang menutupi wajahnya.
Kini terlihat jelas wajah yang sangat mirip dengan Gia. namun berbeda penampilan yang terlihat dirinya begitu cool dan juga gagah.
"Iya aku baik-baik saja kak, di mana Ipan?" tanya Gia.
"Membereskan kekacauan yang sudah kau buat!" seloroh giyo Albert menyindir.
Karena Giyo Albert mendapat kabar bahwa ada yang melihat pimpinan iblis bayangan yang tidak lain adalah Gia. saat tadi para promotor yang mengejar Gia.
sehingga giyo memerintahkan ipan sebagai asisten pribadi mereka berdua untuk menghabiskan siapa pun yang tahu tentang jati dirinya dan juga Gia.
" isshk kak giyo ini, semua itu demi informasi besar yang sudah aku dapat, dan tenang saja kakak tidak perlu khawatir aku bisa membereskan nya secepat mungkin." sahut Gia dengan sungguh-sungguh.
"sudahalah, kau selalu lebih unggul dalam bidang ini, " ujar Gio percaya sepenuh kepada adik kembarnya.
"Terima kasih pujian nya" seloroh Gia melirik sembari tersenyum semringah,
"Besok kakak akan ada perjalanan bisnis keluar negeri untuk beberapa hari. apa kau bisa membantu Sasa di kantor?" jelas Giyo.
"Tentu !"
"Tidak hanya itu " lirik giyo tersenyum licik.
"Astaga Apa lagi yang harus ku bantu"" sahut Gia tak berdaya seperti adik yang harus mengalah demi kakak tercinta.
"Rekan bisnis ku mengadakan pesta pertunangan putra nya, dan dia mengundang ku, bisa kah kau menyamar menjadi diriku untuk menghadarinya?" jelas Giyo memohon.
"yak ampunnnn, bilang saja kakak memang tidak suka menghadiri pesta!" seloroh Gia menyindir.
"Aku terpaksa Gia, aku tidak bisa membatalkan perjalananku ini, dan undangan itu juga penting" jelas Giyo
"Semua pengusaha terkenal akan menghadiri nya termasuk Briyan Jonathan yang sudah kau curi data perusahaan nya." lanjut Giyo memberi tahu.
Membuat Gia menelan saliva dengan kasar, saat mendengar nama briyan Jonathan di sebut.
"Astaga bagaimana bisa pria sombong itu juga di undang," keluh Gia tidak suka saat mengingat perusahaan kakaknya hampir di buat bangkrut briyan tanpa sebab.
"Tentu saja dia di undangan. Briyan adalah pemilik perusahaan raksasa terbesar di eropa dan asia, kita ini tidak ada apa-apanya Gia" jelas giyo memuji briyan.
"Jadi kakak mau aku datang untuk mengantarkan nyawa ku sendiri ke pesta itu?" sungut Gia tidak mengerti jalan pikiran kakaknya.
"lagi pula Briyan Jonathan belum bisa menemukan identitas pencuri data itu, jadi kau tidak perlu khawatir akan ketahuan." ujar Giyo. mencoba menenangkan.
"Kau hanya perlu menghadiri nya saja karena aku tidak enak, kalau sampai tidak datang. bagaimana apa kau bisa menyamar jadi diri ku?" bujuk Giyo.
"Hahk yasudahlah, aku akan datang demi kakak, sekalian aku juga ingin tahu wajah si sombong Jonathan itu seperti apa?" ujar Gia sambil membayangkan wajah Briyan Jonathan yang ia pikir berumur lima puluhan.
bersambung.......
Hallo semua mohon bantuannya yak para sahabat untuk Like komentar n vote nya ya 😉😉 🙏🙏🙏