[DMS#2] The Perfect Husband

[DMS#2] The Perfect Husband
THE PERFECT HUSBAND ; 9



Pagi menyambut siang dan kondisi Agra belum juga membaik. Pria itu masih bergelung di bawah selimut tebalnya walau Aurora telah menyingkap gorden kamar. Sinar matahari yang menyelinap pada celah-celah kamar tidak juga mampu membuka mata Agra dari pejamannya.


Aurora mendekat dari jendela menuju kasur yang ditempati Agra. “Bangun, A’, udah jam delapan.” Tangannya bergerak menepuk-nepuk pelan pipi Agra.


Mata Agra perlahan terbuka dengan tangannya yang memijit pangkal hidung. Dengan dibantu istrinya, ia mendudukkan diri lalu bersandar pada kepala ranjang.


“Masih pusing?” tanya Aurora yang disambut anggukan oleh suaminya. Aurora menghela napas pelan lalu mengambil bubur yang telah ia simpan di atas nakas saat ia masuk ke dalam kamar pagi tadi.


“Makan dulu, yah. Abis itu baru minum obat lagi.”


Agra kontan menggeleng lantas mengambil sepiring bubur itu lalu meletakkannya kembali ke atas nakas. Tangannya menarik pinggang Aurora lalu memeluk perut istrinya. “Gak nafsu,” gumamnya.


“Orang sakit emang gak nafsu makan, A’. Makanya dipaksa, habis itu minum obat terus sembuh.” Aurora masih mencoba membujuk dengan tangannya yang tidak bisa diam mengelus rambut hitam Agra.


Agra menggeleng di perut rata Aurora. “Gak mau,” kekeuhnya mengundang decakan dari wanita yang ia peluk.


“Kamu makan bubur terus minum obat atau aku gak mau ngomong sama kamu?” Aurora mulai mengeluarkan jurus ampuhnya. Mengancam. Suaminya yang manja dan keras kepala ini memang harus sedikit diberi ancaman agar tidak membangkang.


Agra melepas pelukannya lalu menghela napas pasrah.


“Yaudah.”


“Yaudah apa? Yaudah kamu makan terus minum obat atau yaudah aku gak ngomong sama kamu?” Aurora menaikkan alisnya seraya duduk di tepi kasur.


“Yaudah, makan terus minum obat!” Agra menyahut malas.


Wanita dengan daster rumahan itu terkekeh lalu meraih bubur di atas nakas kemudian menyuapkannya pada Agra. Mau tidak mau, Agra membuka mulut menerima bubur itu. Nahasnya, baru saja Agra menelannya, perutnya sudah terasa diaduk-aduk. Pria yang masih memakai baju semalam itu bangkit menuju kamar mandi.


Aurora mengernyit heran, bubur yang ia buat rasanya sudah pas. Karena tidak mungkin ia memberikannya pada Agra sebelum ia mencobanya terlebih dahulu. Menyimpan bubur terlebih dahulu ke tempat semula, Aurora menyusul Agra ke kamar mandi.


Sesampainya di sana, ia mendapati suaminya yang bertumpuh pada westafel dengan wajah memucat. Ia mendekat lalu memijat tengkuk Agra saat suaminya itu memuntahkan isi perut.


“Keluar, Ra. Entar kamu jijik, lagi.” Ucapan Agra disambut decakan oleh Aurora. Mana mungkin ia jijik pada suaminya sendiri.


“Ngomong apasih, masa kamu muntah gini aku tinggalin.”


Aurora meraih tissue gantung lalu memberikannya pada Agra setelah suaminya membersihkan mulut dengan air.


Tatapan Aurora menyenduh saat Agra berdiri lemas dengan satu tangan bertumpuh pada tepi westafel. “Ke rumah sakit, yah, A’? Entar kamu makin parah.” Ia membantu Agra berjalan keluar menuju kasur.


Agra menggeleng. Rasa pahit di lehernya membuat ia malas untuk membuka suara. Ia hanya menatap Aurora yang mengambil minyak angin pada laci nakas lalu duduk di sampingnya. Aurora membantu Agra untuk kembali berbaring. Setelahnya, ia menyingkap baju yang Agra kenakan lalu menyapukan minyak angin ke perut suaminya.


“Ke rumah sakit, yah, A’. Kalau di rumah gini aku gak bisa tau kondisi kamu,” bujuk Aurora dengan nada rendah. Raut khawatir tercetak jelas pada wajahnya yang menyenduh menatap Agra.


Agra terkekeh pelan lalu menghentikan tangan Aurora yang menyapukan minyak angin ke perutnya. Meletakkan minyak angin ke atas nakas, ia kemudian menarik Aurora hingga setengah tubuh istrinya itu bersandar di dadanya.


“Aku gakpapa, sayang. Masuk angin doang,” ujar Agra, mendengar dari suaranya yang memberat, Aurora yakin suaminya ini sedang tidak baik-baik saja.


Wanita itu mendongak menatap Agra dari bawah. “Kamu, kok, batu banget sih kalo dibilangin? Langsung nurut aja bisa?”


Agra mengangkat alis lalu mengelus rambut coklat Aurora yang panjang. “Nanti rambut kamu dipotong, yah. Kayaknya lebih cantik kalo pendek.” Balasannya mengundang cubitan kecil dari Aurora di pinggangnya hingga ia mengaduh pelan.


“Jangan ngalihin topik, yah! Pokoknya jam sepuluh kita ke rumah sakit, gak mau tau!”


Kembali, Agra hanya bisa pasrah. Tidak ingin membantah lagi, Agra menepuk sisi kosong di sampingnya menyuruh Aurora untuk pindah. Sebagai istri yang baik hati, Aurora langsung menurut saja dan duduk di sana. Mulai mengelus kepala Agra yang berpindah bantal ke pahanya.


Aurora benar-benar menepati perkataannya yang akan membawa Agra ke rumah sakit jam sepuluh pagi. Dan sekarang, wanita ber-dress hijau army selutut ini tengah berada di ruangan di mana Agra diperiksa oleh Dokter Yasya.


Awalnya, Agra menolak diperiksa oleh Dokter Yasya dan ingin diperiksa oleh istrinya sendiri. Tapi mendengar perkataan Aurora, ia bungkam. Katanya Dokter Yasya lebih ahli dalam hal seperti ini.


Dokter Yasya menarik senter kecil khusus yang sejak tadi ia gunakan pada mata Agra. “Tidak ada gejala serius, Dokter. Pak Agra hanya kecapekan dan masuk angin,” pungkas Dokter Yasya.


“Aku bilang juga apa, Ra.”


Aurora menghela napas lega lalu berterima kasih pada Dokter Yasya sebelum pria itu keluar dari ruangan. Aurora duduk di kursi yang ada di sisi brankar suaminya. “Jangan kecapekan lagi, yah.” Ia mengelus pipi Agra dengan wajah sendunya.


Bayangan di mana Agra muntah-muntah tadi pagi masih membekas di hatinya.


Tersenyum tipis, Agra meraih tangan Aurora yang mengelus pipinya kemudian mengecupnya singkat. “Maaf buat kamu khawatir.”


Menggeleng, Aurora menjatuhkan kepalanya di bahu Agra. “A’, apa aku berhenti kerja aja biar bisa fokus jalanin tugas jadi istri kamu?”


Mendengar ucapan istrinya, Agra kontan terkejut. Menjadi Dokter sudah menjadi impian Aurora. Profesi Dokter-lah yang membuat istrinya ini tidak lagi merasa dikucilkan. Lalu bagaimana bisa wanita yang dicintainya ini berkata demikian?


“Kamu ngomong apa, hm? Aku tau kamu suka banget jadi dokter, gak mungkin kamu mau lepasin gitu aja, sayang.” Agra mengelus rambut coklat istrinya saat wanita itu tidak lagi menyahut.


Sepersekian detiknya, Agra merasakan kaos lengan panjang yang ia kenakan basah. Dengan cepat, ia mendudukkan  tubuhnya lalu menangkup wajah Aurora yang kini dialiri air mata. “Kok, nangis?” tanyanya dengan nada khawatir.


Aurora menggeleng dengan kedua tangan yang menyeka asal air matanya. Bukannya berhenti, air matanya kian menderas. Ia merasa bersalah pada Agra.


Seharusnya sebagai istri ia bisa membagi waktu untuk suaminya. Akhir-akhir ini, ia selalu pulang tengah malam dan mendapati Agra yang tertidur di sofa menunggunya. Kata bi Intan juga, Agra selalu menolak makan malam jika dirinya belum juga pulang.


Ini yang membuat Aurora merasa tidak becus sebagai seorang istri. Seharusnya ia yang menunggu Agra di sofa, seharusnya ia yang menunggu makan malam bersama suaminya, bukan malah sebaliknya.


“Maafin aku, A’.” ia berhambur ke pelukan Agra.


Agra yang kebingungan hanya bisa mengelus punggung istrinya yang masih menangis di dadanya. Ia tidak tahu apa yang membuat Aurora menangis seperti ini. “Ngapain minta maaf? Kamu, kan, gak punya salah sama aku.”


Menggeleng lagi, Aurora mengeratkan pelukannya pada Agra. “A-aku gak becus jadi istri kamu. Aku selalu aja mentingin kerjaan dari pada kamu yang je-jelas butuh aku. Hiks, maafin aku, A’.”


Mendengar jawaban istrinya Agra tersenyum lalu kembali menangkup wajah Aurora seraya menghapus jejak air mata di pipi istrinya. “Siapa yang bilang kamu istri gak becus, hm?” ia mengecup kedua mata Aurora hingga wanitanya terpejam untuk beberapa saat.


“E-emang bener, kan? Seharusnya saat kamu pulang dari kantor aku yang nyambut kamu di depan pintu, bukan bi Intan. Harusnya aku yang nungguin kamu buat makan malam, bukan malah kamu yang nungguin aku.” Air mata Aurora kembali hadir. Tuhan terlalu baik padanya hingga memberikan suami seperti Agra dalam hidupnya.


Walau yang dikatakan Aurora memanglah benar, Agra tetap tidak ingin melihat istrinya menangis karena merasa bersalah. Ia tidak pernah keberatan jika harus bi Intan yang menyambutnya ketika pulang kantor, ia tidak masalah juga jika harus menunggu Aurora tiap malamnya.


“Aku bener-bener gak becus, A’. kemarin aja waktu kamu sakit, mama yang ngurusin kamu. Kalau aku gak pulang cepet mung---“


Aurora tidak lagi menyelesaikan ucapannya saat bibir Agra lebih dulu membungkam mulutnya.


.


.


.


CUMA MAU BILANG, JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN!1!1!